![]()
Getah tanaman pisang selama ini dianggap sebagai limbah yang tidak berguna. Sejumlah mahasiswa Uni versitas Gadjah Mada, Yogya karta, berhasil meneliti manfaat getah pisang untuk menyembuhkan nyeri pada gigi.
Pisang raja (Musa sapientum) dikenal sebagai jenis pisang yang cocok untuk dikonsumsi langsung, tidak perlu diolah lebih dulu.
Sebagai buah konsumsi, cita rasa pisang tersebut memang enak. Namun, sayangnya, pisang kerap kali mengandung getah, terutama pada bagian pohonnya. Getah itu merupakan limbah yang dianggap kebanyakan masyarakat tidak berguna. Pandangan tersebut ternyata tidak berlaku pada masyarakat di Desa Kandangan, Sayegan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.
Getah dari batang pisang mereka manfaatkan untuk menyembuhkan luka. Caranya, getah tersebut dioleskan pada bagian tubuh yang luka.
Apa yang dilakukan masyarakat Desa Kandangan menjadi inspirasi bagi sejumlah mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, untuk melakukan penelitian ilmiah mengenai manfaat getah pisah bagi penyembuhan luka setelah pencabutan gigi.
Selama ini diketahui bahwa pencabutan gigi pada umumnya menimbulkan luka. Penyembuhan luka pasca pencabutan gigi itu perlu dipercepat karena, jika terlalu lama didiamkan, bisa mengakibatkan infeksi. “Kami tertarik untuk meneliti apa benar getah pisang bisa mempercepat kesembuhan luka. Kalau benar, bagaimana efeknya,” ungkap Rahma Ningsih, salah satu anggota tim penelitian tersebut. Ketua tim peneliti, Yosaphat Bayu Rosanto, mengatakan getah tanaman pisang selama ini hanya dianggap sebagai limbah yang tidak berguna.
Namun, masyarakat di sejumlah desa justru menggunakannya untuk menyembuhkan luka. Setelah diteliti, kebiasaan masyarakat itu memiliki dasar ilmiah yang kuat.
Getah pisang, jelas Yosaphat, diketahui mengandung tiga zat yang berperan dalam menyembuhkan luka. Ketiga zat itu ialah saponin, flavonoid, dan asam askorbat.
“Getah tanaman pisang banyak mengandung saponin yang berperan dalam pembentukan pembuluh darah baru, flavonoid untuk memperpendek fase peradangan (inflamasi) yang dapat mencegah infeksi, dan asam askorbat untuk membentuk jaringan ikat kolagen,” urai Yosaphat.
Selain membuktikan khasiat getah pisang dari sisi sains, penelitian itu bermaksud menemukan dosis dan efek dari pengobatan menggunakan getah pisang. Menurut Yosaphat, apabila getah pisang d gunakan dalam bentuk segar, penyembuhan luka lebih lama karena konsentrasi air pada getah itu sangat tinggi. Oleh karena itu, pengobatan akan lebih manjur apabila getah pisang diolah terlebih dahulu. Penelitian yang dilakukan Yo saphat Bayu Rosanto, Nur Ferliana Sari, Hajar Novelty Wity, Rahma Ningsih, dan Sekar Putri itu saat ini baru diujicobakan pada 24 ekor marmut.
Getah pisang yang diberikan kepada hewan percobaan itu telah diolah dalam bentuk salep. Hasilnya, pada bagian tubuh hewan yang terluka diketahui adanya peningkatan jumlah angioge nesis dan osetoblas serta kepadatan kolagen. Ke-24 marmut itu awalnya dibagi menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama diberi kontrol positif dengan menggunakan obat penyembuh luka.
Kelompok kedua diberi kontrol negatif dengan gel CMC Na (Carboxymethyl Cellulose Natrium), dan kelompok ketiga diberikan kombinasi antara getah tanaman pisang raja dan CMC Na. Dari hasil percobaan, didapati proses penyembuhan pada marmut yang diberi kombinasi obat antara getah tanaman pisang dan CMC Na lebih cepat. “Marmut yang mendapatkan perlakuan kombinasi dapat sembuh dua kali lebih cepat dibandingkan marmut yang tidak mendapat perlakuan tersebut.
Dalam waktu lima hari, luka pada tubuh marmut sudah sembuh, dan tingkat kesembuhannya bisa mencapai 100 persen,” kata Yosaphat. Hasil tersebut, tambah dia, membuktikan bahwa getah pisang raja dapat mempercepat penyembuhan luka setelah pencabutan gigi meski sementara ini baru diujicobakan pada marmut.
Mudah dan Murah Hasil penelitian yang dilakukan para mahasiswa itu setidaknya memberi harapan akan adanya obat penyembuh luka yang murah dengan bahan baku yang mudah diperoleh. Biaya penelitian yang dikeluarkan terbilang sangat kecil. Apabila ditotal, biayanya hanya mencapai sekitar 135 ribu rupiah. Dana sebesar itu digunakan untuk membeli batang pisang dan membiayai proses pengeringan dengan oven. Dilihat dari prosesnya, pembuatan obat luka dari getah tanaman pisang raja terbilang sederhana serta mudah diaplikasikan. Rahma menjelaskan cara pengolahan getah tanaman pisang itu. Awalnya, tanaman pisang raja dipotongpotong, kemudian air dan getahnya diperas. Air dan getah pisang itu kemudian dikeringkan dengan menggunakan oven selama tiga hari.Suhu pengeringan mencapai 55 derajat celcius. Hasil pengeringan itu kemudian dicampurkan dengan CMC Na. “Perbandingannya, getah pisang 80 persen sedangkan CMC Na sekitar 20 persen.
Dengan komposisi seperti demikian, maka luka lebih cepat tertutup 30 hingga 60 persen,” papar Rahma. Lebih lanjut, dia menyatakan hasil penelitian itu mungkin bisa pula segera diterapkan pada manusia setelah melalui serangkaian pengujian, seperti uji kandungan, uji toksisitas, uji klinis, dan paten. Menurut Rahma, meski penelitian terfokus pada pisang raja, tidak berarti pisang jenis lain tidak bisa dimanfaatkan sebagai obat. Semua jenis pisang memiliki kandungan dan khasiat yang relatif sama. “Ada banyak bahan alam bisa dimanfaatkan sebagai obat.
Namun, pemanfaatannya masih amat sederhana.” Pemanfaatan getah tanaman pisang itu dinilai berdampak positif bagi lingkungan karena dapat mengurangi limbah yang ada di lingkungan.
Penelitian yang telah dilakukan Yosaphat dan rekan-rekannya itu berhasil mengantarkan mereka meraih juara pertama kategori Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Penelitian dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional XXIII yang diselenggarakan di Universitas Mahasaraswati, Denpasar, Bali.


LinkBack URL
About LinkBacks





Reply With Quote
Bookmarks