“Langit tinggi bagai dinding, lembah luas ibarat mangkok, hutan menghijau seperti zamrud, sungai mengalir ibarat naga, tak terbilang kekayaan kampung ini. Sungguh tak terbilang. Maka yang manakah harta karun paling berharga?”
Kutipan ini adalah teki-teki terakhir yang diberikan Wak Yati kepada Pukat, sebuah teka-teki yang menjadi benang merah dari cerita ketiga serial Anak-anak Mamak karya Tere-liye. Teka-teki yang sebenarnya lebih tepat menjadi ruh dari ceritanya karena jawaban teka-teki itulah yang dipaparkan seorang Tere-liye dalam sudut pandang seorang anak cerdas bernama Pukat. Anak yang seusianya selalu memiliki rasa keingintahuannya dengan mengakhirinya melalui bertanya, namun tidak dengan Pukat, ia lebih suka memikirkan dan mencari tahu apa yang membisiki keingintahuannya. Tauladan yang cukup menyentil pada anak-anak jaman sekarang yang mulai lupa untuk mencari dan berusaha sendiri karena terlena dengan kemapanan dan kecanggihan teknologi. Menghitung sudah terganti dengan komputer atau kalkulator, membaca diganti dengan “bertanya” langsung pada 'Embahnya' mesin pencari dari Internet. Proses bagaimana keingintahuan itu mampu dijawab telah menghilang. Semuanya jadi lebih sibuk pada hasilnya. Hanya pada tujuannya, padahal perjalanan mencapai tujuan itulah sejujurnya terlalu berharga untuk dilewatkan. Menurut hemat saya, melalui novel ini Tere-liye berpesan untuk sekedar menengok kekanan dan kekiri dalam perjalanan hidup, menikmatai “perjalanan” menuju tujuan yang seringkali lebih berharga dari tujuan itu sendiri.
Saya pun harus mengakui bahwa ada sesuatu yang lain pada novel ini, meski diawal merasa monoton karena awal dari ceritanya hampir mirip alurnya dengan serial kedua nya (Burlian); akhir ceritanya pun mudah ditebak. Hal yang banyak saya temui di novel “melayu” pun cukup kentara. Tapi diakhirnya saya baru tersadar bahwa meski akhir ceritanya tak terlalu mengejutkan, ada sesuatu yang ingin disampaikan. Teka-teki dan pesan akan “perjalanan” itulah yang menjadikan istimewa buku ini. Tidak seperti pada Burlian sang anak Mamak yang spesial dan dibumbui oleh keberuntungan dimana-mana, Pukat adalah sebuah prototipe bahwa berusaha sendiri dan berpikir; memaksa kita selalu menggunakan otak meski otak terkadang juga tak baik jika tak memakai hati. Selamat membaca dan mulailah berpikir, tapi jangan lupa memakai hati. :-)