Results 1 to 3 of 3

Thread: Banyak Penulis Sombong, Padahal Jago Kandang

  1. #1
    Member Bernad MT's Avatar
    Join Date
    Aug 2011
    Location
    Makasar, Sulawesi Selatan, Indonesia, Indonesia
    Posts
    504
    Rep Power
    1

    Post Banyak Penulis Sombong, Padahal Jago Kandang

    JAKARTA, KOMPAS.com--Banyak penulis Indonesia yang terkenal di negara sendiri, sudah bangga dengan karyanya. Padahal, ketika dibawa ke negara lain, belum tentu dikenal oleh pencinta sastra di negara tersebut. Banyak penulis Indonesia yang bersombong-sombong padahal jago kandang. Andrea Hirata tak ingin menjadi penulis yang seperti itu.
    Penulis buku Tetralogi Laskar Pelangi ini mengisahkan kepada KOMPAS.com tentang pengalamannya saat mengikuti Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) tahun 2010 lalu. Saat itu, bukunya mulai dikenal di Indonesia dan film Laskar Pelangi pun sedang dalam proses produksi. Namun, dia yang sudah merasa karyanya dikenal, ternyata mengalami kesulitan sewaktu memperkenalkan Laskar Pelangi kepada penulis lain dari berbagai negara yang hadir dalam UWRF.
    “Saya mengatakan ada film yang diadaptasi dari novel saya, tapi filmnya belum jadi. Ketika saya memperkenalkan buku saya pun, ternyata mereka belum tahu seperti apa Buku Laskar Pelangi. Saya ingin mereka membacanya saat itu, tapi bahasanya masih Bahasa Indonesia dan mereka tidak mengerti,” kenang Andrea di Canteen Plaza Indonesia, Jakarta, Rabu (28/9/2011).
    Dari pengalaman tersebut Andrea semakin bersemangat untuk menerjemahkan karyanya ke dalam beberapa bahasa sekaligus. Saat ini, buku Laskar pelangi telah terbit dalam 26 bahasa dan siap diedarkan ke seluruh dunia. “Saya beruntung bertemu dengan agen buku dari Amerika, yakni Kathleen Anderson Literary Management yang akan membantu mendistribusikan karya saya ke berbagai negara di dunia,” ujar Andrea.
    Menurut Andrea, untuk bisa mempromosikan buku-buku karyanya di negara lain, sangat berbeda dengan Indonesia. Jika di Indonesia, penulis hanya bergantung kepada penerbit, maka di negara lain, penulis harus bekerja sama dengan agency buku untuk melakukan distribusi. Maka, penulis Indonesia juga harus mencari agency buku jika ingin bukunya go internasional.
    Tahun ini Andrea akan kembali menghadiri UWRF 2011 dan ia berharap bisa merepresentasikan Laskar Pelangi kepada penulis-penulis lain yang menhadiri event tahunan tersebut. “Penulis akan merasa lebih nyambung berbicara dengan komunitas penulisnya dalam kancah intrenasional jika bukunya telah dibuat dalam platform internasional,” jelas Andrea.
    Ia pernah merasakan sendiri bagaimana sulitnya mengkomunikasikan karya kepada bangsa lain yang memiliki bahasa yang berbeda dan pemahaman akan sastra yang juga berbeda. Dari pengalamannya mendapat beasiswa di Amerika dan mengikuti berbagai festival sastra di luar negeri, ia bisa menganalisa di mana posisi dirinya dan dimana posisi sastra Indonesia.
    “Saya tidak mau jadi kodok dalam tempurung. Saya akui bahwa saya, dan Indonesia masih harus banyak belajar. Dari event-event internasional kita bisa tahu posisi kita di mana. Saya pribadi melihat China, India, dan Filipina berkembang sangat pesat dalam sastra. Event-event Internasional seperti ini bisa membantu kita membangun jaringan dengan penulis dari negara lain sekaligus banyak belajar dari pengalaman mereka,” jelas Andrea.
    Ia menambahkan, dalam ajang UWRF, setiap tahunnya, akan dihadiri kritikus sastra, reviewer, penerbit, juga agency buku dari berbagai negara. Ini kesempatan yang sangat besar bagi penulis Indonesia untuk mengkomunikasikan karyanya. UWRF 2011 yang disponsori oleh ANZ, akan dihadiri 130 penulis dari 25 negara, dengan 137 event dan diadakan di 57 tempat. "Penulis Indonesia harus mulai belajar untuk melakukan presentasi, harus bisa memimpin diskusi seputar karyanya, dan menjalin jaringan yang luas dengan penulis dari negara lain," ujar Andrea.
    Ia juga menyarankan agar penulis Indonesia membiasakan menulis dalam bahasa Inggris, sejak awal menulis. "Jangan berharap diterjemahkan orang lain, karena masalah translate itu masih jadi masalah yang cukup rumit saat ini. Buku Laskar pelangi diterjemahkan dalam bahasa Inggris selama satu tahun, lalu ke dalam bahasa Korea selama 2 tahun. Kalau penulisnya bisa menulis dalam berbagai bahasa, tentu distribusi ke negara lain akan lebih cepat,” tambah Andrea.
    Andrea mengaku, selain menulis, ia juga mulai membiasakan diri untuk berbicara dalam bahasa Inggris meskipun masih banyak kesalahan di sana-sini. “Coba saja, beranikan diri untuk bicara,” tutupnya.

    http://oase.kompas.com/read/2011/09/...l.Jago.Kandang
    http://kompasiana.com/bernadtulasi


  2. #2
    Newbie
    Join Date
    Sep 2010
    Posts
    34
    Rep Power
    0

    Re: Banyak Penulis Sombong, Padahal Jago Kandang

    laskar pelamngi keren deh

    semoga pengarangnya bisa lebih terkenal ke manca negara

  3. #3
    Junior Member Bhayu_MH's Avatar
    Join Date
    Aug 2011
    Location
    http://bhayu.net
    Posts
    255
    Rep Power
    1

    Re: Banyak Penulis Sombong, Padahal Jago Kandang

    Karena yg bicara Andrea, oke-lah angkat topi. Apa yg dikatakannya betul, cuma kalau yg bicara dosen sastra mungkin tidak dianggap. Padahal memang kondisi kita seperti itu. Semoga ada upaya nyata utk memperbaikinya.
    Bhayu MH
    Pemilik blog LifeSchool
    Follow my Twitter: @bhayumh

Tags for this Thread

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •  

Content Relevant URLs by vBSEO 3.6.0