Hi mas Adiansyah,
seneng ternyata ada penggemar Mahabharata juga di siniSaya sebetulnya sedang mikir untuk buat trit, eh ternyata sudah ada ..
Dari penjelasan mas Adi sepertinya mas Adi menguraikan Mahabharata yang versi India asli ya? Sangat menarik karena meskipun secara garis besar sama dengan apa yang saya ketahui, akan tetapi mas memberikan detail-detail yang lebih dalam.
Sedikit mengenai Empu Wiyasa, atau Vyasa, yang menurut Mas Adi berarti Vision / Visi, ini hal baru bagi saya. Yang saya ketahui menurut pendapat yang paling umum Mahabharata ditulis oleh Vyasa yang bisa juga berarti semacam resi atau empu dalam bahasa kita. Dan ini berarti Vyasa bukanlah satu individu tapi bisa jadi banyak individu. Ini sesuai dengan rentang penulisan Mahabharata yang (diduga) sangat panjang yaitu (CMIIW) dari sekitar 700 SM s.d 300 SM
Dalam perjalanannya Mahabharata kemudian juga mendapatkan penambahan Bagavad Ghita, yg berisi wejangan atau nasihat Krishna (Vishnu) kepada Arjuna di tengah perang Bharatayudha. Bagavad Ghita sendiri kemungkinan besar ditulis setelah kisah Mahabharata. Mohon koreksi bila saya salah, karena saat ini tidak pegang sumber, hanya berdasarkan ingatan saja, hehe.
Selanjutnya juga Mahabharata berkembang dalam beberapa versi, terutama di Indonesia yang masuk melalui agama Hindu dan berasimilasi dengan budaya Jawa menghasilkan kisah Mahabharata versi Jawa. Ada perbedaan filosofis yang tidak kentara tapi menurut saya menunjukkan bentuk penolakan pemikir Jawa terhadap sistem kasta. Penolakan ini tidak keluar dalam bentuk ekstrim tapi secara halus dengan memunculkan tokoh punakawan dalam wayang Mahabharata. Para punakawan yang merupakan abdi dalem alias orang biasa atau kasta Sudra yang mengabdi kepada kaum Ksatria ternyata justru disegani sekali oleh para Dewa. Dalam kisah Jawa seringkali disisipkan kisah bahwa Krishna yg merupakan titisan Vishnu meminta nasihat dari para punakawan ini. Sistem kasta India yang berjenjang dipoles / dilengkapi oleh budaya Jawa menjadi cakra manggilingan, suatu perputaran / roda. Sehingga muncullah filosofi Jawa baru yang menolak sistem kelas tapi sekaligus menerima pesan Mahabharata yaitu bahwa setiap orang memiliki kodrat atau tempatnya di dunia. Bukan dalam arti pasif apalagi negatif, tapi justru dalam arti positif menurut saya.
Dlm wayang Jawa muncul juga tokoh2 carangan seperti Antasena dan Antareja, juga Wisanggeni, Hyang Anantaboga, Urang Ayu, Nagagini dll. Yang saya kurang paham adalah Abimanyu, apakah dia ada di versi India?
Monggo dilanjut dulu mas Adhi nanti saya join diskusinya.


LinkBack URL
About LinkBacks
Saya sebetulnya sedang mikir untuk buat trit, eh ternyata sudah ada ..



Reply With Quote




Bookmarks