Seperti halnya beberapa novel barat dengan tingkat popularitas sangat tinggi seperti seri Harry Potter atau Twilight, beberapa novel terbaik Indonesia juga telah sukses memancing minat insan-insan perfilman dan kemudian diadaptasi ke layar lebar.


Novel-novel seperti “Ayat-Ayat Cinta” karya Habiburrahman El-Shirazy dan “Laskar Pelangi”-nya Andrea Hirata merupakan judul-judul yang fenomenal dalam dunia sastra Indonesia. Karya-karya tersebut dapat dibilang fenomenal karena hingga saat ini buku novelnya pun masih dicari orang. Dan ketika novel-novel tersebut diadaptasi menjadi film bioskop, penonton pun tumpah ruah, seperti yang diprediksikan oleh kebanyakan orang.


Kisah kesuksesan buah pena yang diangkat ke layar lebar sebenarnya bukan hal baru di tanah air. Ketika arus film lokal melaju deras pada era ‘80an silam, film-film berbasis novel seperti “Lupus: Tangkaplah Daku, Kau Kujitak” sudah pernah menghiasi dunia perfilman dalam negeri.


Reaksi penikmat film Indonesia terhadap genre film adaptasi bisa dikatakan beragam. Ada yang lebih suka versi filmnya, ada yang jadi lebih mendalami sebuah karya novel setelah menonton filmnya di bioskop, namun tidak sedikit pula yang justru kecewa setelah menonton filmnya.


Kekecewaan ini umumnya dikarenakan film-film yang diangkat dari novel kesayangan mereka tersebut agak menyimpang dari versi bukunya. Penyimpangan ini bisa berupa jalan cerita yang agak berbeda, atau visualisasi yang tidak sesuai dengan harapan penontonnya.


Hal tersebut sebenarnya wajar. Saat membaca novel, pembaca bebas membiarkan imajinasinya untuk memvisualisasikan plot demi plot, adegan demi adegan. Sementara pada film, kreasi yang dihasilkan sangat bergantung pada garapan sang sutradara beserta tim produksinya.


Kalau kamu termasuk orang yang hobi baca novel dan nonton film, coba kunjungi page ini aja! Di situ novel lagi jadi topik hangat lho...