Page 3 of 35 FirstFirst 12345678910111213 ... LastLast
Results 21 to 30 of 347

Thread: Old Shutterhand-Winnetou by Karl May


  1. #21
    Member alexandw's Avatar
    Join Date
    Oct 2008
    Location
    **undetect**
    Posts
    585
    Rep Power
    6

    Karl Friedrich May

    Page 10 of 11


    1901
    14 Februari: Sahabat May Richard Plöhn meninggal karena penyakit ginjal. Klara istrinya sangat terpukul; dia sekarang adalah tamu tetap di Villa “Shatterhand”.

    Untuk Joseph Kürschner May menulis novelnya yang mendukung perdamaian Et in terra pax. Dengan itu May merusak kecenderungan imperialisme – semangat patriotisme dalam kumpulan tulisan bertajuk “China” yang salah satunya adalah tulisan May.

    Pada akhir September May bersama Emma dan Klara melancong ke Switzerland ke Vierwaldstaetter See. Pada musim gugur sebagai jawaban terhadap polemik serangan pers dia menulis sebuah pamlfet tanpa nama “Karl May als Erzieher” dan “Die Wahrheit über Karl May”.
    Pada 10 Desember May menuntut Adalbert Fischer atas cetak ulang tidak sah novel-novel Münchmeyernya.

    1902
    Di awal tahun seorang editor dari Cologne, Hermann Cardauns, mengadakan beberapa ceramah anti-May. Dalam ceramah itu dia menggambarkan novel-novel Münchmeyer May sebagai “luar biasa tak bermoral”.

    10 Maret: Karl May membawa Pauline Münchmeyer ke pengadilan, berlawanan dengan keinginan istinya Emma yang adalah sahabat karib Pauline. Pada 16 Maret May menyewa pengacara Rudolf Bernstein untuk meminta Pauline Münchmeyer melakukan hal-hal berikut:

    · Memberikan pernyataan tentang jumlah karya-karya Karl May yang dicetak dan diedarkan oleh Perusahaan Penerbitan Münhmeyer sampai dengan 16 Maret 1899
    · Jumlah keuntungan bersih, dan
    · Membayar komisi, jika ternyata sudah dicetak lebih dari 20.000 eksemplar.

    Di musim panas Karl May, Emma, dan Klara melancong melalui Berlin, Hamburg, Leipzig, dan Muncih ke Bozen dan akhirnya ke Mendel. Di Hotel Penegal pada tanggal 21 Agustus berakhirlah pernikahan Karl May dengan ucapan Emma: “Kau uruslah orang itu, aku sudah muak dengannya!” Keadaan yang lebih terperinci yang pada akhirnya membawa kepada perceraian, sejauh ini tidak diselidiki dengan memuaskan. Orang dapat menganggap bahwa cara Emma bertingkah laku selama tahun-tahun perubahan hidupnya, berubah menjadi sukar; juga ada kemungkinan tanda-tanda meningkatnya gangguan psikologi (Emma meninggal pada tanggal 13 Desember 1917 di sebuah klinik). Dia juga mudah sekali marah dan kegusarannya ditujukan kepada Karl May dan menyebabkan kelangsungan pernikahan itu menjadi tidak mungkin. Tak perlu disangsikan lagi Klara Plöhn memililh waktu yang baik. Akhirnya baik Karl dan Klara menemukan bahwa mereka lebih cocok bersama-sama.

    19 Agustus: Emma May menandatangani surat-surat perceraian.

    10 September: May menyimpan dokumen perceraiannya di Radebeul.

    Buku-buku Fehsenfeld: Im Reiche des silbernen Löwen III.

    1903
    14 Januari: Pernikahan May bubar.

    4 Maret: Perceraian itu sudah sah secara hukum.

    30 Maret: Pernikahan Karl May dan Klara Plöhn di kantor catatan sipil. Diikuti dengan pernikahan di gereja Lutheran di Radebeul sehari kemudian.

    25 Mei: Di [Penerbit] Adalbert Fischer terbit karya May Erzgebirgische Dorfgeschichten.

    3 November: Emma menerima dari May tunjangan tahunan sebesar 3000 Mark; untuk itu dia harus tinggal sedikitnya 100 km jauhnya dari Dresden – dia pindah ke Weimar.

    Awal November pengacara Münchmeyer Dr. Gerlach berhasil mendapatkan catatan kriminal May. Hasilnya nampak pada tanggal 8 November, May menjadi sakit parah: Demam tinggi dengan kelemahan pada hati.

    Buku Fehsenfeld: Im Reiche des silbernen Löwen IV.

    1904
    8 Maret: Karl dan Klara May mengunjungi seniman pelukis Sascha Schneider di Meißen. Dia ingin membuat halaman judul yang berbeda pada semua buku Fehsenfeld, khususnya untuk menekankan nilai-nilai artistik perdamaian dari tulisan-tulisannya – suatu perubahan arah yang amat jelas dari seorang yang selama ini dikenal sebagai “Penulis untuk kaum muda”.

    Pada pertengahan September terbit Et in terra pax dalam bentuk buku Fehsenfeld berukuran besar dengan judul Und Friede auf Erden!

    26 September: Pauline Münchmeyer diperintahkan untuk memberikan laporan, segera setelah Karl May memberikan keterangan di bawah sumpah.

    Natal: Sebagai balas dendam atas pinjaman yang ditolak yang berusaha diperoleh dari May, Rudolf Lebius, seorang bandit-pers tak bermoral, meneriakkan tulisan yang tertera di plakat besar yang tergantung di etalase toko buku Dresden, yang dari jauh terlihat jelas karena ditulis besar-besar dengan tinta merah: “Hukuman-Hukuman Masa Lalu Karl May”.

    1905
    Di awal tahun, terbit pandangan May tentang urusan [Münchmeyer] itu sebagai cetakan pribadi, Ein Schundverlag. Di dalamnya dia menceritakan masa-masa yang dilaluinya bersama Heinrich Münchmeyer. Pada tahun 1909 juga akan terbit sebagai cetakan pribadi, Ein Schundverlag und seine Helfershelfer.

    Pada 3 Oktober keberatan May atas umpatan Lebius dibahas di hadapan pengadilan wilayah Dresden. Karena kesalahan siasat pengacara May, Klotz, catatan hukuman masa lalu Karl May boleh dibaca oleh umum.

    Pada bulan yang sama May menghadiri ceramah yang diadakan oleh peraih hadiah Nobel Bertha von Suttner di Dresden. Persahabatan tumbuh di antara mereka berdua.

    1906
    5 Februari: May memenangkan persidangan kedua kasus Münchmeyer.

    30 Juni: Rudolf Lebius menyebut May penjahat turunan.

    1 September: Drama May Babel und Bibel, Arabische Fantasia in zwei Akten diterbitkan Fehsenfeld sebanyak 1200 eksemplar dalam satu edisi.

    1907
    9 Januari: May memenangkan persidangan ketiga kasus Münchmeyer di pengadilan Reich [Jerman] di Leipzig. Tentang penggantian atas kerugian yang ditimbulkan, masih belum diputuskan. Untuk Waldröschen saja, perwakilan hukum May, Rudolf Netcke, menuntut ganti rugi sebesar 250.000 Mark! Pada 11 Februari May memberikan pernyataan di bawah sumpah berikut ini:

    Saya bersumpah di dalam nama Tuhan Yang Mahakuasa dan Mahatahu
    1. Saya, setelah tanpa sengaja berjumpa dengan almarhum Heinrich Gotthold Münhmeyer pada tahun 1882 di sebuah restoran di Dresden, berjanji untuk menulis sebuah novel untuknya, yang berjudul WALDRÖSCHEN, dengan syarat berikut ini:
    Novel itu akan terbit dengan nama samaran dan akan dicetak dan diedarkan hanya sampai 20.000 eksemplar. Sebagai kompensasi saya akan menerima 35 mark untuk setiap edisi dan selain dari itu, kalau jumlah cetakan yang disepakati sudah tercapai, sejumlah uang penghargaan lagi.
    Selain itu saya akan mendapatkan hak untuk memasukkan novel itu ke dalam kumpulan karya saya.
    2. Ketentuan-ketentuan di atas kemudian dilanjutkan pada novel DEUTSCHE HERZEN UND HELDEN, DER VERLONERE SOHN, dan DER WEG ZUM GLÜCK, namun dengan ketentuan bahwa upah untuk setiap cetakan novel yang disebut tadi bukan hanya 35, tapi 50 Mark.
    3. Mengenai novel DIE LIEBE DES ULENEN I, pada tahun 1883 saya dan Münchmeyer sepakat bahwa saya akan mengizinkan dia untuk mencetak novel itu hanya dalam “Deutscher Wanderer” edisi tahun 1884.
    4. Hal yang sama sudah disepakati dengan Münchmeyer tentang enam cerita dari 1875 sampai 1884, AUS DER MAPPE EINES VIEL GEREISTEN (INN-NU-WOH dan OLD FIREHAND), EIN STÜCKLEIN VOM ALTEN DESSAUER, DIE FASTNACHTSNARREN, UNTER WERVERN, DER GITANO, dan DIE POLIN [WANDA], bahwa hanya satu cetakan dalam edisi tahun yang dimaksud yang akan diterbitkan.
    5. Sehubungan dengan karya-karya saya dari 1-4 di atas, saya tidak sepakat bahwa setelah menerima pembayaran dari Münchmeyer yang hanya sekali, dia akan memperoleh hak penerbitan yang tanpa batas.
    Kiranya Tuhan menolong saya.

    7 April: Penerus Münchmeyer, Adalbert Fischer, meninggal dunia. Pada 15 April 1907 pengacara Münchmeyer, Dr. Gerlach, melaporkan May dan pengacaranya atas tuduhan sumpah palsu. Celaan itu terbukti tak dapat dipertahankan.

    8 Oktober: Ahli waris penerbit Fischer menyatakan dalam suatu penyelesaian, “bahwa di rumah penerbitan H. G. Münchmeyer, novel-novel karya penulis Karl May yang sudah dicetak, selama suatu periode mengalami penyisipan dan perubahan oleh orang ketiga, sehingga dalam bentuknya yang baru, novel-novel itu tidak dapat lagi dianggap sebagai hasil karya Karl May. Nama Karl May sebagai penulis sudah dihapus dari lima novel-novel Münchmeyer yang nama buruknya amat terkenal dan mulai sekarang dapat dicetak sepenuhnya dengan tanpa nama.”

    Penerus Münchmeyer… sudah membuat perubahan-perubahan begitu rupa sehingga antara edisi yang lama dan edisinya yang baru ada perbedaan sebanyak ratusan halaman. Bagaimanapun ini sungguh mengerikan! Jika ada orang yang berani membuang dan menyapukan kuas di atas lukisan-lukisan seorang pelukis atau memahat dan menakik patung-patung seorang pemahat dan menawarkan perusakan seperti itu untuk dijual sebagai karya asli, seluruh kesatuan wartawan akan membuat si penyebab kerugian dan menuding si perantara sedemikian rupa sehingga dia tidak akan sanggup menampakkan batang hidungnya lagi. [Karl May: Ein Schundverlag, h. 852f.]

    13 September: Rapat dengan editor Hausschatz, Otto Denk. Setelah sembilan tahun, May bersedia menulis lagi untuk “Deutscher Hausschatz”. Dia segera memulai dengan sebuah konsep untuk “Mir von Dschinnistan”. Dengan ini dia membuat gebrakan ke dalam sastra murni. Dengan pembaca “Hausschatz”, yang mengharapkan kisah-kisah perjalanan lama yang penuh aksi seperti dulu, novel ini sedikit sekali mendapat tanggapan.

    Di akhir tahun May menulis Frau Pollmer, eine psychologische Studie, yang di dalamnya dia dengan sia-sia berusaha menulis bahwa dirinya sudah terbebas dari istri pertamanya. Naskah ini sampai sekarang tidak dicetak. Mulai Oktober di surat kabar “Efeuranken” Regensburg terbit kisah perjalanan Schamah.

  2. #22
    Member alexandw's Avatar
    Join Date
    Oct 2008
    Location
    **undetect**
    Posts
    585
    Rep Power
    6

    Karl Friedrich May

    Page 11 of 11


    1908
    8 Maret: Dalam surat wasiatnya yang terakhir May mendirikan sebuah yayasan amal.

    23 Maret sampai 23 April: Di “Grazer Volksblatt” terbit Abdahn Effendi.

    Seorang peneliti antropologi dan seksual, F. S. Krauss, mengunjungi May dan menyebutnya “berkat bagi kemanusiaan”.

    Pada tahun ini Karl May dan istrinya Klara melakukan perjalanan pertama dan satu-satunya ke Amerika. Tempat-tempat yang dikunjungi: Bremen (5 September), New York (16 September), Albany (22/23 September), Buffalo (akhir September), air terjun Niagara (awal Oktober), Lawrence/Massachusetts di rumah teman sekolah, Pfefferkorn (Oktober), Boston dan New York (November). Pada 4 November May agaknya sudah kembali ke Radebeul. Awal Desember mereka tinggal sebentar di London.

    1909
    31 Juli: Karya May, Merhameh, muncul di “Eichsfelder Marienkalender 1910”.

    September: Dr. Adof Droop menerbitkan sebuah telaah: “Karl May. Analisa kisah-kisah perjalanannya”.

    22 November: Rudolf Lebius menulis kepada seorang teman Emma, penyanyi opera Selma vom Scheidt, bahwa dia menganggap Karl May “adalah penjahat sejak lahir”.

    17 Desember: Karl May memasukkan keberatan atas umpatan Lebius pada hakim pengadilan Berlin-Charlottengurg.

    8 Desember: May mengadakan ceramah Sitara, das Land der Menscheitsseele di Augsburg.

    Buku-buku Fehsenfeld: Ardistan und Dshninnistan I dan II.

    1910
    10 Januari: Karl May mulai melakukan tuntutan hukum terhadap Rudolf Lebius atas tuduhan fitnah dari jenis yang paling berat karena artikelnya “Hinter den Kulissen” [Di Balik Layar] yang diterbitkan oleh majalah mingguan “Der Bund” pada 19 Desember 1909. Lebius menyatakan bahwa May pernah bertahun-tahun tinggal di hutan sebagai kepala penyamun, melakukan penyerangan setiap hari, menggerebek wanita-wanita pedagang di pasar, menyalahgunakan secara seksual keponakannya yang berusia sembilan tahun, dan mencekik kakek Emma, istri pertamanya!

    Sakit May yang sering kambuh, diperparah dengan pembunuhan karakater, pada akhirnya menyebabkan kematian sang penulis. Persidangan penuh di pengadilan tidak pernah terlaksana. Menurut ahli hukum, Lebius seharusnya dijatuhi hukuman penjara.

    Pada 12 April Lebius pertama-tama dinyatakan tidak bersalah melakukan tindakan pelecehan (keberatan pada tanggal 17 Desember 1909) dalam suratnya kepada Selma vom Scheidt; May naik banding.

    12 Mei: Aku tidak menyangkal bahwa aku pernah mengalami konflik dengan hukum sekitar 40 atau 50 tahun yang lalu dan menjalani hukuman karenanya; tapi apa yang aku lakukan pada waktu itu ada di bawah tekanan mental yang paling berat dan keadaan [pikiran] yang terpaksa, yang sekarang ini, di zaman yang lebih maju, tidak akan ditangani oleh hakim, tapi oleh dokter. Lawanku mengungkit-ngungkit hal ini dan menambahinya dengan dusta-dusta yang licik. Ada lima persidangan hukum yang sedang berlangsung yang darinya kebenaran akan muncul. [May dalam sebuah surat kepada Peter Rosegger}

    Buku-buku Fehsenfeld: Winnetou IV, Mein Leben und Streben. Hampir berbarengan dengan autobiografi May, Rudolf Lebius menerbitkan “Die Zeugen Karl und Klara May”, - sebuah pamflet dari jenis yang paling buruk! Karena adanya keberatan yang timbal balik, baik autobiografi May dan juga pamflet Lebius dicekal.

    1911
    8 Mei: Sekali lagi sakit parah, aku menulis kepadamu pendek saja. Aku terlalu tinggi menilai kekuatanku, radang paru-paru dan ketegangan fisik karena memberikan kesaksian dalam persidangan membuatku betul-betul ‘kaputt’… Aku harus pergi ke pemandian air panas, sudah berangkat pada hari Kamis. [Karl May kepada pengacara Haubold].

    11 Mei: Keberangkatan di Joachimsthal. Dr. Gottlieb memerintahkan untuk mandi. Dari pertengahan Juni sampai akhir Juli Karl dan Klara May berlibur di Tirol Selatan. Di Mendel kondisi kesehatannya memburuk lagi.

    18 Desember: Dalam persidangan banding (keberatan tanggal 17 Desember 1909), Rudolf Lebius dinyatakan bersalah melakukan pelecehan dan dikenai denda sebesar 100 Mark.

    1912
    25 Februari: May merayakan ulang tahunnya yang ketujuhpuluh.

    Awal Maret May untuk terakhir kalinya pergi ke Hohenstein-Ernstthal. Di sana dia mengunjungi adiknya Wilhelmine Schöne; keponakan mereka, Ilse, menerima darinya satu contong penuh permen sebagai hadiah mulai sekolah.

    22 Maret: Karl May memberikan seminar di Vienna atas undangan “Akademischen Verbandes für Literatur und Musik” di hadapan lebih dari 2000 pendengar, pidato perdamaiannya berjudul Empor ins Reich der Edelmenschen. Di antara yang hadir ada Bertha von Suttner.

    30 Maret: Karl May meninggal sekitar pukul 8 malam di rumahnya, Villa “Shatterhand”. Nafasnya berhenti karena penyakit paru-paru. Hati yang besar ini berhenti berdetak. Upacara pemakaman May diadakan pada 3 April di pemakaman Radebeul.

  3. #23
    Member alexandw's Avatar
    Join Date
    Oct 2008
    Location
    **undetect**
    Posts
    585
    Rep Power
    6

    Daftar Buku Petualangan Karl May

    DAFTAR BUKU PETUALANGAN KARLMAY

    I. KISAH PERJALANAN:

    1. Kara Ben Nemsi I: Menjelajah Gurun dan Kara Ben Nemsi II: Penyembah Setan (*)
    2. Kara Ben Nemsi II: Penyembah Setan dan Kara Ben Nemsi III: Petualangan di Kurdistan (*)
    3. Kara Ben Nemsi IV: Kafilah Maut dan Kara Ben Nemsi V: Dari Bagdad ke Stambul (*)
    4. Kara Ben Nemsi VI: Di Pelosok Balkan (*)
    5. Kara Ben Nemsi VII: Menjelajah Negeri Skipetar (*)
    6. Kara Ben Nemsi VIII: Shut: Kepala Bandit di Albania (*)
    7. Winnetou I: Kepala Suku Apache(**)
    8. Winnetou II: Si Pencari Jejak (**)
    9. Winnetou III: Winnetou Gugur (**)
    10. Petualangan di Afrika (*)
    11. Di Tepian Lautan Teduh (***)
    12. Petualangan di Amerika Selatan: Di Tepian Rio dela Plata (***)
    13. Petualangan di Amerika Selatan: Di Pegunungan Kordillera (***)
    14. Old Surehand I: Oase di Llano Estacado (**)
    15. Old Surehand II: Kisah-kisah di Jefferson City (** dan ***)
    16. Old Surehand III: Gunung Kepala Setan (**)
    17. Di Negeri Mahdi I (*)
    18. Di Negeri Mahdi II (*)
    19. Di Negeri Mahdi III (*)
    20. Iblis dan Pengkhianat I: Gunung Karang (*)
    21. Iblis dan Pengkhianat II: Krueger Bey (*)
    22. Iblis dan Pengkhianat III: Di antara Para Pencuri (*)
    23. Di Pelosok Negeri Asing (*, **, dan ***)
    24. Malam di Rocky Mountains (**)
    25. Di Tepian Akhirat (*)
    26. Di Kawasan Singa Perak I (*)
    27. Di Kawasan Singa Perak II (*)
    28. Di Kawasan Singa Perak III (*)
    29. Di Kawasan Singa Perak IV (*)
    30. Dan Damai di Bumi! (***)
    31. Ardistan dan Jinnistan I (*)
    32. Ardistan dan Jinnistan II (*)
    33. Winnetou IV: Ahli Waris Winnetou (**)

    II. CERITA UNTUK REMAJA:

    1. Anak Pemburu Beruang dan Hantu Llano Estacado (**)
    2. Petualangan di Tiongkok (***)
    3. Kafilah Budak (***)
    3. Harta Karun di Danau Perak (**)
    4..Surat Wasiat Inka (***)
    5. Raja Minyak (**)
    6. Mustang Hitam (**)

    Keterangan:
    Tanda *: cerita yang tokohnya Kara Ben Nemsi
    Tanda **: cerita yang tokohnya Winnetou-Old Shatterhand
    Tanda ***: cerita yang tokohnya Charley, si narator (saya), atau lain-lain

    Buku petualangan di atas jumlahnya 30. Jumlah buku keseluruhannya mencapai 80 buku termasuk Otobiografi (Kehidupan dan Upayaku) dan novel-novel picisan (Puri Rodriganda, Hantu Pegunungan Batu dll).

  4. #24
    Member alexandw's Avatar
    Join Date
    Oct 2008
    Location
    **undetect**
    Posts
    585
    Rep Power
    6

    Karya Karl May Memukau dan Menginspirasi

    JAKARTA, KOMPAS, 25 Februari 2008 - Karl May, pengarang besar kelahiran Jerman. melahirkan karya-karya yang memukau dunia, terutama di bidang geografi dan antropologi. Semasa hidupnya, 25 Februari 1842-30 Maret 1912, dia telah melahirkan 80 buku yang kemudian diterjemahkan ke dalam banyak bahasa.
    "Profesor siapa pun akan mengalami kesulitan besar bila bertanding dengan Karl May di bidang geografi, antropologi, dan psikologi, termasuk didaktika mengajar ilmu-ilmu tersebut," kata Daniel Dhakidae, Direktur The Indonesian-American Education Foundation (IAEF), dalam Diskusi Dunia Karl May yang digelar Bentara Budaya Jakarta
    (BBJ) bekerja sama dengan Paguyuban Karl May Indonesia. Sabtu (23/2) di BBJ. Jalan Palmerah Selatan, Jakarta. Tampil pula dalam diskusi tersebut sastrawan Seno Gumira Ajidarma. Selain diskusi, juga ada pemutaran film dokumenter drama Si Pengkhayal dari Saksen dan film televisi Kara Ben Nemsi. Sejak 20 Februari juga dipamerkan buku-buku yang ditulis Karl May.
    Menurut Daniel, kalau ada yang belum pernah membaca kisah-kisah petualangan Karl May, bacalah tetralogi karya besar pengarang ternama kelahiran Jerman tersebut. Karl May melalui karya-karyanya menjadi guru ilmu bumi dan geografi.
    "Saya mengenal tempat-tempat belahan barat dan timur, tentang adat istiadatnya, dan jiwanya hanya dengan membaca Karl May,"ujarnya. Walaupun terbit 100 tahun lalu, buku Karl May tetap menggugah.
    Sementara itu, Seno Gumira Ajidarma mengatakan, dengan membaca Karl May kita akan mencintai suku-suku dan penduduk asli. "Karl May mampu menceritakan kehebatan suku-suku tersebut sebagai manusia yang mencintai alamnya. Yang luar biasa, Karl May mendahului zamannya. Ide-idenya aktual, padahal itu ditulis 150 tahun lalu," katanya. Menurut Seno, Karl May semestinya menjadi ide menyelesaikan kasus-kasus kekacauan antarsuku di Indonesia. (NAL)

  5. #25
    Member alexandw's Avatar
    Join Date
    Oct 2008
    Location
    **undetect**
    Posts
    585
    Rep Power
    6

    Akhirnya ... Winnetou IV Terbit

    Setelah ditunggu-tunggu sejak 3 tahun yang lalu, akhirnya buku penutup dari Tetralogi Winnetou (d/h Trilogi Winnetou) pun muncullah. Untuk diketahui, saat ini Winnetou I telah dicetak 5 kali, Winnetou II 4 kali dan Winnetou III 3 kali, dan masih terus akan dicetak ulang.
    Ini dia, "Winnetou IV: Ahli-Waris Winnetou" ... Tigapuluh tahun setelah kematian Winnetou, Old Shatterhand mendapat undangan untuk kembali ke "Wild West", lawan dan kawannya menantinya di Gunung Winnetou. Rahasia apa yang menanti di sana? Arwah Santer, si pembunuh Ayah dan Adik Winnetou pun rupanya ikut serta mengikutinya ... Adegan-adegan yang pernah muncul di Winnetou I, II, III serasa hadir kembali. Orang-orang yang sama, lokasi yang sama, kejadian-kejadian yang berbeda ...

    Langsung diterjemahkan dari bahasa Jerman dari naskah asli yang 100% ditulis sendiri oleh Karl May, dan bukan oleh para editornya (sebagaimana yang banyak beredar di Jerman saat ini, buku aspal). Juga bukan buku ringkasan ala buku remaja seperti yang pernah beredar di Indonesia di masa yang lalu.

    Di akhir buku, disertakan pula telaah DR. Daniel Dhakidae (seorang penggemar berat Karl May yang membaca Trilogi Winnetou dari bahasa aslinya, dan sedikit dari orang Indonesia yang pernah membaca pesan terakhir Karl May: "Membubung Menuju Kawasan Manusia Mulia"), tentang perbandingan antara Friedrich Nietzsche dan Karl May, oh ya ... juga dengan sedikit bumbu Karl Marx (expanded version dari yang pernah dimuat di harian Kompas). Mungkin hanya dialah satu-satunya orang di dunia yang menulis telaah tentang Karl May dengan memperbandingkannya dengan tokoh-tokoh Jerman lain.

    Sekira 99 tahun yang lalu, tepatnya tahun 1908, ketika Dunia Barat sedang asyik dengan kolonialisme, seorang penulis, Karl May a.k.a Old Shatterhand a.k.a Kara Ben Nemsi menulis tentang humanisme universal sbb:

    "Sama seperti sejarah kemanusiaan pada umumnya, perkembangan setiap suku pun ditandai oleh dua arus yang justru saling bertentangan, yaitu arus yang menggiring kepada pemisahan dan arus kepada penyatuan. Atau boleh kita katakan, arus untuk membentuk satu kesatuan yang tunggal dan arus untuk membentuk kemajemukan. Pemisahan ini dimulai pada tingkatan yang disebut sebagai kemanusiaan sebagai satu umat, lalu bergerak turun ke tingkatan suku bangsa, negara, suku, kota, desa dan terus ke bawah dan baru berhenti pada kepala desa yang udik, di mana warganya tak pernah berpikir bahwa mereka adalah bagian dari entitas umat manusia. Ini adalah tahap-tahap yang melahirkan jiwa patriotis, semangat cinta tanah air serta negeri sendiri, tetapi juga semangat memuja-muja negeri sendiri secara berlebihan dan balik menghina negeri lain. Aliran yang kedua justru bertolak belakang dengan aliran yang pertama. Aliran yang ini mengantar kepada penyatuan seluruh umat melalui suatu pemahaman tunggal akan negara kesatuan yang berdaulat. Mana dari kedua jalan ini yang akan berujung pada kebahagiaan sejati, kebahagiaan hakiki, sampai saat ini jalan tersebut belum bisa diakui umat manusia, mereka masih harus mengenalnya melalui pengalaman pahit ..."

    Demikianlah, Karl May dalam "Winnetou IV: Ahli Waris Winnetou", "bermimpi" tentang perdamaian serta kesetaraan bangsa-bangsa di dunia, dan mimpinya rupanya terbangunkan oleh adanya dua kali Perang Dunia yang notabene membuat negerinya hancur-lebur!

    Winnetou IV adalah buku ke-10 yang diterbitkan oleh Paguyuban Karl May Indonesia (suatu klub buku non-profit penggemar karya Karl May) yang bekerjasama penerbit Pustaka Primatama. Masih ada lagi k.l 30 buku karya Karl May yang harus diterjemahkan dan diterbitkan. Perjalanan masih jauh!

    Seri Kisah Perjalanan: Winnetou-Old Shatterhand:

    (1) Winnetou I: Kepala Suku Apache;
    (2) Winnetou II: Si Pencari Jejak;
    (3) Winnetou III: Winnetou Gugur;
    (4) Winnetou IV: Ahli Waris Winnetou .
    Menyusul segera: Old Surehand I: Oase di Llano Estacado.

    Seri Kisah Perjalanan: Kara Ben Nemsi:

    (5) Kara Ben Nemsi I: Menjelajah Gurun;
    (6) Kara Ben Nemsi II: Penyembah Setan;
    (7) Kara Ben Nemsi III: Petualangan di Kurdistan.
    Menyusul segera: Kara Ben Nemsi IV: Kafilah Maut; Kara Ben Nemsi V: Dari Bagdad ke Stambul.

    Seri Cerita Untuk Remaja: Winnnetou-Old Shatterhand:

    (8) Anak Pemburu Beruang;
    (9) Hantu Llano Estacado.
    Menyusul segera: Harta Karun di Danau Perak; Raja Minyak; Mustang Hitam.

    Kumpulan Cerpen:

    (10) Gurun dan Prairie I.

    Saya telah berbicara. Howgh!

  6. #26
    Member alexandw's Avatar
    Join Date
    Oct 2008
    Location
    **undetect**
    Posts
    585
    Rep Power
    6

    Ulasan Buku: Anak Pemburu Beruang

    Anak Pemburu Beruang adalah salah satu karya Karl May yang diperuntukkan bagi pembaca remaja. Namun bukan berarti kisahnya kalah seru dibanding karya-karya monumentalnya seperti seri Winnetou (I-IV) dan seri Kara ben Nemsi. Dalam novel ini kita kembali akan menikmati serunya petualangan Old Shatterhand dan Winnetou dengan setting cerita Yellowstone Park yang memesona.
    Kisahnya diawali dengan perjalanan dua orang sahabat, Davy Jangkung dan Jemmy Gendut ketika mereka membebaskan seorang pemuda indian bernama Wohkadeh yang ditangkap sekelompok orang kulitputih. Saat ditangkap, Wohkadeh sedang membawa pesan kepada Martin Baumann tentang ayahnya Baumann si pemburu beruang yang tertangkap suku Indian Soux Ogallalla. Davy Jangkung, Jemmy Gendut dan Wohkadeh akhirnya berhasil menemui Martin Baumann di pondoknya. Disana mereka bertemu dengan sahabat Martin, Hobble Frank dan pelayan setia keluarga Baumann, Bob Negro.

    Keenam orang ini pun segera berangkat untuk membebaskan Baumann. Di tengah perjalanan, mereka bertemu Old Shatterhand dan Winnetou yang bersedia membantu. Kini dengan rombongan berjumlah delapan orang, mereka melanjutkan misi membebaskan Martin Baumann. Ketika menuju Bighorn Mountain dan melewati padang perburuan suku Shoshone, Hobble Frank dan Jemmy gendut tertangkap oleh suku Shosone. Berkat kecakapan Old Shatterhand dan Winnetou mereka berhasil dibebaskan, bahkan mereka berhasil menculik kepala suku Shoshone, Tokvi-Tey di wigwamnya (perkemahan) sendiri. Tentu saja hal ini merupakan aib bagi Tokvi-Tey.

    Namun karena Old Shatterhand tak berniat bermusuhan dengan suku Shosone, Tokvi-Tey pun dibebaskan. Karena harga dirinya telah jatuh, Tokvi-Tey dan anaknya berniat bunuh diri, bagi mereka lebih baik mati daripada hidup menganggung malu karena pernah ditangkap oleh mukapucat di wigwamnya sendiri. Namun begitu mereka mengetahui bahwa yang menangkapnya adalah Old Shatterhand dan Winneotu, merekapun mengurungkan naitnya. Bagi mereka suatu kehormatan bila berhadapan dan tertangkap oleh dua orang pemburu mashyur yang namanya dikenal diseluruh ladang paire. Akhirnya Tokvi Tey dan suku Shosone bergabung untuk menyelematkan Baumann karena ternyata Baumann pernah menyelamatkan nyawa Tokvi tey ketika suku Soux Ogallalla menyerbu sukunya.

    Dalam perjalanan, rombongan ini dimata-matai oleh dua orang suku Usparoca. Old Shatterhand terpaksa membunuh mereka karena membiarkan mata-mata musuh hidup adalah tindakan yang sangat beresiko di daerah barat yang liar. Kejadian ini membuat marah, Oiht-e-keg-fa-wakon, kepala suku. Ia mengajak Old Shaterhand bertarung satu-lawan satu. Yang menang berhak atas nyawa yang kalah beserta rombongannya.

    Seperti sudah diduga, pertarungan ini dimenangkan oleh Old Shatterhand dan Winnetou. Berarti nyawa suku Usparoca berada dalam tangan Old Shatterhand. Alih-alih membunuh Oith-e-ke-fa-wakon, Old Shatterhand mengajak suku Usparoca bergabung untuk membebaskan Martin Baumann. Tawaran ini diterima oleh suku Usparoca karena mereka berniat mengambil kembali jimat mereka yang dicuri oleh suku Sioux Ogallala.

    Kini rombongan Old Shatterhand semakin banyak dan kuat untuk membebaskan Baumann yang ditawan oleh suku Sioux Ogallaa. Namun misi ini tidaklah mudah, selain harus melawan suku Sioux Ogallala yang terkenal keji dan licik, mereka juga harus menghadapi keganasan alam Yellowstone Park dimana mereka harus melewati ngarai-ngarai yang mengerikan, pancaran geyser setinggi lebih dari 30 meter yang memancarkan air panas dan setelah itu memuntahkan isi perut bumi yang penuh dengan material-material panas yang beracun. Selain itu, tanah yang mereka pijakpun senantiasa bergerak karena hanya merupakan kerak bumi yang tipis dan penuh lubang-lubang yang menganga lebar dan penuh dengan lumpur panas yang siap menelan mereka.

    Kisah Anak Pemburu Beruang adalah salah satu dari sedikit karya Karl May yang memang ditulis untuk pembaca remaja. Selain anak Pemburu Beruang, karya-karya yang ditujukan untuk pembaca remaja antara lain, Hantu Llano Estacado (Puspri, 2006), Mustang Hitam, dan Raja Minyak yang dalam waktu dekat akan diterbitkan ulang oleh Pustaka Primatama.

    Secara umum kisah remaja dalam karya-karya Karl May memang tidak jauh berbeda dengan kisah-kisah perjalanan yang dibuat untuk pembaca dewasa (Winnetou I-IV, Kara Ben Nemsi, Old Surehand I-III, dll). Hanya saja alur ceritanya tidak dibuat serumit kisah-kisah perjalanan. Tokoh sentral dalam ceritanyapun terkadang sama, untuk Anak Pemburu Beruang, Hantu Llacado, Raja Minyak, Mustang hitam, dan harta Danau Perak menampilkan tokoh Old Shatterhand dan Winnetou. Selain itu walau diperuntukkan bagi remaja, May tetap mempertahankan gaya berceritanya yang berwawasan luas serta deskripsi geografis yang detail karena didukung oleh riset yang cermat.

    Khusus dalam novel ini pembaca akan disuguhkan deskripsi geografis keindahan sekaligus keganasan alam Yellowstone Park. Dan itu diungkapkan bukan berdasarkan khayalan semata melainkan berdasarkan laporan dari Prof. Hayden yang pada tahun 1872 menerbitkan laporan resmi yang berjudul "Penemuan Daerah Geyser Terbaru di Yellowstone dan Sungai Madison". Bahkan, dalam karyanya ini May juga mengutip bunyi Undang-Undang Dewan Perwakilan rakyar Amerika yang berisi ketentuan tentang Taman Nasional Amerika (hal 247).

    Selain disuguhkan deskripsi alam yang begitu mendetail sehingga membuat pembacanya larut dalam ceritanya. Dalam Anak Pemburu Beruang, May juga menyuguhkan kisah-kisah yang menarik, selain serunya Old Shatterhand dkk membebaskan Martin Baumann, novel ini juga menyuguhkan kisah menegangkan tentang si anak pemburu beruang yang berhadapan dengan beruang ketika ia masih kecil. Selain itu berbagai kisah lucu juga terselip dalam karya ini seperti bagaimana Bob Negro yang digigit hewan sigung yang mengeluarkan bau tidak sedap, percakapan antara Hoblle Frank dan Jemmy gendut yang saling mengunggulkan diri dalam ilmu pengetahuan, dll, semua itu menghiasi novel ini sehingga novel setebal 361 hal ini menjadi tidak membosankan.

    Satu hal yang membuat novel ini dikatakan diperuntukkan bagi remaja, karya ini menonjolkan hubungan antara ayah dan anaknya yang bisa kita lihat pada tokoh Martin Baumann dan ayahnya, juga antara kepala suku Shosone Tokvi-Tey dan putranya dimana kedua-duanya memperlihatkan hubungan yang sangat dekat.

    Selain itu dalam novel ini kita juga akan menemukan figur remaja yang mungkin jarang ditemui dalam kisah-kisah perjalanan Karl May. Dalam novel ini sosok Indian Wohkadeh dan Martin Baumann bisa dianggap mewakili figur remaja yang berani menghadapi tantangan dan bertanggung jawab atas tugas dan perbuatan mereka. Namun sosok Martin Baumann juga bukan sosok remaja yang sempurna, seperti remaja-remaja lainnya ia juga tampak tidak sabaran dan gegabah dalam bertindak. Hal ini tercermin ketika ia mengambil tindakan sendiri dan lepas dari rombongan Old Shatterhand karena hendak memastikan apakah ayahnya masih hidup atau tidak. Peristiwa ini jika ditinjau dari segi didaktik tampaknya sangat tepat karena mengajarkan pada pembaca remaja untuk tidak gegabah dalam bertindak.

    Walau dalam karya ini May banyak memasukkan unsur didaktik namun May bukanlah penulis yang menggurui, melainkan seorang pencerita yang mampu menyihir pembacanya untuk menikmati petualangan tokoh-tokohnya sambil menanamkan hal-hal yang positif. Kemahirannya bertutur dan keluwesannya menggabungkan berbagai wawasan dan ilmu pengetahuan yang diperolehnya dari riset yang mendalam diungkapkan dengan peduh kedamaian dan tanpa mengurangi serunya petualangan tokoh-tokohnya.

    Sejarah Singkat Penerbitan Anak Pemburu Beruang

    Der Sohn des Barenjagers atau Anak Pemburu Beruang seperti halnya sebagian besar karya-karya Karl May lainnya merupakan cerita bersambung yang dimuat di majalah-majalah. Kisah ini dimuat di majalah remaja pria Der Gute Kamerad di Stutgart mulai Januari hingga September 1887. Kemudian dilanjutkan dengan kisah Der Geist des Lliano Estakado (Hantu Llano Estacado) dari Januari hingga September 1888.

    Pada 1890, Anak Pemburu Beruang dan Hantu Lliano Estacado diterbitkan dalam bentuk buku dengan judul Der Sohn des Barenjagers. Dalam buku ini kedua kisah diatas digabungkan dengan menambahi dan mengurangi isi versi cerita bersambungnya.

    Anak Pemburu Beruang dan Hantu Llano Estacado pernah diterbitkan di Indonesia dengan judul Rahasia Bison Putih, oleh Pradnya Paramita pada tahun 1960-an. Adapun yang menjadi dasar terjemahannya adalah buku versi Belanda yang berjudul Het Geheim van den Eitten Bison. Seperti lazimnya versi Belanda, kisah ini telah mengalami peringkasan. Cerita Hantu Llano Estacado disisipkan ke dalam cerita Anak Pemburu Beruang sehingga menimbulkan kesan yang absurd.

    Kini, setelah empat puluh tahun kemudian, Pustaka Primatama bersama PKMI (Paguyuban Karla May Indonesia) menerbitkan Kisah anak Pemburu Beruang dan Hantu Llano Estacado dalam dua buku terpisah. Dan yang menjadi dasar terjemahannya adalah karya asli Karl May dalam bahasa Jerman ketika masih dalam bentuk cerita bersambung. Dengan demikian kini pecinta karya-karya Karl May di Indonesia dapat membaca karya asli Karl may yang diperuntukkan bagi para remaja setelah selama 40 tahun kita hanya membaca versi ringkasnya saja.

    Dalam waktu dekat Pustaka Primatama & PKMI juga akan menerbitkan Raja Minyak, Mustang Hitam, dan yang paling ditungg-tunggu ... Winnetou IV

    Judul: Anak Pemburu Beruang
    Penulis: Karl May
    Penerjemah: Primardiana Hermilia Wijayanti (koord), Ani Inatalazia, Nasirotussa''diyah, Widyana Ika Rosidah, Endang Purwati, Dr. Conny Bast (Konsultan Ahli Jerman)
    Penyunting: Agustinus
    Penerbit: Pustaka Primatama
    Cetakan: I, Okt 2006
    Tebal: 361 hlm

    Howgh!

  7. #27
    Member alexandw's Avatar
    Join Date
    Oct 2008
    Location
    **undetect**
    Posts
    585
    Rep Power
    6

    Tema Atheisme dalam Old Surehand I

    Dalam buku Menjelajah Negeri Karl May (nama pengarangnya tidak jelas, mungkin orangnya malah tidak benar-benar ada), disebutkan bahwa seorang anggota Paguyuban Karl May Indonesia memberi kesaksian bahwa hingga di bangku SD klas 5, dia adalah seorang atheis , karena ayahnya mengajarinya begitu sejak kecil. Belakangan, ketika membaca buku Old Surehand I (judul buku versi lama: Llano Estacado) barulah dia tersadar, dan mulai belajar mengenal Tuhan.
    Dalam tulisan semi-biografi yang berjudul: "Suka-dukanya Menjadi Karl May", disebutkan bahwa ada beberapa pembaca yang mengaku mulai mengenal Tuhan kembali setelah membaca adegan yang dikenal sebagai "perjalanan malam di Llano Estacado."
    Old Surehand I (1894) (jangan keliru dengan Old Shatterhand ya, baca buku Karl May bikin orang harus teliti dengan bahasa Inggris :-) ) ditulis begitu Karl May selesai menulis masterpiece-nya, Winnetou I (1893).
    Berikut cuplikannya, percakapan antara si narator (Old Shatterhand) dan seorang atheis berusia 90 tahun, si Raja Cowboy, Old Wabble. "Wajah" keduanya bisa Anda lihat versi komiknya di http://indokarlmay.com. Mirip atau tidak terserah penafsiran masing-masing.
    gono/ogh
    Dalam buku Menjelajah Negeri Karl May (nama pengarangnya tidak jelas, mungkin orangnya malah tidak benar-benar ada), disebutkan bahwa seorang anggota Paguyuban Karl May Indonesia memberi kesaksian bahwa hingga di bangku SD klas 5, dia adalah seorang atheis , karena ayahnya mengajarinya begitu sejak kecil. Belakangan, ketika membaca buku Old Surehand I (judul buku versi lama: Llano Estacado) barulah dia tersadar, dan mulai belajar mengenal Tuhan.
    Dalam tulisan semi-biografi yang berjudul: "Suka-dukanya Menjadi Karl May", disebutkan bahwa ada beberapa pembaca yang mengaku mulai mengenal Tuhan kembali setelah membaca adegan yang dikenal sebagai "perjalanan malam di Llano Estacado."
    Old Surehand I (1894) (jangan keliru dengan Old Shatterhand ya, baca buku Karl May bikin orang harus teliti dengan bahasa Inggris :-) ) ditulis begitu Karl May selesai menulis masterpiece-nya, Winnetou I (1893).
    Berikut cuplikannya, percakapan antara si narator (Old Shatterhand) dan seorang atheis berusia 90 tahun, si Raja Cowboy, Old Wabble. "Wajah" keduanya bisa Anda lihat versi komiknya di http://indokarlmay.com. Mirip atau tidak terserah penafsiran masing-masing.

  8. #28
    Member alexandw's Avatar
    Join Date
    Oct 2008
    Location
    **undetect**
    Posts
    585
    Rep Power
    6

    Genre baru: Cerita Perjalanan

    “Bahkan hingga hari ini, saya sangat berterima kasih sekali atas kenyataan bahwa saya tidak dilarang untuk mendapatkan buku tata-bahasa asing (selama di penjara), yang menjadi dasar dari cerita perjalanan saya, dimana seperti telah diketahui (cerita-cerita itu) bukan berdasarkan atas perjalanan yang nyata sama sekali, tapi dimaksudkan untuk membentuk suatu genre yang sama sekali baru, dan hingga hari ini tidak pernah disentuh.” “Saya bermaksud membentuk suatu genre, yang disukai oleh masyarakat, yang mempunyai kemampuan yang hebat untuk memberi kesan yang mendalam: “cerita perjalanan”.

    “Terjadi di prairie atau dibawah pohon-pohon kurma, di bawah terik matahari di Negeri Timur atau badai salju yang menderu di Wild West, dalam bahaya-bahaya yang akan menerbitkan belas kasihan pembaca, dan dengan demikian tokoh-tokohnya harus digambarkan sedemikian rupa untuk mencapai tujuan-tujuannya. Untuk itu, secara teoritis, saya harus bisa tiba di negeri yang saya jabarkan itu sejauh mungkin yang dilakukan sebagai seorang Eropa. Jadi saya harus bekerja dan bekerja keras guna mempersiapkan diri saya. Untuk itu sel penjara yang tenang dan tanpa gangguan, tempat saya tinggal, adalah tempat yang tepat”


    Dari Karl May: “Kehidupan dan Upayaku” jilid 1, sebuah otobiografi.

  9. #29
    Member alexandw's Avatar
    Join Date
    Oct 2008
    Location
    **undetect**
    Posts
    585
    Rep Power
    6

    Geliat Paguyuban Karl May Indonesia (PKMI)

    Dalam rangka ulang tahun Karl May yang ke-165, Paguyuban Karl May Indonesia (PKMI) bekerjasama dengan toko buku MP Book Point Jakarta menyelenggarakan serangkaian kegiatan (7-8 April 2007) yang berkenaan dengan kreativitas kepenulisan Karl May dan eksistensi PKMI. Kegiatan ini diawali dengan pemutaran film "Harta dari Danau Perak" (1962), dilanjutkan dengan dua sesi diskusi, masing-masing bertema "Karl May dan Indonesia: 100 Tahun Karl May di Indonesia" dengan pembicara Pandu Ganesa, serta "Karl May dan Kemunculan Genre Film Western Eropa" dengan pembicara Ekky Imanjaya (kritikus film).

    Karl May adalah penulis Jerman yang sangat populer. Ia merupakan penulis Jerman yang karyanya terlaris sepanjang masa. Karl kecil menderita cacat buta karena kekurangan gizi. Namun ketika berusia lima tahun, matanya bisa dioperasi sehingga Karl kecil dapat melihat kembali. Ia mulai berkarya sejak berusia 34 tahun. Penggemar Karl May, di antaranya Adolf Hitler, Albert Einstein, Hermann Hesse, dan Bertha von Suttner (pemenang Nobel Perdamaian 1905)

    Tak terkecuali di Indonesia, sudah tak terbilang penggemar buku karya penulis kelahiran Hohenstein-Ernstthal, Chemnitzer Land, 25 Februari 1842 ini. Dari anak remaja hingga orangtua di Tanah Air, fanatik dengan penulis yang bernama lengkap Karl Friedrich May (wafat di Radebeul, Dresden, 30 Maret 1912) ini. Konon, remaja Indonesia tahun 1930-an-yang kemudian dikenal sebagai perintis kemerdekaan-mengenal arti kemerdekaan setelah membaca buku-buku Karl May. Mereka itu di antaranya: Bung Hatta.

    Oleh karena penggemar Karl May di Indonesia sangat banyak, maka dibentuklah sebuah wadah 'penggila' Karl May, sejak enam tahun lalu (2000). Salah seorang kolektor karya Karl May terlengkap, Pandu Ganesa, menggagas berdirinya wadah tersebut yang diberi nama Paguyuban Karl May Indonesia (PKMI). Untuk mengetahui lebih jauh tentang PKMI ini, Syafruddin Azhar dari Parle mewawancarai ketuanya, Pandu Ganesa. Berikut petikan wawancara tertulis yang disampaikan melalui e-mail.

    Kapan persisnya PKMI dibentuk?
    PG: 23 Desember 2000, yaitu ketika artikel kami: "Dan Damai di Bumi! 101 tahun Karl May di Indonesia", dimuat di halaman depan harian Kompas, dalam rangka menyambut Lebaran dan Natal yang jatuh pada minggu yang sama. Seperti diketahui, Karl May ini sangat terobsesi dengan perdamaian dunia, di mana orang-orang yang berbeda ras, bangsa, kepercayaan bisa berdamai dan menjunjung kemanusiaan. Sebelum itu, situsnya http://indokarlmay.com
    dibuat pada Oktober 2000 dan disusul dengan milisnya indokarlmay@yahoogroups.comThis e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it beberapa minggu kemudian.

    Hingga kini berapa jumlah anggota PKMI yang tersebar di Tanah Air?
    PG: Angota yang aktif mencatatkan diri bergabung lebih dari 700 orang, tapi kalau yang pasif dalam arti mengoleksi dan menggemari buku-buku Karl May, sudah tentu jauh lebih tinggi daripada itu.

    Sejauh ini apa peranan PKMI bagi anggota paguyuban?
    PG: Terutama menyediakan suatu wadah guna berkomunisasi sebagai sesama penggemar, dan membantu mereka guna mendapatkan informasi yang berhubungan dengan "Dunia Karl May" dalam arti yang seluas-luasnya.

    Kegiatan apa saja yang telah dan akan diselenggarakan oleh PKMI?
    PG: A.l. berdiskusi dalam arti seluas-luasnya, termasuk membahas informasi-informasi atau buku dan produk lain terbaru; menerbitkan kembali buku-bukunya dengan memakai naskah asli; ikut membahas penyuntingan buku-buku itu; bersama-sama ikut menjualkan bagi yang berniat; sehingga harga jual bisa lebih murah daripada harga toko, dll. Termasuk di sini mengadakan kegiatan di tempat umum (kampus, lembaga kebudayaan, toko buku) untuk lebih memperkenalkan karya Karl May ke massa.

    Dalam karier kepenulisannya, Karl May telah menulis banyak buku. Bisa disebutkan di antaranya yang sangat populer?
    PG: Karl May menulis k.l 80 novel, dan 40 di antaranya termasuk kisah petualangan, baik di Wild West, Timur dan Balkan, serta Asia dan bagian dunia lainnya. Buku yang paling populer adalah Winnetou I: Kepala Suku Apache untuk seri Wild West, seri Kara Ben Nemsi untuk Timur/Balkan, serta Dan Damai di Bumi! untuk Asia, yang berlatar belakang Indonesia.

    Berapa judul buku Karl May yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia?
    PG: Sejak tahun 1950 hingga 1980 ada 25 judul. Semuanya terjemahan dari bahasa Belanda. Kemudian PKMI mulai menerjemahkan ulang dari bahasa Jerman, saat ini sudah terbit 10 judul, sedang yang masih dalam proses (penerjemahan dan penyuntingan) k.l 7-8 judul. Masih banyak lagi yang belum diterjemahkan.

    Bisakah disebutkan nama tokoh (public figure) di Tanah Air (selain Bung Hatta) yang sangat menggemari karya Karl May ini?
    PG: Tiap era memiliki penggemarnya. Generasi pra PD II menggemari dari versi Belanda. Contoh: Jendral Haryo Kecik menulis memoirnya dengan menyebut-nyebut nama Karl May. Seusai perang, ketika terjemahan Indonesianya muncul tahun 1950, remaja tahun-tahun itu yang kemudian menjadi penulis atau tokoh budaya dan menyatakan diri sebagai penggemarnya, misalnya: Goenawan Mohammad, Taufiq Ismail, Motinggo Boesye dll, disusul generasi berikutnya seperti Putu Wijaya. Berikutnya lagi, generasi 60 hingga 70-an saat puncak penerbitan Karl May di Indonesia, seperti Seno Gumira Ajidarma, Yudhistira AM, hingga ke generasi 80-an macam Gola Gong, Ayu Utami, dll banyak penulis lagi. Di luar yang berprofesi sebagai penulis tentu saja lebih banyak lagi. Tokoh masyarakat lainnya, macam Emil Salim, juga menyebutkan bahwa dirinya seorang penggemar berat.

    Adakah respons positif dari institusi formal terhadap PKMI, misalnya dari Departemen Pendidikan Nasional atau dari Kementerian Budaya dan Pariwisata?
    PG: Sudah tentu kami mengharapkan kisah petualangan di Wild West maupun gurun pasir dari Karl May ini, yang esensinya berbicara tentang saling pengertian dan perdamaian antar umat manusia, bisa lebih dipopulerkan dan/atau diedarluaskan dengan skala yang lebih luas melalui program pemerintah, misalnya pengadaan buku (fiksi) di perpustakaan sekolah. Menurut seorang tokoh budaya, buku fiksi petualangan itu sangat penting untuk membentuk jiwa remaja agar mereka tidak gampang percaya, dan mempunyai sifat eksploratif/menyelidiki.

    Apa harapan PKMI sebagai sebuah institusi budaya yang telah ikut mencerdaskan bangsa dengan membudayakan gemar membaca buku-buku bermutu?
    PG: Karena pembaca akan bisa lebih mengingat buku-buku yang mereka baca sewaktu anak/remaja, maka diharapkan buku-buku fiksi macam Karl May ini (petualangan untuk semua usia, termasuk anak dan remaja), yang sarat dengan pendidikan budi-pekerti, lebih banyak diterbitkan oleh siapa pun juga. Mana bisa rakyat Indonesia hidup tenteram dan berdamai memahami perbedaan antar suku, antar agama, kalau sejak kecil mereka tidak dibiasakan untuk saling memahami perbedaan-perbedaan yang ada di sekitar mereka, antara lain dengan media bantu berupa buku petualangan.

  10. #30
    Member alexandw's Avatar
    Join Date
    Oct 2008
    Location
    **undetect**
    Posts
    585
    Rep Power
    6

    Menghidupkan Karya Karl May

    Kompas, 8 Agustus 2008 - Malas baca novel ya? Terlalu tebal sih. Melelahkan mata. Mudah bosen karena gak ada selingan gambar, enggak kayak komik yang full gambar.
    Ups, seribu alasan untuk tidak membaca novel bermutu tak seharusnya dilontarkan MuDA-ers. Sekarang udah ada novel bergambar, istilahnya graphic novel atau novel grafis.
    Udah ada yang baca novel karya Karl May, penulis, asal Jerman kelahiran 1842, yang dijadikan novel grafis oleh komikus Indonesia? Emangnya ada?
    Ups, Kompas MuDA udah menikmati bocoran novel grafis Winnetou & Old Shatterhand Bagian Pertama: Api Maut I. Seru! He-he-he... jangan sirik ya. Novel grafis itu memang belum diterbitkan.
    Paguyuban Karl May Indonesia (PKMI) memelopori novel grafis, yang gambarnya direka ulang Studio rumahwarna. Dua jilid novel grafis sudah jadi dan tinggal menyelesaikan empat jilid.
    Pandu Ganesa dari PKMI mengatakan, novel grafis ini dibuat untuk menjembatani generasi muda yang malas membaca novel tebal. Hihi termasuk kalian kan?
    "Anggota PKMI yang sudah tua merasakan anak-anaknya cuma suka komik, tidak suka membaca novel. Karena itu, kami berinisiatif membuat novel grafis," katanya.
    Pihaknya belum menerbitkan novel grafis itu karena kendala dana. "Kami paguyuban nonprofit, sampai sekarang belum ada dana untuk menerbitkan. Tujuan utama kami tak lain hanya ingin menyebarkan ajaran-ajaran Karl May," katanya.

    Proses pembuatan
    MuDA menelusuri pembuatan novel grafis yang diinterpretasikan dari novel. Ternyata, prosesnya rumit.
    "Beban moral bagi kami untuk membuat novel grafis ini karena Karl May itu banyak penggemarnya. Sudah pasti akan banyak yang memprotes jika ada ketidaksesuaian," kata Suryo Nugroho atau Injun, penanggung jawab pembuatan novel gratis Karl May dart Studio Rumahwarna di Jalan Pancoran Barat, Jakarta Selatan.
    Tantangan terberat adalah rekaulang masa lampau sesuai setting cerita Karl May, “Hanya untuk menggambar kuda tidak bisa sembarangan. Kita harus tahu jenis-jenis kuda dan jenis seperti apa yang dipakai suku Indian," kata Injun.
    Tantangan lain adalah merekam narasi dan deskripsi "sastra" dari teks ke dalam gambar. "Terkadang lima halaman narasi hanya jadi satu panel," tuturnya.
    Dalam proses pembuatan karakter tokoh-tokoh, Rumahwarna tak mencontek karakter yang pernah dibuat novel grafis terbitan asing. "Kami membuat karakter sendiri, tak menjiplak. Setiap penggambaran karakter kami konsultasikan dengan PKMI," katanya.


    Tahap Pembuatan
    Seperti yang diceritakan Injun:

    1. Membaca naskah karya Karl May, sumber utama Gurun & Prairie, Kumpulan Cerita I.
    2. Bikin konsep. Seperti apa nanti bentuk novel grafisnya.
    3. Pembuatan storyboard. Proses pembuatan sketsa gambar kasar disertai. dialog. Paling berat di storyboard karena sudah mulai mencari referensi.
    4. Mulai digambar dengan pensil. Tahap ini masih terbuka revisi.
    5. Mulai digambar dengan tinta. Penintaan merupakan tahap akhir dan biasanya tak ada lagi revisi.
    6. Layout. Memberi narasi, membuat balon kata, dan memberi efek suara.
    7. Desain sampul. Selesai sudah prosesnya, tinggal ke penerbit. Satu jilid novel grafis perlu waktu sekitar tiga bulan dengan 70-80 halaman.

Tags for this Thread

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •  
©2008 - 2013 PT. Kompas Cyber Media. All Rights Reserved.

Content Relevant URLs by vBSEO 3.6.0