kl berbakat saya rasa kok berbakat yak...
dolo waktu masih kerja keras jadi pengusaha sukses kok.. kayu rotan yg ditekuni...
untuk alesan no 2... itu bukan syarat mutlak juga
tapi cuman kurang efektif...
ada modal.. kenapa gk manfaatin orang lain untuk melancarkan tujuannya aja..
hahaha...thanks bung Ang,
Saya juga ikut belajar dari pengalaman temen2, bagaimana mensiasati kehidupan ini agar kita tetap eksis, mungkin kita harus bisa membuka diri, mau dkritik,mau menerima saran ataupun nasihat karena ini merupakan modal , walapun saat ini kita belum memerlukan tapi suatu saat pasti kita memerlukannya.
Memanfaatkan waktu dan kesempatan adalah hal yang positif dalam pengembangan diri, untuk menyikapi kehidupan yang terus bergerak. thanks![]()
wakakakakakakakaka..............
Pendapat saya juga sama dengan Om Kamirin (untuk sodara yang saya bold diatas).
Saya sedikit cerita, menguatkan pendapat om kamirin :
Saya adalah enterpreneur yang mulai dari pegawai. Seorang pegawai yang memulai dari pendidikan S1.
Keluarga inti saya (ayah, ibu saya) gak ada 1 pun yang enterpreneur. Tapi, keluarga besar dari orang tua saya (sodara2 dari ayah dan ibu), banyak sekali yang enterpreneur.
Saya dididik dengan pengalaman hidup ortu saya. Saya disekolahkan sampai S1, bahkan ayah saya dulu sering menawari saya untuk masuk S2 sekalian, tapi saya tolak.
Harapan mereka, saya dapat bekerja di perusahaan2 besar, punya jabatan tinggi, dan tentu gaji yang besar juga. (persis dalam buku "Rich Dad, Poor Dad"-nya Robert T.)
Saya jalani rencana ortu saya itu dengan bingung. Karena sebelum saya kerja, pada masa kuliah, saya sudah berusaha buka usaha sendiri. Waktu itu reseller komputer di daerah kampus saya.
Dari usaha itu, saya belajar bahwa ilmu2 dari kampus dan sekolah, memang bisa dipakai pada awalnya, tapi selanjutnya, ternyata saya hanya bisa 'kerja pintar (seperti kata om kam)' dengan pendapatan minim dan sering tekor.
Mau gimana lagi ? Saya gak ada input sama sekali dari ortu saya untuk menjadi enterpreneur. Saya hanya mengandalkan ilmu dari sekolah saja.
Akhirnya, saya tutup itu usaha.
Saya mulai ikut orang lain, menjadi pegawai. Dari sebagai operator warnet, saya sering menemukan gesekan2 dalam batin saya. Karena sebagai pegawai, saya hanya sebatas mengikuti perintah atasan. Tidak banyak peluang untuk membuktikan teori2 saya. Saya pernah berusaha membuktikan bahwa sebuah usaha harus punya logo. Saya bekerja lembur tidak tidur sama sekali hanya untuk membuat logo buat warnet tersebut. Saya serahkan ke supervisor saya, dia bilang untuk kasih ke atasan langsung via email. Saya email ke atasan tertinggi. Tetap gak ada respon positif.
Saat itu, warnet sedang mengalami gonjang-ganjing. Pegawai yang tidak produktif, ditegur, termasuk saya. Saya dianggap bekerja tidak pada porsi saya.
Karena alasan studi, saat saya kerja itu saya juga masih kuliah, saya resign dari warnet itu untuk kelulusan saya.
Setelah lulus, saya ikut training sana-sini, berusaha jadi medrep.
Ternyata otak saya kurang pas untuk nghafalin itu komposisi obat yang benar2 segambreng.
Kemudian saya bekerja lagi di perusahaan lain menjadi sales. Saya berusaha teliti dan berusaha bekerja pada porsi saya sebagai sales bahan bangunan. Kerja saya dinilai baik. Tapi, saya mengalami gesekan batin lagi, maka saya resign lagi. Pada saat itu, saya mendapat cerita dari teman2 saya yang dulu bekerja di warnet yang sama, bahwa warnet itu sudah pakai logo, dan logo-nya menggunakan konsep logo yang saya pernah buat dulu, walaupun tidak sama persis.
Saya berusaha bikin usaha lagi, pemasaran via internet. Berusaha membuat suatu web mirip p*nseljakar**, menjaring counter2 hape di kota ini. Sekali lagi, saya menggunakan kerja pintar saja. Tekor lagi.
Saya kerja lagi ikut orang. Gesekan batin lagi, resign lagi.
Capek saya kaya gitu terus.
Sekarang saya mulai usaha baru, yang memang membutuhkan kerja keras, kerja pintar, dan kerja efisien dalam waktu yang bersamaan.
Saya dalam bidang ini tidak ada pengalaman sama sekali. Saya hanya melihat dari teman2 yang sudah lebih dulu terjun dalam bidang ini.
Saya berusaha belajar banyak dari mereka. Saya memaksa diri saya sendiri untuk mampu. Saya memang melakukan penempaan diri yang belum pernah saya lakukan sendiri.
Dalam 3 bulan, bukannya saya mau sombong, pendapatan saya naik diatas UMR kota. Memang kecil, tapi sudah cukup buat saya untuk sekarang ini. Setidaknya, saya bisa membuktikan ke ortu saya, bahwa saya bisa juga melakukan usaha sendiri, gak lagi ikut orang.
Saya tidak lagi mengalami gesekan batin lagi. Memang capek, pusing, dan bingung selama menjalani usaha ini.
Tapi, the show must go on.![]()
Piramid.. UNIK !! ASIKKK..!! - Sambil cengar-cengir.com. Poreper laaaa......
Saya dengan om kamirin, beda orang, bukan clone. Saya blom nikah, om kam udah 'bedu' dari kemaren.
Tapi, kebetulan, saya juga tertarik dengan kasus anda, mungkin sama dengan om kam.
Usaha yang saya maksud adalah usaha yang benar2 dari nol, from zero. Usaha kayu rotan itu, apa sodara anda benar2 mulai dari nol, atau dapat warisan ortu ? Jadi, ortu yang mulai dari nol. ???
Kalo emang dia mulai dari nol dan anda melihat sendiri penderitaan sodara anda itu, saya rasa, anda tidak akan mengabaikan prinsip nomor 2 dari om kam.
Kerja keras, kerja efisien, kerja pintar, itu mutlak diperlukan seorang enterpreneur yang bermula dari nol, come from zero. Apapun bisnisnya.
Kalo dia bermula dari warisan ortu, ya, beda lagi. Karena dia hanya meneruskan usaha dari orang lain, mungkin kurang berasa essence bisnisnya.![]()
Piramid.. UNIK !! ASIKKK..!! - Sambil cengar-cengir.com. Poreper laaaa......
Piramid.. UNIK !! ASIKKK..!! - Sambil cengar-cengir.com. Poreper laaaa......
Maaf bro kalau saya salah.
Tetapi kalau dari pengamatan saya, saudara anda itu tidak berbakat bisnis alasan dari saya adalah : suka foya foya sebelum berbisnis. Ini hal yg kurang tepat sebetulnya. Pebisnis yg sukses biasanya pintar menyimpan uang baik untuk simpanan atau modal sebelum memulai usaha (work efficient).
Jadi sekali lagi saya mohon maaf kalau pengamatan saya keliru.
73696874206461657220746f6e6e6163206f75792066692064 6970757473206572756f79
Bro masajie, tentang kasus saudara anda itu, dimana dia telah mendapatkan suntikan dana dari warisan yang dia terima dan anda menyarankan dia untuk mengoptimalkan kemampuan orang lain sedang dia hanya berdiri sebagai pemilik usaha, dan ada lagi satu kebiasaan saudara anda yang suka belanja dan foya2 dari hasil uang warisan itu, dari 2 cerita yang saya gabung saudara anda pernah sukses dan lagi2 anda menyarankan kenapa tidak memanfaatkan orang lain untuk melancarkan usahanya.
Mungkin bung Ang dan Bung Kamirin sudah mengomentari panjang lebar dan saya sangat setuju, tapi mungkin saudara anda bukanlah tipikal orang bisnisman yang murni yang berangkat dari bawah, dan bersandar kepada kecukupan modal dan keinginan yang banyak tapi tidak terarah inilah yang membuat perjalanan bisnis tidak efisien dan sedikit sekali kerja keras dan kerja pintar seperti yang sudah diutarakan oleh bung KAMIRIN yang merupakan pondasi, kecukupan modal tidak bisa menjamin usaha itu jalan kalau tidak diikuti sendiri dan selalu disarankan untuk menggantung orang lain ini akan mengkoleksi cerita kegagalan.
Maaf kalau tidak salah uang warisan itu sifatnya panas mudah didapat dan mudah cair, kalau kita tidak bisa mengatur uang ini akan cepat terkuras apalagi mempunyai sifat senang foya2, biasanya kalau penerima warisan itu tidak mempunyai basic atau bakat bisnis lebih baik dibelikan barang keras seperti investasi di property/Emas dll, atau kalau uangnya ingin berputar dan ingin bisnis cari dan adopsi bisnis yang kita sukai atau ikut berivestasi dengan relasi bisnis atau apalah, tapi selanjutnya terserah anda kita disini hanya urung rembuk ,saling isi dan belajar untuk mempersiapkan diri apabila kita akan tempuh jalur ini, thanks![]()
Last edited by paswa; 16-02-10 at 04:15 PM.
Sudah mempunyai impian dan keinginan adalah modal juga, apalagi sudah mempunyai ide usaha yang diinginkan tinggal di aplikasikan ke actualnya sedikit demi sedikit mungkin ini lebih kuat tanpa harus menunggu dengan kecukupan modal.
Karena dari kesedikitan modal usaha kita akan merasakan banyak pembelajaran dalam mengiringi bisnis itu, lagi2 saya kutip dari bung KAMIRIN kerja keras,Kerja pintar dan kerja efisien akan terbentuk dengan sendirinya dibarengi kepercayaan diri saya kutip dari bung Ang dan langsung terjun saya kutip dari bung swan
Untuk mencari kecukupan modal anda ingin mencari mitra usaha, usaha ini mungkin akan menghambat ide anda lebih baik jalan sendiri dulu buktikan ide anda kalau terbukti mungkin lebih mudah mencari mitra untuk membesarkan bisnis anda.
Kalau anda paksakan bermitra biasanya kita bersimulasi kepada mitra kita dengan pembicaraan yang manis2 dan baik2 karena kita ingin meyakinkan mitra kita tertarik, ini akan melemahkan kita dalam menganalisa bisnis itu.
Karena pembicaraan yang baik2 itu racun dan sangat singkat untuk mufakat, tapi kalau kita balik dengan hal2 yang terburuk dulu yang kita bicarakan mungkin ini lebih baik karena kita banyak berdebat banyak berselisih dari segala kemungkinan tapi akan berujung pada satu kesepakatan yang lebih kental dan kuat dalam bermitra, karena kita bicarakan dulu yang pahit2 dan manisnya kita nikmati kemudian. thanks![]()
Last edited by paswa; 16-02-10 at 04:37 PM.
Bookmarks