Results 1 to 10 of 10

Thread: The Science of Fashion

  1. #1
    Contributor artemis's Avatar
    Join Date
    Oct 2008
    Posts
    4,030
    Rep Power
    14

    The Science of Fashion

    Identitas diri kita adalah style kita.

    Dengan gaya milik sendiri kita menyatakan pada dunia siapa diri kita ini, perasaan apa yang tengah dirasakan dan memasang wajah kita sendiri pada gaya yang kita tampilkan dan biarkan Dunia ini merefleksikannya sendiri kalo berani.

    Fesyen ini sebenarnya suatu hal yang lucu dan paradoksi. Walaupun kita sudah menyatakan bahwa kita tengah memamerkan gaya dan style milik sendiri, tetap saja kita lebih memilih mengenakan busana rancangan desainer mode untuk mengekspresikan diri kita sendiri. Apa yang katanya menarik bagi kita selalu berubah menurut mereka para desainer dan kita menjadi kanvas atau model atau media ekspresi setiap emosi mereka. pendek kata kita menjadi "korban mode".

    Lantas apakah kita berani menantang diri sendiri untuk benar-benar menunjukkan emosi perasaan dan diri sendiri melalui pencitraan dan menjadi model bagi diri sendiri dan mempertanggungjawabkannya?

    I am who I am...
    This is not a black and white world; you can't afford to believe in your side

  2. #2
    Member melon's Avatar
    Join Date
    Feb 2009
    Location
    Caffee' d' France
    Posts
    613
    Rep Power
    5

    Re: The Science of Fashion

    Kalo disimpulkan Dunia Fashion :

    SEXY IS BEAUTIFULL ... !

    &

    BEAUTIFULL IS SEXY ... !
    Welcome to the world of Alain Delon

  3. #3
    Contributor artemis's Avatar
    Join Date
    Oct 2008
    Posts
    4,030
    Rep Power
    14

    Re: The Science of Fashion

    Quote Originally Posted by melon View Post
    Kalo disimpulkan Dunia Fashion :

    SEXY IS BEAUTIFULL ... !

    &

    BEAUTIFULL IS SEXY ... !
    Hayooo...
    Jadi korban mode ato berani jadi pioneer of style?

    Penampilan harus selalu up-to-date
    ato mempertahankan penampilan bak Alain Delon yang klasik itu... hmmm?
    This is not a black and white world; you can't afford to believe in your side

  4. #4
    Contributor artemis's Avatar
    Join Date
    Oct 2008
    Posts
    4,030
    Rep Power
    14

    Re: The Science of Fashion

    Mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki sebenar merupakan media ekspresi seseorang untuk menyatakan isi hatinya, emosinya atau apa yang harus dia tampilkan saat itu.

    Misalnya saja:
    Mengikat rambut dengan kencang a la ponytail, bisa jadi dia sedang ingin tampil praktis atau mengalami bad-hair. atau menyatakan persetan dengan mode.

    Mengenakan sendal jepit, baju lusuh, celana boxer seperti mau pergi ke warung, bisa jadi dia ingin menyampaikan keengganannya untuk melangkah keluar dari rumah dan tampil seperti anggota partai kay-pang.

    Tapi yang dua contoh diatas itu cuma sekedarnya. bukannya kita mau mempelajari emosi seseorang dengan penampilannya, tetapi bila mereka mengenakannya dengan penuh kepercayaan diri... maka mode serampangan seperti apapun tetap menjadi bagian dirinya sendiri, bukan menjadi korban mode, walaupun mengenakan baju bagus karya Oscar de la Renta, kalau yang memakainya tidak percaya diri dan tidak busana yang dikenakannya tidak menjadi dirinya, maka keliatan sekali seperti minjem.

    Jadilah diri sendiri
    I am who I am
    This is not a black and white world; you can't afford to believe in your side

  5. #5
    Member erni's Avatar
    Join Date
    May 2008
    Location
    Jakarta
    Posts
    595
    Rep Power
    6

    Re: The Science of Fashion

    Quote Originally Posted by artemis View Post
    Mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki sebenar merupakan media ekspresi seseorang untuk menyatakan isi hatinya, emosinya atau apa yang harus dia tampilkan saat itu.

    Misalnya saja:
    Mengikat rambut dengan kencang a la ponytail, bisa jadi dia sedang ingin tampil praktis atau mengalami bad-hair. atau menyatakan persetan dengan mode.

    Mengenakan sendal jepit, baju lusuh, celana boxer seperti mau pergi ke warung, bisa jadi dia ingin menyampaikan keengganannya untuk melangkah keluar dari rumah dan tampil seperti anggota partai kay-pang.

    Tapi yang dua contoh diatas itu cuma sekedarnya. bukannya kita mau mempelajari emosi seseorang dengan penampilannya, tetapi bila mereka mengenakannya dengan penuh kepercayaan diri... maka mode serampangan seperti apapun tetap menjadi bagian dirinya sendiri, bukan menjadi korban mode, walaupun mengenakan baju bagus karya Oscar de la Renta, kalau yang memakainya tidak percaya diri dan tidak busana yang dikenakannya tidak menjadi dirinya, maka keliatan sekali seperti minjem.

    Jadilah diri sendiri
    I am who I am
    Art Dear

    Masyarakat di tiap daerah, negara, berbeda-beda kelompok strata sosial, kebudayaan, kesejahteraan, pendidikan, usianya, sehingga gaya dan selera penampilan mode dan berpakaian dari masing2 individu pun terpengaruh dari aspek2 tsb. di atas, ditambah perubahan jaman dan mentalitasnya seperti gengsi, perasaan bosan, atau yang memang ‘senang ikut mode saja’.

    Pada suatu kelompok dengan tingkatan tertentu yang terbentuk sedemikian rupa, disamping waktu, kesempatan, keadaan, dst., menyebabkan penampilan seseorang mempunyai gaya khas di tiap kelompok, seperti pelajar, seniman, budayawan, pedagang, pekerja, profesional, pengusaha, dst.

    Kekhasan itu sendiri, disamping mengikuti mode, sebenarnya baik, wajar saja, jika dilakukan sesuai dengan kepribadian, postur wajah, tubuh, warna kulit, tempat, waktu, acara, keadaan/kebutuhan, kemampuan, dll.

    Masalahnya adalah yang ‘senang ikut mode saja’ itu, yang seringkali tidak (mau) memperhatikan hal2 tsb. di atas, sehingga yang inilah akhirnya yang bisa jadi ‘korban mode’. Ini bisa terjadi, selain selera individu, juga akibat penerjemahan yang ‘keliru’ dari informasi tentang mode yang sudah banyak terdapat sekarang ini, yang dijadikan acuan secara kaku (keharusan ikut mode), selain gengsi. Padahal seharusnya hanya dijadikan panduan, pertimbangan, tips dan kritik, sebelum akhirnya memutuskan sendiri, sesuai dengan pengalaman, kepribadian, dst. seperti di atas.

    Ya, kita harus berani menjadi diri sendiri, juga boleh menjadi trendsetter yang layak, bertanggungjawab, percaya diri, secara pribadi dan sosial, tidak menjadi korban mode, dan atau saltum (salah kostum).

    Juga, kalaupun kita agak mengacuhkan pandangan/pendapat masyarakat yang beragam di tempat kita hidup-ada yang usil, acuh, perhatian, sampai yang bijak-berpenampilan yang rapih, pantas & nyaman (neat, descent & comfortable), tidak perlu ekstrim berlebihan ataupun terlalu ‘minim’, baik juga (paling tidak buat saya pribadi).

    Cukup banyak kritik tentang orang kaya/terkenal yang gaya penampilannya ‘buruk’, padahal dengan kekayaannya mereka bisa membeli & bergaya apapun, namun bila seleranya sudah ‘seperti itu dari sananya’, apa mau dikata? Sedangkan orang biasa, dengan penampilan sederhana namun percaya diri, berselera baik, rapih, pantas, pun bisa lebih nyaman, menyenangkan dipandang, malah bisa kelihatan lebih elegan, ‘berkelas’, karena sesuai dengan kriteria2 di atas.

    Salam

  6. #6
    Contributor artemis's Avatar
    Join Date
    Oct 2008
    Posts
    4,030
    Rep Power
    14

    Re: The Science of Fashion

    Quote Originally Posted by erni View Post
    Art Dear

    Masyarakat di tiap daerah, negara, berbeda-beda kelompok strata sosial, kebudayaan, kesejahteraan, pendidikan, usianya, sehingga gaya dan selera penampilan mode dan berpakaian dari masing2 individu pun terpengaruh dari aspek2 tsb. di atas, ditambah perubahan jaman dan mentalitasnya seperti gengsi, perasaan bosan, atau yang memang ‘senang ikut mode saja’.

    Pada suatu kelompok dengan tingkatan tertentu yang terbentuk sedemikian rupa, disamping waktu, kesempatan, keadaan, dst., menyebabkan penampilan seseorang mempunyai gaya khas di tiap kelompok, seperti pelajar, seniman, budayawan, pedagang, pekerja, profesional, pengusaha, dst.

    Kekhasan itu sendiri, disamping mengikuti mode, sebenarnya baik, wajar saja, jika dilakukan sesuai dengan kepribadian, postur wajah, tubuh, warna kulit, tempat, waktu, acara, keadaan/kebutuhan, kemampuan, dll.

    Masalahnya adalah yang ‘senang ikut mode saja’ itu, yang seringkali tidak (mau) memperhatikan hal2 tsb. di atas, sehingga yang inilah akhirnya yang bisa jadi ‘korban mode’. Ini bisa terjadi, selain selera individu, juga akibat penerjemahan yang ‘keliru’ dari informasi tentang mode yang sudah banyak terdapat sekarang ini, yang dijadikan acuan secara kaku (keharusan ikut mode), selain gengsi. Padahal seharusnya hanya dijadikan panduan, pertimbangan, tips dan kritik, sebelum akhirnya memutuskan sendiri, sesuai dengan pengalaman, kepribadian, dst. seperti di atas.

    Ya, kita harus berani menjadi diri sendiri, juga boleh menjadi trendsetter yang layak, bertanggungjawab, percaya diri, secara pribadi dan sosial, tidak menjadi korban mode, dan atau saltum (salah kostum).

    Juga, kalaupun kita agak mengacuhkan pandangan/pendapat masyarakat yang beragam di tempat kita hidup-ada yang usil, acuh, perhatian, sampai yang bijak-berpenampilan yang rapih, pantas & nyaman (neat, descent & comfortable), tidak perlu ekstrim berlebihan ataupun terlalu ‘minim’, baik juga (paling tidak buat saya pribadi).

    Cukup banyak kritik tentang orang kaya/terkenal yang gaya penampilannya ‘buruk’, padahal dengan kekayaannya mereka bisa membeli & bergaya apapun, namun bila seleranya sudah ‘seperti itu dari sananya’, apa mau dikata? Sedangkan orang biasa, dengan penampilan sederhana namun percaya diri, berselera baik, rapih, pantas, pun bisa lebih nyaman, menyenangkan dipandang, malah bisa kelihatan lebih elegan, ‘berkelas’, karena sesuai dengan kriteria2 di atas.

    Salam
    Hya... Sistah...
    Aku setuju dengan semuanya, sebenarnya tulisan ini Artie bermaksud menyusun sedikit tulisan dan tentu saja opini rekans/kawan/sohib bahwa untuk menjadi modis, ngga usah terlalu memaksakan diri untuk mengikuti mode sampe jadi korban mode...
    hahahahaha...
    kadang-kadang aku kasihan sama selebs/prominent persons, mereka itu tampil menjadi sorotan sesuai dengan harapan mereka... jadi mereka dituntut untuk selalu tampil modis, sesuai dengan apa yang diharapkan orang yang melihat mereka. begitu mereka hendak berpakaian sesuai dengan kehendak atau emosi mereka saat itu... selalu mendapat sorotan negatif. terutama dari pengamat mode... (nyengir kuda)

    Sebenarnya pada saat kita bicara soal fashion, style, mode... kita pasti berhadapan dengan masyarakat yang menilai kita dari busana yang kita pakai. dan nanti ada tereak pada Artie... "Artieeee... kok masih ngga melihat kalau dogma itu palsuuuuu!!!!" hahahahahahaha....

    Jadilah diri sendiri
    I am who I am
    This is not a black and white world; you can't afford to believe in your side

  7. #7
    Member erni's Avatar
    Join Date
    May 2008
    Location
    Jakarta
    Posts
    595
    Rep Power
    6

    Re: The Science of Fashion

    Quote Originally Posted by artemis View Post
    Hya... Sistah...
    Aku setuju dengan semuanya, sebenarnya tulisan ini Artie bermaksud menyusun sedikit tulisan dan tentu saja opini rekans/kawan/sohib bahwa untuk menjadi modis, ngga usah terlalu memaksakan diri untuk mengikuti mode sampe jadi korban mode...
    hahahahaha...
    kadang-kadang aku kasihan sama selebs/prominent persons, mereka itu tampil menjadi sorotan sesuai dengan harapan mereka... jadi mereka dituntut untuk selalu tampil modis, sesuai dengan apa yang diharapkan orang yang melihat mereka. begitu mereka hendak berpakaian sesuai dengan kehendak atau emosi mereka saat itu... selalu mendapat sorotan negatif. terutama dari pengamat mode... (nyengir kuda)

    Sebenarnya pada saat kita bicara soal fashion, style, mode... kita pasti berhadapan dengan masyarakat yang menilai kita dari busana yang kita pakai. dan nanti ada tereak pada Artie... "Artieeee... kok masih ngga melihat kalau dogma itu palsuuuuu!!!!" hahahahahahaha....

    Jadilah diri sendiri
    I am who I am
    Aaahhh… kalo yang tereak dogma itu palsu Art, dari tulisannya, pasti cinta keindahan, yang alami, natural, tidak artificial… semoga ini benar
    Salam

  8. #8
    Contributor artemis's Avatar
    Join Date
    Oct 2008
    Posts
    4,030
    Rep Power
    14

    Re: The Science of Fashion

    Quote Originally Posted by erni View Post
    Aaahhh… kalo yang tereak dogma itu palsu Art, dari tulisannya, pasti cinta keindahan, yang alami, natural, tidak artificial… semoga ini benar
    Salam
    Ah ya... si pencinta wanita dan keindahan...

    keindahan tidak melulu tampil dari kecantikan, tetapi justru dari kemanisannya yang alami.
    keindahan tidak melulu tampil dari kerumitan dan pola-pola plisket, tetapi justru muncul dari kesederhanaan penampilannya
    keindahan tidak melulu tampil dari gemerlapnya batu-batu mulia, kristal yang berkilau, tapi justru dari cara kita membawa diri.

    Dari ujung rambut sampai ke ujung kuku, bisa dilihat apakah style dan fashion menjadi becoming atau justru menjadi pribadi yang tidak dikenali lagi.

    Berbusana: mulai dari tatanan rambut, asesoris, pakaian sampai alas kaki mungkin bisa kita dialektikakan juga, 'kali ya... karena kita juga perlu bercermin dan mematut diri apakah busana yang tengah kita pakai ini sudah becoming atau malah berkesan titipan dan lebih parah, nanti ada menegur kita, "tidak adakah cermin di rumahmu?" atau seperti kata jurnalis mode yang high-browed person menyatakan pada Bjorg yang mengenakan busana metalik hijau, "Bjorg bersalin busana di dalam gelap..."

    Bercermin
    jadilah diri sendiri
    dan teriaklah I am who I am...
    This is not a black and white world; you can't afford to believe in your side

  9. #9
    Member melon's Avatar
    Join Date
    Feb 2009
    Location
    Caffee' d' France
    Posts
    613
    Rep Power
    5

    Thumbs up Re: The Science of Fashion

    Quote Originally Posted by artemis View Post
    Hayooo...
    Jadi korban mode ato berani jadi pioneer of style?

    Penampilan harus selalu up-to-date
    ato mempertahankan penampilan bak Alain Delon yang klasik itu... hmmm?
    Sip ... hehehe ...
    Welcome to the world of Alain Delon

  10. #10
    Contributor artemis's Avatar
    Join Date
    Oct 2008
    Posts
    4,030
    Rep Power
    14

    Re: The Science of Fashion

    Sebenarnya dalam berbusana tidak ada aturan baku untuk menentukan apakah yang kita padu padankan atau yang kita pakai itu benar atau salah, hanya saja dalam masyarakat terdapat aturan tak tertulis seperti yang dituliskan oleh sis Erni: Neat, Decent, comfortable: Rapi, Patut, Nyaman tapi ada juga aturan Decency, Properly, Fittingly... kira-kira seperti itu, Pantas, Patut, Pas. Namun kembali ditekankan... jangan takut untuk menunjukkan kepribadian dan cita rasa pribadi yang unik ini dalam berbusana.

    Warna
    Warna merupakan salah satu aspek penting dalam ekspresi kita berpakaian. Gunakanlah warna-warna yang merupakan warna favorit kita dalam berpakaian. jangan takut untuk memadumadankan warna-warna favorit itu dalam satu penampilan spektakuler kita. hanya saja bila favorit warna kita salah satunya adalah warna pink fuschia dan hijau turkuis dan lantas kita padupadankan, rasanya sulit untuk diapresiasi menarik atau bermartabat bagi orang lain. Atau secara nekat anda memadumadankan merah muda dengan kuning, atau merah dengan kuning atau oranye... anda akan dipanggil sebagai burung kenari atau lampu lalu lintas yang tak pernah hijau...namun kembali lagi bila itu memang anda sukai atau anda cukup percaya diri untuk mengenakan gabungan warna yang cukup menyolok mata ini serta memang anda becoming mengenakannya, kenapa tidak?

    Hitam selalu dinyatakan sebagai warna elegan, aman, anggun, misterius,resmi, netral dan kadang disebut warna duka cita. saya pribadi penyuka warna hitam. Gunakan hitam bila kita hendak ingin mengekspresikan perasaan anggun, merasa resmi, atau pada acara
    yang tidak jelas apa yang menjadi temanya dan anda akan aman mengenakan warna hitam yang elegan, anggun dan tentu saja mengenakannya perlu keanggunan dan keeleganan dari dalam diri sendiri.

    Merah adalah warna gairah yang membara, panas, semangat, berani dan tajam. Benar-benar sebuah warna yang ekspresif dan hidup. Tidak semua orang pantas mengenakan warna merah, apalagi merah cabai yang begitu panas, dan agak tricky menggunakan warna merah ini, kecuali anda adalah seorang yang memiliki kepercayaan diri yang tinggi, sehingga merah ini becoming pada diri anda. Gunakan merah untuk menunjukkan semangat anda, gairah anda dan tentu saja terutama pada hari yang mendung untuk memberikan lebih banyak warna pada sekitar kita.

    Biru muda adalah warna dingin, tak tersentuh, melankolis dan sensitif. Gunakan biru muda untuk menunjukkan bahwa anda sedang merasa sensitif terhadap sekitar anda, dan perasaan yang tengah tak tergambarkan oleh kata-kata. Cocok pula dipilih untuk menghadiri sebuah acara resmi.

    Hijau, warna yang alami dan sejuk menenangkan. Warna yang aman untuk dikenakan siapa saja, asal bukan hijau metalik, atau hijau fluoricent. Mengenakan hijau kadangkala berarti kita butuh menenangkan diri dengan warna utama alam ini. Gunakan hijau bila anda merasa tenang, nyaman dengan diri anda sendiri dan merasa ingin memperoleh ketenangan.

    Pink/Merah muda warna yang romantis, warna cinta asmara, feminine. Warna yang menunjukkan perasaan hangat karena cinta, namun juga bisa diartikan warna yang kekanak-kanakan serta warna yang terlalu feminine. Gunakan pink bila ingin membuat lawan anda throw off his balance. seperti saya yang selalu mengenakan pink untuk menciptakan kesan fuzzy.

    Kuning, oranye dan cokelat keemasan adalah warna-warna yang hangat dan ceria. untuk kuning dan oranye kadang bolehlah disebut warna nekat dan nyaris tidak semua orang bisa mengenakan oranye atau kuning. Tetapi coba padankan dengan hijau atau biru dan hitam, anda akan menjadi pusat perhatian yang hangat.

    Ungu.... warna misterius, mempesona serta seduktif dan agak sedikit memiliki citra negatif di mata sebagian orang, dengan sebutan warna janda. entah mengapa disebut warna janda, apakah seorang janda harus atau senang mengenakan warna ungu ini? Agak tricky juga mengenakan warna ini, selain membuat warna kulit menjadi lebih gelap dia juga akan gagal memberikan kesan seduktif, bila kita salah memilih bahan dan waktu
    saat mengenakannya.

    Putih... hmmmmm... warna suci, bersih, innocent, netral dan merupakan warna wajib bagi pengantin wanita sepertinya.

    Warna-warna krem, dull, netral. membosankan, tidak menarik perhatian dan aman serta selalu menjadi pilihan untuk menjadi seragam, karena sifatnya yang tidak menarik perhatian dan netral inilah menjadi pertimbangan utamanya. Bagi orang yang suka mengenakannya bukan berarti bahwa mereka adalah orang yang membosankan, bisa jadi mereka sedang menekankan kepribadiannya yang ceria, hangat dan meledak-ledak menjadi sebuah kepribadian yang netral, membosankan dan berusaha untuk tidak menarik perhatian.

    Namun semua itu kembali lagi pada diri kita masing-masing, bagaimana agar kita bisa becoming dengan warna-warna. Kita bisa mengekspresikan perasaan, kepribadian atau cita rasa kita dengan warna yang kaya. Tetapi bisa juga dengan warna kita menyembunyikan perasaan, kepribadian dan cita rasa yang sesungguhnya.

    Memang pada akhirnya kita perlu melihat seseorang itu tidak melulu dari busana yang dikenakannya, tetapi melihat jauh ke dalam lapisan-lapisan yang berusaha ditutupinya dengan menonjolkannya dengan hal-hal yang berbeda.

    Jadilah diri sendiri
    I am who I am
    Last edited by artemis; 09-05-09 at 05:29 PM.
    This is not a black and white world; you can't afford to believe in your side

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •  

Content Relevant URLs by vBSEO 3.6.0