Forum


     

View Poll Results: Apakah senapan angin berpotensi putus ekositem & mempunyai andil pd kepunahan satwa ?

Voters
9. You may not vote on this poll
  • YA

    6 66.67%
  • TIDAK

    3 33.33%
Page 4 of 4 FirstFirst 1234
Results 31 to 37 of 37

Thread: Pool apakah senapan angin berpotensi putus ekosistem?

  1. #31
    Junior Member willywilly's Avatar
    Join Date
    Nov 2008
    Posts
    321
    Rep Power
    5

    Re: Pool apakah senapan angin berpotensi putus ekosistem?

    makanya maukah kita kita yang peduli pada lingkungan hidup yang banyak kampanyekan go green tapi kurang semangat saat ada yang menyatakan Berantas Perburuan Liar (BPL)

    salah satu bentuk ekosistem yang menambah asri pepohonan adalah satwa liarnya, sayang sekali jika banyak pohon ditanam namun tidak ada burung burung nya yang habis diburu secara liar?

    so, kibarkan bendera lindungi satwa dari perburuan liar dimanapun kapanpun dalam bentuk apapun termasuk forum diskusi yang hanya berkutat pada hasil semata yang diperoleh tanpa memiliki dokumen buru resmi yakni ijin buru akta buru?
    Aneka ragam flora fauna adalah warisan alam (national heritage), wajib kita lestarikan.

  2. #32
    Junior Member willywilly's Avatar
    Join Date
    Nov 2008
    Posts
    321
    Rep Power
    5

    Re: Pool apakah senapan angin berpotensi putus ekosistem?

    Quote Originally Posted by willywilly View Post
    makanya maukah kita kita yang peduli pada lingkungan hidup yang banyak kampanyekan go green tapi kurang semangat saat ada yang menyatakan Berantas Perburuan Liar (BPL)

    salah satu bentuk ekosistem yang menambah asri pepohonan adalah satwa liarnya, sayang sekali jika banyak pohon ditanam namun tidak ada burung burung nya yang habis diburu secara liar?

    so, kibarkan bendera lindungi satwa dari perburuan liar dimanapun kapanpun dalam bentuk apapun termasuk forum diskusi yang hanya berkutat pada hasil semata yang diperoleh tanpa memiliki dokumen buru resmi yakni ijin buru akta buru?

    wah dah lam agak ol....waduh ada thread yang sticky dipindah atau teredit yah....hikhik
    Aneka ragam flora fauna adalah warisan alam (national heritage), wajib kita lestarikan.

  3. #33
    Junior Member willywilly's Avatar
    Join Date
    Nov 2008
    Posts
    321
    Rep Power
    5

    Re: Pool apakah senapan angin berpotensi putus ekosistem?

    ayo ayo selamatkan satwa liar dari perburuan liar
    Aneka ragam flora fauna adalah warisan alam (national heritage), wajib kita lestarikan.

  4. #34
    Junior Member willywilly's Avatar
    Join Date
    Nov 2008
    Posts
    321
    Rep Power
    5

    Re: Pool apakah senapan angin berpotensi putus ekosistem?

    haha thread sticky soal anti perburuan liar ....didelete entah kemanaaaaa?
    pm ke mod sudah....tapi gak ada info balik...hahaha
    Aneka ragam flora fauna adalah warisan alam (national heritage), wajib kita lestarikan.

  5. #35
    Junior Member
    Join Date
    Oct 2010
    Posts
    10
    Rep Power
    0

    Re: Pool apakah senapan angin berpotensi putus ekosistem?

    Ya, karena senapan buat nembak burung.

  6. #36
    Junior Member willywilly's Avatar
    Join Date
    Nov 2008
    Posts
    321
    Rep Power
    5

    Re: Pool apakah senapan angin berpotensi putus ekosistem?

    Quote Originally Posted by willywilly View Post
    PEMBURU MENYERANG SAAT PENGEMBARA DUNIA DATANG « CICEM NANGGROE
    CICEM NANGGROE

    PEMBURU MENYERANG SAAT PENGEMBARA DUNIA DATANG


    Oleh : Agus Nurza, T. Mohd Sanir, dan Husnu Rizal


    (Cicem Nanggroe)


    Sebelumnya perlu kami perjelas bahwa Pengembara disini bukan ditujukan kepada orang-orang pengembara yang sedang melakukan perjalanan melintasi Aceh. Pengembara yang dimaksud adalah burung migran yang diketahui menempuh perjalanan ribuan mil setiap pergantian musim. Pernah terlihat di pantai Banda Aceh tetapi belum memberikan informasi yang cukup memadai. Terkadang keberadaan mereka tidak terpantau dan kurang mendapat perhatian seperti burung endemik yang terancam punah. Hal ini terjadi di pelbagai tempat di Indonesia, tetapi sejak kasus flu burung merebak, burung liar terutama jenis burung migran yang bebas keluar-masuk ke suatu wilayah tanpa harus menggunakan surat izin tertentu, memiliki peranan yang penting malah dianggap menjurus ke arah yang membahayakan.
    Di dunia saat ini pemanasan global merupakan topik yang sedang hangat-hangatnya dibicarakan. Faktanya, setiap tahun terjadi peningkatan suhu di seluruh dunia. Burung-burung migran termasuk jenis satwa yang sangat peka terhadap situasi ini, perubahan musim yang datang terlalu cepat mengakibatkan perubahan pada perilaku mereka. Mereka dapat melakukan migrasi terlalu cepat atau bahkan terlalu lama tergantung perubahan musim yang akhir-akhir ini menjadi semakin tak menentu. Sebelumnya, Aceh belum diketahui termasuk ke dalam garis lintas migrasi burung-burung migran. Tetapi terjadinya perubahan keadaan dan lingkungan mungkin termasuk faktor yang menjadi pemicu terciptanya situasi ini.
    Suatu pengamatan terhadap burung-burung air migran yang ada di Banda Aceh dan Aceh Besar telah dilakukan yang dimulai pada bulan September 2007 dan berakhir pada bulan November 2007. Wilayah yang diamati adalah wilayah tambak dan pesisir pantai yang secara umumnya merupakan areal pertambakan dan hutan pantai yang sedang dalam tahap pertumbuhan setelah hancur akibat bencana tsunami.
    Burung air migran yang teramati di Banda Aceh dan Aceh Besaradalah burung Gajahan Besar (Numenius arquata), Gajahan Penggala (Numenius phaeopus), Gajahan Timur (Numenius madagarcariensis), Biru Laut Ekor Blorok (Limosa lapponica), Trinil Pantai (Tringa hypoleucos), Trinil (Tringa spp.), Kedidi Belang (Calidris alpina), Cerek Kernyut (Pluvialis fulva), Cerek Kalung Besar (Charadrius hiaticula), Cerek Kalung Kecil (Charadrius dubius), dan Cerek (Charadrius spp.).
    Burung air migran sering dijumpai di lokasi berbeda, diantaranya area pertambakan dan pesisir pantai di Desa Krueng Cut, Tibang, Jeulingke, Deah Glumpang, Neuheun, Lam Nga, Ujong Batee, Ladong, dan Krueng Raya dimana daerah ini merupakan bagian pesisir pantai utara Banda Aceh – Aceh Besar yang secara topografi wilayah-wilayah tersebut masih dalam satu garis pantai utara Banda Aceh dan Aceh Besar. Sebelum Tsunami terjadi kawasan pengamatan ini merupakan habitat burung air yang baik karena pada kawasan ini masih dijumpai komposisi vegetasi yang lengkap dan rapat, meskipun banyak lahan mangrove dialih-fungsikan untuk lahan tambak. Tambak yang dikelola secara perorangan cenderung menggunakan sistem tambak empang parit yakni hanya bagian pinggiran yang dimanfaatkan untuk budidaya dan dibagian tengah tetap ditempati manggrove. Cara yang demikian menguntungkan bagi kehidupan burung seperti yang pernah terlihat di daerah Jeulingke, Neuhun dan Ladong, terutama dalam pemantauan predator dan memudahkan burung dalam mengintai pakan. Meskipun kehidupan burung tidak terganggu secara ekologis tetapi burung-burung tersebut mengalami gangguan dari manusia.
    Kawasan ini sedang dalam proses pemulihan. Memang sudah hampir semua daerah telah ditanami pepohonan mangrove, akan tetapi struktur ekosistem pantai belum pulih secara sempurna. Butuh waktu lama untuk mencapai kondisi yang ideal dan sesuai seperti dahulu. Sampai sekarang keadaan kawasan ini masih memprihatinkan. Berbagai ancaman saat ini mulai terlihat, seperti banyaknya sampah yang dibawa oleh aliran sungai di dekatnya. Sampah-sampah non-organik tentu saja membahayakan burung-burung tersebut. Keadaan ini diperparah dengan adanya aksi pengambilan dan perburuan terhadap sarang burung-burung. Padahal Burung air juga merupakan salah satu atribut kunci dari keanekaragaman pada kebanyakan lahan basah, dan komponen kuantitas dan kualitas dari burung air adalah landasan yang digunakan untuk identifikasi pentingnya lahan basah.




    Gambar 1. Pemburu burung air di kawasan Deah Glumpang Banda Aceh (foto : Agus Nurza)


    Sang Pengembara dunia ini juga disambut hangat dengan peluru-peluru senapan. Saat pengamatan dilakukan tak jarang berbagai tempat pengamatan dijadikan sebagai tempat area perburuan. Prilaku pemburu juga berbeda-beda bahkan berburu burung dengan gaya bak ‘film action’. Seperti pada gambar di atas, pemburu sedang memburu burung air migran. Pada saat tertangkap kamera, mereka sedang menembak sekelompok burung jenis Gajahan Besar (Numenius arquata), dan Gajahan Timur (Numenius madagarcariensis) serta jenis Kokoan Laut dan Kuntul yang juga berada ditempat tersebut. Padahal di Indonesia semua jenis burung Gajahan dan kuntul dilindungi. Tapi sayang, status burung dilndungi cenderung banyak diketahui oleh praktisi bukan masyarakat luas. Fenomena seperti ini juga terjadi di berbagai tempat di Indonesia.



    Gambar 2. Masyarakat sedang mengambil telur burung (foto : Agus Nurza)

    Berdasarkan keterangan dari penduduk setempat, sebelum tsunami masyarakat setempat sering memanen telur burung pada waktu musim burung bertelur (Gambar 2.). Jumlah telur diambil dari sangkar kadang mencapai satu karung ukuran besar bahkan lebih. Pengambilan telur seperti itu jelas akan berpengaruh pada kelangsungan hidup mereka. Selain itu proses perburuan dengan menggunakan senjata seperti senapan angin kerap dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Hal inilah yang perlu diwaspadai karena berbagaii jenis burung atau telur yang diambil dapat saja berstatus dilindungi dan mungkin beberapa diantaranya terancam punah.
    Burung merupakan satwa yang sangat peka terhadap perubahan lingkungan. Kelestarian burung di alam merupakan salah satu kunci kelestarian alam. Dengan menjaga lingkungan, tentu saja melestarikan alam yang juga sebagai sumber daya alam yang baik sebagai tempat bergantung hidup bagi penduduk setempat yang berprofesi sebagai petani ikan dan nelayan.
    Pengembara ibarat tamu, seharusnya kita dapat menjamu mereka dengan baik dan ramah. Setidaknya tidak mengusik keberadaannya atau merusak habitat alaminya. Walaupun ia adalah burung, tetapi jika kehidupannya terganggu tentu akan menyebabkan ancaman akan keberadaannya lalu skenario terburuk adalah terjadinya kepunahan. Bukankah putusnya satu mata rantai kehidupan akan mengganggu kehidupan manusia itu sendiri?. Hal seperti inilah yang seharusnya perlu kita renungkan dan kita resapi, bukan semata untuk kehidupan kita saat ini tetapi juga sebagai warisan kepada anak cucu kita kelak.


    Tulisan ini dikirim pada pada Kamis, Januari 24th, 2008 7:28 AM dan di isikan dibawah Tak Berkategori.
    ini salah satu bukti perburuan tanpa ijin alias perburuan liar, mau ngomong apalagi wahai pehobis buru...
    Aneka ragam flora fauna adalah warisan alam (national heritage), wajib kita lestarikan.

  7. #37
    Junior Member willywilly's Avatar
    Join Date
    Nov 2008
    Posts
    321
    Rep Power
    5

    Re: Pool apakah senapan angin berpotensi putus ekosistem?

    bagi pemburu daging meat hunter...gak ada musim buru resmi tapi hajar terus kapan saja apalagi kalo ada harpitnas...huh
    Aneka ragam flora fauna adalah warisan alam (national heritage), wajib kita lestarikan.

Page 4 of 4 FirstFirst 1234

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •  
©2008 - 2013 PT. Kompas Cyber Media. All Rights Reserved.

Content Relevant URLs by vBSEO 3.6.0