GREEN LEADERSHIP (I)Kita bisa membaca banyak kisah tentang peristiwa kehancuran peradaban-peradaban besar terdahulu yang sekarang tinggal puing-puing saja. Berdasarkan hasil penelitian para ahli, akar dari hancurnya peradaban-peradaban besar terdahulu itu berawal dari kealpaan sekelompok masyarakat terhadap lingkungan sekitarnya. Pada akhirnya kesimpulan yang dapat ditarik dari hancurnya peradaban-peradaban tersebut tidak lain adalah krisis lingkungan dan kemurkaan alam kepada masyarakat yang alpa akan kehadiran lingkungan di sekitar mereka.
Di zaman sekarang pun tidak berbeda realitasnya, bumi kita sedang menuju kehancuran, terjadi global warming, bencana alam, banjir. Kehancuran bumi terjadi tatkala crowded (demografi)bertemu dengan flat (globalisasi). Di titik pertemuan itu, yang menjadi korban dari keduanya tak lain adalah mother nature yang menjadi tempat bersandar manusia.
Jika ada kesimpulan seperti di atas, maka tentu masa depan bangsa Indonesia memprihatinkan, sebab selain parahnya krisis lingkungan yang terjadi, bangsa ini juga mengalami defisit kepemimpinan yang tidak kalah parahnya. Agar hal itu tidak menjadi kenyataan di Indonesia, setidaknya kita harus mengkaji lagi relasi antara lingkungan hidup, masyarakat, dan negara.
Permasalahan Besar
Pembangunan dan pertumbuhan membutuhkan energi sebagai penggeraknya. Dunia yang datar tentu lebih banyak membutuhkan energi. Kita tidak dapat melakukan aktivitas dalam dunia yang seperti ini tanpa sokongan energi, dan pada kenyataannya energi yang dapat dikonsumsi oleh manusia secara efektif dan efisien adalah terbatas. Dengan murahnya harga bahan bakar fosil, maka tidak ada inisiatif dan kreatifitas untuk menciptakan alternatif energi baru bagi peradaban manusia. Akhirnya, pada titik tertentu dunia mengalami energy poverty yang gejalanya sudah dirasakan saat ini.
Pertemuan antara crowded dan flat pun ternyata menjadi bencana bagi makhluk-makhluk lain yang hidup di bumi selain manusia. Tidak usah jauh-jauh, Indonesia yang menjadi rumah bagi keanekaragaman hayati (biodiversity) lambat-laun menjadi tergadaikan oleh kepentingan ekonomi. Di Riau ratusan ribu hektar hutan dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit yang menciptakan ketidakseimbangan dalam lingkungan. Alhasil, ratusan species kehilangan habitat alaminya.
Permasalahan lingkungan juga menghasilkan permasalah baru, yakni krisis ketersediaan pangan dan krisis air. Tak jarang kedua krisis ini menghasilkan konflik antar sesama anak manusia. Misalnya, Sungai Nil di Afrika, Sungai Jordan dan Tigris-Eufrat di Timur Tengah, serta Sungai Indus di Asia Selatan menjadi daerah konflik karena krisis ketersediaan pangan dan krisis air. Konflik yang terjadi di keempat daerah sungai tersebut telah membuat begitu banyak kepedihan penduduk di sana.
Belum lagi bila kita melihat masalah Darfur yang selama ini dianggap sebagai konflik agama dan etnis. Padahal konflik di Darfur murni merupakan konflik antara dua suku yang memperebutkan sumber daya alam yang semakin sedikit akibat pemanasan global.
Isu lingkungan bukanlah isu yang seksi, belum menjadi fokus perhatian kita. Padahal kesejahteraan yang diperjuangkan sekuat tenaga dan sepenuh hati di negeri ini tidak akan berarti jika daya topang ekologis hancur. Pembangunan ekonomi, politik, infrastruktur dan juga pembangunan sosial tidak boleh menyisihkan konsentrasi kita pada permasalahan lingkungan.
Fenomena terdegradasinya kualitas lingkungan secara global dan semakin rapuhnya daya topang ekologi dapat dengan mudah kita rasakan saat ini. Bumi yang kian hari kian panas, bencana yang disebabkan kerusakan lingkungan terjadi dari waktu ke waktu. Inilah fenomena bunuh diri ekologis, sebuah permasalahan besar yang sedang bangsa ini hadapi.
Ada sejumlah kategori bunuh diri ekologis yang ada saat ini; pembalakan hutan dan perusakan habitat, kerusakan lahan (erosi, salinisasi, kehilangan kesuburan), manajemen air, perburuan yang berlebihan, pengambilan ikan yang berlebihan, dampak introduksi spesies baru, pertumbuhan penduduk, peningkatan dampak per kapita penduduk, perubahan iklim, pencemaran kimia, kekurangan energi, dan pemborosan kapasitas fotosintesis bumi.
Kondisi ini tentu saja menuntut kita semua peduli dan mau melakukan langkah-langkah konkret dalam melimitasi peluang bunuh diri ekologis tersebut. Ada dua sisi setidaknya yang harus mengalami penguatan peran. Masyarakat luas harus didorong untuk mengambil peran dalam upaya pencegahan bunuh diri ekologis, ini segaris lurus dengan konsepsi civil society. Dimana masyarakat memiliki keberdayaan dalam memperjuangkan hal-hal yang mereka yakini kebenarannya.
Di sisi lain yang harus didorong adalah hadirnya kepemimpinan politik yang memiliki vis, misi serta berprilaku pro lingkungan. Melihat bagaimana peliknya permasalahan pemanasan global yang diakibatkan oleh overpopulasi (crowded) dan globalisasi (flat), maka pada akhirnya akar solusi bagi permasalahan ini tidak lain adalah kepemimpinan global. Bangsa ini butuh kepemimpinan yang tidak hanya paham menghadapi permasalahan ini secara sistematis, tetapi juga mampu menciptakan sebuah visi bagi terbentuknya tatanan bangsa yang lebih hijau dan menghargai lingkungan.


LinkBack URL
About LinkBacks




Reply With Quote

Bookmarks