Page 1 of 2 12 LastLast
Results 1 to 10 of 16
Like Tree4Likes

Thread: Tokoh Nasional, Kompas.com, dan 29 Mei 2013


  1. #1
    Member Dian Alfia's Avatar
    Join Date
    Nov 2012
    Posts
    667
    Rep Power
    3

    Tokoh Nasional, Kompas.com, dan 29 Mei 2013

    Seperti yang kita ketahui, Kompas Cetak memiliki website andalannya yakni Kompas.com yang telah 5 tahun setia menyajikan berita dan informasi kepada khalayak dengan akses yang mudah dan up-to-date. Ngomong-ngomong, bagaimana tanggapan para tokoh Nasional mengenai website kesayangan kita ini? Yuk kita langsung aja tanya langsung sama pak Jokowi, Richard Sam Bera, Tifatul Sembiring, dan tokoh lainnya yang fenomenal di dunia politik Indonesia. Penasaran? Langsung saja kita lihat jawaban mereka di bawah ini

    Jokowi, Kompas.com, dan 29 Mei 2013


    Kompas.com/Kurnia Sari Aziza Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo saat berbincang dengan Kompas.com, di Balaikota Jakarta, Kamis (23/5/2013).


    JAKARTA, KOMPAS.com — Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo atau Jokowi mengaku, setiap hari, ia tak pernah absen membuka situs berita Kompas.com. Jadwal tetap Jokowi membuka Kompas.com adalah pukul 23.00-24.00.
    Namun, tidak semua rubrikasi di Kompas.com ia ikuti. "Yang saya baca cuma dua, Megapolitan dan Gebrakan Jokowi. Nah, itu aja, yang lain ndak, udah dua ini aja, (rubrik) Megapolitan sama (liputan khusus) Gebrakan Jokowi," katanya dalam obrolan ringan di Balaikota DKI Jakarta, Kamis (23/5/2013).
    Jokowi mengaku tak hanya membaca berita di dua rubrik itu. Komentar-komentar pembaca tak luput ia ikuti. "Saya baca semuanya. Komen-nya juga kita baca, yang ramai kan komen-nya mesti hehehe. Kayak terakhir kemarin yang komen banyak itu masalah apa ya?” ucap Jokowi seraya mengernyitkan kening.
    "KJS?" sela Kompas.com
    "Enggak, yang sebelumnya itu, lho. Sebelumnya, apa, ya?" kata Jokowi mengingat-ngingat.

    "Waduk Pluit?"
    "Enggak, yang sebelum itu. Ruhut apa, ya, kalau enggak salah," Jokowi mulai ingat (baca: Ruhut: Tak Pantas, Tukang Mebel Jadi Presiden).

    "Oh Ruhut, iya Ruhut, Pak," kata Kompas.com
    "Iya buanyak sekali komen. Saya suka sekali baca komen-komen-nya," ujar Jokowi seraya tersenyum lebar.
    Jokowi bahkan mengaku memahami istilah-istilah khusus yang muncul dalam diskusi pembaca Kompas.com di kolom komentar.
    "Kalau Bapak sering baca komen, Bapak tahu istilah 'pasukan nasi bungkus', dan lain-lain?" pancing Kompas.com.

    "Hahaha (tertawa kencang). Iya, ya, ngerti dong...," Jokowi tertawa lepas.
    Kalau Anda mengikuti diskusi di halaman komentar berita-berita Jokowi, pasti Anda tak asing juga dengan istilah ini.
    Seperti halnya Jokowi, barangkali Anda juga tidak mengikuti semua rubrikasi di Kompas.com yang menyuguhkan beragam informasi. Setiap orang memiliki preferensi dan kebutuhan berita yang berbeda. Kami mencoba memahami kebutuhan pembaca Kompas.com yang beragam itu. Nantikan, 29 Mei 2013.

    Sumber: Kompas.com
    Bagaimana kesan dan harapanmu tentang kompas.com?
    Last edited by Dian Alfia; 28-05-13 at 08:05 PM.
    rulz and nanang023 like this.

    Mari Budayakan Meninggalkan Jejak Setelah Membaca Thread


  2. #2
    Member Dian Alfia's Avatar
    Join Date
    Nov 2012
    Posts
    667
    Rep Power
    3

    Icon1 29 Mei, "Pantengin" Kompas.com Ah...


    DOK. KOMPAS.com Aksi "Nantikan 29 Mei 2013" di Kawasan Sabang, Jakarta, Senin (27/5/2013).

    JAKARTA, KOMPAS.com Suasana makan siang di pusat jajan kawasan Sabang, Jakarta Pusat, Senin (27/5/2013) siang, mendadak heboh. Pria berjas hitam dengan rangkaian balon warna-warni tiba-tiba nangkring di atas panggung kubusnya yang berwarna putih di kerumunan orang siang itu.

    Posenya yang ajaib, duduk tanpa sandaran, membuat suasana kantin tambah riuh. Tentu saja, yang membuat kening banyak orang di tempat itu makin berkerut adalah panggung kubus putih tempat pria berjas hitam itu beraksi.

    "Ada apa sih 29 Mei di Kompas.com?" pertanyaan itu meluncur spontan dari banyak orang di sana. Setiap sisi panggung kubus itu tertulis, "Nantikan 29 Mei 2013".

    Anggia, salah seorang pekerja di kawasan itu, menerka penuh spekulatif. "Pasti ada yang berubah dengan Kompas.com ya? Apa pun itu semoga Kompas.com lebih menarik lagi web-nya dan lebih update," kata dia.

    Dania, seorang pekerja yang lain, mengaku, sudah merasakan kegaduhan 29 Mei ini sejak beberapa hari lalu. "Asli ya dari beberapa hari kemarin ini udah heboh banget, 29 Mei pantengin Kompas.com ah," ujarnya.


    Spoiler for Aksi Pria di Kawasan Sabang:






    Selain di Sabang, sebelumnya aksi heboh yang penuh tanda tanya tersebut juga dilakukan di Central Park dan sekitar Bundaran Hotel Indonesia di tengah Car Free Day.

    Spoiler for Aksi "Nantikan 29 Mei 2013" di Central Park, Jakarta Barat. :


    Spoiler for Aksi "Nantikan 29 Mei 2013" di Car Free Day:







    Sumber
    Last edited by Dian Alfia; 28-05-13 at 08:07 PM.
    nanang023 likes this.

    Mari Budayakan Meninggalkan Jejak Setelah Membaca Thread


  3. #3
    Member Dian Alfia's Avatar
    Join Date
    Nov 2012
    Posts
    667
    Rep Power
    3

    Icon1 Richard Sam Bera, Kompas.com, dan 29 Mei 2013


    KOMPAS/RADITYA HELA BUMI Richard Sam Bera.

    JAKARTA, KOMPAS.com — Mantan perenang nasional, Richard Sam Bera, adalah salah satu tokoh yang melek informasi. Pria yang kini terjun ke dunia politik dan bergabung dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) ini adalah salah satu pembaca setia Kompas.com.
    Setiap orang tentu punya minat tertentu dalam mengonsumsi informasi di laman Kompas.com. Minat Anda bisa jadi tidak sama dengan minat Richard. Lalu, rubrik apa saja yang disukai Richard? "Saya suka baca ekonomi, politik, dan olahraga. Terakhir yang cukup intens saya ikuti adalah soal pengumuman daftar nama-nama calon legislatif," paparnya.
    Dari dunia olahraga, ajang bulu tangkis Piala Sudirman dan Kejurnas Renang tak luput dari perhatian pria yang juga piawai menjadi presenter ini. Dari sekian banyak berita yang ada di Kompas.com, Richard mengaku jarang mengikuti berita seputar lifestyle. Bagaimana dengan Anda? Berita-berita apa yang Anda minati?
    Seperti halnya Richard Sam Bera, barangkali Anda juga tidak mengikuti semua rubrikasi di Kompas.com yang menyuguhkan beragam informasi. Setiap orang memiliki preferensi dan kebutuhan berita yang berbeda. Kami mencoba memahami kebutuhan pembaca Kompas.com yang beragam itu. Nantikan, 29 Mei 2013.

    Sumber
    Last edited by Dian Alfia; 28-05-13 at 08:08 PM.

    Mari Budayakan Meninggalkan Jejak Setelah Membaca Thread


  4. #4
    Member Dian Alfia's Avatar
    Join Date
    Nov 2012
    Posts
    667
    Rep Power
    3

    Icon1 Johan Budi, Kompas.com, dan 29 Mei 2013


    KOMPAS IMAGES/VITALIS YOGI TRISNA Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Johan Budi.

    JAKARTA, KOMPAS.com — Sejak era reformasi bergulir setelah runtuhnya penguasa Orde Baru Soeharto pada Mei 1998, musuh terbesar bangsa ini adalah korupsi. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pun dibentuk untuk menjadi lembaga yang berdiri paling depan untuk memberantas musuh bersama ini.

    Kita pun melihat bagaimana sepak terjang KPK membongkar berbagai kasus korupsi di sejumlah lembaga negeri ini. KPK membongkar prakti korupsi di Dewan Perwakilan Rakyat, kantor pajak, kejaksaan, lembaga peradilan, dan kepolisian. KPK juga menyeret sejumlah politisi dan petinggi partai politik ke meja hijau. Apakah Anda mengikuti semua kisah pemberantasan korupsi di KPK?

    Berita-berita pemberantasan korupsi di Kompas.com selalu hadir di rubrik Nasional. Jika Anda tak pernah melewatkan berita-berita di rubrik Nasional, begitu pula dengan Juru Bicara KPK Johan Budi.

    "Saya adalah salah satu pembaca setia Kompas.com. Rubrik yang saya suka rubrik Nasional," kata dia, Jumat (24/5/2013).

    Johan berharap, Kompas.com giat menampilkan berita-berita mengenai upaya pemberantasan korupsi di Indonesia. "Semoga Kompas.com bisa menjadi salah satu sumber tepercaya terhadap peristiwa-peritiswa yang terjadi, dan semoga Kompas.com juga bisa lebih banyak mengangkat persoalan tentang pemberantasan korupsi. Maju terus Kompas.com," ujar Johan.

    Seperti halnya Johan Budi, barangkali minat Anda di Kompas.com juga khusus, lebih senang mengikuti pemberitaan mengenai pemberantasan korupsi. Setiap orang memiliki preferensi dan kebutuhan berita yang berbeda. Kami mencoba memahami kebutuhan pembaca Kompas.com yang beragam itu. Nantikan, 29 Mei 2013.

    Sumber
    Last edited by Dian Alfia; 28-05-13 at 08:08 PM.

    Mari Budayakan Meninggalkan Jejak Setelah Membaca Thread


  5. #5
    Member Dian Alfia's Avatar
    Join Date
    Nov 2012
    Posts
    667
    Rep Power
    3

    Icon1 Mendikbud, Kompas.com, dan 29 Mei 2013


    BANAR FIL ARDHI Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhammad Nuh

    JAKARTA, KOMPAS.com Di sela-sela kesibukannya mengurus masalah pendidikan di Indonesia dan kunjungan ke berbagai daerah, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh ternyata tidak pernah ketinggalan untuk membuka situs Kompas.com. Dari sekian banyak rubrik yang ada, rubrik Edukasi yang menjadi tujuan utamanya.
    "Sudah pasti Edukasi yang saya baca. Tiap hari pasti baca rubrik Edukasi itu," kata Nuh saat dijumpai di Gedung A Kemdikbud, Jakarta, Jumat (24/5/2013).
    Kendati demikian, ia mengaku tidak memiliki waktu khusus untuk membaca Kompas.com. Ia mengungkapkan kapan saja bisa membuka Kompas.com melalui gadget yang selalu dibawanya ke mana saja dia beraktivitas. Namun, jika di kantor, tentu saja ia membuka melalui komputer yang ada.
    "Pagi pasti buka, tapi kadang siang atau sore juga melihat lagi dan memantau berita yang berkembang," ungkap Nuh.
    Berdasarkan kebiasaannya tersebut, mantan Menteri Komunikasi dan Informasi ini memiliki beberapa saran terhadap Kompas.com agar semakin maju dan terus menjadi pedoman bagi masyarakat dalam memperoleh informasi, khususnya info edukasi. Pasalnya, media online saat ini dituntut untuk harus cepat dalam memperbarui informasi.
    "Itu yang harus disesuaikan. Update terus-menerus dan produksi beritanya diperbanyak sehingga pembaca mendapat info yang lengkap," jelas Nuh.
    "Yang kedua sumber diperbanyak dan lebih variatif. Jangan sampai mudah ditebak. Jangan hanya orang yang itu-itu. Kalau untuk masalah besar dan butuh yang berwenang bicara ya tidak apa pimpinannya bicara. Tapi, hal yang lain harus lebih variatif sehingga tidak ketergantungan," tandasnya.
    Seperti halnya Mendikbud, barangkali Anda juga hanya mengikuti rubrik atau berita tertentu di Kompas.com yang menyuguhkan beragam informasi. Setiap orang memiliki preferensi dan kebutuhan berita yang berbeda. Kami mencoba memahami kebutuhan pembaca Kompas.com yang beragam itu. Nantikan 29 Mei 2013.
    [SPOILER]
    Sumber
    [/SPOILER]

    Mari Budayakan Meninggalkan Jejak Setelah Membaca Thread


  6. #6
    Member Dian Alfia's Avatar
    Join Date
    Nov 2012
    Posts
    667
    Rep Power
    3

    Icon1 Lenny Agustin, Kompas.com, dan 29 Mei 2013


    KOMPAS/ARBAIN RAMBEY

    Lenny Agustin.

    KOMPAS.com - Terjebak macet di jalanan Jakarta pasti akan sangat menjemukan. Namun, desainer Lenny Agustin punya cara khusus untuk menghilangkan kejenuhan saat mengarungi kemacetan. Menurutnya, saat macet biasanya ia memilih untuk meng-update berita terbaru dengan mengakses berita di Kompas.com.

    Hampir semua rubrik yang ada di laman Kompas.com dia baca, asalkan beritanya menarik. Tidak hanya melulu soal fashion, tapi juga terkait kasus korupsi seperti yang melibatkan Ahmad Fathanah, atau isu-isu kriminalitas yang sensasional.

    "Yang saya suka dan bikin berkesan karena penulisan beritanya lebih aktual dan tidak terkesan ditambah-tambahi agar lebih sensasional. Lebih akurat begitulah," ujar perancang yang sering mengeksplorasi kain sarung, batik, dan tenun ini.

    Agar selalu update dengan berita terbaru, Lenny juga menjadi follower akun twitter Kompas.com. Dari sanalah ia kemudian membaca link beritanya.

    Dari berita-berita tersebut, Lenny juga mengetahui komentar-komentar dari sejumlah pembaca. Kadang-kadang komentar-komentar tersebut turut dia baca.

    "Hanya saja komentar yang ada kebanyakan kurang bisa bermanfaat, lebih banyak iseng atau sekadar memberi komentar saja," tambahnya lagi.

    Seperti halnya Lenny Agustin, barangkali Anda juga memiliki ketertarikan khusus di Kompas.com yang menyuguhkan beragam informasi. Setiap orang memiliki preferensi dan kebutuhan berita yang berbeda. Kami mencoba memahami kebutuhan pembaca Kompas.com yang beragam itu. Nantikan, 29 Mei 2013.


    Sumber

    Last edited by Dian Alfia; 28-05-13 at 08:08 PM.

    Mari Budayakan Meninggalkan Jejak Setelah Membaca Thread


  7. #7
    Member Dian Alfia's Avatar
    Join Date
    Nov 2012
    Posts
    667
    Rep Power
    3

    Icon1 Tifatul Sembiring, Kompas.com, dan 29 Mei 2013

    KOMPAS.com/KRISTIANTO PURNOMOTifatul Sembiring.

    JAKARTA, KOMPAS.com — Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring tak pernah luput memantau pemberitaan di Kompas.com untuk mengikuti perkembangan situasi di Tanah Air.

    Namun, karena kesibukannya, tentu tak semua informasi yang disajikan mampu ia ikuti. Selain itu, sebagai politisi dan pejabat negara, Tifatul mengaku hanya mengikuti pemberitaan tertentu yang menjadi minatnya. "Berita politik di Nasional. Itu yang saya prioritaskan untuk diakses," ungkap Tifatul kepada Kompas.com, di Jakarta, Kamis (23/5/2013).

    Menteri yang satu ini memang melek media elektronik. Di jejaring sosial Twitter ia terbilang eksis. Pengikutnya mencapai lebih dari 500.000 akun. Di Twitter ia aktif berdialog dengan publik. Bolehlah dibilang, ia menteri yang paling aktif di dunia maya.

    Karena kesibukannya, Tifatul mengaku lebih sering membuka Kompas.com dari telepon selulernya. "Tulisannya (Kompas.com) bagus. Itu kan rujukan juga bagi banyak portal lain," kata dia.
    Kebutuhan informasi Tifatul berbeda dengan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo atau Jokowi. Dalam perbincangan ringan dengan Kompas.com, Kamis, Jokowi mengaku hanya membaca berita-berita di rubrik Megapolitan dan Liputan Khusus Gebrakan Jokowi "Yang saya baca cuma dua, Megapolitan dan Gebrakan Jokowi. Nah, itu aja, yang lain ndak, udah dua ini aja, (rubrik) Megapolitan sama (liputan khusus) Gebrakan Jokowi," katanya. (Baca: Jokowi, Kompas.com dan 29 Mei 2013).
    Seperti halnya Tifatul dan Jokowi, barangkali Anda juga tidak mengikuti semua rubrikasi di Kompas.com yang menyuguhkan beragam informasi. Setiap orang memiliki preferensi dan kebutuhan berita yang berbeda. Kami mencoba memahami kebutuhan pembaca Kompas.com yang beragam itu. Nantikan, 29 Mei 2013.

    Sumber
    Last edited by Dian Alfia; 28-05-13 at 08:09 PM.

    Mari Budayakan Meninggalkan Jejak Setelah Membaca Thread


  8. #8
    Member Dian Alfia's Avatar
    Join Date
    Nov 2012
    Posts
    667
    Rep Power
    3

    Icon1 Eric Meijer, "Kompas.com", dan 29 Mei 2013

    TRIBUNNEWS/JEPRIMA Erik Meijer.

    KOMPAS.com — Sebagai pakar marketing yang selalu memperhatikan tren industri di Indonesia, Direktur Indosat, Eric Meijer, mengaku hal utama yang selalu dia lakukan adalah membaca berita-berita bisnis.
    Dia selalu membaca berita bisnis dari Kompas.com untuk mengetahui isu-isu terkini di ranah ekonomi-bisnis.
    "Saya sih suka baca rubrik ekonominya dan video yang ditampilkan," kata Eric Meijer, Minggu (26/5/2013).
    Dia melihat bahwa Kompas.com bisa disamakan dengan Garuda Indonesia yang bergerak di bisnis penerbangan dan Indosat yang bergerak di sektor telekomunikasi.
    "Ini karena Kompas.com masuk dalam industri yang saat ini sangat berkembang, yaitu media online. Ya, prediksinya, dunia media cetak akan berkurang dan semua akan berpindah ke digital. Kompas.com ke depan bisa menjadi vehicle dari Kompas Gramedia Group dan ini tepat strateginya dari Kompas Gramedia mengembangkan Kompas.com," kata suami artis Maudy Koesnaedy ini.
    Dia juga melihat, Kompas.com cukup merespons perkembangan pasar seiring dengan munculnya kanal-kanal baru, seperti kanal bola dan sebagainya.
    Melalui kanal-kanal tersebut, pembaca akan semakin mudah untuk mendapatkan berita sesuai dengan seleranya. Dia berharap Kompas.com menyediakan lebih banyak kanal yang memungkinkan pembaca lebih mudah mendapatkan informasi yang diinginkannya.
    Namun demikian, dia juga memiliki sedikit catatan untuk Kompas.com. "Sarannya, halaman depannya agar sedikit lebih rapi karena kadang-kadang agak ruwet melihatnya. Tapi, ini wajar juga karena Kompas.com banyak iklannya, hehehe….," kilahnya.
    Sepertihalnya Eric Meijer, barangkali Anda juga tidak mengikuti semua rubrikasi di Kompas.com yang menyuguhkan beragam informasi. Setiap orang memiliki preferensi dan kebutuhan berita yang berbeda. Kami mencoba memahami kebutuhan pembaca Kompas.com yang beragam itu. Nantikan, 29 Mei 2013.

    Sumber
    Last edited by Dian Alfia; 28-05-13 at 08:09 PM.

    Mari Budayakan Meninggalkan Jejak Setelah Membaca Thread


  9. #9
    Member Dian Alfia's Avatar
    Join Date
    Nov 2012
    Posts
    667
    Rep Power
    3

    Icon1 Basuki, "Kompas.com", dan 29 Mei 2013

    Kompas.com/Kurnia Sari Aziza Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama saat berbincang dengan Kompas.com di Balaikota Jakarta, Jumat (24/5/2013).

    JAKARTA, KOMPAS.com — Di tengah kesibukannya sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama selalu menyempatkan diri membaca Kompas.com. Tak cuma membaca beritanya, seperti Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo atau Jokowi, Basuki juga tak luput mengikuti komentar pembaca. (Baca: Jokowi, Kompas.com, dan 29 Mei 2013).
    Dalam perbincangan ringan dengan Kompas.com di Balaikota Jakarta, Jumat (24/5/2013) sore, Basuki mengaku membuka Kompas.com setiap malam sepulangnya dari kantor sekitar pukul 21.00-22.00. Sasaran utama Basuki di Kompas.com adalah rubrik Megapolitan.
    "Kalau saya lebih sering baca berita Pak Jokowi. Justru itu yang utama supaya saya tahu juga kan bagaimana keberlanjutan program-program dan kebijakan-kebijakan kita," kata Basuki seraya mengambil iPad-nya.
    Ia lalu menunjukkan satu berita, "Nih lihat ada yang komen, 'Enak Saja Jokowi Mau Dicopot', hehehe." Basuki terkekeh.
    Basuki juga mengikuti komentar pembaca Kompas.com di berita-berita Megapolitan. Ia tahu betul sosok-sosok komentator-komentator di rubrik Megapolitan.
    "Berarti Bapak tahu siapa-siapa saja yang kerap komentar pedas atau mendukung program Bapak?" tanya Kompas.com. "Tahu dong. Ada langganan yang menyela aku, aku tahu kok. Saya sudah tahu siapa lovers siapa haters. Bukan haters saja, tapi sudah hattrick... hahaha," jawab Basuki sambil tertawa.
    Tentang komentar pembaca, Basuki kemudian menyeletuk tentang berita "Basuki: Hak Nanya Saja Belagu Banget".
    "Hahaha nih lihat nih, ada yang komen DPRD mau ngapa-ngapain udah kebaca gayanya. Hahahaha. Ini yang paling sering hujat kita itu 'Taxi Holiday' nih yang suka nyela melulu. Buat apalah diurusin. Saya hapal loh nama-nama mereka yang suka nyela... hehehe," katanya ringan sambil tertawa.
    Selain rubrik Megapolitan, Basuki ternyata juga suka artikel-artikel di Kanal Kesehatan Kompas.com. "Kesehatan saya juga sering baca loh," ujarnya.
    Sebagai orang kedua di Provinsi DKI Jakarta, Basuki tentu berkepentingan untuk selalu mengikuti berita-berita di rubrik Megapolitan. Rubrik itu menjadi prioritasnya. Seperti halnya Basuki, barangkali Anda juga tidak mengikuti semua rubrikasi di Kompas.com yang menyuguhkan beragam informasi. Bisa jadi, Anda juga memiliki rubrik favorit atau rubrik prioritas. Setiap orang memiliki preferensi dan kebutuhan berita yang berbeda. Kami mencoba memahami kebutuhan pembaca Kompas.com yang beragam itu. Nantikan, 29 Mei 2013.

    Sumber
    Last edited by Dian Alfia; 28-05-13 at 08:09 PM.
    nanang023 likes this.

    Mari Budayakan Meninggalkan Jejak Setelah Membaca Thread


  10. #10
    Member Dian Alfia's Avatar
    Join Date
    Nov 2012
    Posts
    667
    Rep Power
    3

    Icon1 Alan Budikusuma, "Kompas.com", dan 29 Mei 2013


    DHONI SETIAWAN Alan Budikusuma.

    JAKARTA, KOMPAS.com — Membaca Kompas.com adalah aktivitas yang wajib dilakukan Alan Budikusuma setiap hari. Mantan pebulu tangkis nasional ini tak mau ketinggalan info-info terbaru dan hangat yang tengah berkembang di masyarakat.
    "Saya berangkat kerja pagi-pagi sekali dan tidak sempat lagi membaca koran. Saya butuh berita-berita update, yang selama ini disediakan Kompas.com. Memang sih, kadang berita di Kompas.com tidak sedetail di koran, tapi jauh lebih update," papar suami Susy Susanti ini.
    Setiap mengunjungi Kompas.com, rubrik pertama yang jadi tujuan Alan adalah rubrik Bisnis. "Saya kan punya usaha dan butuh info-info terbaru seputar dunia bisnis. Setelah membaca berita-berita bisnis, baru deh baca yang lain," paparnya.
    Jenis berita yang tidak pernah menarik perhatian Alan biasanya berkaitan dengan dunia entertainment. "Saya tidak pernah suka berita yang ceritanya tentang hal-hal negatif, seperti perceraian atau perselingkuhan, terutama di kalangan artis. Saya lebih suka berita yang sifatnya membangun, seperti perjuangan para pebulu tangkis kita di Piala Sudirman," tambah peraih medali emas Olimpiade Barcelona 1992 tersebut.
    Namun, untuk kasus tertentu, Alan tidak mau ketinggalan berita atau gosip yang sedang hangat. "Berita seputar PKS sudah tentu saya ikuti. Kan malu juga kalau sampai ditanya orang, dan saya tidak mengerti soal kasusnya Pak Luthfi," ucap Alan, tertawa.
    Setiap orang pasti memiliki ketertarikan sendiri terhadap jenis berita yang ingin dibacanya. Seperti halnya Alan, barangkali Anda juga tidak mengikuti semua rubrikasi di Kompas.com yang menyuguhkan beragam informasi. Anda mungkin hanya membaca berita-berita tertentu saja. Setiap orang memiliki preferensi dan kebutuhan berita yang berbeda. Kami mencoba memahami kebutuhan pembaca Kompas.com yang beragam itu. Nantikan, 29 Mei 2013.


    Sumber
    Last edited by Dian Alfia; 28-05-13 at 08:09 PM.

    Mari Budayakan Meninggalkan Jejak Setelah Membaca Thread


Page 1 of 2 12 LastLast

Tags for this Thread

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •  
©2008 - 2013 PT. Kompas Cyber Media. All Rights Reserved.

Content Relevant URLs by vBSEO 3.6.0