Hi all,
salam jumpa lagi .. I'm back on the wire, after a week off. Well, gak totally disconnected sih, berhubung ada call mendadak sehubungan isu kerjaan terpaksa harus connected sebentar beberapa hari lalu.
Kaget juga tiba2 di akhir bab XIII kaichou mau melabuhkan kapal ini, secara daku baru balik eh kok tiba-tiba udah mau berlabuh, hiks ..
Eniwei, aku bakal nunggu sekuelnya, mau sampai trilogi pun boleh, kan lagi ngetren nih apa apa dibuat triloginya
Mau ngejar ketertinggalan dulu, sambil jalan-jalan kesana kemari ..
Btw sebelumnya sedikit oleh-oleh dari perjalanan kemarin:
Dalam perjalanan dari Bandung ke Garut, aku dan istriku memilih untuk GO SHOW (entah istilah apa pula ini) naik angkot ke Leuwipanjang dan cari bis ke kota Garut, yang ternyata tidak ada, adanya dari terminal Cicaheum. Jadilah kami naik DAMRI jurusan Leuwipanjang - Cicaheum. Seperti biasanya aku selalu darting dan cenderung malas naik bis kota, tapi itu angkutan termudah didapat yang menghubungkan dua terminal tersebut.
Kenapa aku malas naik bis kota, apalagi yang non AC. Alasannya simpel: banyaknya pengamen dan pedagang di atas bis. Bagiku jauh lebih menyenangkan naik angkot, jarang ada pengamen, apalagi duduk di pojok, aman, bisa tidur tanpa perlu pusing. Tau sih kalo mereka juga cari rejeki seperti diriku juga, tapi yang suka bikin darting adalah kalau melihat pengamen atau pedagang yang memaksa.
Dan kekuatiranku pun terjadi. Ada pengamen yang menyanyi dan bergitar cukup bagus, sehingga akupun merasa perlu untuk membagi rejeki. Akan tetapi ternyata di depanku ada penumpang yang tidak mau memberi dan si pengamen tetap ngotot dan ngomong tidak sopan dalam meminta uang.
Sekitar 10 tahun yang lalu aku di Jogja, mengalami hal yang hampir mirip. Waktu itu melihat hal yang sama aku menolak memberi, meskipun sebelumnya aku sudah merogoh kantong karena merasa pengamen menyanyi dengan cukup bagus. Dulu aku tidak pernah mau memberi bila menghadapi orang seperti itu, yang tidak sopan dan memaksa.
Kali ini, aku tetap MEMBERI. Aku sendiripun kaget, dan sedikit getir, betapa aku telah berubah. Alasannya simpel: aku memberi karena tidak mau ribut. Suatu alasan yang dulu aku benci. 10 tahun yang lalu aku lebih rela ribut daripada memberi ke orang yang memaksa.
Ternyata aku sudah berubah dari orang yang IDEALISTIK menjadi orang yang CARI AMAN. Sekarang aku bertanya apa lagi yang sudah berubah.
TIDAK ADA YANG PASTI SELAIN PERUBAHAN ITU SENDIRI. Akupun tunduk pada perubahan itu, aku berubah.
Ah alasan ... !!!
Salam ..
Bookmarks