Jumpa lagi saudara-saudariku yang terkasih. Mohon maaf aku absent, tidak sempat mampir kesini. 3 hari aku harus keluar daerah, duty visit, dan sore tadi baru tiba kembali di rumah.
Jujur,aku merasa sangat beruntung menemukan thread ini (betul sekali bung Tito). Aku bukan seorang dengan berlatar belakang psikologi, ataupun pernah belajar filsafat. Rutinitasku membuatku terus berkutat dengan hal teknis, aku khawatir itu bisa membuatku bagai katak di dalam tempurung, padahal 2 darah dagingku butuh lebih dari sekedar tempurung. Memahami dialektika Hegel membawa cakrawala baru bagi diriku selain lebih optimis menghadapi hidup ini.
Saudaraku Tito, aku tidak bermaksud menghentikan ujung spiral itu dengan hasrat. Justru aku ingin menekankan bahwa ujung itu tidak akan pernah ada selagi ada hasrat untuk mencapai sebuah kualitas hidup yang lebih baik (sintesa). Betul sekali, dia akan terus berkelana. SEMESTA FENOMENA, bukan setujuh lagi, se-ratus, itu yang mau ku bilang.
Membaca dan coba memahami Dialektika Hegel, ada sebuah pertanyaan di benakku,
apa yang membuat sebuah sintesa menjadi sebuah tesis? sejarah selalu berulang, mengapa? maka muncullah
Hasrat dibenakku.
Aku juga digelitik oleh paragraf saudara kita, Uzmad,
“Di situlah letak pertayaan saya pada logika dialektis, atau sekali lagi di manakah letak compassion dalam logika itu menurut saya rasionalitas perlu dilengkapi dengan compassion”.
Posisi compassion dalam cerita kita dapat aku analogikan seperti ini. Tesis dan AntiTesis, aku gambarkan sebagai 2 kutub pada timbangan. Spiral aku jadikan Timbangan, sehingga Sintesa adalah titik ekuilibrium kita. Ada sebuah
“batu” yang harus aku timbang untuk mengetahui berapa beratnya, berapa beratnya ini adalah Hasrat-ku (aneh, batu kok ditimbang!

). Ketika tanganku menggeser-geser mencari titik keseimbangan, compassion mestinya menyertaiku sehingga timbanganku ini tidak sampai rusak, bila terlalu ke Kiri (Tesis) atau ke Kanan (AntiTesis). Dengan compassion aku berharap pula, titik keseimbangan itu bisa cepat aku temukan.
Lalu kondisi-kondisi apa yang berujung pada perang?, kata saudara kita bimbim.
Ini dia. Ketika tanganku sudah lelah bolak-balik ke kiri ke kanan mencari titik keseimbangan itu, dan saat bersamaan compassion meninggalkanku, maka aku banting saja timbangannya (Perang).
Yang ingin aku katakan disini adalah bahwa posisi Perang, dalam konteks Tesis vs AntiTesis, adalah sebuah keadaan ketika Sintesisnya tidak kunjung tiba. Frustrasi. Upaya-upaya diplomasi mencari solusi dari sebuah konflik adalah tesis dan antitesis itu sendiri, bukan perang. Upaya mencari solusi terbaik dengan jalan diplomasi menurutku adalah cara-cara lebih “beradab”. Pengertian “beradab” disini adalah beradab pada peradaban, pada waktu ketika aku mencari ekuilibrium itu, karena aku tidak ingin disebut manusia jaman purbakala, ataupun “kanibal”. Saudara-2ku terkasih, ini hanya pendapatku saja. Dan aku pun tidak punya kuasa untuk mengatakan ide dan pemikiranmu itu salah, apalagi membantahmu. Aku hanya ingin naik di perahumu, kalau masih ada tempat.
Kacamata? Ah, untung kau tidak bilang diriku si buta dari gua hantu. Terimakasih saudaraku.
May God bless You All..!
(biarpun kalian bilang aku apatis, aku tidak mau ikut kemorat-maritan ini. tukang pijitku sudah datang. aduh enaknya
)
Bookmarks