Page 51 of 824 FirstFirst ... 414243444546474849505152535455565758596061101151551 ... LastLast
Results 501 to 510 of 8231

Thread: PERANG IRAK: Sebuah Tantangan Bagi Otak Mini

  1. #501
    Contributor artemis's Avatar
    Join Date
    Oct 2008
    Posts
    3,864
    Rep Power
    9

    Re: PERANG IRAK: Sebuah Tantangan Bagi Otak Mini

    Quote Originally Posted by intel View Post
    Jumpa lagi saudara-saudariku yang terkasih. Mohon maaf aku absent, tidak sempat mampir kesini. 3 hari aku harus keluar daerah, duty visit, dan sore tadi baru tiba kembali di rumah.

    Jujur,aku merasa sangat beruntung menemukan thread ini (betul sekali bung Tito). Aku bukan seorang dengan berlatar belakang psikologi, ataupun pernah belajar filsafat. Rutinitasku membuatku terus berkutat dengan hal teknis, aku khawatir itu bisa membuatku bagai katak di dalam tempurung, padahal 2 darah dagingku butuh lebih dari sekedar tempurung. Memahami dialektika Hegel membawa cakrawala baru bagi diriku selain lebih optimis menghadapi hidup ini.

    Saudaraku Tito, aku tidak bermaksud menghentikan ujung spiral itu dengan hasrat. Justru aku ingin menekankan bahwa ujung itu tidak akan pernah ada selagi ada hasrat untuk mencapai sebuah kualitas hidup yang lebih baik (sintesa). Betul sekali, dia akan terus berkelana. SEMESTA FENOMENA, bukan setujuh lagi, se-ratus, itu yang mau ku bilang.

    Membaca dan coba memahami Dialektika Hegel, ada sebuah pertanyaan di benakku, apa yang membuat sebuah sintesa menjadi sebuah tesis? sejarah selalu berulang, mengapa? maka muncullah Hasrat dibenakku.

    Aku juga digelitik oleh paragraf saudara kita, Uzmad, “Di situlah letak pertayaan saya pada logika dialektis, atau sekali lagi di manakah letak compassion dalam logika itu menurut saya rasionalitas perlu dilengkapi dengan compassion”.
    Posisi compassion dalam cerita kita dapat aku analogikan seperti ini. Tesis dan AntiTesis, aku gambarkan sebagai 2 kutub pada timbangan. Spiral aku jadikan Timbangan, sehingga Sintesa adalah titik ekuilibrium kita. Ada sebuah “batu” yang harus aku timbang untuk mengetahui berapa beratnya, berapa beratnya ini adalah Hasrat-ku (aneh, batu kok ditimbang! ). Ketika tanganku menggeser-geser mencari titik keseimbangan, compassion mestinya menyertaiku sehingga timbanganku ini tidak sampai rusak, bila terlalu ke Kiri (Tesis) atau ke Kanan (AntiTesis). Dengan compassion aku berharap pula, titik keseimbangan itu bisa cepat aku temukan.

    Lalu kondisi-kondisi apa yang berujung pada perang?, kata saudara kita bimbim.
    Ini dia. Ketika tanganku sudah lelah bolak-balik ke kiri ke kanan mencari titik keseimbangan itu, dan saat bersamaan compassion meninggalkanku, maka aku banting saja timbangannya (Perang).

    Yang ingin aku katakan disini adalah bahwa posisi Perang, dalam konteks Tesis vs AntiTesis, adalah sebuah keadaan ketika Sintesisnya tidak kunjung tiba. Frustrasi. Upaya-upaya diplomasi mencari solusi dari sebuah konflik adalah tesis dan antitesis itu sendiri, bukan perang. Upaya mencari solusi terbaik dengan jalan diplomasi menurutku adalah cara-cara lebih “beradab”. Pengertian “beradab” disini adalah beradab pada peradaban, pada waktu ketika aku mencari ekuilibrium itu, karena aku tidak ingin disebut manusia jaman purbakala, ataupun “kanibal”. Saudara-2ku terkasih, ini hanya pendapatku saja. Dan aku pun tidak punya kuasa untuk mengatakan ide dan pemikiranmu itu salah, apalagi membantahmu. Aku hanya ingin naik di perahumu, kalau masih ada tempat.

    Kacamata? Ah, untung kau tidak bilang diriku si buta dari gua hantu. Terimakasih saudaraku.

    May God bless You All..!

    (biarpun kalian bilang aku apatis, aku tidak mau ikut kemorat-maritan ini. tukang pijitku sudah datang. aduh enaknya )
    bung Intel...(ditambahin ijen lagi ngga yaaa? ) dan everyone else here... (tarik nafas panjang dulu.... haaaaahhh....)
    kita membutuhkan darah segar untuk memberikan diskusi ini kembali hidup. setelah sehari intermezzo yang nyaris membelokkan arah diskusi ini menjadi debat kusir teori konspirasi besar dunia serta menanggalkan asas-asas logika dan asas praduga tak bersalah (halah ini apa?).

    kita memang membicarakan perang, Hegel, Nietsche, Kant... coba bicara Nobel kali? penemu dinamit (walopun dinamit itu sudah dipakai pada perang-perang di China jauh sebelum Nobel lahir) yang merasa bersalah atas penemuannya dan mendirikan sebuah yayasan perdamaian, yah bicara saja, karena ini bisa menjadi compassion yang anda cari-cari.

    ada suatu cerita mengenai batu-batuan ini... cerita cinderella dan pangerannya.

    "sang pangeran bingung gimana caranya ngelamar sang cinderella yang terbiasa bebas, hidup seenak udelnya, tanpa protokoler, tanpa aturan, kalo duduk suka sembarangan, kalo pergi suka tidak mengindahkan keamanannya sendiri... pokoknya seorang gadis yang bebas yang manis dan hidup merdeka sesuai dengan aturannya sendiri.

    sementara sang pangeran terikat oleh kewajiban-kewajibannya pada negara, pada rakyatnya, harus menjalankan tugasnya sebagai kepala negara, harus memikirkan keamanannya sendiri demi masa depan negaranya (protokoler dan pengamanan adalah sebagian kecil dari kehidupan seorang pangeran) dan warisan adalah kewajiban.

    akhirnya mereka menggunakan batu-batu tadi untuk menimbang-nimbang. satu batu ke timbangan kewajiban, timbangan protokoler, dan sebagai-nya dan sebagainya. hampir seperti si pangeran ini hendak put the cinderella off from the hook. timbangan kewajiban, dan sebagainya itu berat sekali dibandingkan dengan cincin kawin yang hendak dipakaikan oleh pangeran itu. tetapi begitu sang cinderella menanyakan apakah tidak ada cinta dalam batu-batu tersebut... maka timbangan kewajiban dan sebagainya dikalahkan oleh sisa batu-batu yang ada.

    apakah itu bisa menerangkan sedikit apa yang mau Intel bicarakan? soal batu dan compassion tadi? memang sih ceritanya terlalu bertele-tele dan terlalu fairy tale banget. tapi sebenarnya itu cinderella moderen. harta dan kedudukan tidak dapat mengalahkan kebebasan dalam hidup looh...

    Perang itu selalu memiliki tujuan. dan kita saat ini telah menikmaati hasil perang-perang yang telah dilalui...
    This is not a black and white world; you can't afford to believe in your side

  2. #502
    tito
    Guest

    Re: PERANG IRAK: Sebuah Tantangan Bagi Otak Mini

    Quote Originally Posted by intel View Post
    Jumpa lagi saudara-saudariku yang terkasih. Mohon maaf aku absent, tidak sempat mampir kesini. 3 hari aku harus keluar daerah, duty visit, dan sore tadi baru tiba kembali di rumah.

    Jujur,aku merasa sangat beruntung menemukan thread ini (betul sekali bung Tito). Aku bukan seorang dengan berlatar belakang psikologi, ataupun pernah belajar filsafat. Rutinitasku membuatku terus berkutat dengan hal teknis, aku khawatir itu bisa membuatku bagai katak di dalam tempurung, padahal 2 darah dagingku butuh lebih dari sekedar tempurung. Memahami dialektika Hegel membawa cakrawala baru bagi diriku selain lebih optimis menghadapi hidup ini.

    Saudaraku Tito, aku tidak bermaksud menghentikan ujung spiral itu dengan hasrat. Justru aku ingin menekankan bahwa ujung itu tidak akan pernah ada selagi ada hasrat untuk mencapai sebuah kualitas hidup yang lebih baik (sintesa). Betul sekali, dia akan terus berkelana. SEMESTA FENOMENA, bukan setujuh lagi, se-ratus, itu yang mau ku bilang.

    Membaca dan coba memahami Dialektika Hegel, ada sebuah pertanyaan di benakku, apa yang membuat sebuah sintesa menjadi sebuah tesis? sejarah selalu berulang, mengapa? maka muncullah Hasrat dibenakku.

    Aku juga digelitik oleh paragraf saudara kita, Uzmad, “Di situlah letak pertayaan saya pada logika dialektis, atau sekali lagi di manakah letak compassion dalam logika itu menurut saya rasionalitas perlu dilengkapi dengan compassion”.
    Posisi compassion dalam cerita kita dapat aku analogikan seperti ini. Tesis dan AntiTesis, aku gambarkan sebagai 2 kutub pada timbangan. Spiral aku jadikan Timbangan, sehingga Sintesa adalah titik ekuilibrium kita. Ada sebuah “batu” yang harus aku timbang untuk mengetahui berapa beratnya, berapa beratnya ini adalah Hasrat-ku (aneh, batu kok ditimbang! ). Ketika tanganku menggeser-geser mencari titik keseimbangan, compassion mestinya menyertaiku sehingga timbanganku ini tidak sampai rusak, bila terlalu ke Kiri (Tesis) atau ke Kanan (AntiTesis). Dengan compassion aku berharap pula, titik keseimbangan itu bisa cepat aku temukan.

    Lalu kondisi-kondisi apa yang berujung pada perang?, kata saudara kita bimbim.
    Ini dia. Ketika tanganku sudah lelah bolak-balik ke kiri ke kanan mencari titik keseimbangan itu, dan saat bersamaan compassion meninggalkanku, maka aku banting saja timbangannya (Perang).

    Yang ingin aku katakan disini adalah bahwa posisi Perang, dalam konteks Tesis vs AntiTesis, adalah sebuah keadaan ketika Sintesisnya tidak kunjung tiba. Frustrasi. Upaya-upaya diplomasi mencari solusi dari sebuah konflik adalah tesis dan antitesis itu sendiri, bukan perang. Upaya mencari solusi terbaik dengan jalan diplomasi menurutku adalah cara-cara lebih “beradab”. Pengertian “beradab” disini adalah beradab pada peradaban, pada waktu ketika aku mencari ekuilibrium itu, karena aku tidak ingin disebut manusia jaman purbakala, ataupun “kanibal”. Saudara-2ku terkasih, ini hanya pendapatku saja. Dan aku pun tidak punya kuasa untuk mengatakan ide dan pemikiranmu itu salah, apalagi membantahmu. Aku hanya ingin naik di perahumu, kalau masih ada tempat.

    Kacamata? Ah, untung kau tidak bilang diriku si buta dari gua hantu. Terimakasih saudaraku.

    May God bless You All..!

    (biarpun kalian bilang aku apatis, aku tidak mau ikut kemorat-maritan ini. tukang pijitku sudah datang. aduh enaknya )
    Biduk kami sungguh lapang kawan; sudilah kau berlayar bersama kami menuju HULU yang tinggal sepelemparan batu saja jauhnya itu, lagipula, seorang kawan kacak dan tampan nian berkacamata sungguh pula sebuah kemewahan bagi perjalanan panjang nan melelahkan ini.

    “Membaca dan coba memahami Dialektika Hegel, ada sebuah pertanyaan di benakku, apa yang membuat sebuah sintesa menjadi sebuah tesis? sejarah selalu berulang, mengapa? maka muncullah Hasrat dibenakku.”

    Kawanku, rasa ingin tahumu yang diungkapan oleh pertanyaan diatas adalah SIMBOLISASI dari jawaban yang akan kuberikan kepadamu dibawah ini.

    SIFAT dari REALITAS adalah: PERUBAHAN.
    Artinya, PERUBAHAN merupakan KUNCI untuk memahami REALITAS.
    SEMESTA FENOMENA yang membentang luas di HULU akan tiba masanya secara GRADUAL memperkenalkan dirinya kepada kita DALAM BENTUK REALITAS BARU.

    Manakala Realitas Baru itu hadir MENJELMA didalam kehidupan anak manusia maka pada saat itulah SINTESIS yang sedang meraja HARUS berubah menjadi TESIS kembali untuk dapat dipolemikkan lagi dengan Antitesis yang MEWUJUD dari Realitas Baru tersebut DEMI LAHIRNYA SEBUAH KUALITAS YANG LEBIH TINGGI; DEMI SEBUAH SINTESIS BARU YANG LEBIH MAJU.

    Kodrat anak manusia yang selalu INGIN TAHU dan senantiasa akrab dengan PERTANYAAN sejatinya adalah wujud dari POLA SEJARAH itu sendiri yang bergerak terus ke HULU.

    Izinkan aku mengaso sejenak kawan dari kemudi di buritan ini.
    Janganlah khawatir, setelah payahku lewat aku akan kembali lagi dengan jawaban yang selanjutnya.

    Regards,
    Tito

  3. #503
    tito
    Guest

    Re: PERANG IRAK: Sebuah Tantangan Bagi Otak Mini

    Mari kawan, kita kayuh lagi biduk ini. Mohon maaf dengan BALOK BALOK BESAR yang mengambang disungai yang akan kau temui nanti.

    “Yang ingin aku katakan disini adalah bahwa posisi Perang, dalam konteks Tesis vs AntiTesis, adalah sebuah keadaan ketika Sintesisnya tidak kunjung tiba. Frustrasi. Upaya-upaya diplomasi mencari solusi dari sebuah konflik adalah tesis dan antitesis itu sendiri, bukan perang. Upaya mencari solusi terbaik dengan jalan diplomasi menurutku adalah cara-cara lebih “beradab”. Pengertian “beradab” disini adalah beradab pada peradaban, pada waktu ketika aku mencari ekuilibrium itu, karena aku tidak ingin disebut manusia jaman purbakala, ataupun “kanibal”.

    Sejarah itu ORGANIK kawan.
    Artinya, didalam bentang sejarah SEMUA PERISTIWA ITU SALING BERKAITAN DAN TIDAK PERNAH BERDIRI SENDIRI. Dia ORGANIK bagaikan TUBUH saja layaknya.

    Kalaulah SEJARAH YANG ORGANIK itu kemudian HARUS KITA PUTUSKAN MATA RANTAINYA dengan katakanlah sebuah UPAYA DAMAI yang AKAN MENGAKHIRI SEGALA PERANG; maka:

    USAILAH SUDAH KISAH HIDUP UMAT MANUSIA DIMUKA BUMI INI.


    PERANG, SUKA ataupun TIDAK SUKA dia adalah TAKDIR kita; dan TAKDIR itu merupakan bagian YANG PALING PENTING untuk menciptakan KEHIDUPAN DIDUNIA INI.
    Seperti fungsi jantung bagi tubuh, sekiranya PERANG dialihkan dari tubuh SEJARAH maka KITA TELAH SAMPAI diujung perjalanan.

    Realitas dari sejarah itu adalah PERISTIWA.
    Sejarah bukan sekedar menggolong-golongkan PERISTIWA dimasa lampau; sejarah adalah MEWUJUDKAN KEHIDUPAN MASA LAMPAU DIMASA KINI. Dan, kehidupan dimasa kini AKAN DIWUJUDKAN DIDALAM KEHIDUPAN DIMASA YANG AKAN DATANG.

    Artinya, TIDAK ADA YANG BENAR BENAR HILANG DIALAM SEMESTA INI.
    LIHATLAH ILUSTRASI BELATUNG!
    SEMUA ITU TERSIMPAN DAN TERGABUNG KEDALAM APA YANG SEKARANG ADA DAN KEDALAM APA YANG NANTINYA MENGADA!

    Maksudnya, DUNIA TERDIRI DARI PROSES PROSES DINAMIS YANG AKAN MEMBAWA KITA KEPADA PERUBAHAN DEMI PERBAIKAN.

    Syalom - Wassalam,
    Tito

  4. #504
    Advisor Cicilia, FL, + ND, USA's Avatar
    Join Date
    Feb 2008
    Posts
    11,816
    Rep Power
    17

    Smile Re: PERANG IRAK: Sebuah Tantangan Bagi Otak Mini

    Quote Originally Posted by Uzmad View Post
    Dear Tito,
    saya muncul lagi, tapi begitu masuk, biduk kita ternyata sudah berubah situasinya.

    Mungkin karena saya tertidur pulas di kamar sehingga tidak menyadari bahwa biduk ini telah kedatangan tamu-tamu yang memporakperandakan segala sesuatu. Mungkin kita sedang berada di daerah yang rawan perompak.

    Ikut berduka cita atas kemorat-maritan ini.
    Dear bung Uzmad,
    With all my respect...Please come back and give your amazing opinion, I will a company you with red wine from Rioja region with my manchego cheese or little tapas a long...Salute for you...
    Regards,
    Cicilia...

  5. #505
    tito
    Guest

    Re: PERANG IRAK: Sebuah Tantangan Bagi Otak Mini

    Quote Originally Posted by Cicilia, FL, + ND, USA View Post
    Dear bung Uzmad,
    With all my respect...Please come back and give your amazing opinion, I will a company you with red wine from Rioja region with my manchego cheese or little tapas a long...Salute for you...
    Regards,
    Cicilia...
    Darling,

    You made me jealous to Uzmad; I mean, you never offer me that wine, cheese and tapas all along...

    Mmmm...a friend said: "There is always a square in love and war...."

  6. #506
    tito
    Guest

    Re: PERANG IRAK: Sebuah Tantangan Bagi Otak Mini

    Quote Originally Posted by uci View Post
    sepertinya thread ini sudah berada pada tahap keseimbangan , keep on going guys, there are lots of oyhers who are blessed
    Wow, ngikutin perkembangannya juga kamu kawanku nan cantik...
    Yah, I like the way you said: KESIMBANGAN.
    That's correct my dear friend; whole the synthesis will reach the so-called EQUILIBRIUM.

    But one must remember, the equilibrium is only happens temporally before then will be toppled down by another oncoming reality.

    See you mate,
    Tito

  7. #507
    Member Uzmad's Avatar
    Join Date
    Jun 2008
    Posts
    738
    Rep Power
    4

    Re: PERANG IRAK: Sebuah Tantangan Bagi Otak Mini

    Quote Originally Posted by tito View Post
    Sebuah ungkapan filosofis yang mungkin saja dialamatkan kepadaku; sekiranya demikian adanya, aku mohon maaf Sobat.

    ....
    Dear Tito,
    ungkapan saya sebelumnya itu bukan saya arahkan pada kamu; tapi pada orang lain yang masuk terlibat dalam diskusi ttg thread ini tapi dengan mistiknya, sehingga mengubah banyak arah dan warna diskusi thread ini.

    saya melihat hal itu sebagai "kekacauan". Oleh karenanya, saya di atas mengucapkan duka cita atas situasi ini.

    Tapi sekarang dengan masuknya Intel, situasi menjadi pulih kembali.

  8. #508
    tito
    Guest

    Re: PERANG IRAK: Sebuah Tantangan Bagi Otak Mini

    Quote Originally Posted by intel View Post
    Lalu kondisi-kondisi apa yang berujung pada perang?, kata saudara kita bimbim.
    Ini dia. Ketika tanganku sudah lelah bolak-balik ke kiri ke kanan mencari titik keseimbangan itu, dan saat bersamaan compassion meninggalkanku, maka aku banting saja timbangannya (Perang).

    Yang ingin aku katakan disini adalah bahwa posisi Perang, dalam konteks Tesis vs AntiTesis, adalah sebuah keadaan ketika Sintesisnya tidak kunjung tiba. Frustrasi. Upaya-upaya diplomasi mencari solusi dari sebuah konflik adalah tesis dan antitesis itu sendiri, bukan perang. Upaya mencari solusi terbaik dengan jalan diplomasi menurutku adalah cara-cara lebih “beradab”. Pengertian “beradab” disini adalah beradab pada peradaban, pada waktu ketika aku mencari ekuilibrium itu, karena aku tidak ingin disebut manusia jaman purbakala, ataupun “kanibal”. Saudara-2ku terkasih, ini hanya pendapatku saja. Dan aku pun tidak punya kuasa untuk mengatakan ide dan pemikiranmu itu salah, apalagi membantahmu. Aku hanya ingin naik di perahumu, kalau masih ada tempat.

    )
    Mohon maaf kawanku berkacamata yang rupawan, seandainya kutahu caranya bagaimana perang harus diakhiri sudahlah tak kan kebiarkan kau berlama-lama dengan pertanyaan itu. Sedihnya pula, justru aku ingin menegaskan bahwa takdir itu akan senantiasa bersama kita sepanjang masa.

    Mungkin saja kawan, kalaulah diizinkan aku melompat keluar sebentar saja dari sungai Filsafat ini dan naik kedaratan Theologi, maka kutemui sedikit konfirmasi dari ujung Filsafat ini disana, SEBUAH PERANG TERAKHIR YANG TAMPAKNYA MEMANG TELAH DISIAPKAN OLEH SANG TAKDIR BUAT KITA KELAK, yaitu:

    ARMAGEDON.

    Syalom - Wassalam,
    Tito

  9. #509
    tito
    Guest

    Re: PERANG IRAK: Sebuah Tantangan Bagi Otak Mini

    Quote Originally Posted by artemis View Post
    bung Intel...(ditambahin ijen lagi ngga yaaa? ) dan everyone else here... (tarik nafas panjang dulu.... haaaaahhh....)
    kita membutuhkan darah segar untuk memberikan diskusi ini kembali hidup. setelah sehari intermezzo yang nyaris membelokkan arah diskusi ini menjadi debat kusir teori konspirasi besar dunia serta menanggalkan asas-asas logika dan asas praduga tak bersalah (halah ini apa?).

    kita memang membicarakan perang, Hegel, Nietsche, Kant... coba bicara Nobel kali? penemu dinamit (walopun dinamit itu sudah dipakai pada perang-perang di China jauh sebelum Nobel lahir) yang merasa bersalah atas penemuannya dan mendirikan sebuah yayasan perdamaian, yah bicara saja, karena ini bisa menjadi compassion yang anda cari-cari.

    ada suatu cerita mengenai batu-batuan ini... cerita cinderella dan pangerannya.

    "sang pangeran bingung gimana caranya ngelamar sang cinderella yang terbiasa bebas, hidup seenak udelnya, tanpa protokoler, tanpa aturan, kalo duduk suka sembarangan, kalo pergi suka tidak mengindahkan keamanannya sendiri... pokoknya seorang gadis yang bebas yang manis dan hidup merdeka sesuai dengan aturannya sendiri.

    sementara sang pangeran terikat oleh kewajiban-kewajibannya pada negara, pada rakyatnya, harus menjalankan tugasnya sebagai kepala negara, harus memikirkan keamanannya sendiri demi masa depan negaranya (protokoler dan pengamanan adalah sebagian kecil dari kehidupan seorang pangeran) dan warisan adalah kewajiban.

    akhirnya mereka menggunakan batu-batu tadi untuk menimbang-nimbang. satu batu ke timbangan kewajiban, timbangan protokoler, dan sebagai-nya dan sebagainya. hampir seperti si pangeran ini hendak put the cinderella off from the hook. timbangan kewajiban, dan sebagainya itu berat sekali dibandingkan dengan cincin kawin yang hendak dipakaikan oleh pangeran itu. tetapi begitu sang cinderella menanyakan apakah tidak ada cinta dalam batu-batu tersebut... maka timbangan kewajiban dan sebagainya dikalahkan oleh sisa batu-batu yang ada.

    apakah itu bisa menerangkan sedikit apa yang mau Intel bicarakan? soal batu dan compassion tadi? memang sih ceritanya terlalu bertele-tele dan terlalu fairy tale banget. tapi sebenarnya itu cinderella moderen. harta dan kedudukan tidak dapat mengalahkan kebebasan dalam hidup looh...

    Perang itu selalu memiliki tujuan. dan kita saat ini telah menikmaati hasil perang-perang yang telah dilalui...
    Well spoken Artie honey; Thanks...

  10. #510
    Member Uzmad's Avatar
    Join Date
    Jun 2008
    Posts
    738
    Rep Power
    4

    Re: PERANG IRAK: Sebuah Tantangan Bagi Otak Mini

    Quote Originally Posted by tito View Post
    Aku baru saja kembali dari Bank (lagi, kedua kali sehari ini).
    Sungguh sebuah dunia yang didalam beberapa hal sejalan dengan filosofiku; sebuah dunia dengan SEBUAH SISTEM. Aku sekedar ingin tahu Sobat, mengapakah sebuah IDEALISME itu tampak sedemikian buruknya bagimu? Bukankah dengan hidup didalam sebuah sistem dapat dijamin sebuah keteraturan?

    ...

    Yang menolak melakukan kontradiksi dan negasi segera saja disergap oleh Malaikat Kegelapan....
    hmmm, ttg idealisme.
    Tito, saya bukan memandang buruk idealisme, saya malahan melihatnya sebagai sesuatu yang bagus n beautiful, tapi mungkin bagi saya "too beautiful" to be true.

    Yang tidak pernah saya lupakan dari jasa dan warisan idealisme hegel ialah keiinginannya untuk mengerti sejarah dengan segala dinamikanya dalam kerangka sebuah ide. Ide inilah yang sebenarnya disclose itself through historical events, bukan sebaliknya. Jadi, prapengandaiannya ialah diterima satu ide tunggal (roh, geist) dan ide tunggal ini mengungkapkan diri dalam sejarah. (logikanya terbalik: ada kesimpulan (implisit) baru diterangkan sejumlah events dalam kerangka pikir yang (secara implisit) telah disimpulkan. Atau dalam keterangan dahulu saya sebutkan: post-factum.

    Mungkin yang luput dan ini persis yang selalu luput dalam gaya idealisme ialah hal-hal kecil. Orang kecil atau peristiwa kecil yang bukan hanya secara insidental ada dalam seluruh proses sejarah, tapi yang selalu ada dan konsisten hadir dalam proses sejarah. Yang saya bicarakan ialah yang selalu ada tapi kecil karakternya. Kecondongan idealisme ialah memandang pemimpin (kaisar, jendral, president) dan merekalah subjek sejarah itu. Lalu di manakah letak peran para prajurit dan orang-kecil yang mensuport peperangan?

    Atau kalau diterapkan dlam kasus perang irak: perang irak itu adalah event besar, namun yang terlupakan dalam cara pandang ini ialah hidup sehari-hari orang di jalanan di Badgad atau di kota lain2 yang sebenarnya dalam arti tertentu "apolitis".

    Saya suka order atau system yang menjamin predictablity sejarah dan kehidupan. Tapi saya sadar pula bahwa hidup dan sejarah tidak pernah berhasil di-sistemkan dan di-tatakan secara totaliter. Dan inilah bahaya yang selalu mengancam idealisme: tergelincir ke totalitarianisme (hegelian kanan). Oleh karenanya, saya suka membaca idealisme tapi selalu saya barengi dengan kontra idealisme.

    Mungkin ini soal pilihan, dan pilihan amat dipengaruhi pula oleh keterlibatan. Pengetahuan kita dipengaruhi oleh pilihan dan keterlibatan kita.

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •  

Content Relevant URLs by vBSEO 3.6.0