Panggil saja saya pelayan utama rakyat
Naglaa Ali Mahmoud, istri Presiden Mesir yang baru terpilih, langsung memukau dunia dengan kerendahan hatinya. Perempuan yang tidak pernah duduk di bangku kuliah itu memilih untuk tidak tinggal di istana kepresidenan dan menolak dipanggil "first lady".
"Saya ingin dipanggil istri presiden saja. Lagi pula siapa yang mengatakan bahwa istri presiden harus dipanggil 'first lady'," kata perempuan itu ketika diwawancarai AP.
Ketimbang dipanggil first lady ia memilih dipanggil Umm Ahmed - yang berarti ibu dari Ahmed, nama putra sulungnya. Bahkan lebih dari itu, ia meminta dipanggil "pelayan utama" dari seluruh rakyat Mesir.
Umm Ahmed memang menjadi ikon baru bagi masyarakat Mesir. Para pendukungnya memuji dia karena penampilannya yang sederhana dan latar belakang religius yang kental membuatnya cocok dengan semangat revolusi Mesir. Sebaliknya para penentangnya melihat dia sebagai pertanda bahwa Mesir akan menjadi negara Islam konservatif.
Berbeda dari dua istri presiden sebelumnya - Suzanne Mubarak dan Jehan Sadat - Umm Ahmed bukanlah perempuan terpelajar, selalu tampil polos tanpa dandanan, dan selalu mengenakan kerudung, gaya khas dari mayoritas perempuan Mesir.
Kerudung hitam juga menjadi ciri khas perempuan berusia 50 tahun itu, sebagaimana yang juga menjadi ciri dari perempuan-perempuan pengikut Ikhwanul Muslimin.
Meski demikian, penampilannya yang bersahaja juga menjadi tantangan, baik pendukung maupun pengeritiknya akan terus memperhatikan langkahnya. Caranya menjamu tamu asing, menghadiri konfrensi atau ajang internasional lain tanpa suaminya akan terus dipantau, untuk melihat apakah ia akan terus mengikuti tradisi konservatif atau tidak.
Suaminya sendiri, Mohammed Morsi, pekan ini telah melanggar tradisi dengan menjabat tangan perempuan yang bukan muhrimnya setelah dia dinyatakan menang dalam pemilihan umum.
Perjalanan cinta Umm Ahmed dan Morsi sendiri tidak begitu istimewa, khas perempuan-perempuan di Timur Tengah. Ia menikah Morsi pada usia 17 tahun. Keduanya masih bersaudara sepupu.
Dalam sebuah wawancara dengan Nos al-Donia, sebuah majalah lokal ia bercerita bahwa cincin pernikahan dan mas kawinnya sangat sederhana.
"Situasi finansial saat itu tidak termasuk hitungan saya ... Apa yang membuat saya tertarik padanya adalah keyakinan bahwa ia adalah lelaki yang bertanggung jawab yang akan melindungi saya," ia mengenang Morsi, "Sudah cukup bahwa ketika orang tua saya meninggal, mereka sangat senang dengannya."
Kurang dari dua tahun setelah menikah, ia bersama pergi ke Los Angeles, Amerika Serikat, menemani suaminya yang sedang mengambil doktor bidang enginering di University of Southern California.
Dua dari lima anak mereka, lahir di AS dan menjadikan mereka warga negara Paman Sam itu. Ia mengatakan dua buah hatinya itu masih menetap di AS sejak mereka kecil.
Ketika di California ia bekerja sebagai penerjemah bahasa Ingris ke Arab untuk dan mulai terlibat dalam sejumlah proyek kemanusiaan. Saat itulah mereka bergabung dengan Ikhwanul Muslimin.
Sumber : Istri Presiden Mesir: Jangan Panggil Saya "First Lady" | Berita-utama | Beritasatu.com


LinkBack URL
About LinkBacks





Reply With Quote









Bookmarks