Like Tree279Likes

Thread: Problematika Globalisasi: Dunia di Dalam Ancaman Puritanisme

  1. #4801
    Contributor
    Join Date
    Sep 2008
    Posts
    2,603
    Rep Power
    9

    Re: Problematika Globalisasi: Dunia didalam ancaman Puritanisme

    Quote Originally Posted by agatha View Post
    Om3
    Duuuh.... saya sangat terpukau dengan kalimat2 di atas.
    Terutama "salesmanship" para pemuja agama.

    curhat dikit...
    Minggu lalu ada reuni kecil2an.. dan kami ramai saling bercerita hal-hal remeh.
    Dadakan ada satu teman menerima telp dari temannya... dan terlibat dalam percakapan serius.. sehingga kami semua (cieeeeh... pada nguping) tertegun dan ikutan menyimak kata-kata sepihak tsb.

    Ternyata... Teman kami di "sapa" dan ditanyakan apakah masih memiliki "stock" minyak urapan.
    Jika telah "habis"... temannya akan hubungi "sumber" dan mengirimkan ready-stock ke teman tsb.

    mmm....
    Jujur... hatiku kontan (cash... tunai... ngak pakai credit.. ) langsung berdegup kencang.
    Haree genee.. masih ada pemuka umat yang menJUAL minyak urapan?
    Apakah benar.... ada yang berhak mengurapi minyak dan menjualnya ke umat?
    HAK Pengurapan... secara moral dan etika... apakah layak di tukar dengan uang (kata lain dari TRADE, dagang )
    Dan.... mentalitas pembeli dan penjual... semakin kusut untuk di urai. Mana yang asli religius .. mana yang asli kecanduan.... cuci otak.

    Well...
    mending otak-otak tenggiri dibanding otak-otak cucian air urapan...
    ngak jelazzz...
    Agatha, saya sangat prihatin bila melihat dan mendengar hal-hal seperti yang anda ketengahkan, bagaimana agama sudah menjadi bagian dari sebuah trade atau komersialisasi. Dalam kasus demikian spiritualitas dari agama tsb jelas sudah terkorup dengan semangat entrepreunership yang berorientasi laba. Dalam kondisi demikian sebenarnya orang tsb sangat menderita karena dia tidak akan bisa membohongi dirinya sendiri yang jelas akan sangat paham bahwa apa yang dilakukannya itu tidak pada tempatnya. Hanya saja didalam hatinya secara sadar akan terus menerus menekan perasaannya dg menganggap 'dosa' tsb bisa diabaikan dan 'tergolong' kecil' karena tidak melukai orang lain dan tidak mengganggu 'lingkungan'. Tentu pertentangan batinnya itu lama kelamaan akan terkubur dan pada saat itu sebenarnya spiritualitas orang itu akan mati. Doa-doanya tidak akan bisa menembus, bahkan sekedar menembus langit2 rumahnya, karena hatinya yang dibungkam terus menggemakan 'kutukan-kutukan' menyalahkan perbuatannya. Dari kondisi ini seorang manusia kemudian akan berubah menjadi zombie, sampai dia dipertobatkan dan sanggup berdamai dengan dirinya sendiri.

    Maka itu Agatha bila beragama itu untuk mencari KEBAHAGIAAN maka saya katakan sebaiknya di BUANG saja KELAUT. Pada kenyataannya toh yang lebih dicari adalah KENYAMANAN. Korupsi untuk apa? Berkolusi untuk apa? Melakukan pat gulipat untuk apa? Untuk kenyamanan duduk didalam mobil yang kedap suara dengan accoustic audio yang renyah, dan shock absorber yang tidak menggetarkan gelas yang kita pegang. Untuk kenyamanan menikmati jernihnya suguhan audio-visual bagi telinga dan mata dari system yang terbaru dengan technology menakjubkan. Untuk kenyamanan mendapatkan attribute sebagai orang 'tidak biasa' dengan identitas accessories yang menempel pada tubuh. Untuk mendapatkan pandangan takjub ketika tampil parlente dan 'luar biasa'. Spiritualitas demikianlah yang lagi menjadi tren. Anda tidaklah diberkati jika belum menenteng tas LV dan mengendarai minimal Bentley.
    agatha and artemis like this.
    +++ all that is necessary for the triumph of evil is that good men do nothing +++

  2. #4802
    Contributor agatha's Avatar
    Join Date
    Jan 2008
    Posts
    3,669
    Rep Power
    11

    Re: Problematika Globalisasi: Dunia didalam ancaman Puritanisme

    Quote Originally Posted by 3serangkai View Post
    Agatha, saya sangat prihatin bila melihat dan mendengar hal-hal seperti yang anda ketengahkan, bagaimana agama sudah menjadi bagian dari sebuah trade atau komersialisasi. Dalam kasus demikian spiritualitas dari agama tsb jelas sudah terkorup dengan semangat entrepreunership yang berorientasi laba. Dalam kondisi demikian sebenarnya orang tsb sangat menderita karena dia tidak akan bisa membohongi dirinya sendiri yang jelas akan sangat paham bahwa apa yang dilakukannya itu tidak pada tempatnya. Hanya saja didalam hatinya secara sadar akan terus menerus menekan perasaannya dg menganggap 'dosa' tsb bisa diabaikan dan 'tergolong' kecil' karena tidak melukai orang lain dan tidak mengganggu 'lingkungan'. Tentu pertentangan batinnya itu lama kelamaan akan terkubur dan pada saat itu sebenarnya spiritualitas orang itu akan mati. Doa-doanya tidak akan bisa menembus, bahkan sekedar menembus langit2 rumahnya, karena hatinya yang dibungkam terus menggemakan 'kutukan-kutukan' menyalahkan perbuatannya. Dari kondisi ini seorang manusia kemudian akan berubah menjadi zombie, sampai dia dipertobatkan dan sanggup berdamai dengan dirinya sendiri.

    Maka itu Agatha bila beragama itu untuk mencari KEBAHAGIAAN maka saya katakan sebaiknya di BUANG saja KELAUT. Pada kenyataannya toh yang lebih dicari adalah KENYAMANAN. Korupsi untuk apa? Berkolusi untuk apa? Melakukan pat gulipat untuk apa? Untuk kenyamanan duduk didalam mobil yang kedap suara dengan accoustic audio yang renyah, dan shock absorber yang tidak menggetarkan gelas yang kita pegang. Untuk kenyamanan menikmati jernihnya suguhan audio-visual bagi telinga dan mata dari system yang terbaru dengan technology menakjubkan. Untuk kenyamanan mendapatkan attribute sebagai orang 'tidak biasa' dengan identitas accessories yang menempel pada tubuh. Untuk mendapatkan pandangan takjub ketika tampil parlente dan 'luar biasa'. Spiritualitas demikianlah yang lagi menjadi tren. Anda tidaklah diberkati jika belum menenteng tas LV dan mengendarai minimal Bentley.

    Setuju Om3

    Bagiku... Doa yang benar... bagai tetesan air di tengah gersangnya spriritual... hati manusia.
    Bagaikan pelindung dan sanggup menberi keteduhan hati di tengah terik mentari.
    Setuju bahwa Doa yang benar hanya tercipta di saat Manusia sanggup berdamai dengan dirinya sendiri. Dan perlakukan Sesamanya MANUSIA seperti Manusia memperlakukan Dirinya sendiri.

    mmm....



    Beragama hendaknya bukan demi mencari kebahagiaan.
    mungkin... mungkin ...
    beragama justru untuk mengolah hati dan nurani... mengkritisi diri dan meneropong ke dalam hati... telah berjalan sejauh apa.. dan sudah tiba di mana.
    Last edited by agatha; 06-02-12 at 06:45 PM.

  3. #4803
    Contributor agatha's Avatar
    Join Date
    Jan 2008
    Posts
    3,669
    Rep Power
    11

    Re: Problematika Globalisasi: Dunia didalam ancaman Puritanisme

    Quote Originally Posted by 3serangkai View Post
    Agatha, saya sangat prihatin bila melihat dan mendengar hal-hal seperti yang anda ketengahkan, bagaimana agama sudah menjadi bagian dari sebuah trade atau komersialisasi. Dalam kasus demikian spiritualitas dari agama tsb jelas sudah terkorup dengan semangat entrepreunership yang berorientasi laba. Dalam kondisi demikian sebenarnya orang tsb sangat menderita karena dia tidak akan bisa membohongi dirinya sendiri yang jelas akan sangat paham bahwa apa yang dilakukannya itu tidak pada tempatnya. Hanya saja didalam hatinya secara sadar akan terus menerus menekan perasaannya dg menganggap 'dosa' tsb bisa diabaikan dan 'tergolong' kecil' karena tidak melukai orang lain dan tidak mengganggu 'lingkungan'. Tentu pertentangan batinnya itu lama kelamaan akan terkubur dan pada saat itu sebenarnya spiritualitas orang itu akan mati. Doa-doanya tidak akan bisa menembus, bahkan sekedar menembus langit2 rumahnya, karena hatinya yang dibungkam terus menggemakan 'kutukan-kutukan' menyalahkan perbuatannya. Dari kondisi ini seorang manusia kemudian akan berubah menjadi zombie, sampai dia dipertobatkan dan sanggup berdamai dengan dirinya sendiri.

    Maka itu Agatha bila beragama itu untuk mencari KEBAHAGIAAN maka saya katakan sebaiknya di BUANG saja KELAUT. Pada kenyataannya toh yang lebih dicari adalah KENYAMANAN. Korupsi untuk apa? Berkolusi untuk apa? Melakukan pat gulipat untuk apa? Untuk kenyamanan duduk didalam mobil yang kedap suara dengan accoustic audio yang renyah, dan shock absorber yang tidak menggetarkan gelas yang kita pegang. Untuk kenyamanan menikmati jernihnya suguhan audio-visual bagi telinga dan mata dari system yang terbaru dengan technology menakjubkan. Untuk kenyamanan mendapatkan attribute sebagai orang 'tidak biasa' dengan identitas accessories yang menempel pada tubuh. Untuk mendapatkan pandangan takjub ketika tampil parlente dan 'luar biasa'. Spiritualitas demikianlah yang lagi menjadi tren. Anda tidaklah diberkati jika belum menenteng tas LV dan mengendarai minimal Bentley.
    well...
    saya hanya bisa berdoa.... semoga yang tersesat.. segera kembali ke fitrah
    kalo tersesat.... jangan ajak-ajak yang lain untuk ikutan tersesat.

    jadi ingat tulisan di pantat mobil
    Don't follow meh... i 'm lost too

  4. #4804
    Contributor artemis's Avatar
    Join Date
    Oct 2008
    Posts
    3,864
    Rep Power
    9

    Re: Problematika Globalisasi: Dunia didalam ancaman Puritanisme

    Quote Originally Posted by agatha View Post
    well...
    saya hanya bisa berdoa.... semoga yang tersesat.. segera kembali ke fitrah
    kalo tersesat.... jangan ajak-ajak yang lain untuk ikutan tersesat.

    jadi ingat tulisan di pantat mobil
    Don't follow meh... i 'm lost too
    Don't follow meh...I'm lost too...
    diriku teringat cerita di majalah lama...

    petikannya kira-kira: saat itu malam gelap, tidak ada penerangan lampu jalan (mungkin lokasinya dekat hutan lindung), si supir yang bercerita ini juga tidak pasti berada di daerah mana karena tidak ada tanda-tanda lalu lintas.... terus menyetir ke depan sampai di hadapannya ada sebuah truk (keliatan dari tailing lights-nya) karena juga tidak tahu arah, dia mengikuti truk itu.... truknya belok, dia ikut pasang lampu sen belok... dan tahu-tahu truk itu berhenti...

    si pengemudi juga ikut berhenti dan lebih bingung lagi... dirinya tiba di sebuah rumah... dan supir truknya jauh lebih bingung karena ada yang mengikutinya pulang ke rumahnya...

    "Ini di mana?" tanya supir kesasar...
    "lah ini rumah saya pak..." jawab supir truk...

    hehe
    This is not a black and white world; you can't afford to believe in your side

  5. #4805
    Newbie
    Join Date
    Jan 2012
    Posts
    43
    Rep Power
    0

    Re: Problematika Globalisasi: Dunia didalam ancaman Puritanisme

    Quote Originally Posted by agatha View Post
    well...
    saya hanya bisa berdoa.... semoga yang tersesat.. segera kembali ke fitrah
    kalo tersesat.... jangan ajak-ajak yang lain untuk ikutan tersesat.

    jadi ingat tulisan di pantat mobil
    Don't follow meh... i 'm lost too
    Quote Originally Posted by artemis View Post
    Don't follow meh...I'm lost too...
    diriku teringat cerita di majalah lama...

    petikannya kira-kira: saat itu malam gelap, tidak ada penerangan lampu jalan (mungkin lokasinya dekat hutan lindung), si supir yang bercerita ini juga tidak pasti berada di daerah mana karena tidak ada tanda-tanda lalu lintas.... terus menyetir ke depan sampai di hadapannya ada sebuah truk (keliatan dari tailing lights-nya) karena juga tidak tahu arah, dia mengikuti truk itu.... truknya belok, dia ikut pasang lampu sen belok... dan tahu-tahu truk itu berhenti...

    si pengemudi juga ikut berhenti dan lebih bingung lagi... dirinya tiba di sebuah rumah... dan supir truknya jauh lebih bingung karena ada yang mengikutinya pulang ke rumahnya...

    "Ini di mana?" tanya supir kesasar...
    "lah ini rumah saya pak..." jawab supir truk...

    hehe
    hehe. ceritanya lucu, kira kira ada artinya tersirat tidak?

  6. #4806
    Contributor earsun's Avatar
    Join Date
    Apr 2008
    Location
    where many malls and cullinaries gathered
    Posts
    4,880
    Rep Power
    13

    Re: Problematika Globalisasi: Dunia didalam ancaman Puritanisme

    Selamat weekend teman-teman....

    jangan sampai sakit flu yah......
    Ore Wa Hitori Janai

  7. #4807
    Contributor agatha's Avatar
    Join Date
    Jan 2008
    Posts
    3,669
    Rep Power
    11

    Re: Problematika Globalisasi: Dunia didalam ancaman Puritanisme

    Quote Originally Posted by sin liong View Post
    hehe. ceritanya lucu, kira kira ada artinya tersirat tidak?
    Quote Originally Posted by earsun View Post
    Selamat weekend teman-teman....

    jangan sampai sakit flu yah......

    Once upon a time…..
    Alkisah… di suatu Negara antah berantah…

    Rakyatnya hidup dengan dinamika berulang biasa.
    Sejak pagi Subuh bekerja hingga malam menjelang… sudah biasa.
    Petani bekerja dan memanen farm mereka dengan biasa.

    Sementara….
    Pasar dan dinamika pasaran dalam negeri… jenuh seperti biasa… karena semua bekerja biasa….
    Dan panen biasa saja… Kehidupan yang biasa-biasa saja.

    Suatu ketika… sang wali Negara .. Tidak ingin yang biasa-biasa saja.
    Harus ada pergerakan luar biasa… Untuk hasilkan yang luar biasa.
    Demi Negara dan perdinamikaan bangsa yang luar biasa juga.

    Maka dipikirkanlah suatu hari… luar biasa …di luar hari biasa-biasa.
    Petani harus peroleh panen luar biasa…..
    Pedagang harus kerja keras untuk perputaran luar biasa agar sanggup mendukung penghasilan buruhnya…. Dan menghasilkan pendapatan luar biasa demi negaranya…. Agar peputaran pundi-pundi emas berputar luar biasa.

    Agar tiada hari para buruh mengeluh pendapatan mereka biasa biasa saja.
    Agar tiada hari di mana keluarga buruh mengeluh mereka biasa hidup dalam rutinitas biasa tanpa hal luar biasa.

    Maka….
    Terciptalah suatu yang luar biasa.
    Hari Katakan cinta dengan bunga…
    Hari katakan cinta dengan diamond Africa…
    Hari katakan cinta dengan cocholate negeri swiss….

    Maka….
    Bergembiralah kaum wanita yang menerima bunga dari kekasihnya…..
    Berbahagilah kaum wanita yang menerima cincin berlian dari suaminya…
    Berbagaialah kaum suami yang menerima cocholate dari istri dan anak anaknya…
    Berbahagialah muda mudi yang terima bunga dan puisi cinta dari para idamannya..

    Intinya….. sesuatu yang berguna untuk perputaran siklus pendapatan (buruh, pengusaha, konsumen) …ujungnya demi perputaran dan peredaran pundi pundi semua.
    Secara hal tsb bukan ala perampok robin-hood..yng rampok lalu bagi-bagi via LSM (update news di TV :P )
    Secara hal tsb bukan ala rampokan halus dan ngemis halus…
    Secara tidak ada kaitannya dengan convert mengconvert iman ataupun budaya.
    Salahkah …. Menghidupkan dan menggerakan perekonomian… dengan cara memberi kesenangan juga?

    Bandingkan dgn dinamika biasa-biasa…
    Dan buruh mengharap cemas kapan di phk….. krn roda biz biasa-biasa dan tanpa dinamika.
    Sementara yang berteriak… tidak sesuai budaya… tidak memberikan kontribusi solusi bagi sebagian mereka..

    Disclaimer:
    Ekses negative di hari valentine (kondom, sex, etc) tidak fair digunakan untuk menembak tikus dengan hulu-ledak-nuklir.
    Dan ngak fair hantam kromo dengan mengharamkan dan mengajak-ajak untuk mengkafirkan dengan cemooh dengan label: budaya asing
    Apa sih yang saat ini bukan budaya asing dan budaya asli?
    Asli dari mana?

    Hehe..
    mmm… lebay ngak siih versi gombal ini?

    DON’T FOLLOW MEH… am LOST too …..
    earsun and Swan like this.

  8. #4808
    Contributor
    Join Date
    Sep 2008
    Posts
    2,603
    Rep Power
    9

    Re: Problematika Globalisasi: Dunia didalam ancaman Puritanisme

    Quote Originally Posted by artemis View Post
    Tigaserangkai my dear...
    analoginya kesetrum listrik tegangan tinggi dan kemudian menyatakan kalau kesetrum itu bagaikan orgasme ternikmat yang pernah didapatinya (secara riset... pain dan kehabisan oksigen mengacu pada kenikmatan tersebut) serta kemudian mengajak orang bersama-sama nyari soket listrik buat menyetrum diri sendiri untuk mengulangi sensainya....atau malah mirip seperti dalam serial film kriminal dimana sang penjahat menganjurkan menjerat leher sendiri untuk bisa kehabisan oksigen dan mencapai sensasi orgasme liar...
    Artemis, ho...ho...ho... naughty...naughty... Geliatan, kejangnya dan pekikannya lain sekali antara kesetrum dan O.
    +++ all that is necessary for the triumph of evil is that good men do nothing +++

  9. #4809
    Senior Member Durga Umayi's Avatar
    Join Date
    May 2008
    Posts
    1,482
    Rep Power
    7

    Re: Problematika Globalisasi: Dunia didalam ancaman Puritanisme

    Quote Originally Posted by agatha View Post
    Disclaimer:
    Ekses negative di hari valentine (kondom, sex, etc) tidak fair digunakan untuk menembak tikus dengan hulu-ledak-nuklir.
    Dan ngak fair hantam kromo dengan mengharamkan dan mengajak-ajak untuk mengkafirkan dengan cemooh dengan label: budaya asing
    Apa sih yang saat ini bukan budaya asing dan budaya asli?
    Asli dari mana?

    Hehe..
    mmm… lebay ngak siih versi gombal ini?

    DON’T FOLLOW MEH… am LOST too …..
    Di beberapa account FB, saya perhatikan beberapa pemiliknya menyerukan agar besok tgl 14 Feb dinyatakan dan dirayakan sebagai "Hari Menutup Aurat Sedunia"
    Hubungannya apa ya.... Aurat ama Valentine?? kwkwkwwkw..
    The religious moderate is nothing more than a failed fundamentalist. (Harris, Sam)

  10. #4810
    Junior Member Alphe's Avatar
    Join Date
    Nov 2011
    Location
    Jakarta
    Posts
    440
    Rep Power
    1

    Re: Problematika Globalisasi: Dunia didalam ancaman Puritanisme

    Salam kenal.

    Dengan begitu banyaknya jumlah postingan, gaya bahasa yg jarang saya pakai, dan istilah-istilah yg baru saya temui membuat saya pontang-panting dalam mengikuti thread ini. Yg saya temukan adalah puritanisme itu sendiri adalah reaksi atas keadaan saat ini. Biasanya puritanisme muncul di kalangan tertinggal. Mereka melihat ketertinggalan dalam diri mereka kemudian mencari penyebab dari fenomena itu. Dalam pencarian itu, mereka melihat bahwa di masa lalu hal tersebut tidak terjadi. Dalam Islam misalnya, pada masa awal, yg terjadi adalah kemajuan. Kemudian terlihat kemajuan itu mundur sampai mencapai antiklimaks di masa saat ini.

    Tentu hal ini menjadi tanda tanya bagi mereka. Jawaban yg mereka peroleh adalah bahwa Islam itu dipandang telah berubah. Praktik ajarannya telah bergeser seiring dengan waktu. Karena itu, mereka berkesimpulan bahwa dng kembali ke ajaran yg asal maka ketertinggalan itu dapat teratasi. Tentu hal ini hanya satu aspek saja karena aspek lain yg penting seperti kolonialisme juga berperan dalam membentuk pemikiran seperti itu.

    Kemudian ttg agama itu sendiri. Saya cenderung memandang kepercayaan sebagai tujuan hidup. Terus terang saya ngeri kalau nanti mati semua akan selesai. Saya juga merasa tersiksa kalau ternyata dengan berbuat baik itu akan sia-sia. Saya tidak bisa membayangkan kalau yg menderita itu penderitaannya akan sia-sia. Lebih nyaman bagi pikiran saya jika percaya kalau penderitaan mereka akan dibalas dengan kebaikan setelah mati dan pihak yg menyebabkan penderitaan akan mendapat balasan yg setimpal.

    Adapun agama sebagai objek yg diam adalah absurd. Agama itu dinamis, menyesuaikan dengan zaman. Ttg keberagaman dalam beragama adalah bentuk penyesuaian tersebut. Namun, tentu ada bagian yg prinsip yg tidak boleh berubah serta ada bagian yg bersifat dinamis. Oleh karena itu, para ulama kemudian menciptakan suatu instrumen untuk mengakomodasi kedinamisan kehidupan manusia. Instrumen itu dalam Islam yaitu dengan metode pemecahan masalah lewat ijtihad. Karena ijtihad adalah bentuk interpretasi yg dapat dilakukan banyak orang, maka wajar saja lahir keberagaman dalam agama Islam yg dijumpai saat ini.

    Well, barangkali kalau diistilahkan pecandu, mungkin saya salah satu diantaranya. Mohon maaf kalau reposting.

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •  

Content Relevant URLs by vBSEO 3.6.0