FREE WILL!
Anak si bapak petani-peternak kaya di kisah pages sebelumnya.... adalah manusia yang memiliki Free-WILL.
Dalam kisah... jelas tertulis dia kerja keras... dia yang membuat pertanian dan peternakan bapaknya tetap berrproduksi dan menjadi
sumber penghidupan bagi seISI rumah dan para Pekerja yang ikut mencari nafkah di sana.
JIKA si anak itu.....
TALENTED , Pekerja Keras dan sudah BUKTIkan diri sanggup menghidupi dirinya sendiri dan se-ISI rumah-Tangga Keluarga BAPA dan Para Pekerja. Jika dia
MEMILIH pergi juga.... meninggalkan Peternakan dan rumah sang BAPA.
Dia sanggup dan BISA. Kenapa tidak? Kenapa dia tidak pergi?
Kenapa pembaca kisah itu, tidak berpikir bahwa JUSTRU kisah si anak-yang tinggal itu JUSTRU TELADAN?
Walau dia marah karena hasil kerja kerasnya berupa domba dan babi terGEMUK (HASIL TERBAIK DARI KERJA KERAS) dikorbankan demi pesta pora sang BAPA demi Menyambut si
ANAK_MANJA-The-Rotten-Fruit ?
Tidakkah pembaca kisah.... mestinya ikut melihat sisi lain dari kisah itu... si ANAK tidak pergi, walau BISA adalah karena
HATINYA mengasihi dan SAYANG pada BAPA nya yang TUA dan Merana ditinggal si anak-manja? Dan.. siapa lagi yang sanggup mengelola pertanian dan peternakan itu jika bukan ANAK nya sendiri?
Si ANAK itu menunjukkan kualitas dirinya....
memiliki PILIHAN untuk Pergi, Tapi MEMILIH TINGGAL karena sayang dengan BAPA tua dan merana.. dan yang PENTING... si
ANAK tetap MANUSIAWI.. lengkap dengan naluri manusia
~terluka hatinya~ dan memiliki
emosi`khas-manusia: KECEWA & MARAH.
Dia... bukan SAINT... bukan SANTA.
Dia adalah MANUSIA.
Kisah itu ditulis jaman Belum Ada Profesional yang bisa ngurus perusahaan dan Peternakan bukan? 
Kenapa kisah kuno di "baca" dengan gaya deret-hitung? bukankah perlu di b.a.c.a dengan R.A.S.A ?
Bookmarks