Last edited by mambo; 31-05-12 at 04:18 PM.
Swan,
bukankah ada idiom lama mengenai guru ini? Guru kencing berdiri; murid kencing berlari? Kalau pengertian "ajar" untuk mengajar juga diselipi berbagai opini pribadi yang tidak appropriate kepada muridnya, pengertian apa lagi yang bisa diharapkan dari murid yang menerima "ajaran" serta self-opinionated terhadap satu masalah?
Btw, how's your life now? Sehat ya kuharap![]()
This is not a black and white world; you can't afford to believe in your side
Mambo, pada dasarnya manusia itu memiliki sifat yang selalu ingin tahu, selalu bertanya, mencari, dan menuntut jawabannya. Mengapa manusia seperti itu? Sebab manusia ini adalah terbatas, dan yang ada dalam benak / pikiran manusia adalah jutaan pertanyaan yang terkadang tidak sanggup di pahami. Agama memiliki KORELASI terhadap hal ini, ia hadir dengan harapan dapat MENJAWAB rasa penasaran manusia, bahkan berusaha menjawab KETAKUTAN manusia yakni KEMATIAN.
Namun sejalan dengan waktu, korelasi tersebut malah menjadi PERTANYAAN panjang. Hal ini wajar saja mengingat bahwa di dunia ini tidak ada yang mutlak benar. Tidak ada manusia didunia ini yang benar-benar tahu dan paham, apa itu KEBENARAN SEJATI. Jika ada KEBENARAN, masih wajibkah ada KESALAHAN? Ataukah KESALAHAN itu justru sebagai PELENGKAP KEBENARAN?
Komposisi dan cara berpikir yang dualisme selalu menyebabkan Sebab-Akibat. Jika ada BENAR, maka ada SALAH. Ada BAIK, maka harus ada JAHAT. Lantas, apakah dualisme ini juga ada dalam KONSEP TUHAN? Jawabannya ADA, dan selalu ADA. Jika konsep tentang ketuhanan ini HANYA dijelaskan secara sepihak (satu sisi) saja, misalkan MAHA BAIK, maka apakah Ia dapat berkuasa terhadap segala sesuatu yang JAHAT? Bukankah kata-kata "BAIK" memiliki tapal batas dengan kata-kata "JAHAT"?
Kebanyakan Theologia membahas konsep ini secara rancu dan bias. Konsep Tuhan selalu dipandang PINCANG dan TERBATAS pada hal-hal yang BAIK saja. Tuhan DIPAKSA berdiri dalam lingkaran Theologia, pengertian akan Hakekat Ketuhanan dipaksa dalam LANDSCAPE "KEBAIKAN" menurut UKURAN MANUSIA.
" INILAH NYANG DINAMAKAN JURUS PEDANG NAGA MENEMBUS LANGIT MEMBELAH AKHERAT "
pade kemane yee locianpwe2 nyang lain hadepin jurus nyang satu ini donk...
Mister swan sah2 aje manusie nyang dikasih akal budi dan pikiran menerawang kemane mane, tapi kan ente ude bicare kalo Tuhan ntu tdk terbatas dan manusie terbatas mangkenye menurut ane lucu ntu "pemuke2 agame " nyang terbatas mengutak atik Tuhan...
Ane lagi tunggu siape locianpwe nyang punya elmu ngadepin "pedang naga menembus langit membelah akherat" nye si mister T
---------maaaap sodare2 dobel post-------------
Last edited by mambo; 01-06-12 at 08:16 PM.
Bila SURGA dan NERAKA itu TIDAK ADA, maka, MANUSIA TIDAK AKAN MENYEMBAH TUHAN.
Ini LOGIKA SEDERHANA.
Dan, JAWABANKU adalah sebuah JAWABAN DARI CARA BERPIKIR AGAMA.
Harap kamu pahami, bahwa, umumnya KAUM BERAGAMA MENYEMBAH TUHAN dikarenakan oleh PREMIS SURGA DAN NERAKA ini. PREMIS adalah sebuah PERNYATAAN YANG MUTLAK BENAR TANPA PERLU DIBUKTIKAN KEBENARANNYA. PREMIS ADALAH DASAR ACUAN BAGI CARA BERPIKIR AGAMA. HANYA DENGAN ADANYA PREMIS INI MAKA MEKANISME BERPIKIR AGAMA DAPAT BERJALAN, BILA TIDAK, JIKA TIDAK ADA PREMIS, MAKA, OPERASI BERPIKIR AGAMA MENJADI MACET. HARUS ADA SURGA-NERAKA, BAIK-BURUK, BENAR-SALAH, PAHALA-DOSA, ATAS-BAWAH, HITAM-PUTIH, DIMANA, KETERPECAHAN YANG DIKOTOMIS INI MERUPAKAN SEBUAH KEHARUSAN AGAR MEKANISME BERPIKIR DARI AGAMA ITU DAPAT BERJALAN.
HARUS ADA LAWAN.
HARUS ADA MUSUH.
HARUS ADA RIVAL.
HARUS ADA PESAING.
HARUS ADA UMPAN.
HARUS ADA PENANTANG.
LAWAN, MUSUH, RIVAL, PESAING, UMPAN, PENANTANG INI MEMANG HARUS ADA DIDALAM KHASANAH AGAMA. DENGAN ADANYA OPOSISI ITU SAJALAH KEBENARANNYA DAPAT DIBUKTIKAN. TANPA LAWAN, DIA TIDAK ADA.
Salam,
Tito
-It is better to be Socrates dissatisfied than a fool satisfied-
Aku tidak yakin ada pembaca disini yang paham dengan maksud HUKUM SEBAB AKIBAT ini.
KOQ KALIAN DIAM MEMBISU KELU MINGKEM BUNGKEM SERIBU BAHASA?
KALIAN ADA PENDAPAT?
APAKAH DIAM KALIAN INI, DIAMNYA ORANG YANG 'NGERTI' ATAU BAGAIMANA?
PAHAM TIDAK DENGAN SEBAB AKIBAT?
-It is better to be Socrates dissatisfied than a fool satisfied-
-It is better to be Socrates dissatisfied than a fool satisfied-
Bung Tito,
Menurutku, dari cara berpikir agama, jika SORGA dan NERAKA tidak ada maka para penjahat dan para baj*ngan lainnya yang akan bersyukur namun tidak demikian sebaliknya bagi para ulama dan orang saleh lainnya. Mereka (para ulama dkk) akan menuntut janji SORGA bagi dirinya dan NERAKA bagi para pendosa. Mereka ini akan sangat-sangat kecewa dan menganggap TUHAN tidak adil. Bukankah ini berbanding terbalik dengan apa yang dilakukan di dunia? Apakah ini cara berpikir sebab-akibat?
Jika tidak berpikir dengan cara demikian, mungkin kita bisa menjadi manusia yang jauh lebih beradab. Berbuat baik seharusnya bukanlah karena ingin dapat SORGA, tidak berbuat jahat juga bukan karena takut NERAKA. Seharusnya berbuat baik itu karena muncul kesadaran bahwa dirinya adalah MANUSIA yang berbeda dibanding mahluk hidup lainnya.
Bookmarks