Like Tree459Likes

Thread: Problematika Globalisasi: Dunia di Dalam Ancaman Puritanisme

  1. #6131
    Senior Member -Tito-'s Avatar
    Join Date
    Jun 2011
    Posts
    1,673
    Rep Power
    7

    Re: Problematika Globalisasi: Dunia di Dalam Ancaman Puritanisme

    Quote Originally Posted by -Tito- View Post
    Kawan Kawan.

    Aku menunggu lama sekali untuk mengungkapkan pendapat yang akan kutuliskan dibawah ini.
    Aku menunggu sebuah stimulasi yang cukup menantang dari para pembaca Thread ini, terkait dengan pola berpikir SEBAB AKIBAT yang dianut oleh AGAMA, dimana, aku berharap, diskusi itu pada akhirnya akan memaksaku untuk tiba pada ungkapan ini. Namun penantian itu seakan tak berujung.

    AGAMA MEMBUTUHKAN PREMIS AGAR IA DAPAT MENGUKUHKAN KEBENARANNYA.
    Tanpa PREMIS, AGAMA TIDAK PERNAH ADA.
    Bila demikian halnya, apakah PREMIS itu?
    PREMIS ADALAH SEBUAH KLAIM YANG BENAR SEBATAS PERNYATAAN.
    PREMIS, UNTUK MEMBUKTIKAN KEBENARANNYA, DIA TIDAK MEMBUTUHKAN BUKTI.
    DIA, PREMIS ITU, SEBUAH PERNYATAAN YANG SUDAH FINAL DAN HARUS BENAR SEPENUHNYA.
    Dengan kata lain, PREMIS DIDALAM AGAMA ADALAH SEBUAH KLAIM UNTUK SUATU TUJUAN.

    PREMIS dalam bentuk SURGA, NERAKA, DOSA, PAHALA, adalah serangkaian kecil dari demikian banyak PREMIS yang seringkali kita jumpai didalam AGAMA. Harap dipahami, didalam LOGIKA SILOGIS AGAMA, keberadaan sederetan PREMIS itu sangat dibutuhkan agar MASING MASING ENTITAS semisal SURGA, NERAKA, DOSA, PAHALA itu dapat dimengerti oleh umat, dan pemahaman itu sepenuhnya bersandar pada POLA SEBAB AKIBAT, sebuah CARA BERPIKIR DETERMINISTIK YANG SERBA MEMPERTENTANGKAN KEBERADAAN DARI MASING MASING ENTITAS tadi.

    Jadi, didalam POLA BERPIKIR AGAMA yang KAUSALISTIK SEBAB AKIBAT itu, harus selalu ada PERTENTANGAN antara SURGA melawan NERAKA, DOSA melawan PAHALA, BAIK melawan BURUK dan sebagainya. Dengan demikian, artinya, TANPA ADANYA PERTENTANGAN ANTARA SEBAB DAN AKIBAT ITU, MAKA, AGAMA TIDAK PERNAH ADA. DOSA yang BERTINDAK sebagai SEBAB, misalnya, akan menghadirkan MAUT sebagai AKIBATNYA. Dan PERTOBATAN atas DOSA (SEBAB), akan menghasilkan KESELAMATAN (AKIBAT). Pola Berpikir yang seperti inilah yang menghiasi lembaran aktivitas beragama. Dikarenakan KEBENARANNYA YANG ABSOLUT, sekalian PREMIS itu tak dapat ditiadakan. Adalah sebuah kenyataan yang 'absurd' apabila seseorang mencoba mempertanyakan KEBENARAN PREMIS itu, karena, bila saja PREMIS itu DITIADAKAN, maka, secara keseluruhan RUNTUHLAH LOGIKA BERPIKIR AGAMA YANG BERSANDAR DIATASNYA.

    Lantas, apakah POLA BERPIKIR SEBAB AKIBAT ini menimbuLkan sebuah masalah?

    Salam,
    Tito
    Quote Originally Posted by -Tito- View Post
    Dari manakah umat mengerti akan DOSA?
    Jawabnya, dari KEBENARAN yang ada pada AGAMA.
    Misalnya, kaum YAHUDI memahami bahwa MAKAN DAGING BABI adalah perbuatan NAJIS, yang dengan demikian tindakan itu adalah DOSA. Pertanyaannya, darimanakah Kaum YAHUDI itu paham akan DOSA CEMAR DAGING BABI? Jawabnya, dari Hukum Taurat Musa (?). Berarti ada RELASI antara HUKUM TUHAN YANG KUDUS dengan DOSA. RELASI DALAM POLA SEBAB AKIBAT ITULAH YANG JUSTRU MENGHADIRKAN KEBERADAAN MASING MASING ENTITAS TADI, yaitu DAGING BABI NAJIS serta HUKUM TUHAN.

    Bila demikian halnya, kita kemudian bertanya didalam hati:

    BUKANKAH DOSA MEMANG DIBUTUHKAN KEHADIRANNYA AGAR KEBERADAAN KEBENARAN ITU MENJADI NYATA?

    Salam,
    Tito
    Dengan demikian, dapatkah dikatakan, didalam POLA BERPIKIR SEBAB AKIBAT AGAMA ini, justru KEBERADAN DOSA SANGAT DIBUTUHKAN DEMI MENGUKUHKAN KEBENARAN HUKUM TUHAN?

    Bila kita tetap 'disiplin' dengan POLA BERPIKIR SEBAB AKIBAT ini, pada akhirnya kita akan 'terpaksa' mengakui bahwa DOSA HADIR KEDALAM DUNIA INI TIDAKLAH DENGAN SIA SIA. KEHADIRAN DOSA ITU JUSTRU MEMPERKUAT MOTIF DARI KEBERADAAN KEBENARAN. Bukankah demikian logikanya? Dengan kata lain, TANPA DOSA, MAKA TIDAK AKAN ADA KEBENARAN (HUKUM TUHAN). Bukankah begitu?

    Jadi, IRONI dari HUKUM BEPIKIR SEBAB AKIBAT AGAMA itu justru membuat kehadiran PREMIS DOSA menjadi SANGAT PENTING dan KRUSIAL sifatnya, karena, hanya dengan KEHADIRAN DOSA sajalah maka KEBENARAN HUKUM TUHAN DAPAT DIPENUHI serta DIGENAPI. DOSA HARUS ADA DAN HARUS DIADAKAN OLEH TUHAN, SANG KHALIK LANGIT BUMI, AGAR SUPAYA KEBENARAN ATAS HUKUM HUKUMNYA DIGENAPI.

    Salam,
    Tito
    -It is better to be Socrates dissatisfied than a fool satisfied-


  2. #6132
    Senior Member -Tito-'s Avatar
    Join Date
    Jun 2011
    Posts
    1,673
    Rep Power
    7

    Re: Problematika Globalisasi: Dunia di Dalam Ancaman Puritanisme

    Quote Originally Posted by -Tito- View Post
    Kawan Kawan.

    Aku menunggu lama sekali untuk mengungkapkan pendapat yang akan kutuliskan dibawah ini.
    Aku menunggu sebuah stimulasi yang cukup menantang dari para pembaca Thread ini, terkait dengan pola berpikir SEBAB AKIBAT yang dianut oleh AGAMA, dimana, aku berharap, diskusi itu pada akhirnya akan memaksaku untuk tiba pada ungkapan ini. Namun penantian itu seakan tak berujung.

    AGAMA MEMBUTUHKAN PREMIS AGAR IA DAPAT MENGUKUHKAN KEBENARANNYA.
    Tanpa PREMIS, AGAMA TIDAK PERNAH ADA.
    Bila demikian halnya, apakah PREMIS itu?
    PREMIS ADALAH SEBUAH KLAIM YANG BENAR SEBATAS PERNYATAAN.
    PREMIS, UNTUK MEMBUKTIKAN KEBENARANNYA, DIA TIDAK MEMBUTUHKAN BUKTI.
    DIA, PREMIS ITU, SEBUAH PERNYATAAN YANG SUDAH FINAL DAN HARUS BENAR SEPENUHNYA.
    Dengan kata lain, PREMIS DIDALAM AGAMA ADALAH SEBUAH KLAIM UNTUK SUATU TUJUAN.

    PREMIS dalam bentuk SURGA, NERAKA, DOSA, PAHALA, adalah serangkaian kecil dari demikian banyak PREMIS yang seringkali kita jumpai didalam AGAMA. Harap dipahami, didalam LOGIKA SILOGIS AGAMA, keberadaan sederetan PREMIS itu sangat dibutuhkan agar MASING MASING ENTITAS semisal SURGA, NERAKA, DOSA, PAHALA itu dapat dimengerti oleh umat, dan pemahaman itu sepenuhnya bersandar pada POLA SEBAB AKIBAT, sebuah CARA BERPIKIR DETERMINISTIK YANG SERBA MEMPERTENTANGKAN KEBERADAAN DARI MASING MASING ENTITAS tadi.

    Jadi, didalam POLA BERPIKIR AGAMA yang KAUSALISTIK SEBAB AKIBAT itu, harus selalu ada PERTENTANGAN antara SURGA melawan NERAKA, DOSA melawan PAHALA, BAIK melawan BURUK dan sebagainya. Dengan demikian, artinya, TANPA ADANYA PERTENTANGAN ANTARA SEBAB DAN AKIBAT ITU, MAKA, AGAMA TIDAK PERNAH ADA. DOSA yang BERTINDAK sebagai SEBAB, misalnya, akan menghadirkan MAUT sebagai AKIBATNYA. Dan PERTOBATAN atas DOSA (SEBAB), akan menghasilkan KESELAMATAN (AKIBAT). Pola Berpikir yang seperti inilah yang menghiasi lembaran aktivitas beragama. Dikarenakan KEBENARANNYA YANG ABSOLUT, sekalian PREMIS itu tak dapat ditiadakan. Adalah sebuah kenyataan yang 'absurd' apabila seseorang mencoba mempertanyakan KEBENARAN PREMIS itu, karena, bila saja PREMIS itu DITIADAKAN, maka, secara keseluruhan RUNTUHLAH LOGIKA BERPIKIR AGAMA YANG BERSANDAR DIATASNYA.

    Lantas, apakah POLA BERPIKIR SEBAB AKIBAT ini menimbuLkan sebuah masalah?

    Salam,
    Tito
    Quote Originally Posted by -Tito- View Post
    Dari manakah umat mengerti akan DOSA?
    Jawabnya, dari KEBENARAN yang ada pada AGAMA.
    Misalnya, kaum YAHUDI memahami bahwa MAKAN DAGING BABI adalah perbuatan NAJIS, yang dengan demikian tindakan itu adalah DOSA. Pertanyaannya, darimanakah Kaum YAHUDI itu paham akan DOSA CEMAR DAGING BABI? Jawabnya, dari Hukum Taurat Musa (?). Berarti ada RELASI antara HUKUM TUHAN YANG KUDUS dengan DOSA. RELASI DALAM POLA SEBAB AKIBAT ITULAH YANG JUSTRU MENGHADIRKAN KEBERADAAN MASING MASING ENTITAS TADI, yaitu DAGING BABI NAJIS serta HUKUM TUHAN.

    Bila demikian halnya, kita kemudian bertanya didalam hati:

    BUKANKAH DOSA MEMANG DIBUTUHKAN KEHADIRANNYA AGAR KEBERADAAN KEBENARAN ITU MENJADI NYATA?

    Salam,
    Tito
    Quote Originally Posted by -Tito- View Post
    Dengan demikian, dapatkah dikatakan, didalam POLA BERPIKIR SEBAB AKIBAT AGAMA ini, justru KEBERADAN DOSA SANGAT DIBUTUHKAN DEMI MENGUKUHKAN KEBENARAN HUKUM TUHAN?

    Bila kita tetap 'disiplin' dengan POLA BERPIKIR SEBAB AKIBAT ini, pada akhirnya kita akan 'terpaksa' mengakui bahwa DOSA HADIR KEDALAM DUNIA INI TIDAKLAH DENGAN SIA SIA. KEHADIRAN DOSA ITU JUSTRU MEMPERKUAT MOTIF DARI KEBERADAAN KEBENARAN. Bukankah demikian logikanya? Dengan kata lain, TANPA DOSA, MAKA TIDAK AKAN ADA KEBENARAN (HUKUM TUHAN). Bukankah begitu?

    Jadi, IRONI dari HUKUM BEPIKIR SEBAB AKIBAT AGAMA itu justru membuat kehadiran PREMIS DOSA menjadi SANGAT PENTING dan KRUSIAL sifatnya, karena, hanya dengan KEHADIRAN DOSA sajalah maka KEBENARAN HUKUM TUHAN DAPAT DIPENUHI serta DIGENAPI. DOSA HARUS ADA DAN HARUS DIADAKAN OLEH TUHAN, SANG KHALIK LANGIT BUMI, AGAR SUPAYA KEBENARAN ATAS HUKUM HUKUMNYA DIGENAPI.

    Salam,
    Tito
    Kawan Kawan.

    Bila BERAGAMA hanya sekedar MENYANDINGI serta MEMPERTENTANGKAN antara satu PREMIS MELAWAN PREMIS LAINNYA didalam sebuah POLA SEBAB AKIBAT, antara DOSA melawan PAHALA, BAIK melawan BURUK, SURGA melawan NERAKA, maka, pada akhirnya IRONI yang seperti diatas akan terjadi pada pemikiran kita. Kembali kepada pertanyaan awal, bahwa, apakah kita mengalami masalah dengan POLA PIKIR KAUSALITIK ini? Jawabnya, YA, karena, POLA PIKIR ITU PADA AKHIRNYA AKAN MENGANTARKAN KITA KEPADA KEKACAUAN PEMAHAMAN KEATAS EKSISTENSI KEBENARAN TUHAN.

    PREMIS YANG TAK DAPAT DIPERTANYAKAN, PADA AKHIRNYA AKAN MUNCUL MENJADI PERMAINAN MENCONGAK YANG BENAR SEBATAS MEMINDAH-MINDAHKAN SATU PERNYATAAN BERHADAPAN DENGAN PERNYATAAN LAIN. KEBERADAAN SATU ENTITAS DITENTUKAN OLEH RELASI ATAU HUBUNGANNYA DENGAN ENTITAS LAIN. KEBERADAAN KEBENARAN DITENTUKAN OLEH RELASINYA DENGAN KEBERADAAN DOSA. BILA DOSA TIDAK ADA MAKA KEBENARAN JUGA TIDAK ADA. DENGAN DEMIKIAN, DOSA MENJADI SANGAT PENTING PERANNYA. DIA HARUS BERPOSISI SEBAGAI SEBAB AGAR AKIBAT DAPAT MUNCUL DARINYA.

    Jadi, imbauanku kepada para FANATIK AGAMA YANG MENGANGGAP SURGA ADALAH MILIKNYA SENDIRI, untuk segera berbenah. FANATISME KEATAS HUKUM AGAMAMU HANYALAH SEBUAH HUKUM BERPIKIR KELIRU YANG PADA AKHIRNYA JUSTRU AKAN MENGANTARKANMU KEPADA PENGHUJATAN KEATAS KEBERADAAN TUHANMU SENDIRI.

    Ada komentar wahai INDONESIA?

    Salam,
    Tito
    -It is better to be Socrates dissatisfied than a fool satisfied-


  3. #6133
    Senior Member -Tito-'s Avatar
    Join Date
    Jun 2011
    Posts
    1,673
    Rep Power
    7

    Re: Problematika Globalisasi: Dunia di Dalam Ancaman Puritanisme

    Quote Originally Posted by -Tito- View Post

    Jadi, imbauanku kepada para FANATIK AGAMA YANG MENGANGGAP SURGA ADALAH MILIKNYA SENDIRI, untuk segera berbenah. FANATISME KEATAS HUKUM AGAMAMU HANYALAH SEBUAH HUKUM BERPIKIR KELIRU YANG PADA AKHIRNYA JUSTRU AKAN MENGANTARKANMU KEPADA PENGHUJATAN KEATAS KEBERADAAN TUHANMU SENDIRI.

    Ada komentar wahai INDONESIA?

    Salam,
    Tito
    SIAPAKAH PENYEBAB DOSA?

    Sudah tentu, bila kita kukuh mengadopsi POLA BERPIKIR SEBAB AKIBAT AGAMA, maka, mau tidak mau, dengan sangat terpaksa, harus diakui, bahwa:

    TUHANLAH SANG PENYEBAB DOSA.

    Salam,
    Tito
    -It is better to be Socrates dissatisfied than a fool satisfied-


  4. #6134
    Senior Member -Tito-'s Avatar
    Join Date
    Jun 2011
    Posts
    1,673
    Rep Power
    7

    Re: Problematika Globalisasi: Dunia di Dalam Ancaman Puritanisme

    Quote Originally Posted by -Tito- View Post
    Kawan Kawan.

    Aku menunggu lama sekali untuk mengungkapkan pendapat yang akan kutuliskan dibawah ini.
    Aku menunggu sebuah stimulasi yang cukup menantang dari para pembaca Thread ini, terkait dengan pola berpikir SEBAB AKIBAT yang dianut oleh AGAMA, dimana, aku berharap, diskusi itu pada akhirnya akan memaksaku untuk tiba pada ungkapan ini. Namun penantian itu seakan tak berujung.

    AGAMA MEMBUTUHKAN PREMIS AGAR IA DAPAT MENGUKUHKAN KEBENARANNYA.
    Tanpa PREMIS, AGAMA TIDAK PERNAH ADA.
    Bila demikian halnya, apakah PREMIS itu?
    PREMIS ADALAH SEBUAH KLAIM YANG BENAR SEBATAS PERNYATAAN.
    PREMIS, UNTUK MEMBUKTIKAN KEBENARANNYA, DIA TIDAK MEMBUTUHKAN BUKTI.
    DIA, PREMIS ITU, SEBUAH PERNYATAAN YANG SUDAH FINAL DAN HARUS BENAR SEPENUHNYA.
    Dengan kata lain, PREMIS DIDALAM AGAMA ADALAH SEBUAH KLAIM UNTUK SUATU TUJUAN.

    PREMIS dalam bentuk SURGA, NERAKA, DOSA, PAHALA, adalah serangkaian kecil dari demikian banyak PREMIS yang seringkali kita jumpai didalam AGAMA. Harap dipahami, didalam LOGIKA SILOGIS AGAMA, keberadaan sederetan PREMIS itu sangat dibutuhkan agar MASING MASING ENTITAS semisal SURGA, NERAKA, DOSA, PAHALA itu dapat dimengerti oleh umat, dan pemahaman itu sepenuhnya bersandar pada POLA SEBAB AKIBAT, sebuah CARA BERPIKIR DETERMINISTIK YANG SERBA MEMPERTENTANGKAN KEBERADAAN DARI MASING MASING ENTITAS tadi.

    Jadi, didalam POLA BERPIKIR AGAMA yang KAUSALISTIK SEBAB AKIBAT itu, harus selalu ada PERTENTANGAN antara SURGA melawan NERAKA, DOSA melawan PAHALA, BAIK melawan BURUK dan sebagainya. Dengan demikian, artinya, TANPA ADANYA PERTENTANGAN ANTARA SEBAB DAN AKIBAT ITU, MAKA, AGAMA TIDAK PERNAH ADA. DOSA yang BERTINDAK sebagai SEBAB, misalnya, akan menghadirkan MAUT sebagai AKIBATNYA. Dan PERTOBATAN atas DOSA (SEBAB), akan menghasilkan KESELAMATAN (AKIBAT). Pola Berpikir yang seperti inilah yang menghiasi lembaran aktivitas beragama. Dikarenakan KEBENARANNYA YANG ABSOLUT, sekalian PREMIS itu tak dapat ditiadakan. Adalah sebuah kenyataan yang 'absurd' apabila seseorang mencoba mempertanyakan KEBENARAN PREMIS itu, karena, bila saja PREMIS itu DITIADAKAN, maka, secara keseluruhan RUNTUHLAH LOGIKA BERPIKIR AGAMA YANG BERSANDAR DIATASNYA.

    Lantas, apakah POLA BERPIKIR SEBAB AKIBAT ini menimbuLkan sebuah masalah?

    Salam,
    Tito
    Quote Originally Posted by -Tito- View Post
    Dari manakah umat mengerti akan DOSA?
    Jawabnya, dari KEBENARAN yang ada pada AGAMA.
    Misalnya, kaum YAHUDI memahami bahwa MAKAN DAGING BABI adalah perbuatan NAJIS, yang dengan demikian tindakan itu adalah DOSA. Pertanyaannya, darimanakah Kaum YAHUDI itu paham akan DOSA CEMAR DAGING BABI? Jawabnya, dari Hukum Taurat Musa (?). Berarti ada R-E-L-A-S-I antara HUKUM TUHAN YANG KUDUS dengan DOSA. RELASI DALAM POLA SEBAB AKIBAT ITULAH YANG JUSTRU MENGUKUHKAN KEBERADAAN MASING MASING ENTITAS TADI, yaitu DAGING BABI NAJIS serta HUKUM TUHAN.

    Bila demikian halnya, kita kemudian bertanya didalam hati:

    BUKANKAH DOSA MEMANG DIBUTUHKAN KEHADIRANNYA AGAR KEBERADAAN KEBENARAN ITU MENJADI NYATA?

    Salam,
    Tito
    Quote Originally Posted by -Tito- View Post
    Dengan demikian, dapatkah dikatakan, didalam POLA BERPIKIR SEBAB AKIBAT AGAMA ini, justru KEBERADAN DOSA SANGAT DIBUTUHKAN DEMI MENGUKUHKAN KEBENARAN HUKUM TUHAN?

    Bila kita tetap 'disiplin' dengan POLA BERPIKIR SEBAB AKIBAT ini, pada akhirnya kita akan 'terpaksa' mengakui bahwa DOSA HADIR KEDALAM DUNIA INI TIDAKLAH DENGAN SIA SIA. KEHADIRAN DOSA ITU JUSTRU MEMPERKUAT MOTIF DARI KEBERADAAN KEBENARAN. Bukankah demikian logikanya? Dengan kata lain, TANPA DOSA, MAKA TIDAK AKAN ADA KEBENARAN (HUKUM TUHAN). Bukankah begitu?

    Jadi, IRONI dari HUKUM BEPIKIR SEBAB AKIBAT AGAMA itu justru membuat kehadiran PREMIS DOSA menjadi SANGAT PENTING dan KRUSIAL sifatnya, karena, hanya dengan KEHADIRAN DOSA sajalah maka KEBENARAN HUKUM TUHAN DAPAT DIPENUHI serta DIGENAPI. DOSA HARUS ADA DAN HARUS DIADAKAN OLEH TUHAN, SANG KHALIK LANGIT BUMI, AGAR SUPAYA KEBENARAN ATAS HUKUM HUKUMNYA DIGENAPI.

    Salam,
    Tito
    Quote Originally Posted by -Tito- View Post
    Kawan Kawan.

    Bila BERAGAMA hanya sekedar MENYANDINGI serta MEMPERTENTANGKAN antara satu PREMIS MELAWAN PREMIS LAINNYA didalam sebuah POLA SEBAB AKIBAT, antara DOSA melawan PAHALA, BAIK melawan BURUK, SURGA melawan NERAKA, maka, pada akhirnya IRONI yang seperti diatas akan terjadi pada pemikiran kita. Kembali kepada pertanyaan awal, bahwa, apakah kita mengalami masalah dengan POLA PIKIR KAUSALITIK ini? Jawabnya, YA, karena, POLA PIKIR ITU PADA AKHIRNYA AKAN MENGANTARKAN KITA KEPADA KEKACAUAN PEMAHAMAN KEATAS EKSISTENSI KEBENARAN TUHAN.

    PREMIS YANG TAK DAPAT DIPERTANYAKAN, PADA AKHIRNYA AKAN MUNCUL MENJADI PERMAINAN MENCONGAK YANG BENAR SEBATAS MEMINDAH-MINDAHKAN SATU PERNYATAAN BERHADAPAN DENGAN PERNYATAAN LAIN. KEBERADAAN SATU ENTITAS DITENTUKAN OLEH RELASI ATAU HUBUNGANNYA DENGAN ENTITAS LAIN. KEBERADAAN KEBENARAN DITENTUKAN OLEH RELASINYA DENGAN KEBERADAAN DOSA. BILA DOSA TIDAK ADA MAKA KEBENARAN JUGA TIDAK ADA. DENGAN DEMIKIAN, DOSA MENJADI SANGAT PENTING PERANNYA. DIA HARUS BERPOSISI SEBAGAI SEBAB AGAR AKIBAT DAPAT MUNCUL DARINYA.

    Jadi, imbauanku kepada para FANATIK AGAMA YANG MENGANGGAP SURGA ADALAH MILIKNYA SENDIRI, untuk segera berbenah. FANATISME KEATAS HUKUM AGAMAMU HANYALAH SEBUAH HUKUM BERPIKIR KELIRU YANG PADA AKHIRNYA JUSTRU AKAN MENGANTARKANMU KEPADA PENGHUJATAN KEATAS KEBERADAAN TUHANMU SENDIRI.

    Ada komentar wahai INDONESIA?

    Salam,
    Tito
    Quote Originally Posted by -Tito- View Post
    SIAPAKAH PENYEBAB DOSA?

    Sudah tentu, bila kita kukuh mengadopsi POLA BERPIKIR SEBAB AKIBAT AGAMA, maka, mau tidak mau, dengan sangat terpaksa, harus diakui, bahwa:

    TUHANLAH SANG PENYEBAB DOSA.

    Salam,
    Tito
    Bila kalian, kemudian, TIDAK SETUJU TERHADAP SEMUA PENJELASANKU DIATAS, maka:

    SELAMAT DATANG LOGIKA, KALIAN SUDAH WARAS.
    KALIAN TELAH MENEMUKAN SIMPUL DARI IRONI BERPIKIR HUKUM AGAMA YANG SELAMA INI DIYAKINI.
    SATU SATUNYA CARA BAGI KALIAN UNTUK MENJADI WARAS HANYALAH DENGAN MENGUTARAKAN KETIDAK-SETUJUAN KALIAN TERHADAP PROPOSISIKU DIATAS, KARENA, BILA KALIAN SETUJU, ITU BERARTI, KALIAN BERAGAMA DENGAN CARA YANG LUAR BIASA KACAU
    .

    Bagi umat BERAGAMA yang masih BINGUNG dengan proposisi diatas, pertanyaanku, UNTUK KEPERLUAN APAKAH ANDA BERAGAMA, bila hal tentang PREMIS itu tak pernah anda pikirkan?

    Salam,
    Tito
    -It is better to be Socrates dissatisfied than a fool satisfied-


  5. #6135
    Member Uzmad's Avatar
    Join Date
    Jun 2008
    Posts
    742
    Rep Power
    5

    Re: Problematika Globalisasi: Dunia di Dalam Ancaman Puritanisme

    Tito,
    sobat, saudara, dan kawan berdiskusi yang aku sukai sekaligus aku hormati.

    Kelugasan berpikirmu dan kelurusanmu untuk mengungkapkan pikiran maupun idemu selalu membuat orang terperangah dan menjadikan orang mempertanyakan kembali keyakinan-keyakinan yang selama ini dipegang teguh maupun alur pikir yang selama ini diikuti (yang kebanyakan tidak lagi disadari, karena sudah terbiasa dengan hal itu). Cara mengungkapkan pikiran dan ide macam ini memang amat dibutuhkan sekarang ini, terlebih saat di mana orang banyak tidak lagi (sempat) bertanya atau mempertanyakan. Ada banyak sebab: malas berpikir (sendiri), sibuk dengan hal lain yang merupakan interese (hidup), atau gaya hidup yang tidak memberikan ruang untuk berpikir.

    1. menimbang sasaran diskurs yang hendak kamu bidik, saya setuju dengan kamu. Praksis beragama haruslah sehat secara nalar dan dapat dipertanggungjawabkan secara nalar pula.
    2. Dua keberatan yang ingin aku ungkapkan, yakni (a) jenis logika yang kamu pakai mengandaikan bahwa tilikan ini memakai logika aristotelian. Yaaaa, tentu ini bangunan logika yang ampuh karena justru kesederhanaannya dan kemudahannya untuk dapat dimengerti secara cepat dan ringkas. Paling kurang ada beberapa bentuk logika lain yang pantas dipertimbangkan lebih lanjut untuk menilik tema yang sekarang ini kamu kedepankan. Salah satunya logika hegelian yang pernah kamu ajukan dalam topik yang lama. mengapa hal itu tidak dipakai. Bukankah bentuk logika ini jauh lebih halus untuk mengupas persoalan yang sekarang ini dibahas? Atau logika Kant? Quantum?

    (b) keberatan kedua ialah soal istilah yang dipakai. Sebenarnya saya tidak pantas mengomentari hal ini karena term tertentu selalu berkaitan erat dengan jenis pemikiran yang mengkerangkainya. Jenis logika aristotelian yang kamu pakai mengharuskanmu memakai term-term khas aristotelian. Seandainya kamu memakai jenis logika yang lain, tentu akan dipakai term-term yang lain yang lebih halus, yang lebih menampakkan kompleksitas persoalan yang tengah dikupas.

    begitu dulu saja bro. Enjoy your Endless Summer

  6. #6136
    Member
    Join Date
    May 2012
    Posts
    684
    Rep Power
    6

    Re: Problematika Globalisasi: Dunia di Dalam Ancaman Puritanisme

    Quote Originally Posted by -Tito- View Post
    Bo.

    Penjelasan Trie diatas sudah sangat memadai.

    Yours,
    Tito
    ude ane simpen di pikiran ane mister tito. makasih

    Quote Originally Posted by -Tito- View Post
    Atau kamu mempunyai pendapat lain Bo...
    Mister tito, ane cume debu (nti kalo ude mati) dan tdk percaye ame agame2 nyang ade cume percaye ame ajaran Yesus utk mengasihi Allah dan sesame manusie (ude ane bilang ber-kali2 ikutin aturan nyang satu ini aje gak selesai2 ) tentu spt nyang kate ente "menggunakan akal sehat".
    Surge , nerake, dose, pahale gak perne mau ane pikirin biar aje mengalir sendiri2..

    Jujur ane bilang kalo setiap kali buke forum, thread ente ini nyang pasti ane bace terkadang berulang ulang.
    Makasih mister tito ude mau berbagi.
    Last edited by mambo; 13-06-12 at 11:35 AM.

  7. #6137
    Contributor agatha's Avatar
    Join Date
    Jan 2008
    Posts
    4,710
    Rep Power
    19

    Re: Problematika Globalisasi: Dunia di Dalam Ancaman Puritanisme

    Quote Originally Posted by -Tito- View Post
    Bila kalian, kemudian, TIDAK SETUJU TERHADAP SEMUA PENJELASANKU DIATAS, maka:

    SELAMAT DATANG LOGIKA, KALIAN SUDAH WARAS.
    KALIAN TELAH MENEMUKAN SIMPUL DARI IRONI BERPIKIR HUKUM AGAMA YANG SELAMA INI DIYAKINI.
    SATU SATUNYA CARA BAGI KALIAN UNTUK MENJADI WARAS HANYALAH DENGAN MENGUTARAKAN KETIDAK-SETUJUAN KALIAN TERHADAP PROPOSISIKU DIATAS, KARENA, BILA KALIAN SETUJU, ITU BERARTI, KALIAN BERAGAMA DENGAN CARA YANG LUAR BIASA KACAU
    .

    Bagi umat BERAGAMA yang masih BINGUNG dengan proposisi diatas, pertanyaanku, UNTUK KEPERLUAN APAKAH ANDA BERAGAMA, bila hal tentang PREMIS itu tak pernah anda pikirkan?

    Salam,
    Tito
    Om Tito,

    Makasih penjelasan panjang lebar dan warna warni
    Walau diriku tidak berani meng-claim-diri sebagai waras
    Walau diriku juga belum berani tegas tidak sepakat & setuju post panjang lebar di atas

    Ijinkan diriku bertanya;
    * Logika sebab-akibat di ATAS , adalah sepenuhnya sesuai logika agama "wahyu" (menurutku looh)
    * Bagaimanakah dengan "aliran" lain yang menganut sebab-akibat "karma" , tanpa melibatkan sosok "TUHAN" dalam ajaran tersebut? Sepengetahuanku berdasarkan diskusi dan bahan bacaan, mereka tidak memiliki hirarki TUNGGAL sebagai pencipta. Dan mereka "sadar" bahwa hidup berjalan berdasarkan KARMA. Dan sepenuhnya berhati-hati menjaga agar saat karma bersinggungan dengan manusia dan mahluk hidup lain, hormat dan menjaga KEHIDUPAN MANUSIAWI yang seimbang menjadi UTAMA.
    * Hitam putih bukan saling bertentangan, tapi saling melengkapi dan menyeimbangkan.
    * Benar dan Salah, di nilai berdasarkan BENEFIT bagi semua mahluk hidup dan alam.
    * mmm... apa lagi yaaa? .. ntar.. ku ingat-ingat dulu yaaaa...

    Jadi.... ku pikir .. Hukum sebab-akibat tidak se-SIMPLE itu kan? dan.. tidak ada Jawaban Tunggal, semua perlu dipikirkan by context.
    Memang kesannya koq jadi ngak standar Suatu HUKUM atau TEORI mestinya tidak BIAS dan multy-tafsir.

    tapi... sementara itu pikiranku dan tanggapanku

  8. #6138
    Senior Member -Tito-'s Avatar
    Join Date
    Jun 2011
    Posts
    1,673
    Rep Power
    7

    Re: Problematika Globalisasi: Dunia di Dalam Ancaman Puritanisme

    Quote Originally Posted by mambo View Post
    ude ane simpen di pikiran ane mister tito. makasih



    Mister tito, ane cume debu (nti kalo ude mati) dan tdk percaye ame agame2 nyang ade cume percaye ame ajaran Yesus utk mengasihi Allah dan sesame manusie (ude ane bilang ber-kali2 ikutin aturan nyang satu ini aje gak selesai2 ) tentu spt nyang kate ente "menggunakan akal sehat".
    Surge , nerake, dose, pahale gak perne mau ane pikirin biar aje mengalir sendiri2..

    Jujur ane bilang kalo setiap kali buke forum, thread ente ini nyang pasti ane bace terkadang berulang ulang.
    Makasih mister tito ude mau berbagi.
    Bo.

    Tidak ada yang salah bilapun kamu BERAGAMA, dan memang, ketika kamu meyakini AJARAN Kristus tentang mengasihi Allah serta sesama Manusia, itu juga merupakan bagian dari PREMIS AGAMA. Kita disini sama sekali tidak mempersoalkan AGAMA sebagai sebuah AJARAN atau JALAN bagi Manusia, sebaliknya, permasalahannya justru terletak pada PENG-KRISTAL-AN AGAMA YANG MENJADI SEBUAH IDEOLOGI.

    KOMUNISME, misalnya.
    KOMUNISME meyakini bahwa Masyarakat yang TANPA KELAS EKONOMI, Kaya dan Miskin, misalnya, adalah bentuk Masyarakat yang paling IDEAL serta ADIL, dan dalam dimensi POLITIK, Anggota Masyarakat yang seperti itu akan menikmati pula HAK dan KEWAJIBANNYA secara MERATA. Sebenarnya tidak ada yang SALAH dengan pemahaman ini, sampai kemudian PAHAM KOMUNISME INI LALU DI-IDEOLOGI-KAN SECARA KAKU, BAHKAN MENJADI ABSOLUT. Ini persoalannya. PENG-KRISTAL-AN AJARAN KOMUNISME YANG SEBENARNYA IDEAL DAN ADIL ITU PADA AKHIRNYA BERBALIK MENJADI PENGHAMBAT KEATAS KEADILAN YANG DIPERJUANGKANNYA. Persoalan ini muncul bukan saja dari sisi FILOSOFISNYA, tetapi juga terjadi pada tataran SOSIAL dan POLITIS didalam kehidupan Masyarakat yang menganut IDEOLOGI kaku itu tadi.

    Demikian pula halnya AGAMA.
    Bila ia telah menjadi IDEOLOGI, maka, mau tidak mau dia akan menjadi sebuah INSTITUSI SAKRAL YANG TAK DAPAT DIUBAH. Persoalan kemudian akan muncul karena, bukan saja pada basis FILOSOFISNYA, tetapi juga pada tataran REALITA bahwa sifat ABSOLUT ini malah mendorong AGAMA MENJADI PELAKU KETIDAK-ADILAN, PENGUCILAN, BIAS JENDER, PENGANJUR KEKERASAN dan sebagainya.

    Satu satunya cara untuk MENGENYAHKAN KARAKTER IDEOLOGIS PADA AGAMA, kita, secara terus menerus harus mampu melakukan 'pemahaman ulang' terhadap PREMIS yang ada pada AGAMA itu sendiri. Sebenarnya kamu telah melakukan hal itu. Pada posmu diatas, kamu mengatakan 'ude ane bilang ber-kali2 ikutin aturan nyang satu ini aje gak selesai2' yang dengan demikian, kamu sedang melakukan ANTI-TESIS atau KRITIK terhadap PREMIS yang tak sudi kamu terima begitu saja.

    Salam,
    Tito
    Last edited by -Tito-; 13-06-12 at 08:23 PM.
    -It is better to be Socrates dissatisfied than a fool satisfied-


  9. #6139
    Senior Member -Tito-'s Avatar
    Join Date
    Jun 2011
    Posts
    1,673
    Rep Power
    7

    Re: Problematika Globalisasi: Dunia di Dalam Ancaman Puritanisme

    Quote Originally Posted by Uzmad View Post
    Tito,
    sobat, saudara, dan kawan berdiskusi yang aku sukai sekaligus aku hormati.

    (b) keberatan kedua ialah soal istilah yang dipakai. Sebenarnya saya tidak pantas mengomentari hal ini karena term tertentu selalu berkaitan erat dengan jenis pemikiran yang mengkerangkainya. Jenis logika aristotelian yang kamu pakai mengharuskanmu memakai term-term khas aristotelian. Seandainya kamu memakai jenis logika yang lain, tentu akan dipakai term-term yang lain yang lebih halus, yang lebih menampakkan kompleksitas persoalan yang tengah dikupas.

    begitu dulu saja bro. Enjoy your Endless Summer
    Terima kasih Uzmad, dan selamat malam.

    Aku ini bagaikan Sadhu.
    Seorang Sadhu yang terlalu lama mengembara seorang diri didalam kesendirian PEMIKIRAN dan HARAPAN.
    Kelana itu acapkali menuntunku masuk kedalam rimba raya yang dipenuhi Srigala dan berbagai jenis Ular. Dan kamu tahu, satu satunya cara bagi sang Sadhu pengembara ini untuk 'berkomunikasi' dengan para penghuni rimba raya itu adalah menggunakan 'bunyi' yang dipahami oleh mereka, bahkan, tak jarang, sang Sadhu itu sendiri berubah menjadi Srigala juga Ular. Dia tak memiliki pilihan.

    BILA KATA DAPAT MENGUBAH DUNIA, MAKA, DIA HARUS DIPERJUANGKAN.
    Dan untuk keperluan itulah aku berada disini.
    Adakah hal lain yang kumiliki selain untaian KATA?
    Memang benar, tak jarang aku tampil dengan bahasa yang SUPERLATIF, atau bahkan lebih dari itu, sangat SARKASTIK, tetapi itupun, sekali lagi, karena cara EUFEMIS dirasakan tidak lagi memiliki gaung yang sepadan. Bukankah tidak mudah bagi seorang Sadhu mengusir Srigala bila ia tidak pula balik menggeram kepadanya?

    Lama kupelajari, dan sampailah aku pada kesimpulan, bahwa, seringkali persoalan yang dihadapi bukan lagi terletak pada TERMA yang dipergunakan, lebih parah dari itu, permasalahannya justru terletak pada BAHASA yang menjadi media penyampai pesan bagiku disini. Sungguh sulit untuk mengharapkan pemahaman para pembaca keatas materi yang disajikan apabila mereka menghadapi kendala BAHASA ini. Hal ini, bagaimanapun juga, dapat dimaklumi, karena, dibutuhkan lebih dari sekedar kemampuan LINGUSITIK untuk memahami materi tersebut. Seseorang harus memiliki BAKAT untuk paham akan materi yang bersifat FILOSOFIS.

    Kamu sudah tentu paham terhadap kompleksitas masalah yang aku hadapi ini.

    Salam,
    Tito
    mambo likes this.
    -It is better to be Socrates dissatisfied than a fool satisfied-


  10. #6140
    Member tom percy's Avatar
    Join Date
    Oct 2010
    Location
    Bandung, Flower City
    Posts
    823
    Rep Power
    5

    Re: Problematika Globalisasi: Dunia di Dalam Ancaman Puritanisme

    Dunia lagi demam bola gini kamu masih semangat aja dengan kritikmu terhadap agama Bro?
    apakah karena Barcelona itu bukan suatu negara? wak wak wak

    Quote Originally Posted by -Tito- View Post
    AGAMA MEMBUTUHKAN PREMIS AGAR IA DAPAT MENGUKUHKAN KEBENARANNYA.
    Apakah hanya agama yang butuh premis bro? apakah ilmu pengetahuan tidak butuh premis?
    -Hukum Kekekalan energi itu apa bukan Premis? (Fisika)
    -Sedimentasi menentukan umur dari lapisan tanah apa bukan premis? (Geologi)
    -Geoid adalah bidang yang memiliki equipotensial yang sama apa bukan premis? (Geodesy)
    -bilangan tidak bisa dibagi dengan NOL apa bukan premis? (Matematika)
    dll
    dll
    dll
    semua PERLU PREMIS

    Quote Originally Posted by -Tito- View Post
    Tanpa PREMIS, AGAMA TIDAK PERNAH ADA.
    demikian juga ILMU PENGETAHUAN

    Quote Originally Posted by -Tito- View Post
    Bila demikian halnya, apakah PREMIS itu?
    PREMIS ADALAH SEBUAH KLAIM YANG BENAR SEBATAS PERNYATAAN.
    PREMIS, UNTUK MEMBUKTIKAN KEBENARANNYA, DIA TIDAK MEMBUTUHKAN BUKTI.
    DIA, PREMIS ITU, SEBUAH PERNYATAAN YANG SUDAH FINAL DAN HARUS BENAR SEPENUHNYA.
    Dengan kata lain, PREMIS DIDALAM AGAMA ADALAH SEBUAH KLAIM UNTUK SUATU TUJUAN.
    Kalau ini aku protes.
    kebenaran suatu kesimpulan ditentukan oleh premisnya. dengan demikian premis memiliki kekuatan.
    bisa SUDAH PASTI BENAR (untuk suatu kondisi dan waktu) seperti

    Semua Manusia pasti mati
    Tito manusia
    Tito pasti mati

    atau BELUM TENTU BENAR

    Keseluruhanlah yang benar
    Ilmu pengetahuan adalah keseluruhan (ditinjau dari metode pengamatannya)
    Ilmu pengetahuan pasti benar

    Quote Originally Posted by -Tito- View Post
    PREMIS dalam bentuk SURGA, NERAKA, DOSA, PAHALA, adalah serangkaian kecil dari demikian banyak PREMIS yang seringkali kita jumpai didalam AGAMA. Harap dipahami, didalam LOGIKA SILOGIS AGAMA, keberadaan sederetan PREMIS itu sangat dibutuhkan agar MASING MASING ENTITAS semisal SURGA, NERAKA, DOSA, PAHALA itu dapat dimengerti oleh umat, dan pemahaman itu sepenuhnya bersandar pada POLA SEBAB AKIBAT, sebuah CARA BERPIKIR DETERMINISTIK YANG SERBA MEMPERTENTANGKAN KEBERADAAN DARI MASING MASING ENTITAS tadi.

    Jadi, didalam POLA BERPIKIR AGAMA yang KAUSALISTIK SEBAB AKIBAT itu, harus selalu ada PERTENTANGAN antara SURGA melawan NERAKA, DOSA melawan PAHALA, BAIK melawan BURUK dan sebagainya. Dengan demikian, artinya, TANPA ADANYA PERTENTANGAN ANTARA SEBAB DAN AKIBAT ITU, MAKA, AGAMA TIDAK PERNAH ADA. DOSA yang BERTINDAK sebagai SEBAB, misalnya, akan menghadirkan MAUT sebagai AKIBATNYA. Dan PERTOBATAN atas DOSA (SEBAB), akan menghasilkan KESELAMATAN (AKIBAT). Pola Berpikir yang seperti inilah yang menghiasi lembaran aktivitas beragama. Dikarenakan KEBENARANNYA YANG ABSOLUT, sekalian PREMIS itu tak dapat ditiadakan. Adalah sebuah kenyataan yang 'absurd' apabila seseorang mencoba mempertanyakan KEBENARAN PREMIS itu, karena, bila saja PREMIS itu DITIADAKAN, maka, secara keseluruhan RUNTUHLAH LOGIKA BERPIKIR AGAMA YANG BERSANDAR DIATASNYA.

    Lantas, apakah POLA BERPIKIR SEBAB AKIBAT ini menimbuLkan sebuah masalah?

    Salam,
    Tito
    benarkah agama bersifat deterministik?
    DOSA? apakah deterministik?

    ambil contoh makan babi seperti contoh kasusmu. jika diaplikasikan ke Islam maka BOLEH makan babi dalam kondisi tertentu.
    misalkan seseorang hampir mati kelaparan dan hanya babi yang mungkin untuk dimakan. maka makan babi tidak dosa.

    di sini ada probabilitas bahwa hukum dosa makan babi memiliki peluang menjadi tidak dosa jika kondisi terpenuhi. apakah ini deterministik?
    Dalam hidup dan nafasku ada harummu

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •  

Content Relevant URLs by vBSEO 3.6.0