
Originally Posted by
-Tito-
Tha.
Sudah tentu setiap AGAMA memiliki CIRI dan BENTUKNYA masing masing, entah itu berupa RITUAL, PERANGKAT PERATURAN, HUKUM, DOKTRIN dan sebagainya, dimana kesemua hal itu kemudian akan menentukan KARAKTER dari AGAMA itu sendiri, yaitu, apakah AGAMA itu bersifat UNIVERSAL ataukah EKSKLUSIF kepada golongannya sendiri, apakah ia lebih FOKUS kepada pengalaman pribadi ataukah justru cenderung pada aktivitas kelompok, apakah ia lebih menekankan pada KE-IMAN-AN perseorangan belaka ataukah lebih kepada PRAKTEK PERILAKU didalam kehidupan.
Aku percaya, sebagaimana yang kamu ungkapkan diatas, ada beberapa AGAMA yang terus mencoba untuk melakukan pelbagai upaya RE-INTEPRETASI serta RE-POSISI dari SISTEM KEPERCAYAAN yang dimilikinya untuk disesuaikan dengan REALITA zaman. PROTESTANISME, misalnya, termasuk salah satu SISTEM KEPERCAYAN yang AKTIF mekakukan usaha PERUBAHAN ini. Aku sengaja mengangkat Tesis PROTESTANISME ini, bukan semata mata didorong oleh kecenderunganku untuk bersikap PRIMORDIAL, tetapi dikarenakan pada beberapa waktu yang lalu aku pernah mempelajari pergeseran paradigma dari AGAMA terkait yang mengakibatkan perubahan ETIKA bagi Masyarakat Barat, sehingganya, sedikit banyak aku paham dengan hal itu.
Ada banyak PREMIS didalam sebuah AGAMA, namun, yang menjadi sorotan kita disini bukanlah hanya satu atau dua PREMIS yang telah mendapatkan INTEPRETASI BARU, dimana AGAMA itu kemudian tampil menjadi lebih 'mutakhir' atau 'up to date', tetapi, keprihatinan kita justru terletak pada KERANGKA BERPIKIR yang telah menjadi CIRI KHAS dari SEMUA AGAMA, yang mana, HUKUM BERPIKIR ini, tanpa perduli apakah AGAMA yang bersangkutan telah melakukan pelbagai macam perubahan didalamnya, tetap saja pada akhirnya akan mengulangi kesalahan yang sama sebagaimana bentuknya dulu, yaitu MENG-KRISTAL-NYA AJARAN MENJADI SEBUAH IDEOLOGI.
Stalin, misalnya, melalui Revolusi Bolsheviks berhasil meruntuhkan Tsar Nicholas II yang dianggap lalim.
Melalui gerakan KOMUNISME-nya yang dianggap IDEAL ia berhasil menghimpun kekuatan massa rakyat untuk menghancurkan kekuasaan kaum Borjuisi sampai tuntas. Namun, ketika gerakan ini pada satu titik MENG-KRISTAL menjadi TIRAN BARU yang IDEOLOGIS, maka, dengan demikian, Stalin, tak pelak lagi, TELAH MEGULANGI KESALAHAN TIRAN TERDAHULU YANG DIKALAHKANNYA.
Jadi, persoalannya adalah bahwa, apabila PREMIS tetap menjadi TUMPUAN serta DASAR PEMIKIRAN dari AGAMA, maka, berapapun besar upaya untuk MEROMBAK serta MENGUBAHNYA, ia hanya akan bergeser untuk menjadi IDEOLOGI BARU YANG LAIN. Dengan penjelasan ini kita menjadi tahu, bahwa, sumber dari keseluruhan kekisruhan PEMIKIRAN AGAMA ini justru terletak pada KEHADIRAN PREMIS itu. Yang menjadi FOKUS kita saat ini adalah 'dapatkah kita MENGHILANGKAN atau setidaknya membuat KEHADIRAN PREMIS itu TIDAK menjadi TETAP didalam AGAMA?'
Salam,
Tito
Bookmarks