Like Tree459Likes

Thread: Problematika Globalisasi: Dunia di Dalam Ancaman Puritanisme

  1. #6171
    Member tom percy's Avatar
    Join Date
    Oct 2010
    Location
    Bandung, Flower City
    Posts
    823
    Rep Power
    5

    Re: Problematika Globalisasi: Dunia di Dalam Ancaman Puritanisme

    Quote Originally Posted by Swan View Post
    Persoalannya adalah, PREMIS dalam sebuah ideologi keyakinan adalah belum tentu benar. Sehingga KESIMPULAN nya pun juga belum tentu benar. Mudah saja jika kita mengkoreksi sebuah hitungan MATEMATIS yang dinyatakan SALAH dalam sebuah Calculus, namun hal ini tidak bisa diterapkan begitu saja kepada Ideologi / basis berpikir Agama. Ini disebabkan Agama memiliki KLAIM (meskipun belum tentu benar, namun sudah dianggap benar) dan refutation (yang seringkali berasal dari Premis yang belum tentu benar tadi).
    kulihat kita memiliki persepsi yang sama tentang Premis. mungkin karena basis kita yang sama2 eksakta.
    tulisan yang dikembangkan Tito lebih memokuskan pada persoalan logika hukum berpikir, ini yang tidak kita kenal pada ilmu2 eksakta.

    hanya saja aku berpikir...kalau sudah tau salah, untuk apa sibuk diurusin lagi?
    aku membaca buku WHO MADE GOD? (tapi berhenti dulu dan membaca buku lain tentang Sastra Injil)
    Ini semua FILSAFAT. menarik memang tapi kemudian kusimpulkan bahwa pemikiran2nya berdiri di atas
    Premis2 yang lemah.

    Asumsi di atas Asumsi.

    salam
    Dalam hidup dan nafasku ada harummu

  2. #6172
    Contributor agatha's Avatar
    Join Date
    Jan 2008
    Posts
    4,710
    Rep Power
    19

    Re: Problematika Globalisasi: Dunia di Dalam Ancaman Puritanisme

    Quote Originally Posted by -Tito- View Post
    You're welcome...
    Quote Originally Posted by -Tito- View Post
    Apakah ini?

    PROTESTANISME, misalnya, termasuk salah satu SISTEM KEPERCAYAAN yang AKTIF melakukan usaha PERUBAHAN ini. Aku sengaja mengangkat Tesis PROTESTANISME ini, bukan semata mata didorong oleh kecenderunganku untuk bersikap PRIMORDIAL, tetapi dikarenakan pada beberapa waktu yang lalu aku pernah mempelajari pergeseran paradigma dari AGAMA terkait yang mengakibatkan perubahan ETIKA bagi Masyarakat Barat, sehingganya, sedikit banyak aku paham dengan hal itu.

    Salam,
    Tito
    Quote Originally Posted by -Tito- View Post
    Tha.

    Sudah tentu setiap AGAMA memiliki CIRI dan BENTUKNYA masing masing, entah itu berupa RITUAL, PERANGKAT PERATURAN, HUKUM, DOKTRIN dan sebagainya, dimana kesemua hal itu kemudian akan menentukan KARAKTER dari AGAMA itu sendiri, yaitu, apakah AGAMA itu bersifat UNIVERSAL ataukah EKSKLUSIF kepada golongannya sendiri, apakah ia lebih FOKUS kepada pengalaman pribadi ataukah justru cenderung pada aktivitas kelompok, apakah ia lebih menekankan pada KE-IMAN-AN perseorangan belaka ataukah lebih kepada PRAKTEK PERILAKU didalam kehidupan.

    Aku percaya, sebagaimana yang kamu ungkapkan diatas, ada beberapa AGAMA yang terus mencoba untuk melakukan pelbagai upaya RE-INTEPRETASI serta RE-POSISI dari SISTEM KEPERCAYAAN yang dimilikinya untuk disesuaikan dengan REALITA zaman. PROTESTANISME, misalnya, termasuk salah satu SISTEM KEPERCAYAN yang AKTIF mekakukan usaha PERUBAHAN ini. Aku sengaja mengangkat Tesis PROTESTANISME ini, bukan semata mata didorong oleh kecenderunganku untuk bersikap PRIMORDIAL, tetapi dikarenakan pada beberapa waktu yang lalu aku pernah mempelajari pergeseran paradigma dari AGAMA terkait yang mengakibatkan perubahan ETIKA bagi Masyarakat Barat, sehingganya, sedikit banyak aku paham dengan hal itu.

    Ada banyak PREMIS didalam sebuah AGAMA, namun, yang menjadi sorotan kita disini bukanlah hanya satu atau dua PREMIS yang telah mendapatkan INTEPRETASI BARU, dimana AGAMA itu kemudian tampil menjadi lebih 'mutakhir' atau 'up to date', tetapi, keprihatinan kita justru terletak pada KERANGKA BERPIKIR yang telah menjadi CIRI KHAS dari SEMUA AGAMA, yang mana, HUKUM BERPIKIR ini, tanpa perduli apakah AGAMA yang bersangkutan telah melakukan pelbagai macam perubahan didalamnya, tetap saja pada akhirnya akan mengulangi kesalahan yang sama sebagaimana bentuknya dulu, yaitu MENG-KRISTAL-NYA AJARAN MENJADI SEBUAH IDEOLOGI.

    Stalin, misalnya, melalui Revolusi Bolsheviks berhasil meruntuhkan Tsar Nicholas II yang dianggap lalim.
    Melalui gerakan KOMUNISME-nya yang dianggap IDEAL ia berhasil menghimpun kekuatan massa rakyat untuk menghancurkan kekuasaan kaum Borjuisi sampai tuntas. Namun, ketika gerakan ini pada satu titik MENG-KRISTAL menjadi TIRAN BARU yang IDEOLOGIS, maka, dengan demikian, Stalin, tak pelak lagi, TELAH MEGULANGI KESALAHAN TIRAN TERDAHULU YANG DIKALAHKANNYA.

    Jadi, persoalannya adalah bahwa, apabila PREMIS tetap menjadi TUMPUAN serta DASAR PEMIKIRAN dari AGAMA, maka, berapapun besar upaya untuk MEROMBAK serta MENGUBAHNYA, ia hanya akan bergeser untuk menjadi IDEOLOGI BARU YANG LAIN. Dengan penjelasan ini kita menjadi tahu, bahwa, sumber dari keseluruhan kekisruhan PEMIKIRAN AGAMA ini justru terletak pada KEHADIRAN PREMIS itu. Yang menjadi FOKUS kita saat ini adalah 'dapatkah kita MENGHILANGKAN atau setidaknya membuat KEHADIRAN PREMIS itu TIDAK menjadi TETAP didalam AGAMA?'

    Salam,
    Tito
    Om Tito...
    Weekend gini.... silabus PG bakal terus menerus bahas rumus persamaan A , B, C ?
    Ku pikir.... post ini ajah udah sangat cukup untuk om Tito lompat ke silabus berikutnya.

    Maklum Om... matematikaku pas-pas-an buat lulus... demi lulus bisa dapat ~A~ siiiih..
    Tapi ngak jaminan kalo diriku suka dan gemar dan paham rumusan matematika

    Lanjut ya Om
    Misalnya....
    Kenapa PROTESTANISME awal yang sedemikian hebat meng-create etos kerja-keras masyarakat untuk MANDIRI. Pada perkembangannya menjadi seperti sekarang ini. Cendrung borju dan hedon dan bahkan "mengkristal" jadi "iman yang matreeee"
    ... hahahaha... maafkan istilahku ini.
    Last edited by agatha; 16-06-12 at 03:54 PM.

  3. #6173
    Contributor agatha's Avatar
    Join Date
    Jan 2008
    Posts
    4,710
    Rep Power
    19

    Re: Problematika Globalisasi: Dunia di Dalam Ancaman Puritanisme

    Quote Originally Posted by -Tito- View Post
    ......deleted....

    Dari contoh diatas kita menjadi tahu, bahwa, walaupun KEDUA PREMIS DAN KESIMPULANNYA SALAH, tetapi, LOGIKA BERPIKIRNYA yang berskema A = B, dan C = A, maka C PASTI AKAN SAMA DENGAN B, adalah VALID, maka, proposisi diatas sulit dianggap TIDAK BENAR.

    Didalam SILOGISME AGAMA seringkali hal yang seperti itu terjadi.
    LOGIKA AGAMA YANG MENGANDALKAN PREMIS TANPA BUKTI SEBAGAI LANDASAN KESIMPULAN, PADA AKHIRNYA HANYA MENJADI SEBUAH LOGIKA BERPIKIR YANG BENAR SERTA VALID SEBATAS SKEMA LOGIKANYA BELAKA YANG BERBENTUK
    A = B, dan C = A, maka C PASTI AKAN SAMA DENGAN B.

    Salam,
    Tito

    Sekedar sharing ya…

    Ini obrolan ringanku dengan seorang ibu yang kebetulan bertemu dan kenalan sekilas. Kebiasaanku jika ketemu kenalan baru, kunikmati cerita-cerita mereka yang disampaikan ringan dan berkesan sekilas. Yaach… emang siih… ringan dan yang bercerita juga tanpa kesan ngarang kisah tersebut. Toch juga ngak ada benefit baginya untuk ngarang cerita, bukan?

    Walau… bagi diriku sebagai pendengarnya. Diriku terpana dan membuatku berpikir.
    Kenapa hal demikian begitu sering terdengar terjadi di segala tempat dan waktu? Semua kisah seolah-olah menjadi klise… perbedaannya hanya di pemeran. Lokasi, waktu dan modus dan tokoh pelaku-peran berganti… berbeda di tiap kisah. Tapi Inti-Kisah tetap SAMA.

    Om Tito mau bahas teorinya? Om Swan? Om3? Atau visitors lain?
    Silahkan looh…..
    *> Disclaimer: Penulisan Lokasi hanya untuk memberi referensi tentang “background” socio-culture-economic system yang berlaku untuk komuniatas ini. Jumlah anak-asuh dan profesi tidak valid, hanya untuk gambaran global strata keluarga ini di komunitasnya. Anak-asuh di kisah ini berarti anak yang di asuh bagai ANAK sendiri. Bukan anak “panti-asuhan”.

    Singkat cerita, ibu ini adalah salah satu anak asuh dari Keluarga “berada” di Jawa Barat. Dulu keluarga ini memiliki penghasilan dari sawah dan kebun dan profesi kepala keluarga sebagai kontraktor bangunan. Cukup berada untuk memiliki anak-asuh hingga sekitar 30an anak. Latar belakang anak asuh; ada yang merupakan anak terlantar yang tidak jelas orang tuanya, ada yang merupakan bayi dari keluarga miskin yang dititipkan (kata halus dari disingkirkan) ke keluarga ini.

    Perjalanan waktu berlalu, semua anak diasuh sejak bayi hingga selesai KULIAH. Kecuali anak-asuh wanita satu-satunya hanya TAMAT SMP. Karena dirinya anak wanita satu-satunya, yang tidak pernah diketahui siapa orang tua biologisnya. Dan juga karena wanita ini lebih senang bertani dan berkebun dan ngurus keluarga asuhnya, ketimbang lanjutkan sekolah. (note: pada bagian ini, kuragukan kebenarannya. Justru ku pikir alasan sebenarnya adalah karena TAHU DIRI sebagai anak wanita dan anak-asuh yang hidup di kampung).

    Saat ini sang anak wanita telah berusia mendekati paruh baya. Pernah menjadi TKW di beberapa Negara Timur Tengah. Kembali karena menikah dan membangun keluarga di Indonesia, dan bersama dengan suaminya bekerja cukup untuk hidup dan cukup untuk selalu berkunjung dan berbagi sedikit dengan Ibu Asuh yang telah mendekati 1 abad usianya.

    Janda tua yang hidup sendiri dari hasil sawah dan kebun yang semakin berkurang. Setelah semua (30an) anak asuhnya menjadi sarjana dan masing-masing dibekali satu Mobil untuk modal kerja awal. Tidak ada dari para pria itu yang kembali untuk visit dan memperkenalakn istri dan keluarga mereka. Jangankan memberi sedikit peringan kehidupan untuk sang ibu asuh yang semakin renta, malah di antara 30an pria itu.. jika kembali ke kampung dan bertamu ke rumah ibu asuhnya, hanya untuk meng”ambil” tanpa ijin dan permisi berkarung-karung gabah kering hasil panen sang ibu asuh. Belum lagi perangkat tembaga kuno (tepolong anting, set untuk nyirih, belangga, perangkat masak, etc) di ANGKUT sedikit demi sedikit tanpa sepengetahuan sang Ibu Asuh.
    Hebatnya lagi, slip-bukti-iuran tanah-sawah di”ambil” dari lemari sang ibu Asuh, dan di jual begitu saja tanpa ijin. Nah… gimana ngak makin habis ajah tanah sawah dan kebun sang Ibu Asuh?

    Kalau dari cerita ini, hanya sang anak asuh wanita satu-satunya yang masih berkunjung periodic ke kampung demi membayar “helper” untuk bantu-bantu menjaga kesehatan sang ibu. Toh sang ibu yang juga sudah mendekati separuh abad ini perlu kembali ke ibukota untuk bekerja mencari nafkah.

    Pertanyaanku; (jawab yg ringan ajah yach, toch saya ngk cross check kebenaran kisah ini. Walau kupercaya sekian %, karena saking klisenya kisah demikian).

    *> Normalkah kelakuan para anak-asuh yang telah dirawat sejak bayi hingga lulus kuliah dan diberi modal kerja awal berupa SATU MOBIL

    **> Apakah jika sang Ibu Asuh tidak pernah meminta return, lalu para anak asuh berhak berlaku demikian?

    ***> Wajarkah tingkah polah para anak-asuh yang diasuh dalam keluarga “religious”, komunitas “religious” dan tentunya mereka ber-KTP “religious” ini?

    ****> Di mana nilai or makna yang mereka serap dari “religiusitas” mereka yang setidaknya noted di KTP?

    Pertanyaanku masih banyak. Tapi udah ya… sementara ini ajah buat di bahas.
    Silahkan juga kalau mau bahas dengan cara A, B, C …hahahahahaha…


    Daaaag….


    Note:
    Ku pikir justru akan lebih menarik jika kisah ini dibahas dari segi etos kerja (sarjana, modal awal MOBIL) dan kemandirian (kembali ke rumah hanya untuk ambil harta, krn ternyata lebih banyak yg malah back to square).
    Pola Asuh dan pembentukan karakter individu.
    Last edited by agatha; 16-06-12 at 05:24 PM.

  4. #6174
    Member
    Join Date
    May 2012
    Posts
    684
    Rep Power
    6

    Re: Problematika Globalisasi: Dunia di Dalam Ancaman Puritanisme

    Cerite nyang jeng Agatha tuliskan ane percaye biar gak semuenye bener kerne ade temen ane nyang ortunye ngalamin bahkan dg anak kandung sendiri..
    Jadi secare akal sehat yah gak normal, tapi kalo dilihat kejadiannye normal2 aje apelagi ntu cume anak asuh nyang anak asli aje gitu...
    kalo dihubung hubungin ame agame, ya ntu balik lagi kayak mister Tito bilang """ pemuke agamenye gak ngajarin dg bener """"
    segitu dulu nyang ane bise jawab jeng..

  5. #6175
    Member tom percy's Avatar
    Join Date
    Oct 2010
    Location
    Bandung, Flower City
    Posts
    823
    Rep Power
    5

    Re: Problematika Globalisasi: Dunia di Dalam Ancaman Puritanisme

    Santai Sejenak














    Last edited by tom percy; 17-06-12 at 11:11 PM.
    Dalam hidup dan nafasku ada harummu

  6. #6176
    Contributor artemis's Avatar
    Join Date
    Oct 2008
    Posts
    4,030
    Rep Power
    14

    Re: Problematika Globalisasi: Dunia di Dalam Ancaman Puritanisme

    Quote Originally Posted by agatha View Post
    Sekedar sharing ya…

    Ini obrolan ringanku dengan seorang ibu yang kebetulan bertemu dan kenalan sekilas. Kebiasaanku jika ketemu kenalan baru, kunikmati cerita-cerita mereka yang disampaikan ringan dan berkesan sekilas. Yaach… emang siih… ringan dan yang bercerita juga tanpa kesan ngarang kisah tersebut. Toch juga ngak ada benefit baginya untuk ngarang cerita, bukan?

    Walau… bagi diriku sebagai pendengarnya. Diriku terpana dan membuatku berpikir.
    Kenapa hal demikian begitu sering terdengar terjadi di segala tempat dan waktu? Semua kisah seolah-olah menjadi klise… perbedaannya hanya di pemeran. Lokasi, waktu dan modus dan tokoh pelaku-peran berganti… berbeda di tiap kisah. Tapi Inti-Kisah tetap SAMA.

    Om Tito mau bahas teorinya? Om Swan? Om3? Atau visitors lain?
    Silahkan looh…..
    *> Disclaimer: Penulisan Lokasi hanya untuk memberi referensi tentang “background” socio-culture-economic system yang berlaku untuk komuniatas ini. Jumlah anak-asuh dan profesi tidak valid, hanya untuk gambaran global strata keluarga ini di komunitasnya. Anak-asuh di kisah ini berarti anak yang di asuh bagai ANAK sendiri. Bukan anak “panti-asuhan”.

    Singkat cerita, ibu ini adalah salah satu anak asuh dari Keluarga “berada” di Jawa Barat. Dulu keluarga ini memiliki penghasilan dari sawah dan kebun dan profesi kepala keluarga sebagai kontraktor bangunan. Cukup berada untuk memiliki anak-asuh hingga sekitar 30an anak. Latar belakang anak asuh; ada yang merupakan anak terlantar yang tidak jelas orang tuanya, ada yang merupakan bayi dari keluarga miskin yang dititipkan (kata halus dari disingkirkan) ke keluarga ini.

    Perjalanan waktu berlalu, semua anak diasuh sejak bayi hingga selesai KULIAH. Kecuali anak-asuh wanita satu-satunya hanya TAMAT SMP. Karena dirinya anak wanita satu-satunya, yang tidak pernah diketahui siapa orang tua biologisnya. Dan juga karena wanita ini lebih senang bertani dan berkebun dan ngurus keluarga asuhnya, ketimbang lanjutkan sekolah. (note: pada bagian ini, kuragukan kebenarannya. Justru ku pikir alasan sebenarnya adalah karena TAHU DIRI sebagai anak wanita dan anak-asuh yang hidup di kampung).

    Saat ini sang anak wanita telah berusia mendekati paruh baya. Pernah menjadi TKW di beberapa Negara Timur Tengah. Kembali karena menikah dan membangun keluarga di Indonesia, dan bersama dengan suaminya bekerja cukup untuk hidup dan cukup untuk selalu berkunjung dan berbagi sedikit dengan Ibu Asuh yang telah mendekati 1 abad usianya.

    Janda tua yang hidup sendiri dari hasil sawah dan kebun yang semakin berkurang. Setelah semua (30an) anak asuhnya menjadi sarjana dan masing-masing dibekali satu Mobil untuk modal kerja awal. Tidak ada dari para pria itu yang kembali untuk visit dan memperkenalakn istri dan keluarga mereka. Jangankan memberi sedikit peringan kehidupan untuk sang ibu asuh yang semakin renta, malah di antara 30an pria itu.. jika kembali ke kampung dan bertamu ke rumah ibu asuhnya, hanya untuk meng”ambil” tanpa ijin dan permisi berkarung-karung gabah kering hasil panen sang ibu asuh. Belum lagi perangkat tembaga kuno (tepolong anting, set untuk nyirih, belangga, perangkat masak, etc) di ANGKUT sedikit demi sedikit tanpa sepengetahuan sang Ibu Asuh.
    Hebatnya lagi, slip-bukti-iuran tanah-sawah di”ambil” dari lemari sang ibu Asuh, dan di jual begitu saja tanpa ijin. Nah… gimana ngak makin habis ajah tanah sawah dan kebun sang Ibu Asuh?

    Kalau dari cerita ini, hanya sang anak asuh wanita satu-satunya yang masih berkunjung periodic ke kampung demi membayar “helper” untuk bantu-bantu menjaga kesehatan sang ibu. Toh sang ibu yang juga sudah mendekati separuh abad ini perlu kembali ke ibukota untuk bekerja mencari nafkah.

    Pertanyaanku; (jawab yg ringan ajah yach, toch saya ngk cross check kebenaran kisah ini. Walau kupercaya sekian %, karena saking klisenya kisah demikian).

    *> Normalkah kelakuan para anak-asuh yang telah dirawat sejak bayi hingga lulus kuliah dan diberi modal kerja awal berupa SATU MOBIL

    **> Apakah jika sang Ibu Asuh tidak pernah meminta return, lalu para anak asuh berhak berlaku demikian?

    ***> Wajarkah tingkah polah para anak-asuh yang diasuh dalam keluarga “religious”, komunitas “religious” dan tentunya mereka ber-KTP “religious” ini?

    ****> Di mana nilai or makna yang mereka serap dari “religiusitas” mereka yang setidaknya noted di KTP?

    Pertanyaanku masih banyak. Tapi udah ya… sementara ini ajah buat di bahas.
    Silahkan juga kalau mau bahas dengan cara A, B, C …hahahahahaha…


    Daaaag….


    Note:
    Ku pikir justru akan lebih menarik jika kisah ini dibahas dari segi etos kerja (sarjana, modal awal MOBIL) dan kemandirian (kembali ke rumah hanya untuk ambil harta, krn ternyata lebih banyak yg malah back to square).
    Pola Asuh dan pembentukan karakter individu.
    Agatha, jujur nih gw... (kenapa gw ngegombal ya?) semua itu peristiwa dan pengambilan ataupun pengalihan secara diam-diam kadang dianggap sebagai hak. taken for granted.
    menjadi kebiasaan kita taken for granted of everything. layaknya kita anggap hak kita bahwa matahari selalu bersinar, adalah hak kita kalo panas, musti turun hujan.

    pagi-pagi kukasi lagu aja deh....

    "The Book Of My Life"---Sting

    Let me watch by the fire and remember my days
    And it may be a trick of the firelight
    But the flickering pages that trouble my sight
    Is a book I'm afraid to write

    It's the book of my days, it's the book of my life
    And it's cut like a fruit on the blade of a knife
    And it's all there to see as the section reveals
    There's some sorrow in every life

    If it reads like a puzzle, a wandering maze
    Then I won't understand 'til the end of my days
    I'm still forced to remember,
    Remember the words of my life

    There are promises broken and promises kept
    Angry words that were spoken, when I should have wept
    There's a chapter of secrets, and words to confess
    If I lose everything that I possess
    There's a chapter on loss and a ghost who won't die
    There's a chapter on love where the ink's never dry
    There are sentences served in a prison I built out of lies.

    Though the pages are numbered
    I can't see where they lead
    For the end is a mystery no-one can read
    In the book of my life

    There's a chapter on fathers a chapter on sons
    There are pages of conflicts that nobody won
    And the battles you lost and your bitter defeat,
    There's a page where we fail to meet

    There are tales of good fortune that couldn't be planned
    There's a chapter on god that I don't understand
    There's a promise of Heaven and Hell but I'm damned if I see

    Though the pages are numbered
    I can't see where they lead
    For the end is a mystery no-one can read
    In the book of my life

    Now the daylight's returning
    And if one sentence is true
    All these pages are burning
    And all that's left is you

    Though the pages are numbered
    I can't see where they lead
    For the end is a mystery no-one can read
    In the book of my life
    This is not a black and white world; you can't afford to believe in your side

  7. #6177
    Contributor Swan's Avatar
    Join Date
    Dec 2008
    Location
    Surabaya & Australia
    Posts
    4,399
    Rep Power
    15

    Re: Problematika Globalisasi: Dunia di Dalam Ancaman Puritanisme

    Quote Originally Posted by -Tito- View Post
    Mulai agak terpengaruh sedikit aku gara gara Iniesta memberikan 4 (empat) 'assists' bagi kemenangan Tim Spanyol 4-0.
    Akh, lebih baik tidur.
    HANYA ORANG GILA SAJA YANG MAU SUSAH MELEK NONTON BOLA....
    Hahahahaha........

  8. #6178
    Contributor Swan's Avatar
    Join Date
    Dec 2008
    Location
    Surabaya & Australia
    Posts
    4,399
    Rep Power
    15

    Re: Problematika Globalisasi: Dunia di Dalam Ancaman Puritanisme

    Quote Originally Posted by -Tito- View Post
    Bagus juga fotonya, Busquets ketahuan ngintip....
    Ah... LEBAY ALAY dia itu... Kalau Robben itu si kaki kaca, si Busqi ini boleh aku katakan si tubuh kaca.

  9. #6179
    Contributor Swan's Avatar
    Join Date
    Dec 2008
    Location
    Surabaya & Australia
    Posts
    4,399
    Rep Power
    15

    Re: Problematika Globalisasi: Dunia di Dalam Ancaman Puritanisme

    Quote Originally Posted by -Tito- View Post

    Masalahnya, didalam LOGIKA SILOGIS ini, seringkali kendatipun KEDUA PREMIS DAN KESIMPULANNYA TIDAK BENAR, NAMUN BENTUK SKEMA LOGIKANYA VALID yaitu A = B, dan C = A, maka C PASTI AKAN SAMA DENGAN B, pada akhirnya menimbulkan banyak kebingungan. Contoh:
    Premis Mayor: SEMUA KERA BEREKOR SEPULUH.
    Premis Minor: TITO SEEKOR KERA.
    KESIMPULAN: TITO BEREKOR SEPULUH.
    Dari contoh diatas kita menjadi tahu, bahwa, walaupun KEDUA PREMIS DAN KESIMPULANNYA SALAH, tetapi, LOGIKA BERPIKIRNYA yang berskema A = B, dan C = A, maka C PASTI AKAN SAMA DENGAN B, adalah VALID, maka, proposisi diatas sulit dianggap TIDAK BENAR.

    Didalam SILOGISME AGAMA seringkali hal yang seperti itu terjadi.
    LOGIKA AGAMA YANG MENGANDALKAN PREMIS TANPA BUKTI SEBAGAI LANDASAN KESIMPULAN, PADA AKHIRNYA HANYA MENJADI SEBUAH LOGIKA BERPIKIR YANG BENAR SERTA VALID SEBATAS SKEMA LOGIKANYA BELAKA YANG BERBENTUK
    A = B, dan C = A, maka C PASTI AKAN SAMA DENGAN B.

    Salam,
    Tito
    Benar Tito, dalam ideologi keagamaan, SKEMA LOGIKA nya sudah urut / valid. TAPI PREMIS nya yang tidak dapat dibuktikan (entah itu kebenaran DATA nya, ataupun HIPOTESIS sebagai dasar kerangka ilmiah yang bisa dipertanggung jawabkan). Maka Premis yang satu akan bertemu dengan Premis lainnya (sama-sama tidak valid), maka akan menghasilkan kesimpulan yang TIDAK VALID juga (tidak bisa dipertanggung jawabkan).

  10. #6180
    Contributor Swan's Avatar
    Join Date
    Dec 2008
    Location
    Surabaya & Australia
    Posts
    4,399
    Rep Power
    15

    Re: Problematika Globalisasi: Dunia di Dalam Ancaman Puritanisme

    Quote Originally Posted by tom percy View Post
    kulihat kita memiliki persepsi yang sama tentang Premis. mungkin karena basis kita yang sama2 eksakta.
    tulisan yang dikembangkan Tito lebih memokuskan pada persoalan logika hukum berpikir, ini yang tidak kita kenal pada ilmu2 eksakta.

    hanya saja aku berpikir...kalau sudah tau salah, untuk apa sibuk diurusin lagi?
    aku membaca buku WHO MADE GOD? (tapi berhenti dulu dan membaca buku lain tentang Sastra Injil)
    Ini semua FILSAFAT. menarik memang tapi kemudian kusimpulkan bahwa pemikiran2nya berdiri di atas
    Premis2 yang lemah.

    Asumsi di atas Asumsi.

    salam
    Mengenai premis matematika, itu pasti berlaku universal. Maka nya saya katakan, kita akan dengan mudah mengkoreksi jawaban yang salah dalam sebuah hitungan kalkulus, dalam matematika TIDAK ADA KLAIM SEPIHAK. Dan disatu sisi kita akan kesulitan jika menemukan kesimpulan yang salah pada sebuah ideologi keagamaan (meskipun skema logika nya sama dengan Premis major dan Premis minor yang telah dibahas), ini karena dalam ideologi terdapat KLAIM SEPIHAK.

    Jika salah menghitung hitungan tekhnis pada jembatan misalkan, maka kesimpulannya hanya ada dua: Pasti akan rubuh, atau bertahan agak lama dan suatu saat juga pasti rubuh. Maka kesimpulan matematis ini menggenapi PREMIS SEBELUM nya.

    Salam.
    Last edited by Swan; 18-06-12 at 11:31 AM.
    artemis likes this.

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •  

Content Relevant URLs by vBSEO 3.6.0