Like Tree555Likes

Thread: Problematika Globalisasi: Dunia di Dalam Ancaman Puritanisme


  1. #6331
    Advisor Cicilia, FL, + ND, USA's Avatar
    Join Date
    Feb 2008
    Posts
    3,933
    Rep Power
    17

    Re: Problematika Globalisasi: Dunia di Dalam Ancaman Puritanisme

    Quote Originally Posted by agatha View Post
    Iya.... setuju.
    Leader yang sanggup menggerakkan sekumpulan orang, ribuan bahkan lebiiih ..pastinya memiliki yang namanya KHARISMA! Aura Pemimpin.

    dan.... kaenyataannya mereka sanggup menggerakkan pasukan bebek yang akan membebek apapun yang disampaikan dan diperintahkan oleh sang PEMIMPIN.

    Ingat permainan masa kecil: "Follow the leader?"
    ..begitulah... ;
    yg di depan pegang hidung... semua peserta ikutan pegang hidung...
    yg di depan melompat satu langkah ke samping... semua ikutan juga

    duuh.. senangnya permainan masa kecil...
    But... jika saat ini APA MAU? ikuti apa kata leader tanpa "kritis mikir lebih lanjut"?
    Lmao...Yang ini sih berdasarkan pencucian otak, manusia seperti ini sudah jadi robot yang masih menghirup udara di alam yang nyata...lol...=)
    Regards...=)

  2. #6332
    Advisor Cicilia, FL, + ND, USA's Avatar
    Join Date
    Feb 2008
    Posts
    3,933
    Rep Power
    17

    Re: Problematika Globalisasi: Dunia di Dalam Ancaman Puritanisme

    Quote Originally Posted by artemis View Post
    Mengikuti Mambo, Tito dan Agatha soal kepribadian dan menjadi bukan memiliki... kemarin sempat juga meninjau beberapa kasus yang akhirnya menjadi apa yang disebutkan organisasi berbahaya dengan pimpinan yang berbahaya juga.

    David Koresh (Waco siege,1995), Aum Shinrikyo (Gas Sarin, 1995), Uganda (2000), dan masih banyak lagi lainnya.
    Pimpinan mereka jelas sangat kharismatik, memiliki sesuatu yang boleh kita sebut sebagai faktor X; tetapi secara bottom line memang pada akhirnya mirip organised crime.
    Yepp...Masih banyak lagi, coba tunjukan dari negara TT/padang pasir, dan juga SEA...=)

    Regards...=)

  3. #6333
    Senior Member -Tito-'s Avatar
    Join Date
    Jun 2011
    Posts
    1,911
    Rep Power
    10

    Re: Problematika Globalisasi: Dunia di Dalam Ancaman Puritanisme

    Quote Originally Posted by Air Mata View Post
    Apakah itu artinya berbuat kebaikan pada sesama, sebenarnya adalah bentuk hasrat seksual yang "diselewengkan" bentuknya oleh psikologi seseorang, supaya hasrat seksual dalam bentuknya yang "tidak berbudaya" tersebut, bisa terpenuhi, namun dalam bentuk yang lebih bisa diterima oleh masyarakat?

    Seperti bayi yang menghisap ibu jarinya, saat merasa lapar?

    Apakah bentuk-bentuk manifestasi turunan dari hasrat agresi dan seksualitas yang "berbudaya" ini, bisa lebih memuaskan daripada memenuhi hasrat tersebut dalam bentuknya yang asli?

    ADD:: Kebetulan baca artikel di trit sebelah:
    Insiden Brutal! Joker Bantai 12 Orang di Premier 'The Dark Knight Rises'

    Jadi tertarik mendengar kajian psikologis dari pelaku, dihubungkan dengan hasrat agrefis dan seksual dalam diri manusia.
    Airy.

    Dikarenakan kamu tertarik dengan kajian Psikologi yang dikaitkan dengan perbuatan James Holmes barusan, maka ada baiknya aku tampilkan ulang tulisanku pada Trit yang kamu sebutkan diatas:

    Izinkan saya memberikan sekelumit tanggapan terkait pembahasan yang tengah dikupas pada trit ini.
    Sampai saat ini, dari berbagai sumber media yang kita baca, belum ada satupun laporan yang menyatakan bahwa ada latar belakang IDEOLOGI, baik itu politis maupun keyakinan, yang mendorong James Holmes melakukan pembantaian massal tersebut. Dengan demikian, sejauh ini, dapatlah kiranya kita mengenyampingkan alasan IDEOLOGI yang menjadi pemicu keatas terjadinya peristiwa tragis di Aurora, Colorado itu. Bila sampai saat ini tidak ditemukan adanya faktor IDEOLOGIS yang menjadi alasan bagi James Holmes untuk melakukan pembantaian itu, maka, tidak keliru apabila kemudian kita berkesimpulan bahwa ada masalah KEJIWAAN yang diderita oleh sipelaku sehingga ia dapat melakukan perbuatan brutal tersebut.

    Sebelum sampai kepada kesimpulan yang berkaitan dengan masalah KEJIWAAN sipelaku, selalu akan dilakukan pemeriksaan NEUROLOGI terlebih dahulu untuk menemukan ada tidaknya pengaruh OBAT, NARKOTIKA atau PENYAKIT seperti TUMOR dibagian OTAK-nya. Bila memang ditemukan adanya jejak salah satu dari beberapa hal diatas, teristimewa NARKOBA, maka sipelaku biasanya akan mendapatkan eksaminasi lanjutan berupa pemeriksaan kesehatan KEJIWAAN yang lebih detil. Lain halnya apabila didalam pemeriksaan Neurologi itu ditemukan adanya sejenis PENYAKIT atau TUMOR yang mengganggu kinerja OTAK, yang mana hal ini akan berpengaruh besar dan bahkan dapat memberikan banyak keringanan hukuman bagi James Homes didalam persidangannya kelak.

    Bila kemudian tidak ditemukan adanya masalah NARKOBA, ALKOHOL atau TUMOR OTAK yang menjadi sumber pemicu dari perbuatan keji itu, barulah dapat disimpulkan bahwa James Holmes memang tengah mengalami NEUROSIS, yaitu PENYAKIT SARAF YANG TIDAK DISEBABKAN OLEH KERUSAKAN ORGAN OTAKNYA. Disini, Psikolog yang memeriksanya harus ekstra hati hati bagi menentukan JENIS dari PENYAKIT SARAF James Holmes itu, karena, untuk mengklasifikasikan JENIS PATOLOGI yang diderita sipelaku, Psikolog mesti melakukan pemeriksaan yang sangat teliti, komprehensif, mendalam terhadap kehidupan dan perilaku James Holmes mulai dari masa kanak kanak sampai dia dewasa.

    Mengamati kejadian barusan, saya menduga bahwa James Holmes adalah seorang PSIKOPAT.
    Harap dipahami, bahwa ada perbedaan yang mendasar antara PSIKOPAT dan PSIKOTIK. Perbedaan itu terletak dari KEMAMPUAN kedua penyandang penyakit NEUROSIS itu didalam hal MENYERAP REALITA. PSIKOPAT adalah Pribadi yang JIWANYA TERPECAH kedalam berbagai FRAGMEN, dimana pada satu sisi dia bisa menyerupai MANUSIA NORMAL yang TERLIBAT AKTIF didalam KEHIDUPAN SOSIAL, menjadi SUAMI YANG BAIK, KARYAWAN YANG RAJIN, MAHASISWA YANG TEKUN, AKTIVIS PARTAI YANG CEMERLANG dan sebagainya, namun, pada sisi lainnya, dia memiliki KEHIDUPAN LAIN yang BERTOLAK BELAKANG dengan KEHIDUPAN NORMALNYA, namun, dia menganggap keduanya SAMA REALISTISNYA. James Holmes, disatu sisi, secara SOSIAL, adalah MAHASISWA MAPAN YANG CERDAS, yang dengannya dia mampu HIDUP BERSOSIALISASI dengan AKTIVITAS KAMPUS, namun, pada sisi lain, DIA JUGA YAKIN BAHWA DIRINYA ADALAH SANG JOKER, musuh utama Batman. Jadi, ada 2 (dua) Pribadi yang HIDUP didalam DIRINYA, dan biasanya, sebagaimana Ted Bundy, para PSIKOPAT yang seperti ini akan berubah menjadi DESTRUKTIF dan AGRESIF dikarenakan OBSESI mereka kepada PERAN OTORITATIF.

    OBSESI kepada PERAN OTORITATIF yang seolah olah menempatkan dirinya sebagai seseorang yang BERKUASA keatas KEHIDUPAN ORANG LAIN ini, dapat ditelusuri jejaknya ketika si PSIKOPAT masih kanak kanak, disaat dimana ia MENYERAP semua PENGALAMAN MASA KECILNYA YANG PAHIT DULU. Jenis NEUROSIS ini memang ada hubungannya dengan MEKANISME REGRESI, yaitu, kembalinya sipelaku kedalam kehidupan masa kecilnya, yang mungkin sering mengalami pengalaman buruk berupa penyiksaan, pelecehan seksual, penelantaran dan sebagainya. REGRESI ITU DIPICU OLEH PENGALAMAN BURUK MASA KECIL SEHINGGA IA MENJADI MEKANISME UNTUK MELARIKAN DIRI. REGRESI INI MENGHADIRKAN ILUSI DIALAM PIKIRAN SEMENJAK IA MASIH KANAK KANAK, SUATU DUNIA ILUSI DIMANA IA MERASA NYAMAN, AMAN, TERLINDUNG DAN TAK TERKALAHKAN. ILUSI ini adalah suatu DUNIA dimana ia selalu BERLARI untuk MENGHIBUR DIRINYA DARI DERAAN YANG MENYIKSA BATIN TERSEBUT. Ketika dewasa, RASA SAKIT didalam diri tersebut, menjadi tak terbendung tatkala adanya PEMICU yang sifatnya sangat SITUASIONAL.

    James Holmes atau Ted Bundy, sebelum 'mengamuk' menjadi PSIKOPAT BENGIS adalah Pribadi MANIS yang menyenangkan. Angan mereka masih lagi tersimpan dialam BAWAH SADARNYA. Monster yang bengis itu, masih JINAK, karena memang KESADARANNYA masih mengontrol penuh PIKIRANNYA. Sampai kemudian masalah STUDI, seperti yang terjadi pada diri James Holmes, membuatnya SENEWEN dan FRUSTRASI, lalu, tak terhindarkan, MONSTER JAHAT YANG SELAMA INI TIDUR DIALAM BAWAH SADARNYA BANGUN DAN TAK DAPAT DIKENDALIKAN LAGI. Demikian pula Ted Bundy. Kehidupan PERNIKAHAN Ibunya yang AMBURADUL, ayah tirinya yang ALKOHOLIK, penyiksa dan sering pula MEMPERKOSA Ibunya didepan matanya, meninggalkan LUKA yang DALAM didalam JIWA mudanya. KEBENCIAN itu DITEKAN sedemikian rupa DIBAWAH ALAM SADARNYA sampai ia tumbuh dewasa. Sepertinya ia mendapatkan kehidupan NORMAL, yakni menjadi AKTIVIS PARTAI REPUBLIK, PEKERJA YANG BRILIAN dan TETANGGA YANG SANTUN. Sampai kemudian CINTA PERTAMANYA HANCUR BERANTAKAN. Dia Berupaya mengubahnya, namun GAGAL. Dia berusaha untuk melakukan RUJUK serta REKONSILIASI, tetap juga GAGAL. Hal ini, mungkin lebih disebabkan oleh KEPRIBADIANNYA yang SULIT, sehingga KEKASIHNYA enggan untuk kembali. PATAH HATI. Dia SAKIT, lalu, dalam semalam, dia BERUBAH MENJADI MONSTER YANG TAK TERKENDALI LAGI. Ted Bundy MENGAMUK, dan sebagai akibatnya, puluhan WANITA menjadi korban kebiadabannya. Para PSIKOPAT hanya membutuhkan PEMICU, yang bisa saja sangat SITUASIONAL sifatnya, untuk secara MENDADAK membuat mereka berubah menjadi MONSTER.

    Sementara PSIKOTIK adalah GELANDANGAN YANG SUKA BERBICARA SENDIRI.
    Dia sepenuhnya HIDUP DIALAM FANTASINYA. Para PSIKOPATIK ini TIDAK LAGI DAPAT HIDUP MEMBAUR DENGAN KEHIDUPAN SOSIAL SEBAGAIMANA UMUMNYA MANUSIA NORMAL, KARENA, DUNIANYA SUDAH TERPISAH JAUH. PSIKOPATIK TIDAK BERBAHAYA, HANYA SAJA, MEREKA MENGGANGGU.

    Semoga penjelasan ini dapat bermanfaat.

    Salam,
    Tito
    -It is better to be Socrates dissatisfied than a fool satisfied-


  4. #6334
    Senior Member -Tito-'s Avatar
    Join Date
    Jun 2011
    Posts
    1,911
    Rep Power
    10

    Re: Problematika Globalisasi: Dunia di Dalam Ancaman Puritanisme

    Quote Originally Posted by agatha View Post
    Setuju dengan -->
    " PSIKOLOGI memberikan arah baru terhadap FILSAFAT PIKIRAN dengan sebuah PENEGASAN bahwa JIWA ADALAH PIKIRAN DAN TIDAK ADA PEMISAHAN ANTARA JIWA (PIKIRAN) TERSEBUT DENGAN OTAK MANUSIA. "

    Walau akan ada perdebatan tentang JIWA yang tidak MUSNAH, walau OTAK berhenti berfungsi.
    Bukankah ada yang berpendapat JIWA adalah KEKAL dan tidak ikut musnah disaat otak manusia "tidak berfungsi"?.... Mereka berpendapat JIWA manusia berpindah dari satu media (manusia) ke media lain dalam siklus yang berkesinambungan

    Tapi...
    untuk otak mini.. seperti otakku... lebih baik setuju bahwa otak/mind adalah tidak terpisahkan dari heart/jiwa Karena dalil ini lebih mudah dipahami dengan alasan yang masuk akal. Walau.... kadang... mesti tega untuk menegaskan... bahwa... jika otak manusia sudah tidak berfungsi, maka sebenarnya "jiwa" nya sudah tidak-ada.

    Tadi pagi... ku baca artikel di media cetak..
    Kurang lebih.... menyatakan.. bahwa Jika manusia sering menekan/mengabaikan "empati" di hatinya, maka ada kecendrungan manusia tersebut lama kelamaan akan menjadi raja-tega
    Manusia dingin ..minus empati.... minus nurani
    Tha.

    FILSAFAT PIKIRAN muncul lebih dikarenakan adanya perdebatan seputar masalah JIWA.
    Hal ini diawali oleh adanya pemahaman TEOLOGIS yang menyatakan bahwa JIWA itu KEKAL dan TERPISAH dari TUBUH. Mungkin Descartes adalah seorang penganut paham Thomis, yaitu suatu aliran Filsafat Teologia yang dipelopori oleh Thomas Aquinas yang banyak berbicara tentang JIWA YANG KEKAL ini, sehingganya ia setuju dengan pandangan itu (?). Sebenarnya, dengan argumentasi RASIONALITASNYA sendiri, Descartes tidaklah sepenuhnya mengadopsi pemahamab JIWA ala Thomis yang bersifat SUPRANATURAL itu, sebaliknya, ia membangun TEORI tentang DUALISME TUBUH dan JIWA itu lebih dikarenakan oleh kesulitannya untuk menjelaskan SIFAT serta KARAKTER dari PROPERTI MENTAL seperti INTUISI, EMOSI, HASRAT, SPIRITUALITAS dan sebagainya itu sebagai BAGIAN dari OTAK.

    Sebagaimana yang kita tahu, FILSAFAT RASIONALITAS Descartes, secara garis besar menyatakan bahwa SUMBER DARI KEBENARAN ITU BERASAL DARI OTAK. Disini, yang dimaksud dengan OTAK oleh Descartes itu adalah KINERJA PROSES BERPIKIR DENGAN MENGGUNAKAN HUKUM HUKUM TERTENTU, YANG MENURUTNYA BERSIFAT MATEMATIS-GEOMETRI, SEHINGGA KEBENARAN ITU DAPAT DISIMPULKAN. Jadi, bagi Descartes, KEBENARAN itu adalah UPAYA PROSES BERPIKIR DENGAN MENGGUNAKAN EKSPERIMEN DAN PELBAGAI ANALISIS BERDASARKAN HUKUM HUKUM YANG TELAH DITETAPKAN KEATASNYA.

    Yang menjadi masalah bagi Descartes adalah KEHADIRAN PROPERTI MENTAL seperti INTUISI, HASRAT atau EMOSI, dimana kesemua hal yang disebutkan barusan SELALU HADIR PERSIS SAMA, yang berarti SAMA BENARNYA SECARA UNIVERSAL antara satu MANUSIA dengan MANUSIA lain, tidak perduli seberapa BODOH atau PINTAR seseorang itu, kesemua PROPERTI MENTAL itu sama sekali TIDAK MELALUI ANALISIS DAN PROSES BERPIKIR UNTUK MENJADI BENAR. Hal inilah yang menimbulkan DILEMA bagi Descartes, sehingga ia lalu, secara BRILIAN memisahkan PROPERTI MENTAL itu yang dianggapnya sebagai PIKIRAN yang KEKAL dan TAK DAPAT RUSAK serta bersifat SUPRA, dengan OTAK yang adalah merupakan bagian TUBUH.

    Bagi Kaum EMPIRIS seperti Hume atau Hobbes, sudah tentu kesimpulan ini menjadi bulan-bulanan.
    Menurut mereka, bagaimanakah mungkin seorang RASIONALIS yang terkenal dengan HUKUM dan ANALISIS MATEMATISNYA seperti Descartes dapat memahami sebuah ENTITAS yang TAK BERWUJUD seolah sebagai sebuah MATERI KONKRIT? Ini ANOMALI, apalagi apabila ia berbicara tentang JIWA yang KEKAL DAN TAK DAPAT RUSAK. Bagi kaum EMPIRIS yang sinis, mereka berpendapat bahwa bila SESUATU itu TIDAK MEMILIKI PROPERTI, MAKA, IA TIDAK MEMILIKI DATA KONKRIT. Jadi, pada titik inilah terletak persoalan itu, sampai kemudian, PSIKOLOGI, istimewanya Freud MAMPU MENGHADIRKAN PROPERTI JIWA ITU SEHINGGA IA DAPAT MENJADI DATA YANG DIUKUR DAN DIANALISIS.

    Salam,
    Tito
    agatha likes this.
    -It is better to be Socrates dissatisfied than a fool satisfied-


  5. #6335
    Senior Member -Tito-'s Avatar
    Join Date
    Jun 2011
    Posts
    1,911
    Rep Power
    10

    Re: Problematika Globalisasi: Dunia di Dalam Ancaman Puritanisme

    Quote Originally Posted by agatha View Post
    Point..bahwa JIWA tidak dapat rusak.. karena GIVEN/ANUGRAH ( Gift dari Sumber Hidup)
    hal ini yang sering kali menjadi Dasar Dalil.. Pembenaran Diri "mereka".
    Dasar Self-Claimed.... muncul dari hal ini
    Agama:
    JIWA, ROH, TUBUH.
    Psikologi:
    JIWA, TUBUH.

    Bagi Descartes, dan kaum Dualisme lainnya, mereka masih sulit untuk memahami wujud dari PROPERTI MENTAL itu, sehingga, diklasifikasikan sebagai bagian dari Jiwa. Sifat SUPRANATURAL dari JIWA itu mungkin disebabkan oleh adanya pemahaman TEOLOGIA mereka yang berbicara tentang ROH tersebut.

    Salam,
    Tito
    agatha likes this.
    -It is better to be Socrates dissatisfied than a fool satisfied-


  6. #6336
    Senior Member -Tito-'s Avatar
    Join Date
    Jun 2011
    Posts
    1,911
    Rep Power
    10

    Re: Problematika Globalisasi: Dunia di Dalam Ancaman Puritanisme

    Quote Originally Posted by artemis View Post
    Mengikuti Mambo, Tito dan Agatha soal kepribadian dan menjadi bukan memiliki... kemarin sempat juga meninjau beberapa kasus yang akhirnya menjadi apa yang disebutkan organisasi berbahaya dengan pimpinan yang berbahaya juga.

    David Koresh (Waco siege,1995), Aum Shinrikyo (Gas Sarin, 1995), Uganda (2000), dan masih banyak lagi lainnya.
    Pimpinan mereka jelas sangat kharismatik, memiliki sesuatu yang boleh kita sebut sebagai faktor X; tetapi secara bottom line memang pada akhirnya mirip organised crime.
    Artie.

    Dunia kita DIKONSTRUKSI secara SEMU.
    DUNIA KITA ADALAH PANGGUNG SANDIWARA DAN SERBA PALSU. Memang ada REALITA OBJEKTIF, namun itupun hanyalah KESEPAKATAN belaka. Didalam DUNIA ORANG GILA, ORANG WARAS AKAN DIANGGAP GILA DAN ORANG GILA AKAN DIANGGAP WARAS. Persoalannya: PARAMETER APAKAH YANG DAPAT KITA PERGUNAKAN UNTUK MENGUKUR SEBUAH KEWARASAN?

    Pertanyaan ini yang sebenarnya menjadi masalah kita.
    Freud hanya sampai kepada ALAM SADAR. Dia, secara ARIF, tidak mengatakan bahwa ALAM SADAR itu BENAR, hanya saja, baginya, PRIBADI YANG BISA MEMAHAMI REALITA ADALAH PRIBADI YANG BERADA DIALAM SADAR. Jadi, Freud sebenarnya sangat RASIONAL. Fromm melangkah lebih jauh lagi. Baginya, SADAR itu TIDAK CUKUP HANYA HIDUP SELARAS DENGAN REALITA, lebih dari itu, KESADARAN ITU HARUS DIBANGUN DARI PEMAHAMAN KEATAS DIRI SENDIRI SEBAGAI ENTITAS YANG PALING BERTANGGUNG JAWAB DIDALAM MEMBENTUK REALITA. Dengan demikian, DUNIA ala Fromm adalah DUNIA HUMANITARIAN KOMUNALISME yang DESENTRALISTIK dan INDIVIDUAL, dimana Individu diharapkan hidup BEBAS MENGATUR DIRINYA DALAM LINGKUNGAN YANG KECIL. Baginya, PERAN PEKERJA DIKOMBINASIKAN DENGAN MENEJER. Sampai disini, Fromm menjadi seorang UTOPIAN, kendatipun dia sepenuhnya dapat dipahami, apalagi, pemahamannya tentang PEMBENTUKAN KARAKTER YANG MANDIRI sangat brilian. Dilain sisi, Jung PESIMIS dengan semua MODEL REALITA yang terikat ETIKA BARAT itu, sehingga, ketika ia berada di India, dia berseru 'mungkin inilah REALITA yang sesungguhnya'. Karena Di India Jung mendapati Kaum Sadhu yang NYENTRIK, dan pelbagai BUDAYA Hinduisme yang MENABRAK seluruh FATSUN tentang kebenaran ETIKA BARAT yang selama ini dia anut. Spinoza lain lagi ceritanya. Baginya, REALITA YANG DIBENTUK BERDASARKAN ETIKA ADALAH PALSU. Derrida, Foucault sampai Habermas, juga menyangsikan REALITA.

    SEMUA INI PALSU. Para KONSTRUKTOR dunia kita ini semuanya mempunyai MOTIF, dan karenanya, SEMU. Lantas, kita harus bagaimana?

    Salam,
    Tito
    Last edited by -Tito-; 23-07-12 at 11:50 PM.
    agatha likes this.
    -It is better to be Socrates dissatisfied than a fool satisfied-


  7. #6337
    Senior Member -Tito-'s Avatar
    Join Date
    Jun 2011
    Posts
    1,911
    Rep Power
    10

    Re: Problematika Globalisasi: Dunia di Dalam Ancaman Puritanisme

    Quote Originally Posted by artemis View Post
    Mengikuti Mambo, Tito dan Agatha soal kepribadian dan menjadi bukan memiliki... kemarin sempat juga meninjau beberapa kasus yang akhirnya menjadi apa yang disebutkan organisasi berbahaya dengan pimpinan yang berbahaya juga.

    David Koresh (Waco siege,1995), Aum Shinrikyo (Gas Sarin, 1995), Uganda (2000), dan masih banyak lagi lainnya.
    Pimpinan mereka jelas sangat kharismatik, memiliki sesuatu yang boleh kita sebut sebagai faktor X; tetapi secara bottom line memang pada akhirnya mirip organised crime.
    Quote Originally Posted by -Tito- View Post
    Artie.

    Dunia kita DIKONSTRUKSI secara SEMU.
    DUNIA KITA ADALAH PANGGUNG SANDIWARA DAN SERBA PALSU. Memang ada REALITA OBJEKTIF, namun itupun hanyalah KESEPAKATAN belaka. Didalam DUNIA ORANG GILA, ORANG WARAS AKAN DIANGGAP GILA DAN ORANG GILA AKAN DIANGGAP WARAS. Persoalannya: PARAMETER APAKAH YANG DAPAT KITA PERGUNAKAN UNTUK MENGUKUR SEBUAH KEWARASAN?

    Pertanyaan ini yang sebenarnya menjadi masalah kita.
    Freud hanya sampai kepada ALAM SADAR. Dia, secara ARIF, tidak mengatakan bahwa ALAM SADAR itu BENAR, hanya saja, baginya, PRIBADI YANG BISA MEMAHAMI REALITA ADALAH PRIBADI YANG BERADA DIALAM SADAR. Jadi, Freud sebenarnya sangat RASIONAL. Fromm melangkah lebih jauh lagi. Baginya, SADAR itu TIDAK CUKUP HANYA HIDUP SELARAS DENGAN REALITA, lebih dari itu, KESADARAN ITU HARUS DIBANGUN DARI PEMAHAMAN KEATAS DIRI SENDIRI SEBAGAI ENTITAS YANG PALING BERTANGGUNG JAWAB DIDALAM MEMBENTUK REALITA. Dengan demikian, DUNIA ala Fromm adalah DUNIA HUMANITARIAN KOMUNALISME yang DESENTRALISTIK dan INDIVIDUAL, dimana Individu diharapkan hidup BEBAS MENGATUR DIRINYA DALAM LINGKUNGAN YANG KECIL. Baginya, PERAN PEKERJA DIKOMBINASIKAN DENGAN MENEJER. Sampai disini, Fromm menjadi seorang UTOPIAN, kendatipun dia sepenuhnya dapat dipahami, apalagi, pemahamannya tentang PEMBENTUKAN KARAKTER YANG MANDIRI sangat brilian. Dilain sisi, Jung PESIMIS dengan semua MODEL REALITA yang terikat ETIKA BARAT itu, sehingga, ketika ia berada di India, dia berseru 'mungkin inilah REALITA yang sesungguhnya'. Karena Di India Jung mendapati Kaum Sadhu yang NYENTRIK, dan pelbagai BUDAYA Hinduisme yang MENABRAK seluruh FATSUN tentang kebenaran ETIKA BARAT yang selama ini dia anut. Spinoza lain lagi ceritanya. Baginya, REALITA YANG DIBENTUK BERDASARKAN ETIKA ADALAH PALSU. Derrida, Foucault sampai Habermas, juga menyangsikan REALITA.

    SEMUA INI PALSU. Para KONSTRUKTOR dunia kita ini semuanya mempunyai MOTIF, dan karenanya, SEMU. Lantas, kita harus bagaimana?

    Salam,
    Tito
    Artie.

    Mungkin kamu ragu dengan penjelasan barusan, tetapi, untuk memudahkanmu menstimulasi semua pernyataan diatas silahkan lakukan renungan terhadap kejadian di Aurora, Colorado tersebut.

    Bila seseorang berada dimedan laga, dimana REALITA yang dihadapinya adalah MEMBUNUH ATAU DIBUNUH, maka, MEMBUNUH SEBANYAK-BANYAKNYA MUSUH (seperti Rambo) adalah perbuatan MULIA dan HEROIK. Tidak akan ada pemeriksaan KEJIWAAN yang berlarut-larut terhadap PATRIOT BANGSA seperti itu, sebaliknya, keseluruhan kisah hidupnya akan diungkapkan kepada khalayak sebangsa setanah air agar tindakan SATRIA yang MEMBUNUHI MUSUH 1 (SATU) BARAK YANG BERJUMLAH 1,000 (SERIBU) ORANG ITU DAPAT DITELADANI. Namun, didalam keadaan DAMAI, dimana orang orang pergi menonton Mid-Night bersama anggota keluarga, kekasih dan kawan lalu DIBUNUHI TANPA AMPUN, maka, sipelaku akan sulit dipahami kondisi KEJIWAANNYA.

    Jadi, ada baiknya kita melakukan SINTESA antara pandangan Freud dan Fromm.
    Freud adalah TESISINYA dan Fromm merupakan ANTITESISNYA.

    Salam,
    Tito
    -It is better to be Socrates dissatisfied than a fool satisfied-


  8. #6338
    Senior Member -Tito-'s Avatar
    Join Date
    Jun 2011
    Posts
    1,911
    Rep Power
    10

    Re: Problematika Globalisasi: Dunia di Dalam Ancaman Puritanisme

    Quote Originally Posted by Air Mata View Post
    Apakah itu artinya berbuat kebaikan pada sesama, sebenarnya adalah bentuk hasrat seksual yang "diselewengkan" bentuknya oleh psikologi seseorang, supaya hasrat seksual dalam bentuknya yang "tidak berbudaya" tersebut, bisa terpenuhi, namun dalam bentuk yang lebih bisa diterima oleh masyarakat?

    Seperti bayi yang menghisap ibu jarinya, saat merasa lapar?

    Apakah bentuk-bentuk manifestasi turunan dari hasrat agresi dan seksualitas yang "berbudaya" ini, bisa lebih memuaskan daripada memenuhi hasrat tersebut dalam bentuknya yang asli?
    Airy.

    SUBLIMASI, atau PENGALIHAN HASRAT PRIMITIF MENJADI SEBUAH PRODUK BUDAYA YANG MULIA, adalah juga merupakan bentuk PEMUASAN HASRAT INSTINGTUAL. Ini seperti ketika seseorang melakukan HUBUNGAN SEKSUAL dengan ISTRINYA. Pribadi itu PUAS karena telah MENUNAIKAN TANGGUNG JAWABNYA SEBAGAI SUAMI, SEBAGAIMANA IA DITUNTUT OLEH MASYARAKAT UNTUK DILAKUKAN, SEKALIGUS HAL ITU JUGA MEMUASKANNYA KARENA MERUPAKAN EKSPRESI DARI HASRAT INSTINGTUALNYA. Hubungan SEKSUAL dengan ISTRI ini memiliki MOTIF, yang bisa disebabkan secara ALMIAH karena TUNTUTAN INSTINGTUAL dan sekaligus juga dikarenakan TUNTUTAN MASYARAKAT yang telah MENYUSUP MENJADI BAGIAN NILAI DIALAM BAWAH SADAR. Yang terakhir ini adalah INTROJEKSI, yaitu PENYUSUPAN SEBUAH NILAI YANG MASUK MELALUI SUPER-EGO KEDALAM ID. Ketika semua ini dilakukan, seseorang menjadi BAHAGIA.

    Hal ini dapat terjadi apabila kita berbicara pada tataran NORMAL, karena, sudah tentu ada DEVIASI bagi segelintir orang yang justru merasakan hampanya HUBUNGAN SEKSUAL DENGAN PASANGAN SIGNIFIKANNYA dikarenakan oleh pelbagai sebab. Pada tataran NORMAL, MEKANISME SUBLIMASI ini merupakan UPAYA YANG PALING DEWASA DAN PALING SEHAT YANG DAPAT DILAKUKAN OLEH MANUSIA. Dan, harap diingat, bahwa, SUBLIMASI yang berasal dari HASRAT SEKSUAL yang seperti ini, bukan saja ter-manifestasi dalam bentuk HUBUNGAN SEKSUAL antar pasangan, karena, dia dapat pula DIPUASKAN dalam bentuk HIDUP TANPA SEKS alias SELIBAT, dimana pelakunya telah merasa MENIKAH dengan PELAYANAN YANG DILAKUKANNYA TERHADAP SESAMA. Untuk persoalan MEKANISME yang terakhir, INTROJEKSI itu sepenuhnya menguasai ALAM BAWAH SADAR seseorang sehingga NORMA KOMUNITAS menjadi NILAI HAKIKI YANG BERLAKU INSTINGTUAL DIDALAM JIWA. Pribadi yang melakoni hidup SELIBAT juga akan BAHAGIA bila ia berhasil menunaikannya.

    Salam,
    Tito
    Last edited by -Tito-; 24-07-12 at 12:26 AM.
    -It is better to be Socrates dissatisfied than a fool satisfied-


  9. #6339
    Contributor agatha's Avatar
    Join Date
    Jan 2008
    Posts
    4,986
    Rep Power
    22

    Re: Problematika Globalisasi: Dunia di Dalam Ancaman Puritanisme

    Quote Originally Posted by -Tito- View Post
    Artie.

    Dunia kita DIKONSTRUKSI secara SEMU.
    DUNIA KITA ADALAH PANGGUNG SANDIWARA DAN SERBA PALSU. Memang ada REALITA OBJEKTIF, namun itupun hanyalah KESEPAKATAN belaka. Didalam DUNIA ORANG GILA, ORANG WARAS AKAN DIANGGAP GILA DAN ORANG GILA AKAN DIANGGAP WARAS. Persoalannya: PARAMETER APAKAH YANG DAPAT KITA PERGUNAKAN UNTUK MENGUKUR SEBUAH KEWARASAN?

    Pertanyaan ini yang sebenarnya menjadi masalah kita.
    Freud hanya sampai kepada ALAM SADAR. Dia, secara ARIF, tidak mengatakan bahwa ALAM SADAR itu BENAR, hanya saja, baginya, PRIBADI YANG BISA MEMAHAMI REALITA ADALAH PRIBADI YANG BERADA DIALAM SADAR. Jadi, Freud sebenarnya sangat RASIONAL. Fromm melangkah lebih jauh lagi. Baginya, SADAR itu TIDAK CUKUP HANYA HIDUP SELARAS DENGAN REALITA, lebih dari itu, KESADARAN ITU HARUS DIBANGUN DARI PEMAHAMAN KEATAS DIRI SENDIRI SEBAGAI ENTITAS YANG PALING BERTANGGUNG JAWAB DIDALAM MEMBENTUK REALITA. Dengan demikian, DUNIA ala Fromm adalah DUNIA HUMANITARIAN KOMUNALISME yang DESENTRALISTIK dan INDIVIDUAL, dimana Individu diharapkan hidup BEBAS MENGATUR DIRINYA DALAM LINGKUNGAN YANG KECIL. Baginya, PERAN PEKERJA DIKOMBINASIKAN DENGAN MENEJER. Sampai disini, Fromm menjadi seorang UTOPIAN, kendatipun dia sepenuhnya dapat dipahami, apalagi, pemahamannya tentang PEMBENTUKAN KARAKTER YANG MANDIRI sangat brilian. Dilain sisi, Jung PESIMIS dengan semua MODEL REALITA yang terikat ETIKA BARAT itu, sehingga, ketika ia berada di India, dia berseru 'mungkin inilah REALITA yang sesungguhnya'. Karena Di India Jung mendapati Kaum Sadhu yang NYENTRIK, dan pelbagai BUDAYA Hinduisme yang MENABRAK seluruh FATSUN tentang kebenaran ETIKA BARAT yang selama ini dia anut. Spinoza lain lagi ceritanya. Baginya, REALITA YANG DIBENTUK BERDASARKAN ETIKA ADALAH PALSU. Derrida, Foucault sampai Habermas, juga menyangsikan REALITA.

    SEMUA INI PALSU. Para KONSTRUKTOR dunia kita ini semuanya mempunyai MOTIF, dan karenanya, SEMU. Lantas, kita harus bagaimana?

    Salam,
    Tito
    Quote Originally Posted by -Tito- View Post
    Artie.

    Mungkin kamu ragu dengan penjelasan barusan, tetapi, untuk memudahkanmu menstimulasi semua pernyataan diatas silahkan lakukan renungan terhadap kejadian di Aurora, Colorado tersebut.

    Bila seseorang berada dimedan laga, dimana REALITA yang dihadapinya adalah MEMBUNUH ATAU DIBUNUH, maka, MEMBUNUH SEBANYAK-BANYAKNYA MUSUH (seperti Rambo) adalah perbuatan MULIA dan HEROIK. Tidak akan ada pemeriksaan KEJIWAAN yang berlarut-larut terhadap PATRIOT BANGSA seperti itu, sebaliknya, keseluruhan kisah hidupnya akan diungkapkan kepada khalayak sebangsa setanah air agar tindakan SATRIA yang MEMBUNUHI MUSUH 1 (SATU) BARAK YANG BERJUMLAH 1,000 (SERIBU) ORANG ITU DAPAT DITELADANI. Namun, didalam keadaan DAMAI, dimana orang orang pergi menonton Mid-Night bersama anggota keluarga, kekasih dan kawan lalu DIBUNUHI TANPA AMPUN, maka, sipelaku akan sulit dipahami kondisi KEJIWAANNYA.

    Jadi, ada baiknya kita melakukan SINTESA antara pandangan Freud dan Fromm.
    Freud adalah TESISINYA dan Fromm merupakan ANTITESISNYA.

    Salam,
    Tito
    Key Word; ~M.O.T.I.F~
    Reason-Why dibalik MOTIF itulah yang perlu ditelusuri dan dipahami sesuai konteks INDIVIDU dan HABITAT-nya

  10. #6340
    Contributor agatha's Avatar
    Join Date
    Jan 2008
    Posts
    4,986
    Rep Power
    22

    Re: Problematika Globalisasi: Dunia di Dalam Ancaman Puritanisme

    Quote Originally Posted by -Tito- View Post
    Artie.

    Dunia kita DIKONSTRUKSI secara SEMU.
    DUNIA KITA ADALAH PANGGUNG SANDIWARA DAN SERBA PALSU. Memang ada REALITA OBJEKTIF, namun itupun hanyalah KESEPAKATAN belaka. Didalam DUNIA ORANG GILA, ORANG WARAS AKAN DIANGGAP GILA DAN ORANG GILA AKAN DIANGGAP WARAS. Persoalannya: PARAMETER APAKAH YANG DAPAT KITA PERGUNAKAN UNTUK MENGUKUR SEBUAH KEWARASAN?

    Pertanyaan ini yang sebenarnya menjadi masalah kita.
    Freud hanya sampai kepada ALAM SADAR. Dia, secara ARIF, tidak mengatakan bahwa ALAM SADAR itu BENAR, hanya saja, baginya, PRIBADI YANG BISA MEMAHAMI REALITA ADALAH PRIBADI YANG BERADA DIALAM SADAR. Jadi, Freud sebenarnya sangat RASIONAL.
    ....deleted.....

    Salam,
    Tito

    Intermezzo....
    Menurutku... ini menarik



Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •  
©2008 - 2013 PT. Kompas Cyber Media. All Rights Reserved.

Content Relevant URLs by vBSEO