Zimbabwe
Negeri Tempat Para Jutawan Pun Berjuang untuk Hidup
Sabtu, 28 Juni 2008 | 00:48 WIB Harga-harga di kedai darurat Dzidzai Guti bisa bikin terkejut. Jeruk yang membusuk, sebungkus rokok, dan pisang bisa mencapai harga 250 juta dollar Zimbabwe.
Namun, Guti, tukang kebun berusia 27 tahun itu, berjuang dengan susah payah. Dia dan istrinya bekerja sebagai pramuwisma, tinggal di sebuah ruangan di belakang rumah majikan dan menggabungkan sarapan dan makan siang agar hemat.
Dia berjualan di kedai itu— yang tak lebih dari bagian atas sebuah meja yang diletakkan pada tumpukan bata—untuk menambah pendapatan di sebuah negara dengan inflasi tertinggi di dunia dan kekurangan pangan.
”Saya seharusnya bekerja pagi hari di taman dan beristirahat siang hari, tetapi saya tak mampu beristirahat,” katanya. ”Berat, tetapi saya akan mati kelaparan kalau saya tidak melakukan itu.”
Warga Zimbabwe selama ini berharap krisis berakhir menjelang pemilu presiden putaran pertama yang diselenggarakan pada 29 Maret dan putaran kedua pada Jumat (27/6).
Namun, pemimpin oposisi, Morgan Tsvangirai, menarik diri dari pemilu beberapa hari menjelang pemilu putaran kedua. Sementara Presiden Robert Mugabe melanjutkan rencana pemilu sehingga akan memberinya kemenangan karena tak ada lawan. Harapan untuk perubahan itu kini tampak tipis.
Laju inflasi yang sangat tinggi dan kekurangan pangan telah menyumbang faktor-faktor yang telah membawa negara di Afrika bagian selatan itu dari sebuah lumbung pangan regional menjadi lumbung kosong.
Bahkan, mereka yang seharusnya bisa hidup nyaman juga telah terkena dampaknya. Pegawai bank, Gladys Dawanyi, mempunyai gaji 100 miliar dollar Zimbabwe per bulan. Ada banyak karyawan dengan gaji miliaran, dalam kurs dollar Zimbabwe, yang membuat mereka disebut jutawan. Tetapi, dia ragu apakah itu bisa bertahan sampai gajian mendatang.
Inflasi yang membubung lebih dari 165.000 persen, tetapi diperkirakan berlipat kali lebih tinggi, membuat tidak mungkin mengetahui berapa nilai mata uangnya dalam dollar AS atau euro.
”Saya bahkan tidak yakin apakah saya bisa datang ke tempat kerja sampai akhir bulan karena biaya transpor kemungkinan besar akan naik lagi,” katanya di kantornya di kawasan elite ibu kota Harare.
”Di negara lain dengan pendapatan seperti ini, saya bakal sangat kaya, tetapi di sini hidup adalah perjuangan sehari-hari.”
Tak bisa beli roti
Tahun 2004, dia membeli sebuah rumah di pinggiran kota kelas menengah dengan jumlah uang yang kini bahkan tidak bisa untuk membeli roti dan mampu membawa keluarganya berlibur.
Kurang dari empat tahun kemudian, dia menjadi salah seorang dari jutaan jutawan miskin negara itu yang terus menerus berkejaran dengan harga yang berlari cepat.
Sedikitnya 80 persen dari penduduk kini hidup di bawah garis kemiskinan, dengan kadang tidak makan dan berjalan atau bersepeda ke tempat kerja agar gaji mereka bisa cukup sampai menerima gaji berikutnya.
Para pengkritik mempersalahkan keadaan pada kebijakan pemerintahan Mugabe, terutama reformasi pertahanan kontroversial. Mugabe mempersalahkan sanksi Uni Eropa dan AS.
Best Doroh, ahli ekonomi Zimbabwe Allied Banking Group, mengatakan, kondisi ekonomi akan memburuk kalau pemilu lebih mengobarkan krisis.
Guti, si pemilik kedai, tak optimistis. ”Saya tadinya berharap pemilu Maret akan membawa perubahan, tampaknya keadaan tak membaik.” (AFP/DI)
wooooow.... ini jangan sampai terjadi di negara kita indonesia tercinta.
kalau kita harus membeli jeruk seharga 250 juta rupiah, nanti anak cucu kita mau makan apa lagi ?
bayangkan inflasi cuma 2 digit aja rakyat kita sudah kelimpungan, apalagi 165.000 persen ?
mungkin tidak hal seperti ini bisa terjadi dengan negara kita indonesia?
bisa ngebayangin kalau hal seperti ini sampai terjadi ?






LinkBack URL
About LinkBacks




Reply With Quote





Bookmarks