Agama itu menjadi ada, karena manusia membutuhkan 'agama'. Manusia adalah makhluk yg suka bertanya. Manusia adalah makhluk yang ingin memahami keadaan dan keberadaannya. Manusia adalah makhluk yg bisa berpikir, yang mengamati, keberadaan hukum sebab-akibat. Seandainya manusia itu seperti binatang, yang tidak memiliki keinginan untuk mengerti dan memahami dunia dan kehidupannya, maka agama tidak akan pernah ada. Yg penting, cukup makan, cukup tidur, bisa hidup, kalau sudah waktunya mati ya mati.
Tapi manusia tidak seperti binatang, ketika ada anggota keluarga yg meninggal, manusia tidak cukup hanya menangis, bersedih, kemudian selewat waktu kembali beraktivitas seperti biasa. Manusia memerlukan alasan, mengapa, manusia juga kemudian bertanya, setelah kematian lalu ada apa? Dsb.
Lewat science, lewat ilmu pengetahuan, manusia berusaha mendapatkan jawabannya. Ketika dengan segala keterbatasannya, ilmu pengetahun tidak mampu menjawab, muncullah Agama.
Agama, adalah jawaban, bagi pertanyaan-pertanyaan manusia yg tidak terjawab dengan tuntas.
Dalam hal ini agama memiliki sifat yg baik, karena ada kedamaian di sana. Saat akal pikiran sudah sampai di batasnya, bagi sebagian besar manusia, di dalam agamalah mereka mendapatkan satu jawaban, setidaknya satu kepastian. Misal, setelah mati lalu apa? Ilmu pengetahuan tidak bisa memberi jawaban yg memuaskan. Tapi lewat agama, sedikitnya ada jawaban, kalau baik masuk surga, kalau jahat masuk neraka, jadi kalau mau masuk surga berbuatlah yg baik (sederhananya demikian).
Dari situ ada jawaban, dari situ manusia kemudian berpikir, kalau begitu saya berbuat baik supaya saya masuk surga, dan kemudian tenanglah hatinya.
Sedikit melenceng dari jalur pecandu agama

-> Lalu mengapa ada banyak agama? Munculnya agama sendiri kalau mau kita pilah2 ada 2 macam. Ada agama yg muncul dari pewahyuan -> Agama Yahudi -> Kristen -> Islam. Tapi ada juga agama yg muncul dari pemikiran seorang yang mencari jawaban2 itu, yg kemudian lewat pemikirannya, perenungannya, pencerahan, dia merumuskan satu agama. Cont: Buddha.
Mana yg benar? Atau mana yg lebih benar? Karena agama adalah bentuk jawaban terhadap pertanyaan yg tidak terjawab oleh pemikiran manusia atau tidak bisa dibuktikan secara keilmuan, maka tidak ada satu tolok ukur yg bisa digunakan untuk menentukan agama mana yg lebih benar. Itu sebabnya dipakai kata iman.
Back to track, mengenai pecandu agama. Seperti disebutkan pada bagian sebelumnya, sifat agama yg menjawab hal-hal yg tidak bisa dicapai lewat keilmuan dan memberikan ketenangan/kedamaian dalam hati manusia lewat iman, dan hanya iman, inilah yg bisa membuat manusia kecanduan. Yaitu ketika keinginan untuk mencapai apa yg dijanjikan oleh agamanya, menutupi nalar-nya. Karena pada dasarnya, agama adalah iman, iman adalah mempercayai sesuatu yg tidak bisa dibuktikan secara ilmiah. Jadi kalau agama Y mengatakan, kalau mau masuk surga, bunuh kaum X. Maka pecandu agama Y tersebut, demi mendapatkan kedamaian dalam hatinya, membunuh para kaum X.
Tentunya proses kejiwaan dari seseorang menggunakan nalarnya sampai kemudian menjadi pecandu agama, tidaklah sesederhana itu, proses kekeecewaan terhadap nalar, proses kekecewaan terhadap keberadaan dirinya atau situasi masyarakat di sekelilingnya, proses kekecewan terhadap agama yg sudah mapan, dst, hingga dia berusaha mencari jawaban pada tiap tempat, atau secara tidak sengaja, jatuh ke dalam promosi dari suatu agama dan kemudian mendapatkan pelepasan himpitan psikologisnya pada jawaban dari agama tersebut, hingga jadilah dia pecandu dari agama tersebut. Setelah menjadi pecandu agama tersebut, maka kehidupannya sepenuhnya berusaha mencapai apa yg diwajibkan oleh agama tersebut.
Tetapi tidak selalu hal ini berarti negatif. Amat tergantung pada agama jenis apa dia kecanduan. Bayangkan kalau seorang kaya raya, yg mengalami kehampaan dalam hidupnya, yg penat dengan kehidupan jet-set, kemudian mencari jawaban, mencari kepuasan batiniah (kedamaian hati) lalu bertemu dengan sebuah agama yg menganjurkan manusia untuk mengabdikan diri pada sesama. ketika uraian agama tersebut mampu menjawab semua kegalauannya, ber-transformasi-lah dia menjadi pecandu agama tersebut. Seluruh hidupnya dibaktikan utk membantu sesama, seluruh kekayaannya digunakan untuk memberdayakan masyarakat di sekitarnya. Dalam kasus ini, kecanduan agama bisa jadi hal yg positif. Lebih positif daripada kecanduan harta benda dan korupsi.
Bookmarks