Results 1 to 2 of 2
Like Tree1Likes
  • 1 Post By 21xyhome

Thread: Renungan Tentang Keluarga


  1. #1
    Newbie yo_yon's Avatar
    Join Date
    Jan 2012
    Location
    Blora Jawa Tengah Indonesia
    Posts
    3
    Rep Power
    0

    Renungan Tentang Keluarga

    "RENUNGAN TENTANG KELUARGA"Makhluk hidup di dunia berkembang semakin banyak setelah mengadakan asimilasi dan reproduksi. Bagi manusia, asimilasi ini pada umumnya diwujudkan dengan symbol pernikahan / perkawinan yang secara sosiologis disahkan oleh hukum yang dibuat oleh manusia sesuai norma yang berlaku di masyarakat.Adapun tujuan berkeluarga pada umumnya adalah mencapai rasa BAHAGIA secara bersama-sama, antara ayah, ibu, anak ataupun anggota keluarga lainnya. Namun, dalam masyarakat terjadi berbagai keadaan yang menyebabkan situasi-situasi aneka ragam ; ada yang tenang, tentram, ceria, sukacita ; tetapi adapula keluarga yang cenderung kacau, muram, bermasalah, penuh goncangan, dll, yang menunjukkan keadaansebaliknya dari apa yang diidamkan anggotanya.kePRIBADIan...ü Manusia FRAGMATISMelandasi tindakan dengan mengutamakan mana yang dapat di jangkau lebih dulu.ü Manusia POLITISMenitik beratkan tujuan yang perlu dicapai dengan mengabaikan apa yang kurang berguna bagi dirinya.ü Manusia PROFANMenilik kehidupan dari sisi keduniaan yang nyataü Manusia RELIGIUSMemandang kehidupan dari sisi keagamaan, pada umumnya terdiri dari 2 jenis, yaitu : Jiwa TEOLOGIS ; yang berpegang dari pengetahuan keagamaan dan Jiwa TEOSOFIS (penghayat) yang berpegang dari APA YANG TERSIRAT dalam kehidupan.ü Dll, Dll, DllAdapun jenis-jenis kepribadian manusia tersebut, amat berpengaruh pada keharmonisan dalam keluarga, manakala antara suami dan isteri (bahkan anak-anak) memiliki kepribadian yang berbeda-beda.Bagaimana keadaannya bila setiap hari si anak menyetel lagu-lagu pop, rock, under ground, dll padahal si ayah ahli main music keroncong, sedangkan si istri adalah seorang penari jawayang maniak dengan gending – gending tradisional jawa.??Kondisi-kondisi tersebut di atas merupakan penyebab ke tidak harmonisan (DISHARMONIS) secara PSIKHIS (Kejiwaan).Namun ada pula penyebab disharmonis secara fisik.Beberapa penyebab disharmonis secara fisik, antara lain :1. Cacat FisikBadan atau anggoa badan yang tak sempurna adakalanya menyebabkan rasa malu pada diri seseorang atau pasangannyadan anggota keluarga yang lain. Barangkali kondisi khusus atausuatu kelebihan yang lain atau kemampuan khusus mampu “menyudutkan” perasaan MENERIMA pada diri sendiri atau pasangannya. Mungkin pula pengetahuan / pengertian kejiwaanyang lebih tinggi seperti kerokhanian, Ketuhanan (Tentang Karmapala, takdir, kodrat, dll) akan menguatkan penerimaan pasangan atau anggota keluarganya.Beberapa Jenis Cacat FISIk :§ Cacat ASALMerupakan “cacat bawaan”§ Cacat “BARU” Pra-NikahCacat yang diperoleh sebelum pernikahan terjadi, namun pernikahan tidak dapat dibatalkan.§ Cacat “BARU” Pasca NikahCacat yang diperoleh setelah pernikahan terjadi.2. Kondisi KesehatanPenyakit-penyakit tertentu menjadi penyebab keadaan disharmonis, baik penyakit “baru” ataupun penyakit “lama” (kronis) mampu menyita perhatian lebih besar bagi seluruh anggota keluarga, sehingga manyebabkan ke-“tidak nyamanan”situasi jiwa.Biasanya kesehatan manusia diengaruhi oleh beberapa hal seperti : kebersihan, keteraturan, kebiasaan-kebiasaan pada pola makan, pola istirahat / rekreasi, pola pernafasan, dilengkapi oleh KETENANGAN Jiwa seseorang. Situasi jiwa seseorang berpengaruh atas kesehatan badan manusia.3. Cacat MentalSituasi mental (cipta – rasa – karsa) manusia perlu diseimbangkan, agar tercipta ketenangan jiwa.Ada 3 macam ke-tidak seimbangan mantal kejiwaan :a) CIPTA terlalu besarCipta manusia merupakan sumber lahirnya ide, inspirasi, agan-angan, lamunan, dll secara awal. Seluruh cita-cita manusia berawal dari CIPTA dalam porsi yang terlalu besar. CIPTA membuat seseorang menjadi IDEALIS, PELAMUN, PEMIMPI, tanpa mampu berbuat apapun. Analisa rasa dan kekuatan KARSA yang kecil membuat situasi FRUSTASI.b) RASA terlalu besarRasa manusia melahirkan : penasaran (emosi-emosi), pertimbangan / perhitungan – perhitungan (analisa-sintesa) yang menciptakan keputusan tentang NILAI (penyimpulan tentang yang baik dan yang buruk). Membesarnya RASA manusia menyebabkan pertimbangan dan perhitungan yang terlalu besar sehingga melahirkan sikap RAGU dan TAKUT MELANGKAH.Membesarnya penyimpulan Nilai (baik-buruk) menimbulkan RASA SEDIH-SENANG, CINTA-BENCI, PUAS-KECEWA, dll. yang selalu menggoyang ketenangan jiwa.c) KARSA terlalu besarKarsa manusia adalah suber lahirnya kehendak hasrat, kemampuan, dorongan (drive) dll, yang menyebabkan manusia bertindak / berbuat.Membesarnya KARSA menimbulkan sikap aktif berbuat “pemaksaan” diri atau orang lain untuk berbuat sesuai keinginannya.Maka perlu adanya keSEIMBANGan MENTAL..Yang dimaksud dengan KESEIMBANGAN MENTAL tidak lain adalah keseimbangan CIPTA – RASA – KARSA manusia.Seimbang bermakna SAMA BESAR / SAMA KUATMenyeimbangkan CIPTA – RASA – KARSA berarti memadukan PIKIRAN – PERTIMBANGAN dan KEINGINAN sedemikian rupa sehingga tak ada salah satu “yang menang”.“Pertarungan” ketiga unsur kejiwaan ini bila seimbang menimbulkan kondisi DIAM namun AKTIF.Dikarenakan sifat AKTIF dalam DIAM (istilah jawa : Urip sakjroning pati” = KEHIDUPAN DALAM KEMATIAN) inilah memungkinkan HIDUPnya RUAS-CIPTA, RUAS-RASA, RUAS KARSA yang berwujud FEELING, INTUISI, INDRA ke-6, HATI NURANI, SANUBARI atau apapun istilahnya.Keheningan jiwa ini membuat batin jernih sehingga tercipta suasana TENANG, DAMAI, TENTRAM dalam jiwa seseorang. Dengan demikian FIRMAN / KEHENDAK TUHAN yang “bersemayam” dalam HATI – NURANI mampu ditangkap dengan jelas oleh indera ke-6 yang akan diuraikan dalam CIPTA– RASA – KARSA manusia kembali. Barangkali inilah yang dimaksudkan dengan KEBAHAGIAAN SEJATI, yaitu kebahagiaandalam kehendak “Langit” / Tuhan yang Maha Tinggi.4. CACAT INTERAKSI INTERPERSONALInteraksi artinya “antar hubungan” atau hubungan antara seseorang dengan yang lain. Dalam hal ini antara suami dan isteri, atau orang tua dan anak.Interpersonal interaction ini dapat terjadi bersifat fisik, psikis ataupun mental; yang rata-rata di sebabkan oleh PERBEDAAN DASAR, PERBEDAAN STATUS, PERBEDAAN KONSEP, ARGUMENTASI, POTENSI-POTENSI dll.Beberapa perbedaan yang banyak terjadi di masyarakat, misalnya :BUDAYA KEPERCAYAAN dan ASAL – USULSuami – isteri dengan latar belakang budaya yang berbeda merupakan bahan perpecahan hubungan keluarga. Demikian pula kepercayaan / keyakinan seseorang berpengaruh atas perpecahan tersebut misalnya antara Manusia tradisional VS manusia moderno Suami optimis dengan isteri pesimiso Suami bodoh VS Isteri CERDIK (dan sebaliknya)o Si kaya dengan si miskino Bangsawan dan orang jelatao Agamawan dengan orang profaneso Antar penganut agama yang berbedao Satu agama tetapi yang satu mendalam yang satu asal-asalano Si hemat dan si dermawano Dll, dll, dll5. LIBIDO SEKSUALITASPemenuhan libido seksualitas merupakan salah satu tujuan dasar berumah tangga. Naluri seks merupakan KODRAT makhluk hidup : tumbuhan, hewan dan manusia. Namun karena tumbuhan dan hewan tak memiliki Cipta – Rasa – dan Karsa, maka berproses secara naluriah belaka. Sedangkan karena manusia memiliki Cipta – Rasa – Karsa; naluri seks di-“campuri” oleh nafsu (kehendak) / hasrat. Apabila pertimbangan CIPTA RASAnya terkalahkan oleh KARSAnya, hilanglah sifat Hati Sanubari / Nurani. Maka muncullah sifat binatang di dalam diri seseorang. Inilah sebabnya deperlukan adanya HUKUM NORMA, ETIKA untuk mengatur manusia dalam kehidupannya.Adapun kemelut rumah tangga yang berhubungan dengan masalah seks dapat diamati pada masyarakat yang biasanya berkisar pada:Ø Perbedaan potensi seksualitas antara suami-isteri (Suami super atau isteri hyper) menyebabkan tidak adanya kepuasan salah satu pasangan, maka apabila rambu-rambu NORMA dan NILAI pribadi kurang kuat akan terjadi “perburuan” kepuasan diluar rumah-tangga.Ø DISFUNGSI SEX karena peristiwa fisik dan mental penyakit-penyakit tertentu, kecelakaan, tekanan mental (sedih, takut, malu, dll) menyebabkan hilang atau menurunnya potensi dan aktivitas hubungan suami isteri.Ø KEBOSANANManusia memiliki tasa Jenuh / Bosan pada suatu hal yang bersifat sama dan berulang-ulang. Hal ini meliputi: pekerjaan, cara makan / menu, cara tidur, sampai dengan hubungan seks antara suami-isteri. Dengan demikian ada kemungkinan seseorang memperoleh variasi dan pergantian kondisi. Apabila dalam satu keluarga tak mampu menciptakan “perubahan” / pembaharuan, maka ada kemungkinan seseorang mencari variasi tersebut ke-“Luar Rumah”. Dan manakala hal ini berhubungan dengan hubungan seks suami-isteri, maka akan terjadilah “kenakalan bapak” atau “kenakalan ibu” (perselingkuhan).Ø PERUBAHAN FISIKMnusia memiliki DAYA NILAI terhadap sesuatu di luar dirinya. Disinilah muncul kriteria yang baik, yang buruk, yang agak baik,dan agak buruk, yang indah, yang jelek, dll. Tidak dapat disangkal bahwa seseorang memiliki sesuatu hal selalu di dasari oeh rasa SIMPATI ini. Termasuk dalam pernikahan suami atau isteri, kriteria ini selalu merupakan acuan sebagai tolok ukur.Dalam proses rumah tangga, terkadang suami atau isteri tidak mampu mempertahankan kondisi fisik seperti semula. Untunglah jika perubahan fisik ini mengarah pada idealisasi yang menuju perbaikan, misalnya Semula terlalu gemuk / kurus berubah idealo Semula lemah sakit – sakitan berubah menjadi kuat / sehatAbabila terjadi kebalikannya, besar kemungkinan akan merupakan bibit ke”tidak senang”an dalam keluarga.Masih banyak peristiwa dalam proses kehidupan keluarga yang mengarah pada terjadinya PERUBAHAN situasi, kondisi fisik maupun kejiwaan Suami-isteri atau anggota keluarga yang dapat memicu keretakan hubungan intim suami isteri sehinggamenuju pada perpecahan keluarga.SOLUSI :Secara umum keretakan sebuah keluarga terjadi karena PERBEDAAN-PERBEDAAN seperti terurai terdahulu. Oleh Karena itu perlulah diadakan antisipasi pada pemecahan masalahnya;misalnya SALING MEMBUKA HATI, MEMBUKA DIRI engan kesiapan menerima KELEMAHAN dan KEKURANGAN pasangannya, berdasarkan pengertian bahwa TIDAK ADA manusia yang sempurna.o PENYADARAN bahwa pasangan hidup adalah milik TUHAN yang harus disyukuri, dijaga, dihormati, disayangi keberadaannya sebagai TANDA IBADAH kepada TUHAN.o MEMBUKA JALUR KOMUNIKASI, agar suami-isteri memiliki SATU VISI – SATU MISI – SATU KONSEP keluarga yang diIkrarkan untuk dilakukan bersama, terutama dalam menghadapi masalah-masalah yang temporer, yang perlu dipecahkan segera.o TIDAK SALING MENYEMBUNYIKAN SESUATU (Ber-Rahasia) kecuali yang memang TIDAK HARUS / TIDAK BOLEH dibuka untuk orang lain (Rahasia Perusahaan, Negara, Corp, KelompokKerokhanian, bisnis, dll).o SALING MENDUKUNG, MEMBELA, PEDULI, MELINDUNGI, MEMAKLUMI & MENGAMPUNI (Perwujudan kasih-sayang) antara anggota keluarga dalam sifat-sifat yang menuju pada kebaikan, kebenaran.o MELETAKKAN TUHAN sebagai KEPALA RUMAH TANGGA sedangkan suami-isteri, anak-anak merupakan anggota keluarga TUHAN. Dengan kata lain memperdalam tentang ketuhanan, melalui agama atau kepercayaan masing-masing (iman).o Persoalan seksual perlu dipahami bersama secara variatif dan mandalam, mengingat salah satu fungsi berkeluarga adalah sebagai pemenuhan libido seksualitas. Walaupun tujuanberkeluarga secara ETIKA adalah untuk memperoleh keturunan, namun dalam realita di masyarakat, banyak keluarga yang tak memiliki keturunan tetap merasakan ketenangan hidup dengan “enjoy saja”. Ada pula yang memungut anak orang lain (adopsi), dan semuanya baik adanya.Akan tetapi ketimpangan dalam masalah seks seringkali menyebabkan kegoncangan keluarga, tak jarang yang sampai mencapai perpecahan / perpisahan. Permasalahan seksual yang “cacat” ini dapat di atasi dengan menggunakan PENGALIHAN PERHATIAN pada hal-hal yang lain, seperti :Ø Hidup hanyalah sebuah proses penyelesaian tugas-tugas dunia dari TUHAN, dan bila mental manusia “runtuh” hanya karena masalah yang satu itu manusia akan memperoleh KERUGIAN YANG LEBIH BESAR dihadapan TUHAN.Ø Kenikmatan hidup dapat disublimasikan pada hal yang lebih tinggi sifatnya, seperti : kegiatan social, olah raga, kerokhanian, pelayanan, penghiburan, dll yang dapat digunakansebagai pengumpulan JASA-PAHALA bagi kehidupan di akhirat nanti.Para bhiksu / bhiksuni, para pastur, burden, suster dapat menikmati kehidupan dan bahagia tanpa melakukan kegiatan seksual, melainkan memusatkan perhatian pada NILAI HIDUP yang lebih tinggi tingkatannya. Banyak para TIEN JUAN SE yangmerelakan diri untuk tidak menikah demi perjuangan pelintasan manusia. Sang Sidharta Gautama (Sang Budha) meninggalkan isterinya (Dewi Maya) yang cantik dan kerajaannya, bertapa di hutan-hutan dami mencari kesempurnaan sejati.Dengan demikian IKRAR dan TUJUAN HIDUP LUHUR merupakan kunci KEBAHAGIAAN HIDUP SEJATI (kekal). Dengan dimikian hidup berkeluargapun merupakan bagian dari SABDA / FIRMAN TUHAN, tidak sekedar untuk pemenuhan libido seksualitas, tidak sekedar untuk mengembangkan keturunan, atau tidak sekedar untuk memancarkan kasih tetapidengan pengertian yang lebih LUHUR, BERKELUARGA BERTUJUAN UNTUK MELAKSANAKAN KEHENDAK TUHAN (beribadah). Maka BUKAN kehendak manusia yang terjadi melainkan KEHENDAK “LANGIT” yang mesti terjadi.Kehendak manusia yang “terbaik”pun seringkali menimbulkan konflik karena adanya perbedaan pendapat pribadi para anggota keluarga. Dan pertikaian dalam satu keluarga, dengan sendirinya menimbulkan keresahan bagi keluarga sekitarnya dimasyarakat. Apalagi situasi konflik ini akan terekam dalam alam bawah sadar pada anak-anak yang belum pandai berfikir,sehingga manciptakan berbagai efek kejiwaan bagi mereka sampai di hari tua mereka.Sedangkan “rekaman salah” yang tersimpan dalam ingatan anak-anak berpengaruh pada karakter mereka kelak. Dan anak-anak inilah yang dalam waktu yang akan datang merupakan para “Pengisi Kehidupan” di masyarakat. Bilamana dalam kesimpulan “rasio kecil” mereka, menyatakan bahwa konflik konflik yang memang sering terjadi adalah SEBUAH KEBENARAN, maka akan merupakan bibit kekeliruan yang FATAL di kelak kemudian hari.Jadi dalam benak anak-anak kecil perlu ditanamkan konsep (Contoh) tentang KELEMBUTAN, KASIH SAYANG, KERUKUNAN, PERMUSYAWARAHAN, GOTONG-ROYONG, dll yang membentuk ABDIAN, KEBAKTIAN, PERJUANGAN dll yang membentuk perilaku luhur, demi keluhuran bangsa dan manusia yang akan datang.Semoga bermanfaat..
    Last edited by yo_yon; 17-03-13 at 01:59 AM.

  2. #2
    Junior Member
    Join Date
    Jan 2013
    Posts
    246
    Rep Power
    0

    Re: Renungan Tentang Keluarga

    sekedar menambahkan jeda agar enak dibaca, mudah2an tidak merubah makna

    Quote Originally Posted by yo_yon View Post
    "RENUNGAN TENTANG KELUARGA"Makhluk hidup di dunia berkembang semakin banyak setelah mengadakan asimilasi dan reproduksi. Bagi manusia, asimilasi ini pada umumnya diwujudkan dengan symbol pernikahan / perkawinan yang secara sosiologis disahkan oleh hukum yang dibuat oleh manusia sesuai norma yang berlaku di masyarakat.

    Adapun tujuan berkeluarga pada umumnya adalah mencapai rasa BAHAGIA secara bersama-sama, antara ayah, ibu, anak ataupun anggota keluarga lainnya. Namun, dalam masyarakat terjadi berbagai keadaan yang menyebabkan situasi-situasi aneka ragam ; ada yang tenang, tentram, ceria, sukacita ; tetapi adapula keluarga yang cenderung kacau, muram, bermasalah, penuh goncangan, dll, yang menunjukkan keadaan sebaliknya dari apa yang diidamkan anggotanya.

    kePRIBADIan...¨¹ Manusia FRAGMATISMelandasi tindakan dengan mengutamakan mana yang dapat di jangkau lebih dulu.¨¹ Manusia POLITISMenitik beratkan tujuan yang perlu dicapai dengan mengabaikan apa yang kurang berguna bagi dirinya.¨¹ Manusia PROFANMenilik kehidupan dari sisi keduniaan yang nyata¨¹ Manusia RELIGIUSMemandang kehidupan dari sisi keagamaan, pada umumnya terdiri dari 2 jenis, yaitu : Jiwa TEOLOGIS ; yang berpegang dari pengetahuan keagamaan dan Jiwa TEOSOFIS (penghayat) yang berpegang dari APA YANG TERSIRAT dalam kehidupan.¨¹ Dll, Dll, Dll

    Adapun jenis-jenis kepribadian manusia tersebut, amat berpengaruh pada keharmonisan dalam keluarga, manakala antara suami dan isteri (bahkan anak-anak) memiliki kepribadian yang berbeda-beda.Bagaimana keadaannya bila setiap hari si anak menyetel lagu-lagu pop, rock, under ground, dll padahal si ayah ahli main music keroncong, sedangkan si istri adalah seorang penari jawa yang maniak dengan gending ¨C gending tradisional jawa.??Kondisi-kondisi tersebut di atas merupakan penyebab ke tidak harmonisan (DISHARMONIS) secara PSIKHIS (Kejiwaan).

    Namun ada pula penyebab disharmonis secara fisik.Beberapa penyebab disharmonis secara fisik, antara lain :1. Cacat FisikBadan atau anggoa badan yang tak sempurna adakalanya menyebabkan rasa malu pada diri seseorang atau pasangannya dan anggota keluarga yang lain. Barangkali kondisi khusus atau suatu kelebihan yang lain atau kemampuan khusus mampu ¡°menyudutkan¡± perasaan MENERIMA pada diri sendiri atau pasangannya. Mungkin pula pengetahuan / pengertian kejiwaan yang lebih tinggi seperti kerokhanian, Ketuhanan (Tentang Karmapala, takdir, kodrat, dll) akan menguatkan penerimaan pasangan atau anggota keluarganya.

    Beberapa Jenis Cacat FISIk :¡ì Cacat ASALMerupakan ¡°cacat bawaan¡±¡ì Cacat ¡°BARU¡± Pra-NikahCacat yang diperoleh sebelum pernikahan terjadi, namun pernikahan tidak dapat dibatalkan.¡ì Cacat ¡°BARU¡± Pasca NikahCacat yang diperoleh setelah pernikahan terjadi.2. Kondisi KesehatanPenyakit-penyakit tertentu menjadi penyebab keadaan disharmonis, baik penyakit ¡°baru¡± ataupun penyakit ¡°lama¡± (kronis) mampu menyita perhatian lebih besar bagi seluruh anggota keluarga, sehingga manyebabkan ke-¡°tidak nyamanan¡± situasi jiwa.

    Biasanya kesehatan manusia diengaruhi oleh beberapa hal seperti : kebersihan, keteraturan, kebiasaan-kebiasaan pada pola makan, pola istirahat / rekreasi, pola pernafasan, dilengkapi oleh KETENANGAN Jiwa seseorang. Situasi jiwa seseorang berpengaruh atas kesehatan badan manusia.3. Cacat MentalSituasi mental (cipta ¨C rasa ¨C karsa) manusia perlu diseimbangkan, agar tercipta ketenangan jiwa.Ada 3 macam ke-tidak seimbangan mantal kejiwaan :a) CIPTA terlalu besarCipta manusia merupakan sumber lahirnya ide, inspirasi, agan-angan, lamunan, dll secara awal. Seluruh cita-cita manusia berawal dari CIPTA dalam porsi yang terlalu besar. CIPTA membuat seseorang menjadi IDEALIS, PELAMUN, PEMIMPI, tanpa mampu berbuat apapun. Analisa rasa dan kekuatan KARSA yang kecil membuat situasi FRUSTASI.b) RASA terlalu besarRasa manusia melahirkan : penasaran (emosi-emosi), pertimbangan / perhitungan ¨C perhitungan (analisa-sintesa) yang menciptakan keputusan tentang NILAI (penyimpulan tentang yang baik dan yang buruk).

    Membesarnya RASA manusia menyebabkan pertimbangan dan perhitungan yang terlalu besar sehingga melahirkan sikap RAGU dan TAKUT MELANGKAH.Membesarnya penyimpulan Nilai (baik-buruk) menimbulkan RASA SEDIH-SENANG, CINTA-BENCI, PUAS-KECEWA, dll. yang selalu menggoyang ketenangan jiwa.c) KARSA terlalu besarKarsa manusia adalah suber lahirnya kehendak hasrat, kemampuan, dorongan (drive) dll, yang menyebabkan manusia bertindak / berbuat.Membesarnya KARSA menimbulkan sikap aktif berbuat ¡°pemaksaan¡± diri atau orang lain untuk berbuat sesuai keinginannya.

    Maka perlu adanya keSEIMBANGan MENTAL..Yang dimaksud dengan KESEIMBANGAN MENTAL tidak lain adalah keseimbangan CIPTA ¨C RASA ¨C KARSA manusia.Seimbang bermakna SAMA BESAR / SAMA KUATMenyeimbangkan CIPTA ¨C RASA ¨C KARSA berarti memadukan PIKIRAN ¨C PERTIMBANGAN dan KEINGINAN sedemikian rupa sehingga tak ada salah satu ¡°yang menang¡±.¡°Pertarungan¡± ketiga unsur kejiwaan ini bila seimbang menimbulkan kondisi DIAM namun AKTIF.Dikarenakan sifat AKTIF dalam DIAM (istilah jawa : Urip sakjroning pati¡± = KEHIDUPAN DALAM KEMATIAN) inilah memungkinkan HIDUPnya RUAS-CIPTA, RUAS-RASA, RUAS KARSA yang berwujud FEELING, INTUISI, INDRA ke-6, HATI NURANI, SANUBARI atau apapun istilahnya.

    Keheningan jiwa ini membuat batin jernih sehingga tercipta suasana TENANG, DAMAI, TENTRAM dalam jiwa seseorang. Dengan demikian FIRMAN / KEHENDAK TUHAN yang ¡°bersemayam¡± dalam HATI ¨C NURANI mampu ditangkap dengan jelas oleh indera ke-6 yang akan diuraikan dalam CIPTA ¨C RASA ¨C KARSA manusia kembali. Barangkali inilah yang dimaksudkan dengan KEBAHAGIAAN SEJATI, yaitu kebahagiaan dalam kehendak ¡°Langit¡± / Tuhan yang Maha Tinggi.4. CACAT INTERAKSI INTERPERSONALInteraksi artinya ¡°antar hubungan¡± atau hubungan antara seseorang dengan yang lain. Dalam hal ini antara suami dan isteri, atau orang tua dan anak.

    Interpersonal interaction ini dapat terjadi bersifat fisik, psikis ataupun mental; yang rata-rata di sebabkan oleh PERBEDAAN DASAR, PERBEDAAN STATUS, PERBEDAAN KONSEP, ARGUMENTASI, POTENSI-POTENSI dll.Beberapa perbedaan yang banyak terjadi di masyarakat, misalnya :BUDAYA KEPERCAYAAN dan ASAL ¨C USULSuami ¨C isteri dengan latar belakang budaya yang berbeda merupakan bahan perpecahan hubungan keluarga.

    Demikian pula kepercayaan / keyakinan seseorang berpengaruh atas perpecahan tersebut misalnya antara Manusia tradisional VS manusia moderno Suami optimis dengan isteri pesimiso Suami bodoh VS Isteri CERDIK (dan sebaliknya)o Si kaya dengan si miskino Bangsawan dan orang jelatao Agamawan dengan orang profaneso Antar penganut agama yang berbedao Satu agama tetapi yang satu mendalam yang satu asal-asalano Si hemat dan si dermawano Dll, dll, dll5. LIBIDO SEKSUALITASPemenuhan libido seksualitas merupakan salah satu tujuan dasar berumah tangga.

    Naluri seks merupakan KODRAT makhluk hidup : tumbuhan, hewan dan manusia. Namun karena tumbuhan dan hewan tak memiliki Cipta ¨C Rasa ¨C dan Karsa, maka berproses secara naluriah belaka. Sedangkan karena manusia memiliki Cipta ¨C Rasa ¨C Karsa; naluri seks di-¡°campuri¡± oleh nafsu (kehendak) / hasrat. Apabila pertimbangan CIPTA RASAnya terkalahkan oleh KARSAnya, hilanglah sifat Hati Sanubari / Nurani. Maka muncullah sifat binatang di dalam diri seseorang.

    Inilah sebabnya deperlukan adanya HUKUM NORMA, ETIKA untuk mengatur manusia dalam kehidupannya.Adapun kemelut rumah tangga yang berhubungan dengan masalah seks dapat diamati pada masyarakat yang biasanya berkisar pada:0‰1 Perbedaan potensi seksualitas antara suami-isteri (Suami super atau isteri hyper) menyebabkan tidak adanya kepuasan salah satu pasangan, maka apabila rambu-rambu NORMA dan NILAI pribadi kurang kuat akan terjadi ¡°perburuan¡± kepuasan diluar rumah-tangga.0‰1 DISFUNGSI SEX karena peristiwa fisik dan mental penyakit-penyakit tertentu, kecelakaan, tekanan mental (sedih, takut, malu, dll) menyebabkan hilang atau menurunnya potensi dan aktivitas hubungan suami isteri.0‰1 KEBOSANANManusia memiliki tasa Jenuh / Bosan pada suatu hal yang bersifat sama dan berulang-ulang. Hal ini meliputi: pekerjaan, cara makan / menu, cara tidur, sampai dengan hubungan seks antara suami-isteri. Dengan demikian ada kemungkinan seseorang memperoleh variasi dan pergantian kondisi.

    Apabila dalam satu keluarga tak mampu menciptakan ¡°perubahan¡± / pembaharuan, maka ada kemungkinan seseorang mencari variasi tersebut ke-¡°Luar Rumah¡±. Dan manakala hal ini berhubungan dengan hubungan seks suami-isteri, maka akan terjadilah ¡°kenakalan bapak¡± atau ¡°kenakalan ibu¡± (perselingkuhan).0‰1 PERUBAHAN FISIKMnusia memiliki DAYA NILAI terhadap sesuatu di luar dirinya. Disinilah muncul kriteria yang baik, yang buruk, yang agak baik, dan agak buruk, yang indah, yang jelek, dll.

    Tidak dapat disangkal bahwa seseorang memiliki sesuatu hal selalu di dasari oeh rasa SIMPATI ini. Termasuk dalam pernikahan suami atau isteri, kriteria ini selalu merupakan acuan sebagai tolok ukur.Dalam proses rumah tangga, terkadang suami atau isteri tidak mampu mempertahankan kondisi fisik seperti semula. Untunglah jika perubahan fisik ini mengarah pada idealisasi yang menuju perbaikan, misalnya Semula terlalu gemuk / kurus berubah idealo Semula lemah sakit ¨C sakitan berubah menjadi kuat / sehatAbabila terjadi kebalikannya, besar kemungkinan akan merupakan bibit ke¡±tidak senang¡±an dalam keluarga.

    Masih banyak peristiwa dalam proses kehidupan keluarga yang mengarah pada terjadinya PERUBAHAN situasi, kondisi fisik maupun kejiwaan Suami-isteri atau anggota keluarga yang dapat memicu keretakan hubungan intim suami isteri sehingga menuju pada perpecahan keluarga.SOLUSI :Secara umum keretakan sebuah keluarga terjadi karena PERBEDAAN-PERBEDAAN seperti terurai terdahulu.

    Oleh Karena itu perlulah diadakan antisipasi pada pemecahan masalahnya;misalnya SALING MEMBUKA HATI, MEMBUKA DIRI engan kesiapan menerima KELEMAHAN dan KEKURANGAN pasangannya, berdasarkan pengertian bahwa TIDAK ADA manusia yang sempurna.o PENYADARAN bahwa pasangan hidup adalah milik TUHAN yang harus disyukuri, dijaga, dihormati, disayangi keberadaannya sebagai TANDA IBADAH kepada TUHAN.o MEMBUKA JALUR KOMUNIKASI, agar suami-isteri memiliki SATU VISI ¨C SATU MISI ¨C SATU KONSEP keluarga yang diIkrarkan untuk dilakukan bersama, terutama dalam menghadapi masalah-masalah yang temporer, yang perlu dipecahkan segera.o TIDAK SALING MENYEMBUNYIKAN SESUATU (Ber-Rahasia) kecuali yang memang TIDAK HARUS / TIDAK BOLEH dibuka untuk orang lain (Rahasia Perusahaan, Negara, Corp, Kelompok Kerokhanian, bisnis, dll).o SALING MENDUKUNG, MEMBELA, PEDULI, MELINDUNGI, MEMAKLUMI & MENGAMPUNI (Perwujudan kasih-sayang) antara anggota keluarga dalam sifat-sifat yang menuju pada kebaikan, kebenaran.o MELETAKKAN TUHAN sebagai KEPALA RUMAH TANGGA sedangkan suami-isteri, anak-anak merupakan anggota keluarga TUHAN. Dengan kata lain memperdalam tentang ketuhanan, melalui agama atau kepercayaan masing-masing (iman).o

    Persoalan seksual perlu dipahami bersama secara variatif dan mandalam, mengingat salah satu fungsi berkeluarga adalah sebagai pemenuhan libido seksualitas. Walaupun tujuan berkeluarga secara ETIKA adalah untuk memperoleh keturunan, namun dalam realita di masyarakat, banyak keluarga yang tak memiliki keturunan tetap merasakan ketenangan hidup dengan ¡°enjoy saja¡±. Ada pula yang memungut anak orang lain (adopsi), dan semuanya baik adanya.Akan tetapi ketimpangan dalam masalah seks seringkali menyebabkan kegoncangan keluarga, tak jarang yang sampai mencapai perpecahan / perpisahan. Permasalahan seksual yang ¡°cacat¡± ini dapat di atasi dengan menggunakan PENGALIHAN PERHATIAN pada hal-hal yang lain, seperti :0‰1 Hidup hanyalah sebuah proses penyelesaian tugas-tugas dunia dari TUHAN, dan bila mental manusia ¡°runtuh¡± hanya karena masalah yang satu itu manusia akan memperoleh KERUGIAN YANG LEBIH BESAR dihadapan TUHAN.0‰1 Kenikmatan hidup dapat disublimasikan pada hal yang lebih tinggi sifatnya, seperti : kegiatan social, olah raga, kerokhanian, pelayanan, penghiburan, dll yang dapat digunakan sebagai pengumpulan JASA-PAHALA bagi kehidupan di akhirat nanti.

    Para bhiksu / bhiksuni, para pastur, burden, suster dapat menikmati kehidupan dan bahagia tanpa melakukan kegiatan seksual, melainkan memusatkan perhatian pada NILAI HIDUP yang lebih tinggi tingkatannya. Banyak para TIEN JUAN SE yang merelakan diri untuk tidak menikah demi perjuangan pelintasan manusia. Sang Sidharta Gautama (Sang Budha) meninggalkan isterinya (Dewi Maya) yang cantik dan kerajaannya, bertapa di hutan-hutan dami mencari kesempurnaan sejati.Dengan demikian IKRAR dan TUJUAN HIDUP LUHUR merupakan kunci KEBAHAGIAAN HIDUP SEJATI (kekal). Dengan dimikian hidup berkeluargapun merupakan bagian dari SABDA / FIRMAN TUHAN, tidak sekedar untuk pemenuhan libido seksualitas, tidak sekedar untuk mengembangkan keturunan, atau tidak sekedar untuk memancarkan kasih tetapi dengan pengertian yang lebih LUHUR, BERKELUARGA BERTUJUAN UNTUK MELAKSANAKAN KEHENDAK TUHAN (beribadah). Maka BUKAN kehendak manusia yang terjadi melainkan KEHENDAK ¡°LANGIT¡± yang mesti terjadi.

    Kehendak manusia yang ¡°terbaik¡±pun seringkali menimbulkan konflik karena adanya perbedaan pendapat pribadi para anggota keluarga. Dan pertikaian dalam satu keluarga, dengan sendirinya menimbulkan keresahan bagi keluarga sekitarnya dimasyarakat. Apalagi situasi konflik ini akan terekam dalam alam bawah sadar pada anak-anak yang belum pandai berfikir,sehingga manciptakan berbagai efek kejiwaan bagi mereka sampai di hari tua mereka.Sedangkan ¡°rekaman salah¡± yang tersimpan dalam ingatan anak-anak berpengaruh pada karakter mereka kelak. Dan anak-anak inilah yang dalam waktu yang akan datang merupakan para ¡°Pengisi Kehidupan¡± di masyarakat. Bilamana dalam kesimpulan ¡°rasio kecil¡± mereka, menyatakan bahwa konflik konflik yang memang sering terjadi adalah SEBUAH KEBENARAN, maka akan merupakan bibit kekeliruan yang FATAL di kelak kemudian hari.Jadi dalam benak anak-anak kecil perlu ditanamkan konsep (Contoh) tentang KELEMBUTAN, KASIH SAYANG, KERUKUNAN, PERMUSYAWARAHAN, GOTONG-ROYONG, dll yang membentuk ABDIAN, KEBAKTIAN, PERJUANGAN dll yang membentuk perilaku luhur, demi keluhuran bangsa dan manusia yang akan datang.Semoga bermanfaat..

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •  
©2008 - 2013 PT. Kompas Cyber Media. All Rights Reserved.

Content Relevant URLs by vBSEO 3.6.0