-
Mitos Seputar Perkawinan
Tanya: Saya sering bertanya-tanya mengapa antara apa yang digambarkan tentang perkawinan dan kenyataannya bisa jauh berbeda. Perkawinan digambarkan identik dengan hal-hal yang indah, sedangkan kenyataannya justru perjkawinan sumber masalah dan penderitaan. Ada apa ini ?
Jawab: Sikap dan perilaku manusia dalam merespon sekitarnya dan berhubungan dengan sesamanya sangat ditentukan oleh cara pandang dan cara berpikirnya. Untuk itu manusia membutuhkan semacam kepastian atau kebenaran yang bisa dijadikan pegangan dalam bersikap dan berperilaku. Kebenaran ini beragam ada yang berupa nilai-nilai, prinsip-prinsip tertentu, seperti dalam moral dan agama. Ada juga adat istiadat, tradisi, bahkan aturan dan hukum. Dan tak kecuali mitos, suatu anggapan yang dipercayai sebagai suatu kebenaran kendati tidak sesuai dengan kenyataan, pikiran rasional ,dan objektivitas. Mitos ini pula yang mempengaruhi cara pikir dan cara pandang manusia. Mitos seringkali dikeramatkan sehingga manusia takut untuk mengusiknya dan cenderung menerimanya begitu saja. Sesungguhnya tanpa disadari banyak sekali mitos yang mengatur dan ikut memprogram perilaku kita, termasuk dalam kehidupan perkawinan. Selain mencoba memberi jawaban atas persoalan hidup, mitos juga bisa mengandung harapan kolektif manusia. Berikut ini beberapa mitos seputar perkawinan.
· Perkawinan Akan Mengubah Watak
Contohnya, sebelum menikah Susi sudah tahu bahwa calon suaminya memiliki watak atau tabiat yang buruk seperti suka berjudi, kasar, dan main perempuan. Namun karena rasa cintanya, ia mencoba membenarkan keputusannya untuk menikah dengannya karena percaya bahwa perkawinan dengan sendirinya akan mengubah watak seseorang. Betapa sering kita mendengar ungkapan. “ Biasa masih bujangan begitu, nanti kalau sudah menikah pasti berubah”. Dan kenyataannya, Susi harus menderita karena watak suaminya cenderung permanen. Kalau pun orang bisa berubah, bukan semata-mata karena perkawinan namun karena keputusan yang dipilihnya sendiri. Tak ada yang mampu mengubah watak seseorang kecuali dirinya sendiri.
Menurut para ahli psikologi 50 % pemrograman emosional sudah terjadi ketika kita berumur 5 tahun. 30% terjadi ketika menjelang usia 8 tahun. Antara usia 8- 18 tahun bertambah lagi 15 %. Artinya, ketika kita berumur 18 tahun lengkap sudah proses pemrograman kita karena mencapai 95 %. Kita tinggal memiliki 5 % untuk kita gunakan dalam sisa hidup ini. Hanya dengan 5 % itu pula kita harus kerja keras membuat perubahan watak kita. Namun luar biasanya, orang mampu secara sungguh-sungguh menggunakan yang 5% untuk mempengaruhi yang 95 % !
· Perkawinan Akan Mengatasi Masalah
Ada banyak pasangan yang melangkah ke jenjang perkawinan sebagai solusi atas masalah yang sedang dihadapinya. Mereka berpikir bahwa perkawinan akan mampu menyelesaikan masalah tersebut. Yang paling umum adalah untuk menutup aib keluarga, dan mempererat persaudaraan yang retak. Ada juga perkawinan sebagai solusi atas masalah finansial. Dan tak sedikit orang memaksakan diri untuk menikah hanya takut dicap sebagai “ perawan tua” atau “ bujang lapuk”. Bahkan, pasangan yang menghadapi masalah beda keyakinan pun tak jarang berpikir dengan menikah persoalan itu akan terselesaikan dengan sendirinya.
Perkawinan tidak akan pernah menyelesaikan masalah, justru berpotensi untuk menimbulkan masalah. Persoalan-persoalan yang dihadapi pasangan semestinya diselesaikan terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan untuk menikah. Misalnya, pasangan beda agama, sebelumnya harus disepakati dulu bagaimana nantinya anak-anak, bagaimana caranya saling menghargai perbedaan, dan resiko-resiko yang lain. Bahkan dewasa ini, masalah pembagian peran antara pria dan wanita pun tidak bisa dianggap remeh. Semua persoalan yang mungkin terjadi mesti diantisipasi , dibicarakan, dibuat kesepakatan dan komitmen.
· Cinta Akan Tumbuh Dengan Sendirinya
Sebagaimana pepatah Jawa mengatakan “tresno soko kulino” ( cinta karena terbiasa), maka ada juga orang berpikir bahwa yang penting nikah dulu, masalah cinta urusan belakangan. Ada juga orang menikah karena rasa kasihan atau motif untuk menolong, bukan karena kecocokan dan rasa cinta. Dalam kenyataan, banyak pasangan yang berbekal cinta membara pun akhirnya memudar dan bubar jika tidak terus-menerus ditumbuhkan.
Mencintai adalah keputusan, bukan sekedar perasaan spontan. Cinta tidak tumbuh dengan sendirinya, sebaliknya pasutri harus tak henti-hentinya untuk mengambil keputusan untuk saling mencintai. Khususnya pada masa-masa sulit, keputusan untuk tetap mencintai harus diambil dan diperbarui. Cinta tidak pernah surut ke belakang, melainkan hidup dalam kekinian dan selalu terarah ke masa depan. Mengambil keputusan untuk mencinta berarti berani hidup here and now dan memiliki harapan untuk masa depan.
· Kemesraan Tak Diperlukan Lagi
Ada mitos mengatakan bahwa bagi suami istri tak perlu lagi untuk saling bermesraan karena cinta mereka sudah penuh dan kokoh. Yang penting saling setia dan bertanggungjawab, mesra-mesraan itu urusan anak muda. Akibatnya hubungan menjadi formal dan kaku karena kemesraan hanya dilakukan pada saat berhubungan intim saja. Cinta membutuhkan ekspresi, dan yang paling nyata adalah kemesraan baik secara verbal maupun fisik. Kemesraan menjadikan hubungan semakin hangat dan intim, dan dibutuhkan terus-menerus sampai kapan pun.
Ketika masih pacaran atau usia muda, kemesraan itu dengan mudah timbul, namun ketika pasutri mulai menjalani hidup berkeluarga, berbagai persoalan dan rutinitas sehari-hari bisa memadamkan kemesraan. Oleh sebab itu, kemesraan harus diciptakan agar suasana hangat akrab terus terjaga. Dalam suasana penuh kemesraan, cinta pun akan semakin tumbuh kokoh mempersatukan baik secara fisik, psikis, bahkan spiritual..
· Perkawinan Harmonis Tanpa Konflik
Mitos ini masih kuat mewarnai kehidupan perkawinan sehingga banyak pasutri memilih bersikap diam dan memendam masalah untuk menghindari keributan. Konflik atau pertengkaran dianggap sebagai tanda ketidakharmonisan. Akibatnya, persoalan demi persoalan yang terus tak terselesaikan ibarat bom waktu, begitu meledak langsung meluluh lantakkan hubungan.
Mustahil dua insan yang unik dan berbeda membangun hubungan secara intensif tanpa diwarnai ketegangan atau konflik. Proses pengenalan diri selalu beresiko menimbulkan ketegangan. Persoalan bukan ada dan tidaknya konflik, melainkan bagaimana mengelola konflik sebagai peluang untuk lebih mengenal pasangan. Menemukan cara-cara yang konstruktif dalam mengungkapkan perbedaan pendapat akan mengubah konflik menjadi ajang pembelajaran dalam saling menerima dan saling menghargai. Tentu saja perkawinan yang bertumbuh akan ditandai dengan berkurangnya frekuensi konflik , namun mustahil sama sekali tidak ada. Demikian juga ada semacam pergeseran dalam tema konflik, hal-hal yang dulunya menjadi masalah sudah tidak dipermasalahkan lagi, dan mulai memasuki wilayah-wilayah yang dulu dianggap sensitif dan dihindari. Pertumbuhan hubungan selalu diwarnai krisis untuk masuk ke tataran yang lebih mendalam, oleh sebab itu pasutri tidak perlu takut menghadapi konflik dan ketegangan.
Akhirnya, dengan berani membongkar mitos kita pun akan membongkar cara berpikir yang sudah usang dan mulai menemukan cara-cara baru yang lebih realitis dan sesuai dengan tantangan jaman. Dengan cara demikian, hidup perkawinan kita akan mengalami pertumbuhan, dan pada saat yang sama kita pun sebagai pribadi juga mengalami proses pendewasaan.
Content Relevant URLs by
vBSEO 3.6.0