Bisa mengubah metabolisme tubuh.
Di awal kemunculan produksi, minuman berpemanis buatan atau soft drink sempat menjadi salah satu barang konsumsi mewah. Sekarang, minuman berpemanis buatan bisa jadi barang wajib untuk dikonsumsi sehari-hari bagi sebagian orang.
Menurut penelitian, konsumsi minuman berpemanis telah berlipat ganda sejak tahun 1985 meski sudah ada banyak laporan mengenai buruknya konsumsi minuman semacam ini.
Salah satu ilmuwan biologi, dr Hans-Peter Kubis adalah salah satu yang pernah meneliti efek soft drink pada tubuh. Menyadari banyak efek negatif dari soft drink, ia tak pernah lagi mau menyentuh minuman semacam ini.
Menurut hasil penelitian dr Kubis, konsumsi soft drink, sekaleng per hari atau dua kaleng dalam seminggu, bisa mengubah metabolisme tubuh. Perubahan metabolisme ini bisa mengakibatkan penambahan berat badan.
Selain itu, soft drink juga terbukti meningkatkan risiko serangan jantung, masalah liver, dan hipertensi.
Penelitian yang dilakukan di Bangor University dan dipublikasikan di European Journal of Nutrition melaporkan, soft drink bisa mengubah metabolisme tubuh, hingga otot-otot tubuh akan menggunakan gula untuk energi, bukannya membakar lemak tubuh.
Gula dalam bentuk cair mengakibatkan gen-gen pada otot mengubah aktivitas, dan bisa berlaku permanen.
Tak hanya meningkatkan berat badan, tetapi keefisienan metabolisme tubuh akan berkurang, serta sulit menghadapi peningkatan gula darah, kata para peneliti. Pada akhirnya hal ini menimbulkan diabetes tipe 2.
"Setelah menyaksikan sendiri bukti-bukti medisnya, saya sudah tak lagi mau menyentuh soft drink. Saya rasa, minuman dengan tambahan pemanis buatan adalah sangat jahat," kata dr Kubis.
Studi yang dilakukan Oregon University awal tahun ini juga mengungkap, anak-anak berusia antara 3-5 tahun yang sering diberikan minuman berpemanis akan cenderung malas makan sayuran seperti wortel atau paprika, tetapi lebih memilih makanan tinggi kalori, seperti keripik atau makanan tinggi garam.
Menurut peneliti, hal ini karena minuman berpemanis membentuk indra pengecap. Ditambahkan dr Kubis, gula bentuk cair tak hanya akan mengubah metabolisme tubuh, tetapi juga menciptakan respon mirip adiksi.
"Tubuh menyerap gula cair lebih cepat, karena lebih mudah diasup pada sistem pencernaan, bila diteruskan, hal ini akan mendorong respon rasa nyaman pada tubuh," kata Kubis.
Di saat bersaman, tubuh akan mengurangi keinginan untuk mengecap nutrisi lain, seperti vitamin atau mineral, hal inilah yang kemudian membentuk kebiasaan mengkonsumsi minuman berpemanis.
Dr Kubis merasa masih perlu untuk melakukan penelitian lebih lanjut yang lebih besar dan mendalam mengenai hal ini untuk mengkonfirmasi hal tersebut. Untuk itu, ia butuh mencari responden anak-anak yang sama sekali belum pernah menyentuh soft drink sebagai perbandingan.
"Sangat sulit mencari orang-orang muda yang sama sekali belum pernah minum soft drink," katanya.
Sumber :
Ilmuwan: "Soft Drink" Itu Sangat Jahat | Features | Beritasatu.com


LinkBack URL
About LinkBacks





Reply With Quote




Bookmarks