Makanan Tanpa Lemak Bakal Jadi Tren Kuliner 2012
Minggu, 18 Desember 2011 07:43 WIB
TRIBUNNEWS.COM - TAHUN 2011 akan segera berakhir. Menu restoran yang bakal menjadi tren tahun depan sudah diprediksi. Tahun ini makanan sehat dari bahan-bahan segar menjadi tren hidangan di berbagai restoran. Makanan apa yang bakal jadi tren pada tahun 2012 nanti?
Tidak hanya fesyen, sekarang makanan juga mendapatkan perhatian yang sangat besar di seluruh dunia. Oleh karenanya tren makanan setiap tahun mengalami perubahan dan mendapat perhatian khusus.
Pada tahun 2011 tren makanan dari era fast food bergeser cukup drastis ke arah makanan sehat dan rendah kalori. Tren tersebut tidak hanya di Amerika dan Eropa, tetapi juga hampir di seluruh dunia. Kini makanan sehat sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat.
"Sepertinya orang sudah mulai sadar akan kesehatan. Makanya mereka lebih memilih makanan yang sehat. Tidak berlemak ataupun mengandung kolesterol tinggi," ujar Arie Parikesit, pengamat kuliner Indonesia.
Masyarakat pada umumnya cenderung mengurangi makanan yang digoreng dan tidak mau lagi makan makanan siap saji yang tentu mengandung kolesterol tinggi. Makanan yang direbus, dikukus, dan dibakar sekarang menjadi favorit.
Pengamatan yang dilakukan oleh Arie ini diperoleh dari beberapa temannya yang sekarang cenderung memilih makanan sehat. Banyak di antaranya yang menghindari daging merah. Kebanyakan mereka lebih memilih ikan, sayur, dan buah.
Apalagi di beberapa restoran besar, juga restoran siap saji sekarang ini mulai menyediakan bahan dan produk organik, seperti nasi organik, sayuran organik, buah organik, ayam, dan masih banyak lagi.
Menurut Arie, dalam lima tahun belakangan ini di Indonesia sedang giat-giatnya melakukan gerakan nasionalisme dengan mengonsumsi dan melakukan perluasan makanan tradisional.
Jika diamati, beberapa restoran besar juga mulai memerhatikan perkembangan makanan tradisional. Mereka coba mengangkat kembali unsur-unsur makanan lokal yang selama ini belum atau tidak terlalu dikenal oleh masyarakat umum.
Para pebisnis kuliner, baik yang sudah lama bermain maupun yang baru, mulai mencari makanan-makanan yang kurang umum, misalkan menu ayam ledeh.
Biasanya sasarannya di daerah Jawa Tengah seperti Kudus dan Purwokerto, Kediri (Jawa Timur), Papua, dan daerah lainnya yang belum terangkat makanan daerahnya.
http://www.tribunnews.com/2011/12/18...n-kuliner-2012
Artis Sinetron yang gendut-gendut
Orang Indonesia Kian Pendek dan Gemuk
Kamis, 21 April 2011 | 05:06 WIB
Jakarta, Kompas - Pola konsumsi makanan yang tak berimbang menyebabkan struktur tubuh anak-anak Indonesia semakin tidak ideal. Jika tidak segera diatasi, karakter fisik manusia Indonesia ke depan adalah pendek dan gemuk.
”Tubuh pendek terkait kondisi ekonomi, sedangkan gemuk berhubungan dengan pola makan seseorang,” kata Ketua Umum Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) Minarto dalam Seminar Gizi Lebih: Ancaman Tersembunyi Masa Depan Anak Indonesia di Jakarta, Rabu (20/4).
Data Direktori Pengembangan Konsumsi Pangan Badan Ketahanan Pangan 2009 menunjukkan, konsumsi pangan hewani masyarakat Indonesia baru mencapai 60 persen dari jumlah yang dianjurkan. Badan pendek disebabkan kurangnya asupan pangan hewani. Adapun kegemukan terjadi karena kelebihan konsumsi makanan yang mengandung minyak dan lemak serta padi-padian.
Berdasarkan penelitian Atmarita dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan pada 2010, tinggi badan anak laki-laki Indonesia pada umur 5 tahun rata-rata kurang 6,7 sentimeter dari tinggi yang seharusnya, sedangkan pada anak perempuan kurang 7,3 sentimeter. Anak umur 5 tahun seharusnya memiliki tinggi badan 110 sentimeter.
”Kurangnya konsumsi pangan hewani akan membuat kurangnya sejumlah zat gizi mikro yang menjadi kebutuhan dasar tumbuh kembang anak,” kata Minarto. Konsumsi pangan hewani tidak dapat digantikan jenis bahan pangan lain. Jenis pangan ini dapat diperoleh dari daging, aneka jenis ikan, dan telur.
Kasus kegemukan meningkat
Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar 2010, prevalensi kegemukan anak balita Indonesia mencapai 14 persen, dengan rincian prevalensi 14,9 persen dari keluarga kaya dan 12,4 persen dari keluarga miskin. Jumlah anak balita kegemukan meningkat karena survei serupa pada 2007 menunjukkan prevalensi anak balita kegemukan baru 12,2 persen. Kasus kegemukan paling banyak terjadi tahun 2010, yaitu di Jakarta dengan 19,6 persen.
Dosen Departemen Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dan anggota Persatuan Dokter Gizi Medik Indonesia, Saptawati Bardosono, mengungkapkan, penumpukan lemak pada pinggang, yang biasanya dialami orang dewasa, kini semakin banyak terjadi pada anak-anak.
Selain akibat pola makan yang keliru, yaitu banyaknya konsumsi susu dan makanan manis, kegemukan juga disebabkan kurangnya aktivitas fisik karena anak terlalu banyak menonton televisi dan berkegiatan di dalam rumah yang sempit. Salah jika ada anggapan yang mengatakan bahwa anak gemuk adalah anak yang lucu dan sehat.
Dosen Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI, Rini Sekartini, menambahkan, kegemukan meningkatkan risiko penyakit terkait jantung dan pembuluh darah, diabetes, kanker, kelainan otot, serta kelainan pernapasan.
http://health.kompas.com/read/2011/0...ndek.dan.Gemuk
Ada presenter tivi gendut juga!
Orang Gemuk di Indonesia Meningkat 78,2 Juta Jiwa
Senin, 15 Agustus 2011
World Health Organization (WHO) melansir persentase orang kegemukan atau overweight yang mencengangkan. Data selama 2010, di Indonesia tercatat 32,9 persen atau sekitar 78,2 juta penduduk dengan kondisi kegemukan.
Persentase tadi bisa dibandingkan dengan data obesitas WHO pada 2008 yang hanya 9,4 persen. Dengan peningkatan jumlah penduduk yang kegemukan ini, ikut mendorong peningkatan faktor risiko penyakit kronis.
Dokter spesialis nutrisi Siloam Hospitals dr Samuel Oetoro M.S. Sp.GK menuturkan, penyakit kronis yang mengikuti orang dengan kondisi badan kegemukan cukup beragam. Di antaranya yang dominan adalah, hipertensi, serangan jantung, diabetes, dan beberapa jenis kanker.
Tingginya angka penduduk yang obesitas di Indonesia, menurut Samuel disebabkan beberapa faktor. Di antaranya adalah, perubahan pola hidup di masyarakat. "Sekarang mengonsumsi junk food menjadi tren. Apalagi bagi anak muda," ucap dia.
Menurut Samuel, sel yang menyusun lemak merupakan sel-sel yang tua. Jika sel-sel tua ini menumpuk di organ tertentu, makan ikut menyeret usia organ tersebut menjadi lebih tua.
"Misalnya tumpukan lemak itu di jantung. Ya usia jantungnya mengalami penuaan," terang dia. Dengan kondisi penuaan yang lebih cepat tersebut, Samuel menjelaskan fungsi organ-organ tadi juga menurun lebih cepat.
Selama menjadi pendamping pasien yang ingin bobot tubuhnya turun, Samuel mengatakan pernah merekam rekor penurunan berat badan terbesar. Waktu itu, dengan diet yang tepat dan sehat, ada pasien yang memiliki berat badan 105 kg turun menjadi 73 kg dalam tempo delapan bulan.
Bagaimana caranya? Pertama, Samuel berperan tidak sebagai dokter. "Saya tidak menganjurkan makan ini, makan itu. Atau minum obat ini, dan obat itu," tandasnya. Tapi, di awal-awal upaya penurunan berat badan, Samuel mengatakan dokter lebih bersifat sebagai motivator.
Dia menegaskan, pola pikir pasien yang ingin susut berat badannya harus dibongkar. Di antara pola pikir yang dominan membentuk kegemukan adalah, orang berpikiran jika gemuk itu sama dengan sehat. "Itu tidak tepat. Anggapan itu yang harus dibongkar dulu," katanya.
Setelah pasien mantap jika harus memiliki berat badan ideal, baru selanjutnya masuk tahap anjuran mengatur pola makan, jenis makanan, olahraga, hingga jika perlu pemberian obat-obat tertentu. Untuk urusan mengatur makanan, Samuel memiliki tiga rumus. Yaitu, 3-J. Maksudnya, jumlah tidak berlebihan, jadwal tetap tiga kali sehari, dan jenis makanan yang tepat. Di antaranya, menggunakan beras merah atau roti gandum.
Samuel mengingatkan, membentuk tubuh kembali ramping cukup penting. Tapi, yang perlu ditekankan adalah tubuh ramping yang sehat. Jika tubuh ramping tetapi penyakitan, menurutnya adalah kegagalan upaya penurunan berat badan.
Untuk bisa ramping sekaligus sehat, Samuel menganjurkan untuk tetap rutin berolahraga. Seperti berjalan atau berlari. Jika berat badan sangat berlebihan, Samuel menganjurkan untuk olahraga bersepeda.
"Jika sangat gemuk memilih jalan kaki atau berlari, kasihan lututnya. Sebab harus menanggung tumpuan berat badan," pungkasnya. Samuel berharap, angka obesitas di negeri ini bisa menurun.
http://www.equator-news.com/utama/ke...-782-juta-jiwa
Pak polisi gendut
copas dari http://www.kaskus.us/showthread.php?t=12188568



3Likes
LinkBack URL
About LinkBacks








Reply With Quote


Bookmarks