377123_186132768145469_100002462412034_390783_21180008_n.jpg
Yayuk Basuki sengaja tidak memenuhi penawaran PB Pelti masuk tim inti SEA Games XXVI Jakarta dengan pertimbangan memberikan kesempatan pada juniornya. Karena, olahraga harus tertanam renegerasi pemain untuk mencapai prestasi internasional. Padahal petenis peringkat 18 dunia ini berpeluang menyuguhkan medali emas bagi Merah-Putih di multi event ASEAN tahun 2011.
Sebagai petenis terbaik tanah air Yayuk mengatakan, komitmen dan pola pikir para atlet muda masa kini perlu dibenahi secara serius mengingat hal itu berpengaruh kepada prestasi yang dicapai. Berikut petikan wawancara dengan petenis yang dijuluki oleh pers dan penonton luar negeri sebagai Jaguar of Asia ini.
Mba Yayuk, idealisnya apakah para atlet harus selalu tergantung kepada negara atau pemerintah ?
Pada dasarnya memang para atlet tidak bisa harus selalu tergantung akan dana yang diberikan oleh pemerintah. Sudah saatnya olahraga di Indonesia memiliki daya jual. Karena di luar negeri olahraga memiliki daya jual. Contohnya di Cina olahraganya tidak tergantung pada dana pemerintah, tapi bergantung pada sponsor. Hal itu bisa terjadi karena pemerintahnya peduli dan melihat ada potensi yang bisa di jual dari olahraga. Karena pada dasarnya olahraga ini punya value juga dan valuenya sangat tinggi Bayangin jika seorang atlet dikontrak miliran rupiah pertahunnya oleh sebuah sponsor. Tapi,ya itu tadi peran pemerintah dalam menyalurkan sponsor kepada para atlet lah yang sangat dibutuhkan.
Apakah bonus yang diberikan oleh pemerintah sangat membantu kehidupan para atlet ?
Pemberian bonus, bagi saya itu bukan memberikan solusi tapi bisa menjadi bumerang. Terus terang di zaman saya dulu bertanding untuk menjadi yang terbaik dan bisa melihat merah putih berkibar.
Lalu, seperti apa peran pemerintah yang seharusnya terhadap masa depan para atlet Indonesia?
Rata-rata para atlet kita memiliki pendidikan yang rendah. Katakanlah seorang juara Sea Games pendidikannya cuma sampai SMU. Coba Anda bayangkan dengan pendidikan yang rendah bisa dipastikan akan banyak para atlet yang nasibnya bisa sama, maaf seperti Elyas Pikal. Sudah sepatutnya saat ini pemerintah atau Negara lebih peduli akan masa depan para atlet dengan cara menyekolahkan para atlet sampai perguruan tinggi. Dengan berbekal ijazah S1 saya optimis para atlet kita bisa menentukan masa depan hidupnya sendiri dalam arti mandiri tanpa tergantung dengan pemerintah. Jadi jika si atlet seorang sarjana pada saat dia berhenti jadi atlet dia tidak akan mengemis kepada negara. Tapi dengan sendirinya dia mampu fight.
Artinya pendidikan sampai perguruan tinggi itu lebih membantu ketimbang bonus ?
Kalau menurut saya pendidikan sampai perguruan tinggi lebih membantu untuk masa depan atlet ketimbang bonus. Jika background pendidikan rendah bisa dipastikan si atlet ketika mendapat bonus ratusan juta, uang itu akan habis dalam sesaat. Karena si atlet tadi tidak bisa memanage dan tidak punya visi ke depan dimana jika dia sudah tidak lagi menjadi atlet. Nah, bila si atlet memiliki pendidikan yang tinggi saya optimis si atlet tersebut bisa memanage bonus yang ia terima. Semoga dengan adanya Yayasan Olahragawan Indonesia (YOI) bisa menjadi wadah dan menjembatani para atlet dan membantu kesejahteraan para mantan atlet yang kurang mampu.
Menurut Mba Yayuk apa yang menyebabkan para atlet tidak bisa melanjutkan pendidikan sampai ke perguruan tinggi ?
Negara kita ini sulit, karena banyak yang mengatakan faktor birokrasi yang cukup rumit sehingga si atlet pun pendidikanya hanya sampai SMU saja. Katakanlah ada catatan kerjasama dengan sekolah dan beberapa perguruan tinggi atau pemerintah memberikan subsidi pendidikan kepada para atlet.
Menurut Mba Yayuk apakah para atlet kedepannya bisa duduk dikursi kabinet ?
Terus terang saja, jika kita diberi kesempatan untuk duduk di kursi kabinet katakanlah menjadi Menteri olahraga, terus terang kita bisa dan mampu.
Idealisnya atlet itu harus memiliki pola pikir yang seperti apa ?
If you want be a champion act like a champion, work like a champion and live like a champion
Habis manis sepah dibuang, apakah itu yang dilakukan oleh pemerintah terhadap para atlet?
Masa depan atlet harusnya dipikirkan oleh pemerintah bukannya habis manis sepah dibuang. Setelah mereka tidak menjadi atlet lagi tidak ada lagi yang memikirkan contohnya seperti saya. Kita disini tidak dihargai. Kalo dulu saya ingin menjadi profesional sebagai pemain, kalo sekarang saya ingin menjadi profesional menjadi pelatih. Tapi, apa yang terjadi kita melatih di Negara sendiri kurang dihargai. Akhirnya saya memilih menjadi pofesional pelatih di luar negeri, seperti di Hongkong dan Amerika. Habisnya disini kita tidak dipedulikan dan pikirkan, mereka lebih memilih pelatih import. Akhirnya pelatih-pelatih Indonesia yang berkualitas memilih melatih diluar negeri. Karena di luar negeri kita lebih dihargai, nilai valuenya lebih tinggi diluar negeri ketimbang negeri sendiri. Bedanya 10 kali lipat bila dipikir.
Sebagai petenis senior Indonesia, Mba Yayuk kan sudah merasakan menjadi atlet dari kepemimpinan almarhum Soeharto hingga SBY. Sejauh ini seperti apa peran dan program pemerintah terhadap masa depan para atlet tanah air?
Sampai saat ini saya belum melihat pemerintah peduli terhadap masa depan para atlet, memang saat ini sudah mengarah ke perbaikan. Cuma yang saya lihat pemerintah atau Negara tidak serius untuk benar-benar memiliki atlet yang professional. Kalau pemerintah serius seharusnya mengasah para atlet dari kecil dan juga memikirkan masa depan si atlet itu sendiri, dan menghargai peran-peran atlet yang menjadi pelatih. Jadi dari 5 orang yang pernah memimpin Indonesia belum ada yang memikirkan atau menjadi wadah untuk masa depan atau kehidupan para atlet.supaya para atlet merasa secure hidupnya. Untuk urusan program pemerintah terhadap atlet sampai sekarang belum jelas, maksudnya setelah diberikan bonus si atlet akan dikemanakan lagi. Yang ada sekarang program pemerintah adalah atlet dijadikan PNS. Kalau semua dijadikan PNS maka akan banyak atlet yang menganggur, karena enggak jelas tujuannya si atlet itu dijadikan PNS untuk menjadi apa, skill yang mereka punya apa. Enggak jelas kan. kalo di luar negeri pemerintahnya sudah memiliki program-program yang jelas untuk para atletnya.
Selama 26 tahun berdedikasi di tanah air, apa yang Mba Yayuk terima dari pemerintah & negara ?
Saya tidak di cover sama sekali oleh negara dan tidak dipedulikan sama negara, ya mau gak mau saya harus memikirkan masa depan keluarga saya. Dedikasi saya 26 tahun saya persembahkan untuk indonesia, kurang apa. 26 tahun tanpa embel-embel memikirkan tanda jasa, atau balas budi tapi apa yang saya terima? Negara atau pemerintah tidak peduli sama sekali. Saya diperlakukan seperti pepatah ‘habis manis sepah dibuang’, itu yang saya rasakan.
Mba Yayuk memilih menjadi pelatih pemain professional luar negeri, Apakah semangat Nasionalisme Mba Yayuk masih ada?
Dengan menjadi profesional pelatih diluar negeri tidak ada hubungannya dengan Nasionalisme. Buktinya di Asean Games saya masih ikut berperan.



2Likes
LinkBack URL
About LinkBacks




Reply With Quote



Bookmarks