
02-22-2008, 10:27 PM
|
 |
Member
|
|
Join Date: Jan 2008
Posts: 38
Thanks: 0
Thanked 0 Times in 0 Posts
|
|
generasi itu masih ada - laporan fed cup
wal tahun 2008, diwarnai dengan keputusan besar ketua Pelti Martina widjaja untuk membuat gebrakan dengan mengirimkan pemain muda dalam ajang fed cup. Awalnya, saya sempat ragu dengan keputusan yang dibuat orang nomor satu dalam pertenisan Indonesia tersebut. Namun kini saya mengaku salah dan salut atas keputusan dari ibu martina widjaja sebagai langkah besar dalam pertenisan Indonesia.
Melihat serpak terjang tim putri Indonesia dalam ajang Fed cup kali ini. awalnya saya berpikir Indonesia akan menjadi tim yang paling banyak dibantai oleh negara negara yang muncul sebagai kekuatan baru asia. Terlebih melihat munculnya pemain pemain top dunia yang berpartisipasi dalam ajang resmi supremasi dunia tenis wanita tersebut.
Melihat masa lalu yang begitu indah dengan munculnya superstar Asia baru, Angelique widjaja dengan ditopang oleh pemain sekaliber Weyne prakusya, Ramona tedjakusuma ditambah dengan orang paling senior dalam regu tim tenis Indonesia Sandy gumulya. Rasanya tim kita dulu adalah momok bagi tim siapapun terlebih catatan ganda dua Angie/prakusya mencatat rekor menakutkan dengan menang tanpa pernah kalah dalam setiap pertandingan ganda di ajang fed cup tersebut.
Tapi itu adalah kenangan di masa silam yang indah. Lupakan senior senior yang memutuskan untuk pensiun dengan berbagai alasan. Indonesia dipandang sebelah mata oleh tim negara lain bahkan sesumbar bintang tenis india Sania mirza berkata” saya tidak kenal dengan mereka (tim Indonesia), siapa mereka” . nada nada sedikit meremehkan juga muncul dari tim Australia yang sesumbar mengatakan akan membantai telak Indonesia.
Sejarah Indonesia dimulai dari sekarang, Indonesia yang satu group dengan India, Australia dan Selandia baru. Hanya bermaterikan pemain top 200an yang dipegang oleh Sandy gumulya (243). Bandingkan dengan India, Sania mirza(28), alica molik (58), marina erazovic(153). Tim kita seperti menghadapi sebuah pemain kuliahan kebanding kita yang dilukiskan sebagai anak sekolah menengah.
Namun semua berkata lain di hari ajang tersebut dimulai. Kejutan yang dibuat tim Indonesia dengan melibas India 2-1 membuat hati saya sejenak bangga dan terharu. Dan awalnya sempat terpikir ini hanya kebetulan sesaat karena mundurnya Mirza karena cedera kaki. Namun melihat pertandingan ganda putri antara Ayu/sandy dan Rao/Uberoi, dengan kemenangan Ayu/Sandy Disana saya melihat sesungguhnya tekad dan semangat putri kita membuktikan mereka adalah sejarah selanjutnya bagi Indonesia.
Kejutan yang berlanjut terjadi disaat melawan Australia. Lagi lagi apa lacur ingin dikatakan sebuah keberuntungan Alicia molik mundur karena cedera. Jesica moore sebagai pemain masa depan Australia yang sesungguhnya saya lihat lebih berpeluang mengalahkan Ayu, berbalik kewalahan dalam pertandingan. Terlihat emosi pemain tersebut dimanfaatkan Ayu untuk terus meraih point dan menutup dengan kemenangan. Laga yang saya tunggu sebenarnya adalah ajang Casey melawan Sandy. Petenis kidal tersebut adalah rissing star Australia yang baru saja membuat kejutan dengan menjadi 16 besar Australia open. Perlawanan alot yang diikuti kekuatan fisik dan power yang ditunjukkan oleh Casey. Lupanya dikalahan oleh Sandy yang mengandalkan kesabaran dan keinginan keras untuk revans terhadap kekalahan di 2 pertemuan sebelumnya.
Luar biasa Indonesia melibas Australia disaat itu dengan mencatat rekor sejarah kemenangan pertama dari 4 kali pertemuan antara negeri tentangga tersebut. Sayang keputusan Kapten tim Susanna, dalam menurunkan Lavinia/vivien untuk di ganda putri menurut saya adalah keputusan riskan. Walau Australia menurunkan mantan ganda no satu dunia Stubbs. Alangkah baiknya ganda Ayu/Sandy diturunkan kembali untuk mencoba meraih point.
Saya menilai andaikata kita menang diganda tersebut walau mungkin kapten tim memiliki penilaian lain kemungkinan besar untuk menjadi juara group ada disana. Dan kekalahan Lavinia/Vivien sudah saya bayangkan. Saya justru menilai sejak awal kalau pemain tim Selandia baru adalah pemain paling menakutkan diantara pemain dua negara sebelumnya. Sesumbar tim Indonesia berkata tim inilah yang paling lemah.
Dan semuanya sirna dan apa yang saya bayangkan disaat malam menjelang pertandingan ternyata benar. Tim putri kita dikalahkan 3-0 oleh negara di ujung dunia tersebut dan tertutuplah tim kita untuk menjadi juara group. Namun. Kita tidak perlu bersedih. Melihat kejutan yang terjadi di ajang Fed cup kali ini. inilah sebuah bukti bahwa kita memliki generasi yang baru untuk selanjutnya.
Saya juga ingin memberikan saran yang mungkin berguna untuk pertenisan Indonesia. Sesungguhnya konflik silam yang pernah terjadi diantara kubu Detec dan ragunan telah membuat sebuah kesempatan besar untuk seorang petenis asal Bali, Ayu fani damayanti untuk berprestasi. Saya cukup senang mendengar petenis Bali ini bersedia membela tim Indonesia di ajang Fec cup , karena sudah sejak lama saya melihat petenis muda ini adalah petenis yang kelak dapat menjadi seorang bintang besar.
Namun sayang ia memiliki kesempatan kecil untuk bertarung di arena tenis dunia karena keterbatasan dana. Pelti sebagai induk organisasi tenis Indonesia adakalanya belajar dari pengalaman sebelumnya , sebuah kesalahpahaman hanya akan menimbulkan sebuah kemacetan bagi cita cita kita untuk melihat lahirnya Angie ataupun Yayuk basuki baru.
Berikanlah kesempatan yang adil kepada setiap petenis petenis muda kita untuk belajar dari sebuah pengalaman dengan sebanyak mungkin melakukan pertandingan. Dari situlah muncul sisi sisi kuat mental dan semangat untuk menciptakan Indonesia yang kuat sebagai negara tenis yang diseganin di masa silam. Inilah kesempatan kita untuk tampil kembali sebagai bagian dari tradisi pencaturan tenis dunia.
http://lieagneshendra.blogs.friendster.com
Bravo tenis indonesia
Agnes davonar
|