Page 10 of 23 FirstFirst 1234567891011121314151617181920 ... LastLast
Results 91 to 100 of 228

Thread: Apakah hidup harus menikah?


  1. #91
    Newbie
    Join Date
    Oct 2008
    Posts
    4
    Rep Power
    0

    Re: Apakah hidup harus menikah?

    hi duda,
    kalo gw jadi loe gw gak akan terlalu khawatir dengan pendapat org lain. gw akan jalanin apapun yg menurut gw terbaik buat gw selama tidak merugikan orang lain. Apalagi kalo kita tinggal di kota besar seperti jakarta, everything is possible man! mau having fun sama siapa saja? bisa . . mau ngesex ketempat2 pelacuran? tersedia tempat2 pelacuran legal yg gak bakalan di gerebek. ato mau serumah sama TTM??? ya . . tinggal saja di apartemen, dijamin privacy pasti terjaga tapi mau sampe kapan??? apa diumur segitu gak kepengen punya istri untuk saling berbagi suka dan duka? gak pengen punya cute baby yg akan meramaikan suasana rumah? ato paling nggak ada orang2 tercinta yg akan merawat kita dimasa tua kita?.

    Bopi adalh nama anjing pav gw. anjing tetangga gw sering mampir ketempat gw trus kawin sama bopi sampai akhirny bopi hamil dan punya 4 anak. suatu saat gw bawa anjing gw nginep di tempat kaka yg tinggal beda kota. hal serupa terjadi, anjing kakak gw kawin sm bopi trus bopi hamil lagi deh

    yg mau gw sampe in, kalo kita manusia bermartabat ngesex sama siapa saja, tanpa ikatan dan aturan, apa bedanya kita sama bopi???

    untuk teman2 yang posting opini, can we discuss everything not based on a certain religion? I believe ppl here come with various religion.



    Reduce, Reuse and Recycle.

  2. #92
    Newbie
    Join Date
    Sep 2008
    Posts
    25
    Rep Power
    0

    Smile Re: Apakah hidup harus menikah?

    Quote Originally Posted by Duda View Post
    Saya berusia 56 tahun, duda tanpa anak, PhD dari LN. Semenjak gagal dalam perkawinan saya, saya ingin hidup single, mandiri, dan professional. Namun kebutuhan jasmani dan biologis tak bisa saya abaikan. Saya punya masalah besar, sistim kebudayaan di Indonesia tak memungkinkan memenuhi kebutuhan biologis (sex) diluar perkawinan. Saya lama tinggal di Luar Negri. Berikut ini saya kutipkan sedikit sebuah artikel dari web blog yang mencerminkan berbagai pilihan hidup dinegri modern:

    Pilihan hidup di negara maju/modern lebih banyak dan lebih bervariasi, misalnya pilihan untuk: menikah, mandiri/bachelor, dan single parent/mother (orang tua tunggal: punyak anak namun tidak mau punya suami/istri). Dengan adanya berbagai pilihan ini, hidup menjadi lebih rasional, manusiawi, dan Ilahi, dengan alasan:
    - jumlah pria-wanita didunia tidaklah persis sama; disuatu daerah: bisa lebih banyak prianya, atau bisa lebih banyak wanitanya, jadi kalau semua diwajibkan menikah satu lawan satu, pasti ada yang tidak kebagian.
    - ada yang berniat tidak menikah karena ingin lebih mementingkan professionalisme (pekerjaan), jadi ia memilih hidup single-mandiri agar dapat konsentrasi pada pekerjaannya.
    - ada yang berniat tidak menikah karena ketakutan financial, artinya takut tidak mampu membiayai pendidikan anaknya nanti.
    - ada yang tidak ingin menikah dikarenakan cacat (sumbing, pincang, juling, dst.) atau mengidap penyakit tertentu, misal ayan, diabetes, gangguan jiwa, dst.
    - ada yang tidak menikah karena takut gagal lagi dalam perkawinan kedua/ketiga/dst.
    - ada yang ingin hidup secara single parent, punya anak namun tidak mau menikah.
    - ada yang ingin hidup bersama tanpa nikah
    - bahkan ada yang hidup bersama atau menikah namun dengan jenis kelamin yang sama (homo/lesbian), hal ini disebabkan dari sifat genetik yang dimilikinya, diluar kemampuan yang bersangkutan.

    Disamping pilihan hidup yang sangat bervariasi seperti diatas, sebagian besar manusia modern yang masih beragama atau yang religius, mempunyai pandangan tentang sex sbb.:
    - kitab suci agama manapun tidak melarang hubungan sex antara manusia dewasa atas dasar suka sama suka dan bukan selingkuh (bagi yang terikat pernikahan)
    - last but not least, Tuhan mengkaruniai sex yang luar biasa nikmatnya, untuk dinikmati secara dewasa, bukan hanya untuk "menggoda manusia" (alangkah kejamnya Tuhan bila hanya bermaksud menggodai manusia).

    Dengan asumsi rasional logis seperti diatas, apakah manusia2 yang memilih tidak menikah untuk hidup profesional lalu tidak bisa atau tidak boleh menikmati sex (kawin) sama sekali? Apakah mereka itu lalu hanya sekedar menjadi bulan2an manusia munafik saja dengan menjadi objek ejekan seperti: perawan tua atau perjaka tua yang tidak laku rabi/nikah? Atau mereka harus sembunyi2 kepelacuran? Apakah setiap kali sejoli dewasa yang sedang memadu kasih harus digropyok, diperas dan dipermalukan? Tidak, bukan? Dst.

    Sebagai penutup, mohon saran: APAKAH HIDUP HARUS MENIKAH? BOLEHKAH SAYA HIDUP SINGLE TAPI MEMPUNYAI TTM? BOLEHKAH MANUSIA LAIN MENGATUR KEBUTUHAN SEX MANUSIA LAIN DENGAN ATURAN2 COMPLICATED?
    Secara manusiawi orang yang sudah dewasa pasti inging hidup berpasang-pasangan sebagai suami isteri akan menentramkan kehidupan secara lahir dan batin walau dalam perjalanan kehidupan pernikahan ada problematik hingga timbul penceraian. Dan hidup sendiri itu akan sangat kesepian apalagi dalam segi biologis dalam kultur Indonesia tidak mungkin untuk kehidupan antara laki-laki dan perempuan bak seperti suami isteri.

  3. #93
    Beginner
    Join Date
    Aug 2008
    Location
    Batu, Jawa Timur
    Posts
    60
    Rep Power
    7

    Re: Apakah hidup harus menikah?

    Lama saya tidak muncul, maap. Terima kasih atas saran-saran semuanya. Rupanya nasihat tertentu menghujam dihati saya, saya lalu punya keinginan tuk cari partner serius saja dari pada TTM; barangkali ada yang berminat? Namun saya tidak akan pernah menghakimi masyarakat modern (yang kehidupannya jauh lebih rapi, cerdas, teratur, dan aman) hanya sekedar dari sex. Sex disana sama sekali tak ada hubungannya dengan kriminalitas. Kriminalitas berhubungan dengan kemiskinan dan kebodohan. Pengalaman hidup di negri modern sangat membekas di hati saya, apalagi tentang sex, yang dipandang dengan positip, alamiah, menyehatkan, indah, baik, dan wajar tuk dinikmati; jauh berbeda dengan di kita, sex adalah jelek dan jahat bagi yang tidak nikah, JADI SEMUA MANUSIA SEOLAH-OLAH HARUS DAN WAJIB NIKAH, ITULAH KEBUDAYAAN KITA, YANG WAJIB DIMENGERTI TINGKAT PERKEMBANGANNYA, YANG SEDANG DI LEVEL BERKEMBANG, SESUAI SEBUTAN SEBAGAI NEGRI BERKEMBANG.

  4. #94
    Zha
    Zha is offline
    Junior Member Zha's Avatar
    Join Date
    Oct 2008
    Location
    di batas horison
    Posts
    384
    Rep Power
    6

    Re: Apakah hidup harus menikah?

    Quote Originally Posted by Duda View Post
    Lama saya tidak muncul, maap. Terima kasih atas saran-saran semuanya. Rupanya nasihat tertentu menghujam dihati saya, saya lalu punya keinginan tuk cari partner serius saja dari pada TTM; barangkali ada yang berminat? Namun saya tidak akan pernah menghakimi masyarakat modern (yang kehidupannya jauh lebih rapi, cerdas, teratur, dan aman) hanya sekedar dari sex. Sex disana sama sekali tak ada hubungannya dengan kriminalitas. Kriminalitas berhubungan dengan kemiskinan dan kebodohan. Pengalaman hidup di negri modern sangat membekas di hati saya, apalagi tentang sex, yang dipandang dengan positip, alamiah, menyehatkan, indah, baik, dan wajar tuk dinikmati; jauh berbeda dengan di kita, sex adalah jelek dan jahat bagi yang tidak nikah, JADI SEMUA MANUSIA SEOLAH-OLAH HARUS DAN WAJIB NIKAH, ITULAH KEBUDAYAAN KITA, YANG WAJIB DIMENGERTI TINGKAT PERKEMBANGANNYA, YANG SEDANG DI LEVEL BERKEMBANG, SESUAI SEBUTAN SEBAGAI NEGRI BERKEMBANG.
    Dear Duda,

    Saya rasa pola pikir negara berkembang atau maju tidak ada kaitannya dengan norma dan aturan yang berlaku di masyarakat. Ini mungkin karena kita memandang dari perspektif yang berbeda saja. Saya ingin tanya, apakah negara atau manusia bisa dikatakan maju hanya dengan MEMBEBASKAN AKTIVITAS SEKSUAL DI MANA2 BAHKAN TANPA ADANYA IKATAN HUKUM YANG SAH? Lalau jika suatu bangsa merasa bahwa pranata adalah suatu yang mengatur kehidupan kita selama di dunia, dan menganggap bahwa yang tidak mengikuti aturan dan BEBAS SEBEBAS-BEBASNYA TAK LEBIH DARI MAKHLUK YANG KURANG BERADAB, apakah bisa dikatakan mereka terbelakang?

    Lalu siapa yang memberikan patokan maju dan tidaknya pemikiran suatu bangsa? TIDAK ADA. Kalau kembali ke sejarah di mana di jaman batu tidak ada pernikahan, seenaknya saja kumpul kebo, bahkan hubungan intim insense juga bisa dilakukan, maka saya malah melihat gaya hidup yang anda bela habis2an itu tak lebih dari gaya hidup org jaman batu yang tak punya pranata. Nah, salahkah saya jika memandang seperti itu?

    Lalu jika Anda sendiri memandang org Indonesia yang hidupnya penuh pranata adalah org terbelakang karena jaman sekarang adalah jaman org bisa bertindak sebebas2nya, juga tidak salah... Ini tergantung dari cara pandang kita saja...

    Lalu bagaimana kita menyikapinya? Orang yang bijaksana itu tau bagaimana bersikap, bukan memaksakan kehendak pribadi tapi harus selalu menyesuaikan dengan siapa kita bicara, dengan siapa kita berhadapan, atau di mana kita berpijak.

    Tak pantas rasanya saya berfilosofi pada Anda yang usianya jauh di atas saya. Tapi semoga Anda mengerti, judgement itu ada karena otak Anda yang men-suggest-nya untuk begitu, jadi bukan KEBENARAN MUTLAK!

    Salam manis,
    Zha
    ku menerkam, mengaum, berlari,,,


  5. #95
    Beginner
    Join Date
    Aug 2008
    Location
    Batu, Jawa Timur
    Posts
    60
    Rep Power
    7

    Re: Apakah hidup harus menikah?

    Sulit menerangkan kebudayaan di negri sana kalau tidak mengalaminya, ya. Disana, manusia 18 tahun sudah dianggap dewasa, seringkali sudah pisah dari orang tua, dan mengambil keputusan sendiri. Di kita, sampai mahasiswa, kerja bahkan nikahpun masih tergtung ortu. Sejak kecil mereka dididik mandiri, apa2 dikerjain sendiri. Oleh karena sendiri-mandiri, lepas dari ortu, maka dalam hal sex pun mereka bebas menentukan sendiri, maka rata2 umur diatas 18 tahun, hampir 75% remaja sudah mengalami sex, jadi lain sekali dengan di Indonesia. Cobalah anda lamar bea siswa tuk studi ke negara maju, bukan tuk menirukan mereka, namun tuk melihat perbedaan kebudayaan. Sex dan agama itu sangat privasi. Di kampus, cewek cakep gak takut di gangguin cowok, sebab cowok yang usil dapat dituntut hukum bila mengganggu cewek, misal siul2 atau mnjahili, hukum ketat sekali disana.Budi pekerti tinggi sekali. Cobalah serving di google dengan meneliti kehidupan sex tuk remaja diatas 18 th di negri maju, supaya tidak prejudice thd mereka. Benar komentar sementara forumnist, kita ini masih hidup di negri amburadul, janganlah sombong dan mengatakan kalau sex bebas itu mirip binatang, no no no! Bukan seperti itu, sex tjdi melalui jalan panjang dan kecocokan dan kemauan bersama. Sekian dulu, mau kerja.

  6. #96
    Zha
    Zha is offline
    Junior Member Zha's Avatar
    Join Date
    Oct 2008
    Location
    di batas horison
    Posts
    384
    Rep Power
    6

    Re: Apakah hidup harus menikah?

    Nih aku copy-kan sedikit artikel, mungkin bahasa gaul dalam artikel ini akan membuat Anda sedikit bingung, namun jika ada pertanyaan saya bersedia menerjemahkan bahasa ini.

    Ini bukan ttg hidup sendirian, tapi tentang freesex yah,,, kita baca sedikit ulasan dari sudut pandang lain ttg freesex and a modern girl... Mungkin secara langsung tak ada kaitannya dengan curhat Anda, tapi saya rasa bagus juga buat referensi nih...

    Free Sex VS Termehek-mehek!
    LEA - Jakarta

    Do What You Do
    Say What You Say
    Mean What You Mean When You Say It
    Cause It’s Your Life
    Gotta Make Your Own Rules
    And You Gotta Do It Your Way
    You Should Do With Your Head Held High (by. PINK)

    27 Oktober 2008
    Banyak yang bilang kalo as a modern woman, kita ga perlu takut buat ngelakuin freesex asal safe (okehhhh plusss ditambah kalo bisa, jangan ama laki ato bini nya orang drehh!….ntar mo inyak22 malah tambah mumet22 ga penting!)
    For me, being modern woman ama ngelakuin freesex adalah dua hal yang beda.
    Disclaimer :
    Tulisan akyu ini, ga bakalan ngejudge dari sisi agama orang yg ngejalaninnya, secaraaaa agama itu urusan individu masing-masing ama Tuhannya (pluss aye jg masih belajar……en masih jaohh pulak perjalanann aye!). Well, aye bakalan cerita dari sudut pandang aye sebagai perempuan Indonesia yang tinggal en berinteraksi dengan lingkungan indo dengan segala nilai-nilai ajaibnye. Abis baca di kompas, masalah ginian (artikel HaOtE nye si LEMB):
    ennnn komentarnya suwirrr lucu-lucu juga :
    Love and Lust ibarat makan sate kambing… kalo love harus melihara dari anak sampe gede, motong kambingnya, baru bakar, kemudian makan. Kalo lust, tinggal panggil tukang sate yang lewat… hahahahah error gue…
    Posted by: bugz | Rabu, 8 Oktober 2008 | 11:19 WIB

    Lemb ma Night: Bener yg dibilang Night, prakteknya Love lebih mahal dr Lust, Lust paling 50 dollar saja dah dpt hehehe, kalo Love? belain bawa2 A HANDBAG!!!! huwaaa..mpe pegel, buat pijetnya saja lebih dr 50 dollar hahaha, belom dinnernya wah…Love memang mahal
    Posted by: Bejan | Rabu, 8 Oktober 2008 | 11:17 WIB




    wanita moderen bukan hanya membawa 2hp di handbag tapi juga karet, begitu juga pria. jadi selalu siap….
    Posted by: itsme | Selasa, 7 Oktober 2008 | 18:40 WIB


    Dari komen-komen di atas, bisa disimpulin kalo, kebanyakan laki-laki sehh nyantei-nyantei aja. Yeihhh bisa dimengerti, secara bukan mereka nyang bakalan digebukin ama nyak babe, kalo ketaoan hamil. Pluss poin kerennya itu :

    “MEREKA ADALAH LELAKI, DENGAN SEGALA HAK SEBAGAI WARGA NEGARA KELAS 1, DI INDONESIA INI”.
    Yeihh baru nyadar, ternyata emang asik jadi lalaki itu. Bisa pipis sambil berdiri (hmmm kadang pas lagi kebelet di jalan, dakyu jadi kepikir pengen pinjem ‘anu mereka’ sebentar lho! enaknyaaa jadi lalaki …tinggal nyari puun aje kek anjing! wihihihi.....candeee), boleh ngentut sembarangan (enn makin gede suara kentutnye…..malah bisa diasosiasikan berarti semakin MACHO!…halahhh), plus dijamin kagak bakalan ada yang protes kalo mau telanjang dada di depan rumah sambil cuman pake sarung aje!
    Yeihhh secara daku juga udah terlanjur lahir sebagai pere’, soooo……..
    hmmm kalo aku sbg pere` sih…… ngeliat masalah freesex ini dari sudut pandang `lo bakalan tinggal dimana, en kemungkinan bakalan kawin ama sape` nya? jadi bukan dari sisi religius nya lah. Itu sih urusan masing22. Maksudkyu kita musti cerdas lah jadi cewek. Bukan masalah wanita modern en mandiri nya, tapi berani nanggung segala konsekuensi tindakannya. Mungkin kalo lo tinggal di barat atau di utara atau di awang22 en kawin ama orang sana (yang justru kalo perawan, malah bakalan dikatain nerd or kampungan), mungkin ga masalah ngelakuin freesex asal safe aja kan. Nah kalo lo tinggal di sini en bakalan beranak pinak di sini plus berani ngelakuin freesex, berarti musti udah siap berani nanggung konsekuensi bahwa, kalo di Indo sini, perempuan ting-ting aja masih sering diinjek22 apalagi kalo udah tong-tong. Well, kita sih berharapnya bakalan merit ama cowok baek22 yg ga bakalan rese, tapi kan nasib ga ada yg tau. Apalagi yang namanya suami istri kalo berantem, pasti berusaha rese` ngomong nyelekit buat menang22an. Kalo lagi pada waras sihh mungkin bisa bergaya manis2 aja. Belon lagi kalo pangkal berantemnya, karena masalah kecemburuan adanya pihak ketiga. wiiiiiii beneran bisa jadi celah buat diuwek22 mulu` poin ini. So mending nasib ditentuin sendiri. Kalo ga mau dikatain nyelekit (contoh makian di pilem22 neh kek…. `dasar pelacur!` or `dasar sundel` bla bla bla en sejuta makian ajaib lainnya), mending jaga diri deh, buat keuntungan diri lo sendiri juga kan. Kecuali kalo lo ga sakit ati dikatain kek gitu or bisa yakin 10000 persen kalo bakalan dapet suami yg ga bakalan nyelekit pas berantem.
    Posted by: LEA | Rabu, 8 Oktober 2008 | 09:21 WIB


    Well bukannya diriku sok muna or sok payah banget, secaraa ga bisa jadi modern woman. Modern woman yang mustinya harus berani, karena punya hak buat ngelakuin apa aja maunya kita. Tapi justru karena aye mencoba, buat ribet jadi cewek yang rada cerdas dikit, mikirin ke depan apa yang benernya mau dicari. Kalo aku ga tinggal di indonesia, ato dilahirin sebagai lalaki, mungkingg laenn kali ceritanye (okehhh ini dgn asumsi variabel laennye kek agama ato ortu ga dimasukin yee!!! alias ceteris paribus! hayyahhh)
    Well, akhir akhir ini, daku sering nonton acara termehek-mehek di tipi….
    Buanyak cerita tentang cewek, yang setengah mati nyariin pacarnya, yang udeh ngehamilin. Dohhhh walo tau kalo itu udeh diskenario in, tetep aja rasanya campur aduk di dada, secara emang gitu kan yang beneran kejadian di dunia nyata!. Beneran kadang pengen nonjok, ngeliat dengan tampang culun sok bego, itu cowok malah ngomong “aku emang udah ngehamilin dia, tapi aku masih belum siap nikah” (gubrakkk dehhh!). Ato adegan yang beneran mengundang pengen maki-maki se kebon binatang pas “die emang pacar aku, tapi belon tentu itu anakku! (ya ampunnnn teganya teganya teganya…syalalalala). En yang paling the worst, pas ada adegan itu cowok, yang dengan santainya ngomong “aku ga kenal cewek itu kok! semuanya fitnah, Saya laporin ke pengacara saya nanti!”
    ahhh perempuann, nasibmuuuuuu......
    Well, mungking banyak yang bakalan ngomong, “halahh kan belon tentu hamil. kurang jago aja tuh maennya”, ato malah ada yg ngomong “ga masalah kan jadi single parent? jaman udah maju gitcu loh!”. Yeihhh secara yang ngomong, bukan yang bakalan ngejalanin hidup di bawah cibiran orang di Indonesia, ato ngeliat ortu menderita jadi susyee en malu, plusss bukan jadi cewek Indonesia yang pasti bakalan mumet setengah mati ngejelasin ke 'calon suami Indonesia' nya nanti ‘tentang kenapa udeh ga perawan!’.
    Hmmm mungkin dakyu terlalu konservatif. Tapi gimanapun, selama kita di Indonesia, kita musti terima, kalo kita hidup dengan segala nilai-nilai ajaib itu. Sooooo?........
    Well daku tipe orang, yang ga pengen gambling ngejalanin hidup. Paling ga asik ngejalanin hidup, dengan nyerahin nasib ke tangan waktu ato belas kasian orang. Aku juga manusia normal (okehhh dilarang mempertanyakan kadar ke normalan nya akyu yee!!) yang pengen hidup bahagia. Yeihhh pengen jadi orang kaya, pengen punya suami keren plus baekk, pengen bisa pake baju yang matching ama warna mobil en tas plus sepatu aye (whooaaa……sipp bangett drehh tuh!). Yang aku tau, nikah itu udeh cukup rumit, tanpa perlu diawali pake landasan yang rumit-rumit juga.
    Sooo karena aku ga pengen digebukin suami ato berantem yang penuh makian ajaib (en ga bisa bales pulak!), plus ngerasa rendah di mata orang laen di Indonesia……….AKU MENOLAK IKUTAN FREESEX ato SEX PRANIKAH!
    Yeihh alasan yang 'soooo lame' en 'ga bengget' deh ya. Hmmm mo gimana lagi, at least aku berusaha njalanin hidup, dengan ga gambling dengan nasib (aku pegang kartuku sendiri, tho?). Masalah nanti bahagia atau ga, rasanya ga ditentuin dari pilihan freesex atau ga, alias ditentuin ama usaha kita sendiri plus nasib lagi (hayyahh kok balik ke sini muluk yaa?). Well, daku ga pengen jadi sate kambing sehhh. Aye pengen jadi kambing yang dirawat, dikasih makan, pluss dibawain tas nya pas di mall!!! (weitsss keknye ituh kambing jenis spesies baru drehh!)


    http://community.kompas.com/read/artikel/1511
    ku menerkam, mengaum, berlari,,,


  7. #97
    Zha
    Zha is offline
    Junior Member Zha's Avatar
    Join Date
    Oct 2008
    Location
    di batas horison
    Posts
    384
    Rep Power
    6

    Re: Apakah hidup harus menikah?

    Quote Originally Posted by Duda View Post
    Sulit menerangkan kebudayaan di negri sana kalau tidak mengalaminya, ya. Disana, manusia 18 tahun sudah dianggap dewasa, seringkali sudah pisah dari orang tua, dan mengambil keputusan sendiri. Di kita, sampai mahasiswa, kerja bahkan nikahpun masih tergtung ortu. Sejak kecil mereka dididik mandiri, apa2 dikerjain sendiri. Oleh karena sendiri-mandiri, lepas dari ortu, maka dalam hal sex pun mereka bebas menentukan sendiri, maka rata2 umur diatas 18 tahun, hampir 75% remaja sudah mengalami sex, jadi lain sekali dengan di Indonesia. Cobalah anda lamar bea siswa tuk studi ke negara maju, bukan tuk menirukan mereka, namun tuk melihat perbedaan kebudayaan. Sex dan agama itu sangat privasi. Di kampus, cewek cakep gak takut di gangguin cowok, sebab cowok yang usil dapat dituntut hukum bila mengganggu cewek, misal siul2 atau mnjahili, hukum ketat sekali disana.Budi pekerti tinggi sekali. Cobalah serving di google dengan meneliti kehidupan sex tuk remaja diatas 18 th di negri maju, supaya tidak prejudice thd mereka. Benar komentar sementara forumnist, kita ini masih hidup di negri amburadul, janganlah sombong dan mengatakan kalau sex bebas itu mirip binatang, no no no! Bukan seperti itu, sex tjdi melalui jalan panjang dan kecocokan dan kemauan bersama. Sekian dulu, mau kerja.
    Bung, yang di forum ini juga banyak yang di luar negeri koq. Sekarang ini, belajar di luar negeri bukan suatu yang "wah" banget sehingga bisa mengubah nilai moral serta etika kita sebagai bangsa Indonesia.
    ku menerkam, mengaum, berlari,,,


  8. #98
    Beginner kukuhcm's Avatar
    Join Date
    Oct 2008
    Posts
    95
    Rep Power
    6

    Re: Apakah hidup harus menikah?

    Quote Originally Posted by Zha View Post
    Bung, yang di forum ini juga banyak yang di luar negeri koq. Sekarang ini, belajar di luar negeri bukan suatu yang "wah" banget sehingga bisa mengubah nilai moral serta etika kita sebagai bangsa Indonesia.
    luar ato dalam sih gak masalah.. soal sex dan pernikahan adalah dua persoalan yg bisa juga berbeda.. wong yg udah nikah aja ada yg udah nggak terlalu mikirin.. hidup ini adalah pilihan.. jadi pilihan kita yg akan menentukan.. mau nikah ato nggak gak soal.. asal kita tahu untuk apa tindakan kita...
    jadilah bangsa berbudaya...

  9. #99
    Zha
    Zha is offline
    Junior Member Zha's Avatar
    Join Date
    Oct 2008
    Location
    di batas horison
    Posts
    384
    Rep Power
    6

    Re: Apakah hidup harus menikah?

    Quote Originally Posted by Cakrawala Meazza View Post
    Halo Duda,

    Menarik sekali apa yang dibahas di thread Anda ini. Saya coba memberikan sedikit pandangan saya. Menurut saya, menikah atau tidak adalah pilihan masing2 orang. Di zaman modern ini, bisa kita lihat di negara2 yang kemajuannya pesat contohnya China, Korea dan Jepang, pilihan untuk 'sendiri' dalam menjalani hidup semakin populer. Alasannya adalah tidak mau ribet, tidak mau menjalankan beban tanggung jawab dan merasa lebih comfort dengan kebebasan yang dimiliki, tanpa ada yang mengatur dan melakukan apa saja sekehendak hati tanpa menyakiti pihak lain. Well, itu pola pikir yang bagus.

    Lalu kebanyakan orang banyak memilih untuk menyempurnakan kebahagiaannya dengan pernikahan meskipun kadang pernikahan itu tak seindah yang dibayangkannya. Tapi toh dia enjoy banget menjalani kesibukan bersama org terkasih, menjadi tua bersama org yang dicintai dan menghabiskan waktu untuk memperhatikan perkembangan anak2, dan sedikit lebih tenang karena merasa setelah tua nanti dia merasa tak akan kesepian, toh ada yang mengurus dan punya pasangan serta anak2. Nice, itu juga pandangan yang ok.

    Saya tidak melihat kesalahan apabila seseorang memilih salah satunya. Yang pasti setiap pilihan pasti ada konsekuensinya, ada kekurangan dan kelebihannya. Tergantung seberapa siap kita menerima konsekuensi tersebut.

    Terlepas dari embel2 agama yang diyakini bahwa tidak menikah tapi bisa punya TTM buat melepas hasrat, itu juga tanggaung jawab masing2 orang terhadap Tuhannya. Dosa juga merupakan salah satu konsekuensi, jadi itu ya,,, oke-oke saja, selama kita tidak merasa bermasalah dengan apapun pandangan org. Toh yang menjalani adalah kita sendiri.

    Intinya, hidup adalah pilihan, dan silakan tentukan pilihan Anda sendiri.


    Love,
    MEA
    Quote Originally Posted by bordjong View Post
    Bung Duda,
    Menikah atau tidak adalah hak azasi pribadi, tak ada yang boleh membantah. Tidak urusan dengan komposisi pria-wanita.

    TTM, samen leven atau apapun,kenyaman menjalankan tergantung pada budaya sekitar kita. Di negri ini masih "janggal", jadi sebaiknya hati2.Kecuali kita sudah memang tidak peduli dengan lingkungan kita. Kalau di negri yang sudah me'lazim'kannya, silahkan saja.

    Agama adalah urusan pribadi dengan Sang Pencipta. Tinggal Bung Duda bertanya pada diri, sepenting apakah norma agama dalam kehidupan anda. Karena seluruh pertanggung jawaban kelak (menurut masing2 agama) adalah urusan pribadi dengan Tuhannya, tak akan melibatkan orang lain termasuk pasangan TTM.

    Ajaran agama manapun mengarahkan manusia untuk berbuat kebajikan di bumi sebagai modal kehidupan selanjutnya nanti.
    Tapi, orang tanpa agama pun diizinkan hidup dengan bebas di bumi ini, so...don't worry, urusan akhirat itu soal lain toh...
    Quote Originally Posted by theli View Post
    hi duda,
    kalo gw jadi loe gw gak akan terlalu khawatir dengan pendapat org lain. gw akan jalanin apapun yg menurut gw terbaik buat gw selama tidak merugikan orang lain. Apalagi kalo kita tinggal di kota besar seperti jakarta, everything is possible man! mau having fun sama siapa saja? bisa . . mau ngesex ketempat2 pelacuran? tersedia tempat2 pelacuran legal yg gak bakalan di gerebek. ato mau serumah sama TTM??? ya . . tinggal saja di apartemen, dijamin privacy pasti terjaga tapi mau sampe kapan??? apa diumur segitu gak kepengen punya istri untuk saling berbagi suka dan duka? gak pengen punya cute baby yg akan meramaikan suasana rumah? ato paling nggak ada orang2 tercinta yg akan merawat kita dimasa tua kita?.

    Bopi adalh nama anjing pav gw. anjing tetangga gw sering mampir ketempat gw trus kawin sama bopi sampai akhirny bopi hamil dan punya 4 anak. suatu saat gw bawa anjing gw nginep di tempat kaka yg tinggal beda kota. hal serupa terjadi, anjing kakak gw kawin sm bopi trus bopi hamil lagi deh

    yg mau gw sampe in, kalo kita manusia bermartabat ngesex sama siapa saja, tanpa ikatan dan aturan, apa bedanya kita sama bopi???

    untuk teman2 yang posting opini, can we discuss everything not based on a certain religion? I believe ppl here come with various religion.



    Reduce, Reuse and Recycle.
    Halo Kukuhcm: Ini saya kutip postingan beberapa member yang mungkin belum Anda baca sebelumnya. Sebenarnya diskusi awal adalah APAKAH HIDUP HARUS MENIKAH sudah dikupas tuntas oleh member dan sepertinya sangat seru (sayang saya ketinggalan ) Tapi kemudian yang saya lihat, topik mulai bergeser ke arah GAYA HIDUP dan pengkotakan oleh TS tentang NEGARA MAJU DAN TIDAK MAJU. Oleh sebab itu saya menjawab seperti postingan saya di atas, termasuk yang sedang Anda quote.
    ku menerkam, mengaum, berlari,,,


  10. #100
    Junior Member ayoe_rr's Avatar
    Join Date
    Nov 2008
    Location
    jl. H. Naimun No 39 Pd. Pinang
    Posts
    327
    Rep Power
    6

    Re: Apakah hidup harus menikah?

    kalo aku ya memang mesti nikah...
    meskipun menikah juga banyak ga enaknya. Hilangnya kebebasan karena terikat komitmen dan tanggung jawab, bertambahnya beban hidup, belum lagi perbedaan-perbedaan pandangan dengan pasangan yang menyebabkan pertengkaran mulai dari yang kecil hingga badai yang besar. Belum lagi benturan-benturan dengan keluarga kita maupun pasangan.
    namun akan lebih ga enak lagi nanti saat kita tua dan kita ga menikah, saat kita sakit siapa yang mau merawat kita? Siapa yang menemani? Siapa yang memasak bubur? Siapa yang mau memandikan dan menyeboki kalau kita memang sudah tidak bisa apa-apa lagi?
    Aku ga mau masa tuaku sendiri dan kesapiankarena aku ga punya pasangan di sampingku juga anak yang menemaniku...

    kalau om duda mau kesepian dan sendirian di masa tua nanti ( mengingat umur om duda udah ga muda lagi ), teruslah ber-TTM ria...

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •  
©2008 - 2013 PT. Kompas Cyber Media. All Rights Reserved.

Content Relevant URLs by vBSEO 3.6.0