
Originally Posted by
Duda
Saya berusia 56 tahun, duda tanpa anak, PhD dari LN. Semenjak gagal dalam perkawinan saya, saya ingin hidup single, mandiri, dan professional. Namun kebutuhan jasmani dan biologis tak bisa saya abaikan. Saya punya masalah besar, sistim kebudayaan di Indonesia tak memungkinkan memenuhi kebutuhan biologis (sex) diluar perkawinan. Saya lama tinggal di Luar Negri. Berikut ini saya kutipkan sedikit sebuah artikel dari web blog yang mencerminkan berbagai pilihan hidup dinegri modern:
Pilihan hidup di negara maju/modern lebih banyak dan lebih bervariasi, misalnya pilihan untuk: menikah, mandiri/bachelor, dan single parent/mother (orang tua tunggal: punyak anak namun tidak mau punya suami/istri). Dengan adanya berbagai pilihan ini, hidup menjadi lebih rasional, manusiawi, dan Ilahi, dengan alasan:
- jumlah pria-wanita didunia tidaklah persis sama; disuatu daerah: bisa lebih banyak prianya, atau bisa lebih banyak wanitanya, jadi kalau semua diwajibkan menikah satu lawan satu, pasti ada yang tidak kebagian.
- ada yang berniat tidak menikah karena ingin lebih mementingkan professionalisme (pekerjaan), jadi ia memilih hidup single-mandiri agar dapat konsentrasi pada pekerjaannya.
- ada yang berniat tidak menikah karena ketakutan financial, artinya takut tidak mampu membiayai pendidikan anaknya nanti.
- ada yang tidak ingin menikah dikarenakan cacat (sumbing, pincang, juling, dst.) atau mengidap penyakit tertentu, misal ayan, diabetes, gangguan jiwa, dst.
- ada yang tidak menikah karena takut gagal lagi dalam perkawinan kedua/ketiga/dst.
- ada yang ingin hidup secara single parent, punya anak namun tidak mau menikah.
- ada yang ingin hidup bersama tanpa nikah
- bahkan ada yang hidup bersama atau menikah namun dengan jenis kelamin yang sama (homo/lesbian), hal ini disebabkan dari sifat genetik yang dimilikinya, diluar kemampuan yang bersangkutan.
Disamping pilihan hidup yang sangat bervariasi seperti diatas, sebagian besar manusia modern yang masih beragama atau yang religius, mempunyai pandangan tentang sex sbb.:
- kitab suci agama manapun tidak melarang hubungan sex antara manusia dewasa atas dasar suka sama suka dan bukan selingkuh (bagi yang terikat pernikahan)
- last but not least, Tuhan mengkaruniai sex yang luar biasa nikmatnya, untuk dinikmati secara dewasa, bukan hanya untuk "menggoda manusia" (alangkah kejamnya Tuhan bila hanya bermaksud menggodai manusia).
Dengan asumsi rasional logis seperti diatas, apakah manusia2 yang memilih tidak menikah untuk hidup profesional lalu tidak bisa atau tidak boleh menikmati sex (kawin) sama sekali? Apakah mereka itu lalu hanya sekedar menjadi bulan2an manusia munafik saja dengan menjadi objek ejekan seperti: perawan tua atau perjaka tua yang tidak laku rabi/nikah? Atau mereka harus sembunyi2 kepelacuran? Apakah setiap kali sejoli dewasa yang sedang memadu kasih harus digropyok, diperas dan dipermalukan? Tidak, bukan? Dst.
Sebagai penutup, mohon saran: APAKAH HIDUP HARUS MENIKAH? BOLEHKAH SAYA HIDUP SINGLE TAPI MEMPUNYAI TTM? BOLEHKAH MANUSIA LAIN MENGATUR KEBUTUHAN SEX MANUSIA LAIN DENGAN ATURAN2 COMPLICATED?
Bookmarks