Terimakasih atas saran anda, namun anda tidak menjawab kemungkinan yang realistis diatas. Mungkin ada baiknya anda search di Google artikel berjudul: SEX, MANUSIA, AGAMA, DAN TUHAN
Dengan:
Abstrak - Dua kutub filosofi tentang sex eksis didunia ini: yang satu memandang sex secara positip, indah, penuh seni, mensyukuri dan menikmatinya; yang lain memandang sex secara negatip, mentabukan namun munafik (suka menikmati sex lewat pintu belakang), atau pasrah untuk tidak menikmati sepanjang hidupnya. Bagaimana pendapat anda?
lalu ada paragraph:
Memang ada perbedaan yang sangat mendasar antara negara maju dan berkembang dalam pemahaman sex. Di negara modern/maju, sex itu dipandang karunia Tuhan yang maha nikmat, maka sex seyogyanya dinikmati, tidak diingkari atau ditabukan. Pada umur 18 tahunan, pemuda-pemudi sudah pisah dengan orang tua dan tinggal di apartemen tersendiri. Sex atas dasar suka sama suka diantara bachelor/duda/janda yang sudah dewasa adalah wajar, karena merupakan ekspresi kasih sayang dan seni, serta tidak melanggar hukum dan bukan dosa, asal bukan selingkuh (bagi yang menikah). Bagi yang menikah, suami-istri diharapkan untuk menepati janji setia mereka. Dengan pandangan sex yang seperti ini, terbentuk sistem budaya yang membuat semua manusia seolah-olah dapat/kebagian menikmati sex; permasalahan seperti: tidak ingin menikah, jumlah pria-wanita yang timpang, yang memilih hidup sendiri-mandiri, yang tidak laku menikah, lalu menjadi tidak masalah lagi dalam pemenuhan kebutuhan alami yang disebut sex, karena manusia bebas melakukan hubungan sex secara wajar, asal sudah dewasa dan bukan selingkuh. Namun untuk menjaga berbagai kemungkinan buruk hasil hubungan sex seperti penyakit kelamin dan peningkatan jumlah penduduk (kehamilan), maka pendidikan sex semenjak SMP keatas yang bersifat amat dalam dan menjurus ke save sex (pemahaman biologi organ sex dan kontrasepsi) adalah keharusan di negara modern.
////
Nah seperti itulah, yang terjadi di Jepang, Singapore, Korea, Eropa, USA, Inggris, dst. Ada kecendrungan yang tinggi untuk tidak menikah, namun sex yang dewasa bertanggung jawab (ala mereka) adalah wajar, normal, positip. Akibat negatip bagi negara maju: jumlah penduduknya justru menurun! Karena pemahaman kontrasepsi dan level pendidikan sudah tinggi sekali. Dinegri berkembang, sex itu tabu dan negatip, level pendidikan masih rendah dan tak paham kontrasepsi, jml penduduknya meroket tajam, remaja pacaran sembunyi - banyak yang kebablasan, beranak pinak.
Tentang alasan dari sisi agama, aduh agak sulit ya,peka sekali dan sangat individu! Disana (manusia modern) sudah tidak peduli lagi dgn agama, namun budi pekerti dan etika tinggi sekali, rasa malu tinggi sekali; sebaliknya di negri berkembang masih sangat kental sekali dengan agama dan mistik. Sekali lagi, pandangan mereka yang modern: memandang sex secara positip, indah, penuh seni, mensyukuri dan menikmatinya, jadi tak ada kaitan dengan agama. Sex seperti agama adalah privacy, sangat individu, dihormati, jadi tidak di gropyok dan dipermalukan.
Nah, saya hidup di dua dunia saat ini, maka saya harus pilih ...
Bookmarks