Kalau diminta untuk memadankan kata ‘pernikahan’ dengan kata ‘medan perang’, mungkin ada baiknya Anda melongok kehidupan kami sebagai pemuda (walau sebenarnya lebih tepat dikatakan sebagai bujangan expired, karena sebagian dari kami sudah kadaluarsa dari segi usia, hehe…).
Karena jauh dalam pikiran kami (yang belum pernah bisa terjangkau) pernikahan adalah sesuatu yang sangat sakral dengan segala pernak-pernik kehidupan yang berbelit di dalamnya. Apalagi jika dihubungkan dengan strategi perang Sun Tzu: “Bila kita tidak mengetahui rencana Negara tetangga, kita tidak bisa masuk dalam persekutuan yang menguntungkan”. Lengkap sudah keruwetan yang terbayang yang harus dilalui.
Tapi bukanlah seorang lelaki (bila masih membujang) yang mudah menyerah akan disebut sebagai ‘lelaki’. Dan memang bukan seperti itulah tujuan dalam pernikahan yaitu agar kita dibawa pada keruwetan hidup yang semakin menjadi-jadi. Saya sendiri sebenarnya susah untuk memahaminya (bahkan terhadap kata-kata saya sendiri). Untuk itu diperlukan persiapan khusus jauh sebelum kata pernikahan itu diikrarkan.
Banyak orang menyatakan bahwa diperlukan pengamatan yang seksama untuk memilih calon pasangan. Memang itulah sebenarnya yang harus dilakukan dan itu juga yang membuat sebagian dari kami menjadi… (apa ya?).
Mbak Dee sendiri menulis dalam subbab Ilmu Perang dalam Pernikahan ‘ada beberapa hal mendasar yang sangat penting untuk diketahui, terutama nilai-nilai hidupnya, harapan-harapannya, dan apakah ada kesetaraan secara intelektual dan spiritual.
Saya sendiri tidak masalah dengan teori tersebut. Bahkan saya setuju seratus persen karena seringkali pandangan mata secara lahir sering tertipu. Apa yang tampak bukan aslinya. Dan bisa ditutupi sebaik mungkin.
Namun apakah kesetaraan secara intelektual juga harus dikemukakan dalam memilih calon pasangan? Justru ketika kita menyerang tradisi para ‘orang tua’ yang umumnya menganut perbedaan kasta? Atau di lain pihak kita sedang menggembar-gemborkan penghapusan diskriminasi terhadap kebudayaan?
Oow… berat juga rasanya, saya mau tulis apa tentang topik ini. Yang jelas, pemikiran tentang kesetaraan intelektual ini, menurut saya, bertolak belakang tulisan Mbak Dee sendiri dalam subbab Di Sana, Mereka Berjuang demi Cinta. Di situ ditanyakan mengapa cinta harus terpisahkan dan terhambat oleh budaya.
Di sisi lain, ketika kita menilik kehidupan nyata di bumi ini, jenis intelektual itu berbeda-beda pada setiap suku bangsa. Misalkan saja secara sederhana, orang kota akan disebut pintar atau cerdas bila ia mahir dalam bidang tertentu. Tapi ketika dia datang ke desa, belum tentu akan sama persepsinya. Paling-paling yang dilihat hanya dari segi penampilan kebangsawanannya.
Itu semua bisa kita analogikan dengan tanaman. Bagaimana kalau menukar tempat antara pohon kurma dengan pohon teh. Untuk pohon kurma kita tanam di gunung bersalju yang berhawa dingin menusuk kulit. Sedangkan untuk tanaman teh kita tanam di pantai yang berhawa panas yang membakar kulit.
Kan bisa pakai teknologi canggih masa kini?
Jangan berpikir dulu bahwa teknologi bisa seenaknya mengintervensi kehidupan alam. Kadangkala teknologi itu musuh terbesar alam ini (setuju?).
Tentu saja kedua jenis tanaman yang berbeda itu, penanganannya juga berbeda pula. Hal ini dapat diimplementasikan dalam keberagaman jenis intelektual yang terdapat pada masing-masing suku bangsa. Kriteria intelektual bisa saja berbeda antar suku bangsa. Jadi, untuk menyetarakan intelektual ini saya rasa bukanlah mimpi yang harus diharapkan.
Keluar dari masalah ini, tetap saja pernikahan itu seperti medan perang bagi kami selaku bujangan expired, hehe… Segala sesuatu harus dipersiapkan bahkan sebelum kata pernikahan itu sendiri diikrarkan. Dan untuk membuktikan kalau kami adalah lelaki, kami harus memilih calon pasangan dengan cermat pada bibit, bobot dan bebetnya. Oke?


LinkBack URL
About LinkBacks




Reply With Quote

Bookmarks