Page 1 of 3 123 LastLast
Results 1 to 10 of 21
Like Tree4Likes

Thread: Sunat Perempuan... Tinjauan dari Sisi Medis


  1. #1
    Senior Contributor earsun's Avatar
    Join Date
    Apr 2008
    Location
    where many malls and culinary gathered
    Posts
    7,924
    Rep Power
    33

    Sunat Perempuan... Tinjauan dari Sisi Medis

    Salam....

    dalam thread medis ini, saya ingin membahas mengenai Sunat perempuan / Female Genital Mutilation (FGM) dan dampaknya bila ditinjau dari sisi Medis.

    post-post yang berlandaskan agama diharapkan tidak muncul disini.

    baiklah kita mulai untuk awalnya :
    __________________________________________

    Link : Disini

    Sydney, Meski banyak ditentang, tradisi sunat perempuan tetap berlangsung di sejumlah negara Afrika dan Timur Tengah. Kalangan medis tengah mempertimbangkan alternatif yang lebih aman namun sesuai dengan kebutuhan tradisi.

    Sunat perempuan digolongkan sebagai female genital mutilation (FGM). Karena secara medis tidak dianjurkan, praktik ini biasanya dilakukan oleh pihak yang tidak memiliki ketrampilan medis. Selain itu, kebersihan peralatan yang tidak terjamin juga menjadi keprihatinan banyak kalangan.

    Sejak 1990, Australia dengan tegas telah melarang sunat perempuan. Namun larangan tersebut tidak efektif, karena banyak orangtua yang tetap mengirim anak perempuannya ke negara asal untuk disunat.

    Terkait kekhawatiran tersebut, kalangan medis di Australia mengikuti langkah American Academy of Paediatrics untuk mempertimbangkan alternatif sunat perempuan. Alternatif tersebut berupa prosedur bedah minor pada klitoris, yang dinamakan 'ritual knick'.

    Jika dalam sunat yang sesungguhnya klitoris dan labia benar-benar dipotong, maka ritual knick tidak seekstrem itu. Meski lebih sederhana, diyakini cara ini tetap sesuai dengan kebutuhan adat dan tradisi.

    Namun sekretaris Royal Australia New Zealand College of Obstetricians and Gynaecologists, Dr Gino Pecoraro membantah hal ini dimaksudkan untuk melegalkan sunat perempuan.

    Dikutip dari ABC, Selasa (1/6/2010), pertimbangan ini semata-mata hanya untuk meminimalisir dampak buruknya.

    Menurut Dr Pecoraro, ide untuk melegalkan ritual knick masih perlu didiskusikan lebih lanjut karena menyangkut kesesuaian dengan adat budaya. Dalam hal ini tokoh budaya serta warga asal Afrika perlu dilibatkan.

    Ketika Australia mulai mempertimbangkan ritual knick, American Academy of Paediatrics justru telah berubah pikiran. Lembaga itu telah mengumumkan untuk tidak lagi mempertimbangkan alternatif tersebut.
    Last edited by earsun; 25-06-10 at 06:22 PM.
    Legion of mindless zombies could even turned insolent marauder into a demigod

  2. #2
    Senior Contributor earsun's Avatar
    Join Date
    Apr 2008
    Location
    where many malls and culinary gathered
    Posts
    7,924
    Rep Power
    33

    Re: Sunat perempuan....tinjauan dari sisi MEDIS

    Apa sih sebenarnya yang dimaksud oleh sunat perempuan diatas?
    ternyata ada beberapa tipe sunat perempuan dalam dunia medis....
    artikel berikut dapat membantu untuk mengetahui lebih lanjut :

    ____________________________________

    Link : Disini


    Larangan Medikalisasi Sunat Perempuan

    ( This part delete for safety reason )

    Sejak 20 April 2006, Dirjen Bina Kesehatan Masyarakat telah mengeluarkan kebijakan berisi larangan medikalisasi sunat perempuan bagi petugas kesehatan. Tembusan juga diberikan ke Menteri Pemberdayaan Perempuan RI dan Ketua Komnas Perempuan. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan perlindungan terhadap kekerasan bagi perempuan. Sunat perempuan merupakan perusakan alat kelamin perempuan yang menggangu kesehatan reproduksi, hal ini disebabkan karena tindakan tersebut bukan merupakan tindakan simbolis, tetapi mengarah kepada pemotongan yang sesungguhnya baik yang dilakukan oleh dukun maupun tenaga kesehatan.

    Saat ini sunat perempuan di Indonesia mengacu pada sunat laki-laki, yang dikenal juga sebagai sirkumsisi atau khitan perempuan. Sementara diluar negeri dikenal sebagai Female Genital Mutilation (FGM) atau Female Genital Cutting (FGC). Istilah itu sendiri masih banyak diperdebatkan. Istilah FGM tersebut lebih mengarah ke istilah “damaging”, berbeda dengan sirkumsisi yang berarti cutting around dimana mengarah kepada salah satu prosedur medis dalam pemotongan bagian alat kelamin pada sunat laki-laki.

    Istilah FGM tersebut dianggap bermakna politis sehingga banyak digunakan dalam advokasi aktifis hak-hak perempuan karena bermakna negatif. Walapun begitu World Health Organization (WHO) masih tetap menggunakan istilah tersebut. Dimana FGM didefinisikan sebagai semua tindakan/ prosedur yang meliputi pengangkatan sebagian atau seluruh dari organ genitalia eksterna perempuan atau dalam bentuk perlukaan lain terhadap organ genitalia perempuan dengan alasan budaya atau alasan nonmedis lainnya.

    WHO mengklasifikasikan FGM kedalam 4 tipe:
    1. Tipe 1: Clitoridotomy, eksisi dari permukaan (prepusium) klitoris, dengan atau tanpa eksisis sebagian atau seluruh klitoris.
    2. Tipe 2: Clitoridectomy, eksisi klitoris beserta sebagian atau seluruh labia minor.
    3. Tipe 3: Infibulasi yang dikenal sebagai Khitan ala Fir’aun, eksisi sebagian atau seluruh genita eksterna dan penjahitan untuk mempersempit mulut vulva, merupakan tipe terberat FGM.
    4. Tipe 4: Tidak terklasifikasi, berbagai macam tindakan diluar tipe 1,2,dan 3 yang sesuai dengan definisi FGM.


    Pelaksanaan sunat perempuan di Indonesia biasanya dilakukan pada usia 0-18 tahun, tergantung budaya setempat. Di Jawa dan Madura contohnya, sunat perempuan biasanya dilaksanakan pada saat usia sang anak dibawah 1 tahun dan sebagian kecil pada usia 7-9 tahun, menandai masa menjelang dewasa. Pelaksanaannya sendiri bervariasi mulai dari tenaga medis, dukun bayi, istri kyai (nyai), sampai tukang sunat baik dengan alat modern (gunting, scapula) ataupun alat-alat trasisional (bambu, jarum, kaca, kuku, pisau, sembilu) dengan atau tanpa anestesi. Hasil penelitian yang diadakan oleh Population Council di Indonesia menyebutkan bahwa 28% pelaksanaan FGM merupakan simbolik yang berarti tanpa pemotongan atau perlukaan sesungguhnya, tetapi 72% sisanya merupakan FGM sesungguhanya, baik eksisi maupun insisi.

    Dampak yang dapat segera terjadi akibat FGM adalah nyeri berat, perdarahan, perlukaan daerah jaringan sekitar, retensi urine, sepsis, syok (akibat kesakitan karena tanpa anastesi maupun perdarahan), tetanus, maupun ulserasi pada daerah genital. Perdarahan massif dan infeksi bisa menyebabkan kematian.

    Dalam jangka waktu panjang juga dilaporkan terjadinya kista dan abses, keloid, kerusakan uretra yang menjadi penyaba inkontinetia urine, dispareni, disfungsi seksual, dan cronic morbidity (contohnya fistula vesico vaginal). Disfungsi seksual sendiri biasanya diakibatkan oleh dipaureni serta turunnya sensitivitas permanen akibat klitoridectomi dan infubulasi. Sementara Kauterisasi elektrik klitoris bisa berpengaruh pada psikis sehingga menghilangkan hasrat untuk bermasturbasi. Selain itu penggunaan alat tanpa sterilisasi bisa menjadi media penyebaran penyakit seperti HIV dan hepatitis.

    WHO menyampaikan bahwa FGM dalam bentuk apapun tidak boleh dilakukan oleh tenaga kesehatan dimana pun. WHO berdasarkan etika dasar kesehatan mengatakan bahwa mutilasi bagian tubuh yang tidak perlu tidak boleh dilakukan oleh tenaga kesehatan. FGM membahayakan dan tidak berguna bagi perempuan, walaupun dilakukan oleh tenaga medis. Selain itu medikalisasi (keterlibatan tenaga kesehatan) juga akan mempertahankan tradisi ini, sebab masyarakat akan lebih yakin karena ada dukungan dan legalitas provider kesehatan. Lebih jauh WHO juga memasukan FGM sebagai salah satu bentuk kekerasan pada perempuan, walaupun hal tersebut dilakukan oleh tenaga medis.

    Di Indonesia pada 31 mei sampai 1 juni 2005 lalu telah diadakan Lokakarya Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Terhadap Perempuan berkaitan dengan sunat. Pesertanya terdiri dari berbagai golongan, baik Menteri pemberdayaan Perempuan, Depkes, Depag, Kementerian Pemberdayaan Perempuan, Kesehatan Rakyat, Institusi Pendidikan, Organisasi Profesi, ormas perempuan dan agama, media massa, yayasan yang berkaitan dengan medis, dan institusi penelitian. Kesimpulan yang dihasilkan yaitu sunat perempuan tidak memiliki landas ilmiah dan lebih didasari pada tradisi dan budaya serta tidak ada landasan agama. Penelitian juga membuktikan bahwa sunat perempuan membawa dampak buruk dan ternyata sunat perempuan yang cenderung ke arah mutilasi bertentangan dengan hukum. Sayangnya sunat perempuan ternyata menjadi bahan komersialisasi oleh tenaga kesehatan. Karena itu penyebaran informasi terhadap masyarakat dan tindakan tegas oleh pemerintah terhadap tenaga medis yang terkait sangat diperlukan. -ADS-
    Last edited by earsun; 25-06-10 at 06:25 PM.
    Legion of mindless zombies could even turned insolent marauder into a demigod

  3. #3
    Senior Contributor earsun's Avatar
    Join Date
    Apr 2008
    Location
    where many malls and culinary gathered
    Posts
    7,924
    Rep Power
    33

    Re: Sunat perempuan....tinjauan dari sisi MEDIS

    Dampak negatif yang dapat ditimbulkan oleh praktek FGM secara medis telah begitu jelas ( lihat post diatas yang berwarna biru )

    Saya kira dampak-dampak tersebut telah diuji secara klinis dan dapat dipertanggungjawabkan secara medis.

    Sungguh mengerikan kiranya bila FGM ini terus dipraktekkan.
    Kemungkinan besar masa depan wanita akan hancur dengan tak tertutup kemungkinan meninggal atau bunuh diri
    Legion of mindless zombies could even turned insolent marauder into a demigod

  4. #4
    Senior Contributor earsun's Avatar
    Join Date
    Apr 2008
    Location
    where many malls and culinary gathered
    Posts
    7,924
    Rep Power
    33

    Re: Sunat perempuan....tinjauan dari sisi MEDIS

    Link : Disini

    PEREMPUAN SUNAT BERESIKO TINGGI KETIKA MELAHIRKAN


    London, Perempuan hamil yang pernah menjalankan sunat ketika masih kecil memiliki risiko yang tinggi ketika perlu melakukan pembedahan untuk melahirkan.

    Diperkirakan ada lebih dari 130 juta perempuan di seluruh dunia yang menjalani pemotongan alat kelamin atau yang dikenal dengan sunat perempuan. Tradisi sejak abad lampau ini adalah dengan cara memotong sebagian klitoris hingga bibir kemaluan. Sunat itu kadang disertai penjahitan atau penyempitan lubang vagina (infibulasi).

    Studi yang baru yang dilakukan dokter di University of Berne, Swiss ini diikuti 122 wanita hamil yang pernah disunat yang menerima perawatan medis sebelum masa melahirkan. Perempuan tersebut dibandingkan 110 perempuan lain yang usianya sama yang juga dirawat dalam rumah sakit yang sama.

    Hampir seluruh perempuan yang pernah disunat memiliki risiko yang lebih tinggi ketika melakukan operasi kehamilan dengan memerlukan 18 prosedur yang dibutuhkan. Sedangkan wanita yang tidak pernah disunat risiko tersebut hanya dialami 3 wanita.

    Perempuan sunat juga lebih mungkin menderita masalah vagina yang parah dengan sembilan orang mengalami komplikasi, dibandingkan satu perempuan dalam satu grup perbandingan itu.

    Penemuan yang telah dipublikasikan dalam jurnal BJOG ini menunjukkan bawa paramedis dinegara-negara berkembang harus siap dengan perawatan khusus untuk perempuan yang pernah menjalani sunat.

    "Termasuk melakukan diskusi kehamilan dan bagaimana menangani proses seperti itu," kata Dr Annette Kuhn, peneliti senior seperti dilansir dari Reuters, Kamis (13/8/2009).

    Semua perempuan yang pernah disunat dalam penelitian ini telah ditanya apa yang mereka harapkan dari penanganan masalah ini. Sebanyak 6% menginginkan defibulation yakni pembedahan pelebaran vagina sebelum melahirkan. Sebanyak 43% menginginkan pelebaran vagina selama mereka masih kerja dan hanya sepertiga yang meminta dilakukan itu jika dibutuhkan secara medis.

    Menurut Kuhn masalah ini menjadi sangat penting bagi paramedis dinegara-negara berkembang apalagi diskusi masalah sunat sangat sensitif. Paramedis juga harus memberikan informasi bagaimana opsi perawatan yang lain.

    Sebelumnya pakar kesehatan telah menyebutkan sunat pada anak perempuan secara medis tidak mempunyai manfaat. Jika diharuskan secara **** tindakan tersebut harus dilakukan secara sehat dan tidak menyebabkan perlukaan yang menimbulkan efek kesehatan dalam jangka pendek dan jangka panjang.
    Last edited by earsun; 25-06-10 at 06:33 PM.
    Legion of mindless zombies could even turned insolent marauder into a demigod

  5. #5
    Newbie
    Join Date
    Jul 2010
    Posts
    43
    Rep Power
    0

    Re: Sunat perempuan....tinjauan dari sisi MEDIS

    wah tinjauan medisnya lengkap banget,

  6. #6
    Senior Contributor earsun's Avatar
    Join Date
    Apr 2008
    Location
    where many malls and culinary gathered
    Posts
    7,924
    Rep Power
    33

    Re: Sunat perempuan....tinjauan dari sisi MEDIS

    Quote Originally Posted by yolandatia View Post
    wah tinjauan medisnya lengkap banget,
    Thanks...
    ini ada artikel baru dari Kompas : LINK

    Inilah Bahaya Di Balik Sunat Perempuan
    Rabu, 28 Juli 2010 | 07:56 WIB


    Ilustrasi



    TERKAIT:
    JAKARTA, KOMPAS.com — Berbeda dengan sunat atau khitan pada laki-laki yang jelas mendatangkan manfaat, antara lain mencegah terjadinya infeksi dan kanker, khitan perempuan sama sekali tidak memiliki manfaat kesehatan; yang ada justru membahayakan dan dapat berisiko kematian.

    "Khitan bagi perempuan tidak ada manfaatnya sama sekali. Karena itu, fakultas kedokteran tidak ada yang mengajarkan khitan untuk wanita. Kecil atau tidaknya tindakan yang dilakukan, karena berada dalam area sensitif wanita, dinilai sangat berbahaya. Mulai dari pembedahan sampai anastesi, yang paling parah dari khitan bisa menimbulkan kematian," kata dr Artha Budi Susila Duarsa, M. Kes di sela peluncuran Buku Khitan Perempuan: Dari Sudut Pandang Sosial, Budaya,Kesehatan, dan Agama, Selasa (27/7/10) di Jakarta.

    Khitan perempuan menurut Organisasi Kesehatan Dunia WHO terbagi atas empat. Tipe 1, yaitu memotong seluruh bagian klitoris (bagian mirip penis pada tubuh pria). Tipe 2, memotong sebagian klitoris. Tipe 3, menjahit atau menyempitkan mulut vagina (infibulasi) dan, tipe 4, menindik, menggores jaringan sekitar lubang vagina, atau memasukkan sesuatu ke dalam vagina agar terjadi perdarahan dengan tujuan memperkencang atau mempersempit vagina.

    Meskipun pemberlakuan khitan perempuan di Indonesia hanya pada batas tipe 4, menurut dr Artha, pemotongan klitoris sendiri tidak boleh terjadi.

    "Karena klitoris memainkan peran penting dalam meningkatkan kenikmatan seksual seorang perempuan. Selain itu, melalui klitoris dapat terjadi ekskresi kelenjar di sekitar vagina," kata dr Artha.

    Tidak mengubah bentuk klitoris dinilai dr Artha sangat penting karena letak klitoris yang dikelilingi oleh saraf menyebabkannya menjadi sangat peka secara seksual.

    "Menghilangkan klitoris akan menurunkan kepekaan perempuan terhadap rangsangan seksual. Klitoris juga berefek pada lubrikasi vagina. Semakin banyak lubrikasi pada vagina, perempuan akan semakin siap ketika penis dimasukkan. Jika tidak ada klitoris, vagina akan kering dan masuknya penis akan menyebabkan rasa sakit pada vagina sehingga timbul ketakutan pada perempuan untuk melakukan hubungan badan berikutnya," kata dr Artha.

    Hal yang sama juga terjadi apabila melakukan infibulasi. Labia minora (kulit luar) juga dipenuhi dengan saraf yang membuat bagian ini sensitif terhadap rangsangan seksual. Seperti klitoris, memotong labia minora juga akan membuat perempuan kurang peka terhadap stimulasi seksual.

    "Semuanya ini menyulitkan perempuan untuk mencapai orgasme. Menjahit mulut vagina akan menghambat masuknya penis. Rasa sakit yang dialami perempuan akan mengerikan dan jika penis berhasil melakukan penetrasi, akan menyebabkan pendarahan," kata dr Artha.

    Tingginya resiko kematian pada khitan perempuan membuat Pemerintah Indonesia secara tegas melarang khitan bagi perempuan karena melanggar UU Kekerasan terhadap Perempuan.

    Peraturan serupa juga diberlakukan parlemen Mesir yang mengesahkan UU tentang pelarangan khitan perempuan. Bagi yang melanggar akan dikenai denda 185 sampai 900 dollar AS dan kurungan penjara antara 3 bulan dan 2 tahun. Namun, di Asia, praktik khitan sendiri hingga saat ini masih dilakukan di Pakistan, India, Banglades, dan Malaysia.

    Dampak jangka pendek khitan pada perempuan:
    1. Perdarahan yang mengakibatkan syok atau kematian
    2. Infeksi pada seluruh organ panggul yang mengarah pada sepsis
    3. Tetanus yang menyebabkan kematian
    4. Gangrene yang dapat menyebabkan kematian
    5. Sakit kepala yang luar biasa mengakibatkan syok
    6. Retensi urin karena pembengkakan dan sumbatan pada urethra.

    Dampak jangka panjang adalah :
    1. Rasa sakit berkepanjangan pada saat berhubungan seks
    2. Penis tidak dapat masuk dalam vagina sehingga memerlukan tindakan operasi
    3. Disfungsi seksual (tidak dapat mencapai orgasme pada saat berhubungan seks)
    4. Disfungsi haid yang mengakibatkan hematocolpos (akumulasi darah haid dalam vagina), hematometra (akumulasi darh haid dalam rahim), dan hematosalpinx (akumulasi darah haid dalam saluran tuba)
    5. Infeksi saluran kemih kronis
    6. Inkonsistensi urin (tidak dapat menahan kencing)
    7. Bisa terjadi abses, kista dermoid dan keloid (jaringan parut mengeras).
    Last edited by earsun; 28-07-10 at 11:43 AM.
    Legion of mindless zombies could even turned insolent marauder into a demigod

  7. #7
    Contributor PrinceaAng's Avatar
    Join Date
    Nov 2008
    Location
    --
    Posts
    3,946
    Rep Power
    11

    Re: Sunat perempuan....tinjauan dari sisi MEDIS

    Kalo mo di hubung2kan secara kasar aja, antara sunat wanita dengan tingkat kematian ibu saat melahirkan.

    Gimana yah ?

    Kalo memang ditemukan hubungannya, misalnya, ibu yang meninggal itu karena dulunya mereka disunat. berarti emang kacau dah.

    Serem gw ngebayanginnya.
    Piramid.. UNIK !! ASIKKK..!! - Sambil cengar-cengir.com. Poreper laaaa......

  8. #8
    Advisor maspras's Avatar
    Join Date
    Jun 2008
    Location
    lombok
    Posts
    14,167
    Rep Power
    23

    Re: Sunat perempuan....tinjauan dari sisi MEDIS

    biar imbang
    diambil dari sumber (pembicara) yang sama

    JAKARTA, KOMPAS.com Bagi para kaum Hawa, tindakan sunat atau khitan tidak direkomendasikan karena mendatangkan risiko besar bagi kesehatan. Selain menimbulkan rasa sakit yang luar biasa, khitan perempuan juga bisa menimbulkan perdarahan sehingga mengancam nyawa.

    Meski begitu, tidak semua tindakan sunat membahayakan perempuan. Ada suatu prosedur sunat yang secara medis dibenarkan dengan tujuan memperbaiki kualitas kesehatan. Tindakan khitan tersebut adalah membuka prepusium (kulup atau kulit luar) yang menutupi klitoris.

    "Sebenarnya khitan bisa terjadi ketika prepusium menutupi klitoris, itu sangat mengganggu. Karena kalau menutupi, perempuan tidak mempunyai daya rangsang seksual. Maka, preposium yang lebar itu harus dibuka dengan cara dikhitan," kata dr Artha Budi Susila Duarsa, M. Kes pada peluncuran Buku Khitan Perempuan: Dari Sudut Pandang Sosial, Budaya, Kesehatan, dan Agama, Selasa (27/07/10) di Universitas Yarsi, Jakarta.

    Dr Artha bilang, proses pengkhitanan dilakukan dengan metode hoodectomy (pemotongan kulup), yang bertujuan meningkatkan kepekaan dan kenikmatan seksual serta mempermudah perempuan untuk mencapai orgasme ketika berhubungan intim.

    "Hal ini berlaku jika kulup sebegitu lebar sehingga menutupi klitoris yang mencegah bagian tersebut dari tersentuh penis pada saat berhubungan seks," lanjutnya.

    Namun, dr Artha mengingatkan, prosedur ini tidak boleh dilakukan para perempuan dengan bentuk klitoris normal. "Pada kondisi normal, prepusium sudah cukup terbuka dan sudah cukup menerima rangsang. Apabila dibuka (dilukai) justru akan mengganggu rangsangan yang diterima.

    Berbeda dengan kulup penis pada pria, prepusium pada perempuan tidak menutupi total klitoris. Fungsi kulup ini adalah sebagai pelindung sehingga tidak perlu dibedah atau dihilangkan. Akan tetapi, 50-60 persen perempuan ada yang memiliki kelebihan jaringan pelindung pada organ sensitif tersebut.

    Kelebihan tersebut bukan pada kulup primer, melainkan pada kulup sekunder yang terletak di bagian atas dan samping (lateral), dari mulai bagian apeks klitoris hingga ke labia minora.

    Kelebihan jaringan inilah yang akan mengganggu kepekaan dan sensasi pada rangsangan seksual perempuan. Untuk mengatasinya, perlu dilakukan prosedur perampingan prepusium guna memperbaiki rangsangan pada klitoris.



    Perempuan Boleh Disunat, Asal.... - KOMPAS.com.....


    =============

    bukan perempuan, hanya berbagi berita dari sumber yang sama.
    argumentasinya yang didebat dan didiskusikan bukan orangnya.. kecuali tong kosong.

  9. #9
    Contributor PrinceaAng's Avatar
    Join Date
    Nov 2008
    Location
    --
    Posts
    3,946
    Rep Power
    11

    Re: Sunat perempuan....tinjauan dari sisi MEDIS

    Quote Originally Posted by maspras View Post
    biar imbang
    diambil dari sumber (pembicara) yang sama

    JAKARTA, KOMPAS.com — Bagi para kaum Hawa, tindakan sunat atau khitan tidak direkomendasikan karena mendatangkan risiko besar bagi kesehatan. Selain menimbulkan rasa sakit yang luar biasa, khitan perempuan juga bisa menimbulkan perdarahan sehingga mengancam nyawa.

    Meski begitu, tidak semua tindakan sunat membahayakan perempuan. Ada suatu prosedur sunat yang secara medis dibenarkan dengan tujuan memperbaiki kualitas kesehatan. Tindakan khitan tersebut adalah membuka prepusium (kulup atau kulit luar) yang menutupi klitoris.

    "Sebenarnya khitan bisa terjadi ketika prepusium menutupi klitoris, itu sangat mengganggu. Karena kalau menutupi, perempuan tidak mempunyai daya rangsang seksual. Maka, preposium yang lebar itu harus dibuka dengan cara dikhitan," kata dr Artha Budi Susila Duarsa, M. Kes pada peluncuran Buku Khitan Perempuan: Dari Sudut Pandang Sosial, Budaya, Kesehatan, dan Agama, Selasa (27/07/10) di Universitas Yarsi, Jakarta.

    Dr Artha bilang, proses pengkhitanan dilakukan dengan metode hoodectomy (pemotongan kulup), yang bertujuan meningkatkan kepekaan dan kenikmatan seksual serta mempermudah perempuan untuk mencapai orgasme ketika berhubungan intim.

    "Hal ini berlaku jika kulup sebegitu lebar sehingga menutupi klitoris yang mencegah bagian tersebut dari tersentuh penis pada saat berhubungan seks," lanjutnya.

    Namun, dr Artha mengingatkan, prosedur ini tidak boleh dilakukan para perempuan dengan bentuk klitoris normal. "Pada kondisi normal, prepusium sudah cukup terbuka dan sudah cukup menerima rangsang. Apabila dibuka (dilukai) justru akan mengganggu rangsangan yang diterima.

    Berbeda dengan kulup penis pada pria, prepusium pada perempuan tidak menutupi total klitoris. Fungsi kulup ini adalah sebagai pelindung sehingga tidak perlu dibedah atau dihilangkan. Akan tetapi, 50-60 persen perempuan ada yang memiliki kelebihan jaringan pelindung pada organ sensitif tersebut.

    Kelebihan tersebut bukan pada kulup primer, melainkan pada kulup sekunder yang terletak di bagian atas dan samping (lateral), dari mulai bagian apeks klitoris hingga ke labia minora.

    Kelebihan jaringan inilah yang akan mengganggu kepekaan dan sensasi pada rangsangan seksual perempuan. Untuk mengatasinya, perlu dilakukan prosedur perampingan prepusium guna memperbaiki rangsangan pada klitoris.



    Perempuan Boleh Disunat, Asal.... - KOMPAS.com.....


    =============

    bukan perempuan, hanya berbagi berita dari sumber yang sama.
    Wah, soal kepuasan wanita sih tergantung ke-'jago'-an suaminya juga dong, pras.

    Kalo suaminya gak jago, ya istrinya bisa bengong doang.

    ----------------------------------

    Dari artikel yang lu bawa, ada tulisan 'PADA KONDISI NORMAL'.

    Jadi, sunat pada wanita dengan cara " membuka prepusium " itu untuk kondisi2 tertentu saja, karena sebenarnya masih ada wanita yang ber-KONDISI NORMAL.
    Dan pada dasarnya, masih menurut dokter itu sendiri, kondisi organ sex pria dan wanita itu BERBEDA.

    -----------------------------------

    Saya cuma mo tambahin aja, clitoris pada wanita 100% berfungsi untuk memberikan kenikmatan pada wanita itu sendiri saat berhubungan sexual. Fungsi pengeluaran air seni dan fungsi reproduksi sudah punya 'saluran lain' yang berbeda.
    Sedangkan penis pada pria punya 3 fungsi, pengeluaran air seni, fungsi kenikmatan sexual, dan pengeluaran cairan semen.
    Jadi, clitoris pada wanita itu cuma pada kasus2 tertentu (yang katanya 50-60 %) yang disarankan untuk dibuka prepusium-nya. Sedangkan pada pria, lebih baik dibuka agar lebih mudah dibersihkan.

    Disarankan dan lebih baik itu punya arti yang beda. Jadi jangan disamakan dengan 'diharuskan' atau 'diwajibkan'.
    Last edited by PrinceaAng; 28-07-10 at 02:59 PM.
    Piramid.. UNIK !! ASIKKK..!! - Sambil cengar-cengir.com. Poreper laaaa......

  10. #10
    Senior Contributor earsun's Avatar
    Join Date
    Apr 2008
    Location
    where many malls and culinary gathered
    Posts
    7,924
    Rep Power
    33

    Re: Sunat perempuan....tinjauan dari sisi MEDIS

    @ Prass,
    thanks buat sumbangan artikelnya.

    thread ini terbuka atas sumbangan artikel yg berhubungan dengan sunat wanita.

    partisipasi member sangat diharapkan
    Legion of mindless zombies could even turned insolent marauder into a demigod

Page 1 of 3 123 LastLast

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •  
©2008 - 2013 PT. Kompas Cyber Media. All Rights Reserved.

Content Relevant URLs by vBSEO 3.6.0