Page 1 of 2 12 LastLast
Results 1 to 10 of 13

Thread: Asal Usul Nama Daerah di Jakarta


  1. #1
    GEO
    GEO is offline
    Advisor GEO's Avatar
    Join Date
    Oct 2008
    Location
    ...
    Posts
    18,435
    Rep Power
    35

    Thumbs up Asal Usul Nama Daerah di Jakarta

    dari milis sebelah :
    just wanna share ,enjoy
    Asal usul nama
    daerah di
    Jakarta



    Sejarah Asal Mula Nama Daerah Glodok, Kwitang & Menteng, dan
    Senayan Jakarta

    Kota Jakarta adalah jantung ibukota dari negara Republik
    Indonesia di mana pusat perekonomian beserta berjuta
    permasalahannya ada di kota kecil padat penduduk ini. Di
    balik nama beberapa daerah di Jakarta tersimpan kisah, cerita
    dan sejarah dari mana nama itu muncul.

    Berikut di bawah ini adalah beberapa asal-muasal nama daerah
    terkenal di DKI

    Jakarta :

    A. Glodok

    Asalnya dari kata grojok yang merupakan sebutan dari bunyi air
    yang jatuh dari pancuran air. Di tempat itu dahulu kala ada
    semacam waduk penampungan air kali ciliwung. Orang tionghoa
    dan keturunan tionghoa menyebut grojok sebagai glodok karena
    orang tionghoa sulit mengucap kata grojok seperti layaknya
    orang pribumi.

    B. Kwitang

    Dulu di wilayah tersebut sebagian tanah dikuasai dan dimiliki
    oleh tuan tanah yang sangat kaya raya sekali bernama Kwik
    Tang Kiam. Orang Betawi jaman dulu menyebut daerah itu
    sebagai kampung si kwi tang dan akhirnya lama-lama tempat
    tersebut dinamai kwitang.

    C. Senayan

    Dulu daerah senayan adalah milik seseorang yang bernama
    wangsanaya yang berasal dari Bali. Tanah tersebut disebut
    orang-orang dengan sebutan wangsanayan yang berarti tanah
    tempat tinggal atan tanah milik wangsanaya. Lambat laun
    akhirnya orang menyingkat nama wangsanayan menjadi senayan.

    D. Menteng

    Daerah Menteng Jakarta Pusat pada zaman dahulu kala merupakan
    hutan yang banyak pohon buah-buahan. Karena banyak pohon buah
    menteng orang menyebut wilayah tersebut dengan nama kampung
    menteng. Setelah tanah itu dibeli oleh Pemerintah Belanda
    pada tahun 1912 sebagai lokasi perumahan pegawai pemerintah
    Hindia Belanda maka daerah itu disebut menteng.

    Adalagi....

    1. Karet Tengsin

    Nama daerah yang kini termasuk kawasan segitiga emas kuningan
    ini berasal dari nama orang cina yang kaya raya dan baik
    hati. Orang itu bernama Tan Teng Sien. Karena baik hati dan
    selalu memberi bantuan kepada orang-orang sekitar kampung,
    maka Teng Sien cepat dikenal oleh masyarakat sekitar dan
    selalu menyebut daerah itu sebagai daerah Teng Sien. Karena
    pada waktu itu banyak pohon karet, maka daerah itu dikenal
    dengan nama Karet Tengsin.

    2. Kebayoran

    Kebayoran berasal dari kata kebayuran, yang artinya "tempat
    penimbunan kayu bayur". Kayu bayur yang sangat baik untuk
    dijadikan kayu bangunan karena kekuatanya serta tahan
    terhadap rayap.

    3. Lebak Bulus

    Daerah yang terkenal dengan stadion dan terminalnya diambil
    dari kata "lebak" yang artinya lembah dan "bulus" yang
    berarti kura-kura. Jadi lebak bulus dapat disamakan dengan
    lembah kura-kura. Kawasan ini memang kontur tanahnya tidak
    rata seperti lembah dan di kali Grogol dan kali Pesanggrahan-

    dua kali yang mengalir di daerah tersebut-memang terdapat
    banyak sekali kura-kura alias bulus.

    4. Kebagusan

    Nama kebagusan-daerah yang menjadi tempat hunian mantan
    presiden
    megawati-berasal dari nama seorang gadis jelita, Tubagus Letak
    Lenang. Konon, kecantikan gadis keturunan kesultanan banten
    ini membuat banyak pemuda ingin meminangnya. Agar tidak
    mengecewakan hati pemuda itu,ia akhirnya memilih bunuh diri.
    Sampai sekarang makam itu masih ada dan dikenal

    dengan nama ibu Bagus.

    5. Ragunan

    Berasal dari Wiraguna, yaitu gelaran yang di sandang tuan
    tanah pertama kawasan tersebut berna Hendrik Lucaasz Cardeel,
    yang diperolhnya dari sultan

    banten Abunasar Abdul Qahar, putra Sultan Ageng Tirtayasa.

    6. Pasar Rumput

    Dulu, tempat ini merupakan tempat berkumpulnya para pedagang
    pribumi yang menjual rumput. Para pedagang rumput terpaksa
    mangkal dilokasi ini karena mereka tidak diperbolehkan masuk
    ke permukiman elit menteng. Saat itu, sado adalah sarana
    transportasi bagi orang-orang kaya sehingga hampir sebagian
    besar penduduk menteng memelihara kuda.

    7. Paal Meriam

    Asal usul nama daerah yang berada diperempatan Matraman dengan
    jatinegara ini berasal dari suatu peristiwa sejarah yang
    terjadi sekitar tahun 1813. Pada waktu itu pasukan artileri
    meriam inggris yang akan menyerang batavia, mengambil daerah
    itu untuk meletakan meriam yang sudah siap ditembakan.
    Peristiwa tersebut sangat mengesankan bagi masyarakay sekitar
    dan menyebut nama daerah ini paal meriam (tempat meriam
    disiapkan)

    8. Cawang

    Duku, ketika belanda berkuasa, ada seorang letnan melayu yang
    mengabdi pada kompeni, bernama Ende Awang. Letnan ini bersama
    anak buahnya bermukim di kawasan yang tak jauh dari
    jatinegara. Lama kelamaan sebutan Ence Awang berubah menjadi
    Cawang.

    9. Pondok Gede

    Sekitar Tahun1775, Lokasi ini merupakan lahan pertanian dan
    peternakan yang disebut dengan onderneming. Di sana terdapat
    sebuah rumah yang sangat besar milik tuan tanah yang bernama
    Johannes Hoojiman. Karena Merupakan satu-satunya bangunan
    besar yang ada dilokasi tersebut, banguna itu sangat
    terkenal. Masyarakat pribumi pun menjulukinya "Pondok Gede"



  2. #2
    GEO
    GEO is offline
    Advisor GEO's Avatar
    Join Date
    Oct 2008
    Location
    ...
    Posts
    18,435
    Rep Power
    35

    Re: Asal usul nama daerah di Jakarta

    lanjutan
    10. Condet Batu Ampar dan Balekambang

    Pada jaman dahulu ada sepasang suami istri, namanya pangeran
    geger dan nyai polong, memiliki beberapa orang anak. Salah
    satu anaknya, perempuan, di beri

    nama Siti Maemunah, terkenal sangat cantik. Pangeran Astawana,
    anak pangeran

    Tenggara atau Tonggara asal makassar pun tertarik melamarnya.

    Siti Maemunah meminta dibangunkan sebuah rumah dan tempat
    peristirahatan diatas empang, dekat kali ciliwung, yang harus
    selesai dalam satu malam. Permintaan itu disanggupi dan
    menurut legenda, esok harinya sudah tersedia rumah dan sebuah
    bale disebuah empang dipinggir kali ciliwung. Untuk
    menghubungkan rumah itu dengan kediaman keluarga pangeran
    tenggara , dibuat jalan yang diampari (dilapisi) Batu.

    Demikian menurut cerita, tempat yang dilalui jalan yang
    diampari batu itu selanjutnya disebut batu ampar, dan bale
    (balai) peristirahatan yang seolah-olah mengambang di atas
    air itu di sebut Balekambang.

    Buncit : dulunya di jalan buncit raya sekarang ada pedagang
    kelontong China berperut gendut (Buncit) yg terkenal.

    Bangka : dulunya disana banyak ditemukan mayat
    (bangke/bangkai) orang yg dibuang di kali krukut.

    Cilandak : konon di sana pernah ditemukan seekor landak
    raksasa

    Tegal Parang : di sana banyak ditemukan alang2 tinggi
    (tegalan) yg di potong

    dgn parang(golok) .

    Blok A/M/S : dulunya sekitar situ tempat pembukaan perumahan
    baru yg ditandai dgn blok, mulai A-S. Sayang yg tersisa
    tinggal 3 blok doang.

    Kampung Ambon.

    Berlokasi di Rawamangun, Jakarta Timur, nama Kampung

    Ambon sudah ada sejak tahun 1619. Pada waktu itu JP Coen
    sebagai

    Gubernur Jenderal VOC menghadapi persaingan dagang dengan
    Inggris.

    Untuk memperkuat angkatan perang VOC, Coen pergi ke Ambon lalu

    merekrut masyarakat Ambon untuk dijadikan tentara. Pasukan
    dari

    Ambon yang dibawa Coen itu kemudian diberikan pemukiman di
    daerah

    Rawamangun, Jakarta Timur. Sejak itulah pemukiman tersebut
    dinamakan

    Kampung Ambon.

    Sunda Kelapa.

    Sunda Kelapa merupakan sebutan sebuah pelabuhan di

    teluk Jakarta. Nama kelapa diambil dari berita yang terdapat
    dalam

    tulisan perjalanan Tome Pires pada tahun 1513 yang berjudul
    Suma

    Oriental. Dalam buku tersebut disebutkan bahwa nama pelabuhan
    itu

    adalah Kelapa. Karena pada waktu itu wilayah ini berada di
    bawah

    kekuasaan kerajaan Sunda maka kemudian pelabuhan ini disebut
    Sunda

    Kelapa.

    Pondok Gede.

    Sekitar tahun 1775 daerah Pondok Gede merupakan lahan

    pertanian dan peternakan yang disebut onderneming. Di daerah

    pertanian dan peternakan milik tuan tanah bernama Johannes
    Hoojman

    yang kaya raya itu terdapat sebuah Landhuis, atau rumah besar
    tempat

    tinggal dan sekaligus tempat pengurus usaha pertanian dan

    peternakan. Karena besarnya bangunan Landhuis itu, masyarakat

    pribumi sering menyebutnya Pondok Gede.

    Pasar Senen.

    Pasar Senen pertama kali dibangun oleh Justinus Vinck.

    Orang-orang Belanda menyebut pasar ini dengan sebutan
    Vinckpasser

    (pasar Vinck). Tetapi karena hari pada awalnya Vinckpasser
    dibuka

    hanya pada hari Senin, maka pasar itu disebut juga Pasar Senen

    (disesuaikan dengan kebiasaan orang-orang yang lebih sering
    menyebut

    Senen ketimbang Senin). Namun seiring kemajuan dan pasar Senen

    semakin ramai, maka sejak tahun l766 pasar ini pun buka pada
    hari-

    hari lain.

    Taman Anggrek berawal dr keinginan bu Tien untuk mengambil
    kebon anggrek milik juragan tanah sunda bernama Rasman, yg di
    kenal orang2 skitar dgn nama

    H. Rasman karna dia memiliki tanah ber-hektar2 di Cipete. Jadi
    bu Tien mengambil bunga2 anggrek tersebut dgn niat membeli
    (tapi namun tidak di bayar) yg akhirnya di pindahkan ke
    daerah jakarta barat situh yg skrg jd Mall Taman Anggrek.

    Kmudian di pindahkhan lagi ke yg skrg smua orang ketahui ada
    di Taman Mini Indonesia Indah.

    Walopun bunga2 anggreknya dah gak ada, namun Jl Kebon Anggrek
    masih ada jg sampe skrg. Lokasinya di cipete (sbrang SMA
    Cendrawasih)


  3. #3
    GEO
    GEO is offline
    Advisor GEO's Avatar
    Join Date
    Oct 2008
    Location
    ...
    Posts
    18,435
    Rep Power
    35

    Re: Asal usul nama daerah di Jakarta

    di lanjut mang
    Grogol.

    Grogol berasal dari bahasa Sunda (g a r o g o l) yang artinya
    perangkap terdiri dari tombak-tombak yang digunakan untuk
    menangkap hewan liar yang banyak terdapat di hutan. Nama
    Garogol dipasang sebagai nama sebuah desa di Limo Depok.

    Dahulu kawasan ini memang masih hutan liwang-liwung yang kata
    pak dalang "jalma mara-jalma mati" alias menyeramkan. Sudah
    barang tentu di kawasan ini

    banyak terdapat hewan liar dan buas sehingga penduduk setempat
    memburunya dengan memasang perangkap (garogol). Hewan yang
    masuk ke perangkap mirip ciptaan "geek" alias soldadu Vietnam
    dijamin akan mati tertembus ujung tombak yang menganga
    didasar lubang. Tapi belum jelas apakah jaman dulu ada
    keresahan masyarakat bahwa kambing mereka pada tewas karena
    darahnya dihisap

    oleh "mahluk misterius" yang sekarang kian marak di Depok.

    Konsekwensinya kali yang melewati desa ini juga dinamai kali
    Garogol. Penduduk Betawi yang main gampang saja, setiap ada
    desa dilalui kali ini langsung di beri stempel desa Grogol,
    kampung Grogol.

    Repotnya pada peta keluaran tahun 1903, ada kampung bernama
    Grogol di kawasan Pal Merah. Dari Pal Merah, kali Grogol
    meliwati Taman Anggrek untuk menuju ke kawasan Pluit (jalan
    Latumeten) dan tiba pada satu daerah yang kini disebut
    Grogol- Negeri Tanah Tumpah Darah Anak Beta. Kalau yang
    memberi

    nama orang jaman sekarang bisa-bisa namanya "Grogol
    Perjuangan."

    Pada 1928, sebagian Kali Grogol diuruk oleh Kumpeni. Pasalnya
    volume air yang mengalir di banding kapasitas kali sering
    tidak memadai. Dan ini bisa mengancam kehidupan kastil
    sehingga harus dialirkan keluar kawasan kastil.

    Pada 1950-an kawasan Grogol menjadi populer. Karena tercatat
    terlanggar banjir bandang yang merendam kelurahan ini. Untuk
    pengendalian banjir di bangun pula waduk Grogol yang letaknya
    di jalan dr. Semeru (Sumeru) sekarang

    ini.. Di tengah waduk ada air muncrat yang memang agak indah
    tetapi meresahkan masyarakat. Pasalnya air yang muncrat tadi
    kualitasnya kurang bagus sering ketika butiran air yang
    menjulang tinggi lalu di tiup angin pantai, maka banyak baju
    penduduk yang sedang dijemur tiba-tiba saja diberi tambahan
    noda kuning dan berbau got. Bertepatan dengan alat pompa yang
    sering ngadat, maka pemandangan air muncrat sudah nyaris tidak

    dipertunjukkan.

    Soal nama jalan juga unik. Nama jalan disini mengambil nama
    pahlawan seperti

    Latumeten, Sumeru, Mawardi, Susilo. Semeru adalah nama dari
    Dokter Sumeru salah satu tokoh pejuang bangsa Indonesia,
    disamping nama Dokter Mawardi, Dr. Susilo. Lalu lidah Jawa
    mulai mengubahnya menjadi Semeru dan seperti keahlian bangsa
    ini, nama inipun di utak-atik lagi sehingga menjadi suatu
    statement bahwa S(u)meru adalah nama Gunung. Nama dokter
    Mawardi cuma kepleset sedikit menjadi dr. Muwardi.

    Banyak surat pos datang kepada saya dengan alamat Jalan Gunung
    Semeru, Grogol (dulu). Untung saja pak pos paham akan
    kesalahan dimana lokasi daerah

    dengan Kode Pos 11400 (ini pentingnya menulis Kode Pos dalam
    setiap surat, kalau terjadi kebingungan nama bisa merujuk ke
    kode pos).

    Tahun 1960, Grogol menjadi ngetop lagi sekalipun rada minir,
    sebab disana di

    bangun Rumah Sakit Jiwa sehingga konotasi "dasar Orang Grogol"
    sering berarti orang yang kurang satu strip lantaran kabel
    hijau (masa) di otaknya ada yang lepas.

    Pada 1970, nama Grogol kembali menjadi buah bibir pembicaraan
    orang karena dibangun Terminal Bis yang besar di sana.
    Belakangan terminal yang sangat ramai ini di pindahkan ke
    KaliDeres yang bisnya sering menyingkat plang trayek sebagai
    "X-deres". Sekali tempo ada orang mendapat kecelakaan dijalan

    raya sehingga napasnya sudah tinggal satu-satu saat dibawa ke
    RS Sumber Waras. Karena tidak ada keluarga yang menunggunya,
    seorang suster membisikkan kata "nyebut Bang" - sebuah
    tradisi untuk melafalkan nama Tuhan ketika seseorang dalam
    keadaan koma. Si abang nampaknya mengerti, mulutnya lirih
    menyebut sesuatu sebelum meninggal "g a r o g o l, g a r o g o
    l" - Kernet bis rupanya dia.

    Utan Kayu

    dulunya memang berbentuk hutan disamping basis prajurit
    Mataram mau menyerang Batavia. Hutan ini sumber kayu dari
    perumahan-perumahan maupun perkampungan para pengepung
    batavia maupun benteng belanda jaman dulu. Saking lebatnya
    hutan ini yang disertai rawa-rawa kemudian saat pembangunan
    daerah ini, mulai disebut Hutan Kayu yang kemudian
    dipersingkat menjadi Utan

    Kayu. Sisa kejayaan dari hutan ini masih dirasakan hingga saat
    ini dimana kawasan ini masih cukup hijau dan sejuk meski
    bukan termasuk dalam kawasan mewah seperti halnya Menteng.

    Rawamangun

    Melanjutkan cerita mengenai Utan Kayu, hutan yang sangat lebat
    disertai yang

    didalamnya terdapat banyak rawa-rawa yang kemudian setelah
    masa perang dengan mataram selesai dan perluasan kota
    batavia, mulai diterabas untuk pembangunan wilayah perumahan.
    Struktur tanah yang sifatnya rawa-rawa asalnya, membuat
    banyak pembangunan yang menggunakan pondasi ekstra dalam
    untuk wilayah ini, dan seperti halnya sifat rawa-rawa yang
    selalu berada ditengah hutan dan mirip halnya daerah Utan
    Kayu, Rawamangun juga masih relatif lebih hijau.

    Hek

    Tempat yang terletak antara Kantor Kecamatan Kramatjati dan
    kantor Polisi Resor Kramatjati, sekitar persimpangan dari
    jalan Raya Bogor ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII) terus
    ke Pondokgede, dikenal dengan nama Hek.

    Rupanya, nama tersebut berasal dari bahasa Belanda. Menurut
    Kamus Umum Bahasa Belanda - Indonesia (Wojowasito 1978:269),
    kata hek berarti pagar. Tetapi menurut Verklarend
    Handwoordenboek der Nederlandse Taal (Koenen- Endpols,
    1946:388), kata hek dapat juga berarti pintu pagar ("..raam-of
    traliewerk." ). Dari seorang penduduk setempat yang sudah
    berumur lanjut, diperoleh keterangan, bahwa di tempat itu
    dahulu memang ada pintu pagar, terbuat dari kayu bulat, ujung
    - ujungnya diruncingkan, berengsel besi besar - besar, bercat
    hitam. Pintu itu digunakan sebagai jalan keluar - masuk
    kompleks peternakan sapi, yang sekelilingnya berpagar kayu
    bulat. Kompleks peternakan sapi itu dewasa ini menjadi
    kompleks Pemadam Kebakaran dan Kompleks polisi Resort
    Keramatjati. Sampai tahun tujuh puluhan kompleks tersebut
    masih biasa disebut budreh, ucapan penduduk umum untuk kata
    boerderij, yang berarti kompleks
    pertanian dan atau peternakan.

    Kompleks peternakan tersebut merupakan salah satu bagian dari
    Tanah Partikelir Tanjoeng Oost, yang pada masa sebelum Perang
    Dunia Kedua terkenal

    akan hasil peternakannya, terutama susu segar untuk konsumsi
    orang - orang Belanda di Batavia. (Sumber: De Haan 1935: Van
    Diesen 1989).

    Jalan Cengkeh

    Jalan Cengkeh terletak di Kota Tua Jakarta sebelah utara
    Kantor Pos, di samping sebelah timur Pasar Pisang.

    Dahulu jaman penjajahan Belanda, Jalan itu bernama
    Princenstraat, tetapi umum juga disebut Jalan Batutumbuh,
    mungkin karena disana terdapat batu bertulis. Kawasan sekitar
    batu prasasti Purnawarman, di Tugu juga biasa disebut Kampung
    Batutumbuh.

    Pada tahun 1918, di dekat tikungan Jalan Cengkeh ke Jalan
    Kalibesar Timur, yang waktu itu bernama Groenestraat,
    ditemukan batu bertulis peninggalan orang - orang Portugis,
    yang biasa disebut padrao. Padrao itu dipancangkan oleh orang
    - orang Portugis, menandai tempat akan dibangun sebuah
    benteng, sesuai dengan perjanjian yang dibuat antara Raja
    Sunda dengan perutusan Portugis yang dipimpin oleh Henriquez
    de Lemme, yang menurut Sukamto ditandatangani pada tanggal 21
    Agustus 1522. Batu bertulis itu diberi ukiran

    berupa lencana. Raja Immanuel. Rupanya de Leme beserta
    rombongannya belum mengetahui bahwa raja Portugal tersebut
    telah meninggal tanggal 31 Desember 1521.

    Dalam perjanjian tersebut disepakati bahwa Portugis akan
    mendirikan benteng di Banten dan Kalapa. Untuk itu tiap kapal
    Portugis yang datang akan diberi muatan lada yang harus
    ditukar dengan barang - barang keperluan yang diminta

    oleh pihak Sunda. Mulai saat benteng dibangun pihak Sunda akan
    menyerahkan 1.000 karung lada tiap tahun untuk ditukarkan
    dengan barang - barang yang dibutuhkan (Sumber: Hageman 1867:
    Soekamto 1956: Danasasmita 1983)

    Japat

    Japat terletak di sebelah tenggara Pelabuhan Sunda Kalapa,
    termasuk wilayah Kelurahan Ancol Utara, Kecamatan Pademangan,
    Jakarta Utara.

    Nama kawasan tersebut berasal dari kata jaagpad. Ada yang
    mengatakan, kata jaagpad berarti "Jalan setapak yang biasa
    digunakan untuk berburu" . Katanya

    jaag, dari jagen, artinya "berburu" Pad, artinya "jalan
    setapak" padahal, kata jaagpad tidak ada sangkut pautnya
    dengan berburu, melainkan sebuah istilah dalam pelayaran
    perahu. Pada alur sungai atau terusan yang dangkal, perahu
    yang melaluinya baru dapat bergerak maju, kalo ditarik. Pada
    jaman Kompeni Belanda, bahkan beberapa dasawarsa sebelum
    pelabuhan Tanjungpriuk dibuat, kapal - kapal (layar) yang
    cukup besar bila berlabuh dipelabuhan Batavia, yang sekarang
    menjadi Pelabuhan Sunda Kalapa, tidak merapat seperti

    sekarang, melainkan biasa membuang sauh masih jauh dilaut
    lepas.
    Pengangkutan orang dan barang dari kapal biasa dilakukan
    dengan perahu. Untuk mempermudah pendaratan, di sebelah rimur
    Pelabuhan Sunda Kalapa sekarang dibuat terusan
    khusus untuk perahu - perahu pendarat. Terutama di musim
    hujan, terusan tersebut biasa menjadi dangkal, dipenuhi
    lumpur dari darat bercampur pasir dari laut sehingga perahu
    kecil pun sulit melewatinya. Apalagi perahu besar,

    berlunas lebar, sarat muatan, agar bisa bergerak maju harus
    dihela beberapa kuda atau sejumlah orang yang berjalan di
    depan perahu, sebelah kiri dan kanan terusan.

    Terusan tersebut diuruk pada abad ke- 19, sehingga sekarang
    sulit untuk melacaknya. Yang tersisa hanya sebutannya jaagpad
    yang berubah menjadi japat, sebagai nama dari kawasan
    tersebut.
    Last edited by GEO; 27-11-08 at 11:13 AM.

  4. #4
    GEO
    GEO is offline
    Advisor GEO's Avatar
    Join Date
    Oct 2008
    Location
    ...
    Posts
    18,435
    Rep Power
    35

    Re: Asal usul nama daerah di Jakarta

    ada lagi nih
    Jatinegara

    Jatinegara dewasa ini menjadi nama sebuah Kecamatan. Kecamatan
    Jatinegara, Kotamadya Jakarta Timur, salah satu pusat Kota
    Jakarta yang multipusat itu.

    Nama Jatinehara baru muncul pada kawasan tersebut, sejak tahun
    1942, yaitu pada awal masa pemerintahan pendudukan
    balatentara Jepang di Indonesia, sebagai pengganti nama
    Meester Cornelis yang berbau Belanda.

    Sebutan Meester Cornelis mulai muncul ke pentas sejarah Kota
    Jakarta pada pertengahan abad ke-17, dengan diberikannya izin
    pembukaan hutan dikawasan itu kepada Cornelis Senen adalah
    seorang guru agama Kristen, berasal dari Lontor, pulau Banda.
    Setelah tanah tumpah - darahnya dikuasai sepenuhnya oleh
    kompeni, pada tahun 1621 Senen mulai bermukim di Batavia,
    ditempatkan di kampung Bandan. Dengan tekun ia mempelajari
    agama Kristen sehingga kemudian mampu mengajarkannya kepada
    kaum sesukunya. Dia dikenal mampu berkhotbah baik dalam
    bahasa Melayu maupun dalam bahasa Portugis (kreol) Sebagai
    guru, ia biasa dipanggil mester, yang berarti "tuan guru".
    Hutan yang dibukanya juga dikenal dengan sebutan Mester
    Cornelis, yang oleh orang - orang pribumi biasa disingkat
    menjadi Mester. Bahkan sampai dewasa ini nama itu nampaknya
    masih umum digunakan oleh penduduk Jakarta, termasuk oleh
    para pengemudi angkot
    (angkutan kota).

    Kawasan hutan yang dibuka oleh Mester Cornelis Senen itu
    lambat laun berkembang menjadi satelit Kota Batavia. Dalam
    rangka pelaksanaan otonomi daerah oleh Pemerintah Hindia
    Belanda dibentuklah Pemerintahan Gemeente (kotapraja) Meester
    Cornelis, bersamaan dengan dibentuknya Gemeente Batavia.

    Kemudian, mulai tanggal 1 Januari 1936 Gemeente Meester
    Cornelis digabungkan

    dengan Gemeente Batavia.

    Disamping kedudukannya sebagai gemeente, pada tahun 1924
    Meester Cornelis dijadikan nama kabupaten, Kabupaten Meester
    Cornelis, yang terbagi menjadi 4

    kewedanaan, yaitu Kewedanaan Meester Cornelis, Kebayoran,
    Bekasi, dan Cikarang (Kolonial Tidschrifft, Maart 1933:1).

    Pada jaman Jepang pemerintah pendudukan jepang, nama Meester
    Cornelis diganti menjadi Jatinegara, bersetatus sebagai
    sebuah Siku, setingkat kewedanaan, bersama - sama dengan
    Penjaringan, Manggabesar, Tanjungpriuk, Tanahabang, Gambir,
    dan Pasar Senen.

    Ketika secara administrative Jakarta ditetapkan sebagai
    Kotapraja Jakarta Raya, Jatinegara tidak lagi menjadi
    kewedanaan, karena kewedanaan dipindahkan ke Matraman, dengan
    sebutan Kewedanaan Matraman. Jatinegara menjadi salah satu
    wilayah Kecamatan Pulogadung, Kewedanaan Matraman (The Liang
    Gie 1958:144)

    Jatinegara Kaum

    Jatinegara Kaum dewasa ini menjadi sebuah kelurahan, Kelurahan
    Jatinegara Kaum, Kecamatan Pulogadung, Kotamadya Jakarta
    Timur. Disebut Jatinegara Kaum, karena di sana terdapat kaum,
    dalam hal ini rupanya kata kaum diambil dari bahasa Sunda,
    yang berarti "tempat timggal penghulu agama beserta
    bawahannya" (Satjadibrata, 1949:149). Sampai tahun tigapuluh
    abad yang lalu,

    penduduk Jatinegara Kaum umumnya berbahasa Sunda (Tideman
    1933:10).

    Dahulu Jatinegara Kaum merupakan bagian dari kawasan
    Jatinegara yang meliputi hamper seluruh wilayah Kecamatan
    Pulogadung sekarang. Bahkan di wilayah Kecamatan Cakung
    sekarang, terdapat sebuah kelurahan yang bernama Jatinegara,
    yaitu Kelurahan Jatinegara.

    Dari mana asal nama Jatinegara serta kapan kawasan tersebut
    bernama demikian, belum dapat dinyatakan dengan pasti. Yang
    jelas nama kawasan tersebut baru disebut - sebut pada tahun
    1665 dalam catatan harian (Dagh Register) Kastil Batavia,
    waktu diserahkan kepada Pangeran Purbaya beserta para
    pengikutnya. Pangeran Purbaya adalah salah seorang putra
    Sultan Ageng Tirtayasa, Sultan Banten yang digulingkan dari
    tahtanya oleh putranya sendiri, Sultan Haji, dengan bantuan
    kompeni Belanda pada tahun 1682. Setelah tertawan, Pangeran
    Purbaya beserta saudara - saudaranya yang lain, seperti
    Pangeran Sake dan Pangeran Sangiang, ditempatkan di dalam
    benteng Batavia. Kemudian , ditugaskan untuk memimpin para
    pengikutnya, yang ditempatkan dibeberapa tempat, seperti
    Kebantenan, Jatinegara, Cikeas, Citeurep, Ciluwar, dan
    Cikalong.

    Orang - orang Banten yang bermukim di Jatinegara, awalnya
    dipimpin oleh Pangeran Sangiang. Karena dianggap terlibat
    dalam pemberontakan Kapten Jonker, kekuasaan Pangeran
    Sangiang di Jatinegara ditarik kembali, dan pada tahun 1680
    diserahkan kepada Kiai Aria Surawinata, mantan bupati Sampora,
    kesultanan Banten (T.B.G. XXX:138) yang setelah menyerah
    kepada kompeni diangkat menjadi Letnan, di bawah Pangeran
    Sangiang. Sampai tahun 1689.Surawinata masih bermukim di
    Luarbatang . Setelah Kiai Aria Surawinata wafat, berdasarkan
    putusan Pimpinan Kompeni Belanda di Batavia tertanggal 27

    Oktober 1699, sebagai penggantinya adalah putranya, Mas
    Muhammad yang Panca wafat, sebagai penggantinya ditunjuk
    salah seorang putranya, Mas Ahmad. Pada

    waktu para bupati Kompeni diwajibkan untuk menanam kopi di
    wilayahnya masing - masing, penyerahan hasil pertanian itu
    dari tahun 1721 sampai dengan tahun 1723. tercatat atas nama
    Mas Panca. Baru pada tahun 1724 tercatat atas nama Mas Ahmad.
    Pada tahun 1740 rupanya Mas Ahmad masih menjadi bupati
    Jatinegara atas nama Mas Ahmad berjumlah 2.372,5 pikul,
    kurang lebih 14.650 kg.

    Kebantenan

    Kawasan Kebantenan, atau kebantenan, dewasa ini termasuk
    wilayah Kelurahan Semper Timur, Kecamatan Cilincing,
    Kotamadya Jakarta Utara.

    Dikenal dengan sebutan Kebantenan, karena kawasan itu sejak
    tahun 1685 dijadikan salah satu tempat pemukiman orang -
    orang Banten, dibawah pimpinan

    Pangeran Purbaya, salah seorang putra Sultan Ageng Tirtayasa.
    Tentang keberadaan orang - orang Banten dikawasan tersebut,
    sekilas dapat diterangkan sebagai berikut.

    Setelah Sultan Haji (Abu Nasir Abdul Qohar ) mendapat bantuan
    kompeni yang antara lain melibatkan Kapten Jonker, Sultan
    Ageng Tirtayasa terdesak, sampai terpaksa meninggalkan
    Banten, bersama keluarga dan abdi - abdinya yang masih setia
    kepadanya. Mereka berpencar, tetapi kemudian terpaksa mereka
    menyerahkan diri, Sultan Ageng di sekitar Ciampea, Pangeran
    Purbaya di Cikalong kepada Letnan Untung (Untung Surapati).

    Di Batavia awalnya mereka ditempatkan didalam lingkungan
    benteng. Kemudian Pangeran Purbaya beserta keluarga dan abdi
    - abdinya diberi tempat pemukiman, yaitu di Kebantenan,
    Jatinegara, Condet, Citeureup, dan Cikalong.

    Karena dituduh terlibat dalam gerakan Kapten Jonker, Pangeran
    Purbaya dan adiknya. Pangeran Sake, pada tanggal 4 Mei 1716
    diberangkatkan ke Srilangka,

    sebagai orang buangan. Baru pada tahun 1730 kedua kakak
    beradik itu diizinkan kembali ke Batavia. Pangeran Purbaya
    meninggal dunia di Batavia tanggal 18 Maret 1732.

    Perlu dikemukakan, bahwa disamping Kabantenan di Jakarta Utara
    itu, ada pula

    Kabantenan yang terletak antara Cikeas dengan Kali Sunter,
    sebelah tenggara Jatinegara, atau sebelah barat daya Kota
    Bekasi. Di salah satu rumah tempat kediaman Pangeran Purbaya
    yang berada di barat daya Bekasi itu ditemukan lima buah
    prasasti berhuruf Sunda kuno, peninggalan jaman kerajaan
    Sunda, yang ternyata dapat sedikit membuka tabir kegelapan
    sejarah Jawa Barat.

    Kampung Ambon

    Merupakan penyebutan nama tempat yang ada di Rawamangun,
    Jakarta Timur. Nama

    ini sudah ada sejak tahun 1619. Pada waktu itu JP. Coen
    sebagai Gubernur Jenderal VOC menghadapi persaingan dagang
    dengan Inggris. Untuk memperkuat angkatan perang VOC, Coen
    pergi ke Ambon mencari bantuan dengan menambah pasukan dari
    masyarakat Ambon. Pasukan Ambon yang dibawa Coen dimukimkan
    orang Ambon itu lalu kita kenal sebagai kampung Ambon,
    terletak di daerah Rawamangun, Jakarta Timur.

    Kampung Bali

    Di wilayah Propinsi DKI Jakarta terdapat beberapa kampung yang
    menyandang nama Kampung Bali, karena pada abad ketujuhbelas
    atau kedelapanbelas dijadikan pemukiman orang - orang Bali,
    yang masing - masing dipimpin kelompok etnisnya. Untuk
    membedakan satu sama lainnya, dewasa ini biasa dilengkapi
    dengan nama kawasan tertentu yang berdekatan, yang cukup
    banyak dikenal. Seperti Kampung Bali dekat Jatinegara yang
    dulu bernama Meester Corornelis, disebut Balimester,
    Kecamatan Jatinegara, Kotamadya Jakarta Timur.

    Balimester tercatat sebagai perkampungan orang - orang Bali
    sejak tahun 1667.

    Kampung Bali Krukut, terletak di sebelah barat Jalan Gajahmada
    sekarang yang

    dahulu bernama Molenvliet West. Di sebelah selatan,
    perkampungan itu berbatasan dengan tanah milik Gubernur
    Reineir de Klerk (1777 - 1780), dimana dibangun sebuah gedung
    peristirahatan, yang dewasa ini dijadikan Gedung Arsip
    Nasional.

    Kampung Bali Angke sekarang menjadi kelurahan Angke, Kecamatan
    Tambora Jakarta Barat. Disana terdapat sebuah masjid tua,
    yang menurut prasasti yang

    terdapat di dalamnya, dibangun pada 25 Sya'ban 1174 atau 2
    April 1761. Dihalaman depan masjid itu terdapat kuburan
    antara lain makam Pangeran Syarif Hamid dari Pontianak yang
    riwayat hidupnya ditulis di Koran Javabode tanggal 17 Juli
    1858. Dewasa ini mesjid tersebut biasa disebut Masjid Al-
    Anwar atau Masjid Angke.

    Pada tahun 1709 di kawasan itu mulai pula bermukim orang -
    orang Bali di bawah pimpinan Gusti Ketut Badulu, yang
    pemukimannya berseberangan dengan pemukiman orang - orang
    Bugis di sebelah utara Bacherachtsgrach, atau Jalan Pangeran
    Tubagus Angke sekarang . Perkumpulan itu dahulu dikenal dengan
    sebutan Kampung Gusti (Bahan: De Haan 1935,(I), (II):Van
    Diesen 1989).

    Kampung Bandan

    Merupakan penyebutan nama Kampung yang berada dekat pelabuhan
    Sunda Kelapa atau masih dalam Kawasan Kota Lama Jakarta
    (Batavia) Berdasarkan informasi yang dapat dikumpulkan
    terdapat beberapa versi asal - usul nama Kampung Bandan.

    1-Bandan berasal dari kata Banda yang berarti nama pulau yang
    ada di daerah Maluku. Kemungkinan besar pada masa lalu (
    periode kota Batavia) daerah ini pernah dihuni oleh
    masyarakat yang berasal dari Banda. Penyebutan ini sangatlah
    lazim karena untuk kasus lain ada kemiripannya, seperti
    penyebutan

    nama kampung Cina disebut Pecinan. Tempat memungut pajak atau
    cukai (bea) disebut Pabean dan Pekojan sebagai perkampungan
    orang Koja (arab), dan lain - lain.

    2-Banda berasal dari kata Banda ( bahasa Jawa) yang berarti
    ikatan Kata Banda dengan tambahan awalan di (dibanda)
    mempunyai arti pasif yaitu diikat.

    Hal ini dapat dihubungkan dengan adanya peristiwa yang sering
    dilihat masyarakat pada periode Jepang, yaitu pasukan Jepang
    membaw pemberontak dengan tangan terikat melewati kampung ini
    menuju Ancol untuk dilakukan eksekusi bagi pemberontak
    tersebut.

    3-Banda merupakan perubahan ucapan dari kataPandan. Pada masa
    lalu di kampung ini banyak tumbuh pohon, sehingga masyarakat
    menyebutnya dengan nama

    Kampung Pandan.
    Last edited by GEO; 27-11-08 at 11:14 AM.

  5. #5
    Senior Member Azahari's Avatar
    Join Date
    Mar 2008
    Location
    Bumi Pertiwi
    Posts
    1,633
    Rep Power
    8

    Re: Asal usul nama daerah di Jakarta

    Hai GEO. Good job man.
    Thread serupa sebenarnya sudah pernah dibuat.
    http://forum.kompas.com/kokiers-forum/5685-asal-usul.html
    BTW it's OK. Complimentary. Saling melengkapi.
    Ask KAMIRIN for more referencies.

  6. #6
    GEO
    GEO is offline
    Advisor GEO's Avatar
    Join Date
    Oct 2008
    Location
    ...
    Posts
    18,435
    Rep Power
    35

    Re: Asal usul nama daerah di Jakarta

    Quote Originally Posted by Azahari View Post
    Hai GEO. Good job man.
    Thread serupa sebenarnya sudah pernah dibuat.
    http://forum.kompas.com/kokiers-forum/5685-asal-usul.html
    BTW it's OK. Complimentary. Saling melengkapi.
    Ask KAMIRIN for more referencies.
    sorry bro kalo repost

  7. #7
    Senior Member Azahari's Avatar
    Join Date
    Mar 2008
    Location
    Bumi Pertiwi
    Posts
    1,633
    Rep Power
    8

    Re: Asal usul nama daerah di Jakarta

    Quote Originally Posted by GEO View Post
    sorry bro kalo repost
    Easy man, It's OK.
    GO ON..

  8. #8
    GEO
    GEO is offline
    Advisor GEO's Avatar
    Join Date
    Oct 2008
    Location
    ...
    Posts
    18,435
    Rep Power
    35

    Re: Asal usul nama daerah di Jakarta

    Quote Originally Posted by Azahari View Post
    Easy man, It's OK.
    GO ON..
    sama-sama bro,

  9. #9
    Member Eddy Wijay's Avatar
    Join Date
    Sep 2008
    Posts
    763
    Rep Power
    0

    Re: Asal usul nama daerah di Jakarta

    Bagaimana kalo Tanah Kusir, Tanah Abang, Mangga Rai, Mangga Besar (mabes), Keramat Tunggak, Ancol, Tanjung Priok dan Tomang. Kalo Tanjung Priok gua tahu, kira-kira begini. Kalo di Surabaya ada Tanjung Perak, di Semarang ada tanjung Emas maka di Jakarta tak mau ketinggalan mau bukin Tanjung Besi atau Tembaga, namun kurang sedap ya pakai Priok lah yang dari besi, Jadi Tanjung Priok. Just Kidding, sorry

  10. #10
    Senior Member bmehk's Avatar
    Join Date
    Jul 2012
    Posts
    2,246
    Rep Power
    4

    Re: Asal usul nama daerah di Jakarta

    menarik juga ternyata asal usul namanya ya.....

Page 1 of 2 12 LastLast

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •  
©2008 - 2013 PT. Kompas Cyber Media. All Rights Reserved.

Content Relevant URLs by vBSEO 3.6.0