Results 1 to 1 of 1

Thread: Adakah Solusi untuk Kemacetan di Tol dalam Kota Jakarta?


  1. #1
    Senior Member tribudhis's Avatar
    Join Date
    Aug 2011
    Location
    Surabaya, Indonesia, Indonesia
    Posts
    2,396
    Rep Power
    7

    Exclamation Adakah Solusi untuk Kemacetan di Tol dalam Kota Jakarta?

    Adakah Solusi untuk Kemacetan di Tol dalam Kota Jakarta?

    Ada dua janji gubernur DKI Jakarta yang sampai saat ini belum dapat dipenuhi. Dua janji tersebut berkaitan dengan masalah banjir dan kemacetan lalulintas. Jakarta masih kebanjiran pada musim hujan, bahkan pada beberapa tempat, banjir terjadi setiap hari. Sedangkan kemacetan, tidak perlu ditanya. Setiap hari. Bahkan kemacetan di jalan tol dalam kota ternyata sama saja. Macet dan macet. Setiap hari. Hanya pada malam hari, mulai tengah malam sampai pukul tiga pagi, dan pada hari libur nasional kemacetan berkurang. Selebihnya macet. Manakala kemacetan ditambah dengan banjir maka jangan ditanya dampaknya. Jakarta lumpuh. Dan ini bukan asumsi. Juga bukan ilusi. Ini realita.

    Usaha, termasuk di antaranya memutar otak, mencari ide dan gagasan segar, jelas telah dilakukan oleh gubernur, walki gubernur, dan jajarannya. Salah satu bentuknya dapat dilihat pada sayembara yang diadakan oleh Jasa Marga yang salah satu slogannya adalah ‘Menyediakan Jalan Untuk Anda’. Kata pengantar untuk sayembara ini penting dan menarik dan karenanya tidak ada pilihan kecuali mengutipnya secara lengkap. Berikut kata pengantar yang memberi gambaran apa yang terjadi pada – walau sebenarnya semua orang sudah paham – jalan tol dalam kota, apa penyebabnya, apa program yang telah dilakukan untuk mengatasi permasalahan yang ada, dan – ini mungkin yang paling penting – semua usaha tersebut dikhawatirkan tidak membuahkan hasil yang diharapkan. Artinya Jakarta tetap macet. Jalan tol dalam kota tetap macet, dan jalan yang bukan jalan tol apalagi.

    Permasalahan dan Usulan dari Jasa Marga

    Kemacetan di Jalan Tol Dalam Kota Jakarta sudah hampir tiap hari dirasakan oleh masyarakat Jakarta dan sekitarnya saat bepergian menuju kantor, sekolah maupun ke tujuan lain. Keadaan ini terutama terjadi pada jam-jam sibuk atau pagi hari. Kemacetan tersebut terjadi karena volume lalu lintas yang lewat sudah melampaui kapasitas jalan yang ada, sementara jalan tol tak mungkin lagi dilebarkan karena tidak tersedianya lahan.

    Kepadatan kendaraan yang ideal dan masih enak dilintasi jika perbandingan antara volume lalu lintas dan kapasitas jalan (V/C ratio) maksimum sebesar 0,8. Misalnya jika kapasitas suatu jalan adalah 1.000 kend/jam dan dilintasi oleh 800 kend/jam, maka kecepatan masih bisa 60 km/jam, artinya masih cukup nyaman untuk dilalui. Pada jam-jam sibuk V/C Ratio di Jalan Tol Dalam Kota Jakarta di atas 1,4. Pada kondisi ini kemacetan tak dapat dihindari.

    PT Jasa Marga (Persero) Tbk sebagai operator Jalan Tol Dalam Kota Jakarta, khususnya ruas Cawang-Tomang-Cengkareng, terus berupaya mengurangi kemacetan tersebut. Salah satu upaya yang telah dilakukan adalah memberlakukan Contra Flow (kontra arus lalu lintas) mulai dari Cawang sampai dengan menjelang Semanggi pada pagi hari pukul 06.00 s.d. 10.00 WIB dilaksanakan mulai tanggal 1 Mei 2012. Disamping itu saat ini sedang dilakukan pelebaran jalan tol di sekitar Halim.

    Tidak berhenti sampai di situ, Jasa Marga telah mengusulkan 7 (Tujuh) Solusi untuk Mengurangi Simpul Kemacetan di Jalan Tol Dalam Kota Jakarta, yaitu :

    • Contra Flow dari Simpang Susun Cawang sampai dengan Rawamangun
    • Pemberlakuan Contra Flow lebih awal di Ruas Cawang sampai dengan Semanggi
    • Penutupan Off Ramp Bukopin dan Tegal Parang pada jam tertentu
    • Contra Flow dari Grogol sampai dengan Slipi
    • Penambahan Lajur di Ruas Kapuk-Pluit dan Relokasi Gerbang Tol Pluit 1
    • Penambahan Lajur di Ruas Pluit-Kapuk
    • Larangan Truk melintas di Ruas Cikunir-Cawang setelah Ruas Jalan Tol Cilincing- Tanjung Priok selesai.
    Jelas sekali apa yang diusulkan oleh Jasa Marga dapat dilaksanakan. Bahkan jika mau usulan tersebut dapat saja dilaksanakan sekarang juga. Tetapi mengapa pemda DKI melalui Jasa Marga masih saja menyelenggarakan sayembara dan mencoba menjaring ide segar dari masyarakat banyak. Apakah Jasa Marga yakin bahwa 7 usulan atau programnya bukan saja tidak akan berhasil tetapi bahkan akan memperparah kemacetan di jalan tol dalam kota? Atau bagaimana? Tetapi karena tidak berani mengakui hal yang sebenarnya maka mereka mengemasnya dalam bentuk tujuan lomba yang ‘hebat dan luarbiasa’ sehingga tampak bahwa mereka tidak sedang kehabisan akal tetapi sedang memberikan kesempatan kepada penduduk Jakarta dan semua warganegara Indonesia untuk mengeluarkan ide segar sambil sekalian berpatisipasi? Atau seperti kata salah satu iklan ‘to unlock the potency of the people’? Simak empat tujuan diadakannya lomba ini:
    • Memberikan kesempatan kepada Masyarakat untuk dapat menyumbangkan ide dan gagasan dalam upaya mengurangi kemacetan di Tol Dalam Kota Jakarta.
    • Mendorong keterlibatan masyarakat dalam menyelesaikan persoalan-persoalan publik.
    • Sarana untuk membudayakan sharing knowledge dimana setiap individu bebas untuk berpikir dan menuangkan ide, gagasan dan pengalaman dalam bentuk tulisan;
    • Merupakan apresiasi dan penghargaan dari PT Jasa Marga (Persero) Tbk. terhadap upaya masyarakat dalam memberikan kontribusi positif bagi penanganan kemacetan di Jalan Tol Dalam Kota Jakarta.
    Latar belakang yang akurat dan tujuan yang hebat. Jadi sudah sepantasnya jika lomba ini disambut dengan gembira oleh seluruh penduduk Jakarta serta warganegara Indonesia. Mereka seharusnya berbondong-bondong mendukung lomba dengan mengirimkan gagasan dan ide segar yang dalam jangka pendek dapat diterapkan, dan kemacetan ‘hilang’ atau paling tidak ‘berkurang banyak’ dari Jakarta. Para ahli jalan raya, ahli tranportasi, ahli psikologi, ahli ekonomi, ahli sastra, bahkan juga dukun dan ahli santet – yang keberadaannya semakin diakui karena mereka masuk dalam RUU KUHAP dan RUU KUHP 2013 – silahkan mengeluarkan kemampuan terhebatnya dan mendukung lomba ini.

    Pertanyaannya apakah ini semua masuk akal, logis, dan realistis? Penjaringan ide segar dari masyarakat dalam bentuk lomba untuk mengatasi masalah yang dari dulu sampai sekarang telah terbukti tidak dapat diatasi, tidak bisa diatasi, dan tidak mungkin diatasi? Penyelenggara lomba sebenarnya sudah paham bahwa tidak mungkin ada ide yang betapa pun segar dan briliannya yang dapat mengatasi kemacetan di Jakarta, tetapi agar mereka tampak hebat, demokratis, dan sungguh-sungguh bekerja, maka disebarkanlah beban ‘kegagalan’ pada masyarakat banyak melalui lomba seperti ini? Apakah memang seperti itu?

    Tentu saja jika ‘tuduhan’ semacam ini disampaikan pada Jasa Marga sebagai penyelenggara atau pada sekretaris perusahaan sebagai penanggungjawab, jawabannya dapat ditebak. Kalau ente mau ikut lomba ya silahkan ajukan usulannya, kalau tidak ya tidak usah banyak bacot. Memang pasti tidak seperti ini jawabannya, karena tidak elok. Tetapi jika antar teman, tidak diragukan tanggapannya pasti akan kurang lebih seperti ini. Eh, bukannya mengusulkan ide, malah mengkritik lombanya? Apa-apaan ini? Tetapi kritik semacam ini menjadi sangat penting karena solusi yang akan diusulkan sangat tidak biasa, aneh dan nyeleneh, tetapi jika berani dijalankan – hanya diperlukan keberanian, bukan masalah bisa atau tidak bisa – maka Jakarta pada awalnya akan mempunyai satu hari kerja dalam satu minggu, bukan Sabtu dan Minggu saja, yang sama sekali tidak macet. Kemudian dapat ditingkatkan menjadi dua hari kecuali Sabtu dan Minggu. Coba bayangkan betapa akan hebatnya jika ini menjadi kenyataan. Dua hari dalam lima hari kerja dapat dipastikan Jakarta bebas macet. Jika ditambah dengan Sabtu dan Minggu maka ada empat hari bebas macet. Tentu saja tahapan pertamanya hanya satu hari kerja bebas macet. Jadi hanya ada tiga hari Jakarta bebas macet. Benar-benar bebas macet. Apa ini terasa tidak hebat? Bagi penduduk kota yang jarang merasakan macet di kotanya tentu ini hal yang biasa, tetapi bagi penduduk Jakarta yang banyak yang menjadi ‘senewen’ atau berkepribadian ‘terbelah’ karena macet setiap hari, ada satu hari yang benar-benar tidak macet jelas merupakan ‘berkah dan karunia’ yang tidak ada taranya.

    Apa Solusi Aneh dan Nyelenehnya?


    Sebuah proposal penelitian yang baik – seperti banyak ditulis pada buku panduan penulisan skripsi, tesis atau disertasi di semua institusi pendidikan tinggi di Indonesia – biasanya harus mempunyai sejumlah elemen dasar seperti latar belakang, tujuan penelitian, manfaat penelitian, permasalahan, metodologi pengumpulan data, kajian teori, kajian pustaka, analisis, usulan dan saran, simpulan, serta tentu saja dilengkapi sejumlah lampiran, indeks, bibliografi, dan lain sebagainya. Atau dalam versi Jasa Marga sebagai pemrakarsa lomba usulan yang dikehendaki hendaknya mengandung elemen berikut karena memang elemen inilah yang akan dinilai.
    • Ide, inspirasi dan motivasi
    • Implementasi usulan (realistis dan jangka pendek)
    • Analisis (Data dukung dan acuan referensi)
    • Seminimal mungkin melibatkan instansi lain dalam pelaksanaannya.
    Ini kalau proposalnya tidak mengusulkan sesuatu yang aneh dan nyeleneh. Ini kalau proposalnya mengusulkan sesuatu yang normal dan ilmiah seperti 7 di antaranya telah diusulkan sendiri oleh Jasa Marga sebagai penyelenggara lomba.

    Usulan yang ini aneh dan nyeleneh. Jadi apakah masih akan terikat pada empat elemen yang dipersyaratkan untuk dinilai oleh panitia lomba? Tentu saja ya. Bahkan sangat ya.

    Usulan ini walau aneh dan nyeleneh tetapi tetap mengandung ide, inspirasi dan motivasi. Idenya aneh, inspirasinya nyeleneh, dan motivasinya aneh dan nyeleneh.

    Implementasi usulannya walau aneh dan nyeleneh tetap realistis dan bahkan dapat dimulai besok dan minggu depan dieksekusi. Sangat realistis dan jangka pendek.

    Analisis yang dilakukan sebelum sampai pada simpulan usulan juga didukung dengan data yang sangat valid dan referensi yang juga sangat mutakhir. Apa itu? MACET. Memangnya ada data pendukung yang lebih hebat dari fakta bahwa Jakarta macet setiap hari? Atau adakah referensi acuan yang lebih up to date dibandingkan dengan kondisi macetnya jalan tol dalam kota Jakarta?

    Apakah usulan ini seminimal mungkin melibatkan instansi lain dalam pelaksanaannya? Nah, untuk yang ini jawabnya ternyata tidak. Ada banyak instansi lain yang akan terlibat, bahkan semua instansi yang ada di Jakarta. Semua akan dilibatkan dan harus terlibat. Tetapi itu dalam pelaksanaan hilirnya. Sedangkan untuk pelaksanaan hulunya hanya diperlukan dua orang saja. Gubernur dan wakilnya. Tidak lebih dari itu.

    Inilah usulannya …

    Gubernur DKI Jakarta, yang mendapat anggukan kepala tanda setuju dari Wakil Gubernur, menerbitkan SK Gubernur yang – redaksinya silahkan direka-reka sendiri dan disesuaikan dengan format SK Gubernur lainnya – isinya singkat, sederhana, jelas, dan mengikat. Pada hari Senin tidak boleh ada mobil pribadi dan mobil dinas digunakan di semua jalan – tol atau bukan – di wilayah DKI Jakarta. Hanya kendaraan umum, sepeda motor dan kereta angin, kendaraan khusus seperti ambulans, pemadam kebakaran, kendaraan militer, yang boleh melintas di semua jalan ibukota Jakarta. Semua pejabat sipil hanya dapat menggunakan sepeda motor atau kendaraan umum atau berjalan kaki ke tempat tugasnya. Untuk memastikan ketentuan ini dijalankan maka semua petugas di jajaran departemen perhubungan, kepolisian, militer, tramtib, hansip dan lain-lainnya termasuk organisi kepemudaan, LSM, akan bertugas di semua jalan di DKI Jakarta untuk menghadang mobil pribadi atau dinas plat merah yang nekad melintas. Mereka harus kembali ke garasi tanpa kecuali. Silahkan naik sepeda motor, kendaraan umum, atau berjalan kaki.

    Para petugas akan menghadang sampai ke semua areal yang ada pemukimannya. Kecil atau besar. Kalau perlu mobil petugas menghadang dan menutup jalan ke luar. Pokoknya tidak ada mobil pribadi yang boleh menggunakan jalan pada hari yang ditentukan. Sulit? Tidak juga. Kalau perlu pada minggu pertama SK ini dieksekusi semua petugas, polisi dan militer, bersenjata lengkap. Senjata serbu kalau perlu, supaya senjata yang dibeli dengan uang rakyat itu tidak terus menerus disimpan di gudang. Tidak perlu menembak segala, tetapi dijamin dah tidak ada orang kaya yang betapa pun bandelnya yang akan berani melanggar larangan ini. Melanggar HAM? Memangnya perbuatan dan kelakuan mereka yang membuat jalanan macet tidak melanggar HAM?

    Tahu apa yang akan terjadi? Hari Senin Jakarta pasti akan tetap ramai, tetapi dapat dipastikan tidak akan macet. Kendaraan umum tidak membuat Jakarta macet. Sepeda motor dan sepeda tidak akan membuat Jakarta macet. Ambulan tidak akan membuat Jakarta macet. Kendaraan militer tidak akan membuat Jakarta macet. Yang membuat macet adalah kendaraan pribadi. Kalau semua kendaraan pribadi pada hari Senin berhasil dibuat tetap berada di kandangnya, maka hari Senin dapat dipastikan Jakarta tetap ramai tetapi tidak macet. Jalan tol tidak macet, jalan bukan tol juga tidak macet. Bagaimana mungkin jalan tol tidak akan macet kalau jalan yang bukan tol macet? Memangnya mereka akan di jalan tol terus, toh akhirnya harus ke luar ke jalan bukan tol yang macet.

    Macet baru akan kembali dirasakan pada hari Selasa, Rabu, Kamis, dan Jum’at.

    Purna Wacana

    Tidak diperlukan penelitian yang rumit-rumit, jika selama sebulan berturut-turut penduduk Jakarta merasakan bahwa paling tidak ada tiga hari mereka merasakan bebas macet – Senin, Sabtu, dan Minggu – sama sekali tidak ada alasan mereka tidak akan memohon-mohon pada gubernur agar SK diperluas pemberlakuannya. Tidak hanya Senin, tetapi juga Rabu, umpamanya.

    Macet tetap ada karena memang mimpi namanya jika sebuah kota berpenduduk 10 juta lebih lalu berharap tidak macet, tetapi dengan tindakan yang berani, aneh dan nyeleneh ini, hanya tiga hari saja macet, empat harinya tidak.

    Bravo Jakarta … Bravo atas keberanian Gubernur dan Wakil Gubernur. Catatan rahasia untuk bapak Gubernur dan Wakil Gubernur. Pasti banyak yang protes terhadap gaya SK ala Hayam Wuruk, raja Majapahit yang dulu pernah berkuasa ini, khususnya para petinggi dan para orang kaya yang merasa terganggu. Tetapi tidak usah takut pak, cuek saja, toh mereka tidak bisa memberhentikan bapak apalagi seluruh penduduk Jakarta dijamin akan mendukung SK Bapak ini. Kalau bapak percaya – atau tidak percaya – silahkan dicoba pak … hasilnya pasti luar biasa … ha … ha … ha …

    Dr, Tri Budhi Sastrio – tribudhis@yahoo.com – HP, 087853451949
    Department of Modern Languages and Literature
    University of Adam Mickiewiczh - Poznan, Poland.
    Last edited by tribudhis; 03-04-13 at 01:17 PM.
    Apa yang didapatkan secara cuma-cuma, berikan juga secara cuma-cuma ...

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •  
©2008 - 2013 PT. Kompas Cyber Media. All Rights Reserved.

Content Relevant URLs by vBSEO 3.6.0