Last edited by Taiko-san; 03-02-12 at 06:59 PM.
Ada baiknya diskusi seputar pemilukada dki jakarta thn 2012 ---pilih yg berani atau yg ahli ini menukik pada pertanyaan Siapa/pasangan mana nantinya yg akan diusung oleh parpol ? Pertanyaan ini saya pikir menarik karena pendaftaran cagub dki jakarta baru akan dimulai pendaftarannya bulan maret(tepatnya tgl 11-13 maret) sehingga pendapat atau pandangan yg mengatakan bahwa pasangan balon A atau B yg nantinya akan diusung parpol masih sebatas "prediksi" yg bersandar pada argumen masing2.
Dilihat dari jumlah parpol yg berhasil menempatkan wakilnya di DPRD prov dki jakarta pada pemilu thn 2009 terdapat 10 parpol: Demokrat, gerindra, Hanura, PPP, PDS, PKS, PAN, PDIP, PKB dan Golkar. Dari jumlah tersebut yg dapat mengusung cagub secara mandiri hanya 2 partai, Demokrat dan PKS (terpenuhinya syarat 15%) selebihnya tentu harus berkoalisi bila mau mengusung cagub. Sedangkan nama2 balongub yg sudah muncul saat ini seperti Wicaksana dari PKS, Priya/tantowi/Fadel muhamad dari Golkar, Nachrowi/Fauzi Bowo dari Demokrat, Joko widodo dari PDIP, Lulung Lunggana dari PPP dan wanda hamidah dari PAN. Akan tetapi nama2 tersebut baru bersifat sementara karena belum ada keputusan resmi dari masing2 parpol----peran DPP parpol masih sangat dominan dalam menentukan calon yg akan diusung. Sementara itu dari jalur independen walaupun ada beberapa nama yg muncul tapi yg dipastikan bakal maju adalah pasangan Faisal-Biem(telah terpenuhinya persyaratan; potocopi KTP)
Kembali pada pertanyaan siapakah/pasangan calon manakah nantinya yg akan diusung parpol dalam pemilukada dki jakarta? jawabnya tergantung dari kalkulasi masing2 parpol. Namun demikian kalau diperhatikan pola dukungan parpol terhadap calon yg akan diusung biasanya tidak akan terlepas kepada 3 hal: kemampuan finansial calon, tingkat keterpilihan dan sumber daya calon.
Dalam hal kemampuan finansial si calon, kita tahu untuk mempertahankan kelangsungan operasional parpol agar tetap eksis dibutuhkan pendanaan2 sementara sumber pendanaan parpol yg utama sampai saat ini masih mengandalkan iuran/sumbangan dari anggota2nya terutama wakil mereka yg ada di dewan. Menghadapi pemilukada mesin parpol harus bergerak, untuk menggerakkan mesin parpol pasti membutuhkan dana yg tidak sedikit lantas darimana dananya berasal ? dan apakah parpol mau dengan sukarela menggelontorkan dana untuk pemilukada ? Disinilah saya melihat bahwa urusan usung-mengusung calon yg dilakukan parpol tergantung dari kemampuan finansial sicalon yg akan diusung.
Kemudian tingkat keterpilihan calon yg akan diusung. Dari begitu banyak parpol yg ada saat ini hanya sebagian kecil saja memliki basis massa yg relatif kuat selebihnya mungkin terlalu ekstrem kalau dibilang parpol adalah kumpulan dari para anggotanya saja tapi faktanya demikian. Belum lagi dengan issue2 negatf yg menerpa parpol akhir2 ini-----mendorong masyarakat apatis terhadap parpol. Dengan kondisi seperti ini akan sangat kecil kemungkinan bagi parpol untuk mengusung calon yg memiliki tingkat keterpilihan rendah. Sedangkan sumber daya yg dimiliki si calon sekalipun bukan hal utama tetapi menjadi faktor penting bagi parpol didalam mengusung calon. Sumber daya yg saya maksud disini adalah modal(diluar finansial) jaringan riil yg dimiliki calon untuk dimanfaatkan dalam menambah suara, salah satu contoh: PNS di pemprov dki jakarta sekitar 75 ribu, dari jumlah tersebut yg dapat dimanfaatkan si calon katakanlah 50 ribu.
Dari balon2 yg ada saat ini menurut hemat saya baru Fauzi Bowo yg dapat memenuhi kriteria2 tersebut sehingga sangat besar kemungkinan parpol2 akan kembali mengusungnya. Sementara PKS dengan rasa percaya diri dipastikan akan mengusung kadernya sendiri, alasannya PKS memiliki basis massa relatif kuat dan ini bisa dilihat(walaupun tidak dapat dijadikan pedoman) dari pemilukada dki jakarta tahun 2007, meskipun PKS dikeroyok banyak parpol tp perolehan suara tidak jauh berbeda. Selain itu (mungkin terlalu sentimentil) PKS tentu ingin membalas kekalahan pada pemilukada dki sebelumnya.
Sekali lagi pendapat/pandangan ini masih bersifat debatable.
kweq..weq..wq.., iya juga ya..
napa ya..???
aku coba jawab deh, kalo salah tolong koreksi..
pertama, mungkin calon kompetitornya, selain Faisal Basri, kurang berbobot, sehingga Foke keliatan oke..
kedua, opini kita tentang tingkat elektabilitas seseorang itu kan sedikit banyak, kalau tidak bisa dikatakan dominan, dipengaruhi oleh pemberitaan media. Nah, sementara media adalah bagian dari "player". Aku berasumsi, secara psikologis masyarakat sedang "digiring"..
Ketiga, sampai saat ini, segala sesuatu seputar pemilukada Jakarta 2012 barulah "permainan segelintir orang.."
gimana, cocok kau rasa friend..?
kalo tidak, tolong koreksi deh..
salam..![]()
kweq..weq..wq.., sudah kuduga jawabanmu akan seperti itu. sebab, awalnya aku heran, kenapa thread ini sepi, bukankah bentar lg Jakarta mo pemilukada? penasaran, aku coba tanya2, ke siapa saja yg kebenaran ada kesempatan ngobrol..
hasilnya? dari ngobrol2 dgn anak sekolah, pegawai, wiraswasta, pedagang, tukang ojek, cleaning service, kontraktor, LSM dn wartawan aku ambil kesimpulan (ini menurut survey gw yg tentu saja amatir bangat).., secara umum, atau katakanlah 50% mengatakan : mene ketehe? atau au a 'lap!!! (ini bahasaku aja, jawabannya malah lebih ngaco lagi sebenarnya, terlebih cewek2 SMA, cleaning dan tukang ojek)
yg pegawai, sebagian kontraktor, sebagian LSM, wiraswasta dan pedagang sedikit ada diskusi, tp intinya : "sebenarnya siapapun yg jadi pemimpin nggak ngaruh deh, tetap aja kehidupan kita begini2 aja, dan nasib kitapun sepenuhnya kita sendiri yg perjuangkan. Kalo malas2an ya kere, tp kalo kerja keras ya ada kemungkinan maju, nggak peduli siapapun pemimpinnya." nah, menurutku yg begini sekitar 45 %.
yg mau berdiskusi dgn serius hanyalah wartawan dan sebagian LSM, jg beberapa kontraktor, wiraswasta dan pedagang. Itupun karena mereka "terlibat"
kweq..weq..wq..![]()
pilh yang ahli,berani,jujur,n tetap amanah ini pilihan daku kalau ada yang punya kriteria kayak itu insyallah siip.
emangnya klo jakarta dipimpin oleh Gubernur yg berani maka permasalahan2 yg dihadapi jakarta seperti kemacetan, banjir, sampah, urbanisasi, premanisme dll akan dapat teratasi, ataupun klo Gubernurnya dari yang ahli jakarta akan menjadi tertata apik. Yg ada, baik Gubernur yg berani ataupun yg ahli perlahan tapi pasti sama2 telah mengubah keadaan fisik lingkungan jakarta menjadi seperti perkampungan besar dan mengubah lingkungan sosial masyarakat jakarta menjadi masyarakat yg arogan kurang mentaati aturan.
Last edited by mbamarijan; 23-02-12 at 10:45 PM.
Bookmarks