Hari ini bangsa Indonesia merayakan dirgahayu kemerdekaan yang ke 66. Hari yang sangat spesial, karena hari ini juga bertepatan dengan 17 ramadhan yang bagi umat muslim dikenal dengan nuzulul qur’an —- hari turunnya al-qur’an pertama kali yang diwahyukan kepada nabi Muhammad saw —- . Seperti tak ingin melewatkan momen ini, saya pun dengan penuh suka cita ingin mengucapkan ” merdeka “. Telah banyak saya baca nada optimisme yang dilontarkan dari berbagai lapisan masyarakat melalui media jejaring sosial. Diantara mereka banyak yang masih merasa bahwa rakyat Indonesia belumlah merdeka. Kemerdekaan hanyalah sedikit kisah yang tersisa pasca pembacaan teks proklamasi. Sesudahnya rakyat kembali dijajah oleh penguasa yang lalim.
Sebagai seorang bocah yang menantang kejamnya penjajahan atas kehidupan yang layak, saya memilih untuk menjemput kemerdekaan saya di negri orang. Seperti yang sudah banyak kita ketahui, banyak rakyat Indonesia yang menyebar menjemput kemerdekaanya di tanah gersang timur tengah, di Negara industri asia timur dan di Negara tetangga.
Saya ingat perkataan guru SD saya yang menirukan perkataan bung karno. Bung karno pernah menyatakan ketakutannya bahwa jika negri ini merdeka, beliau takut bangsa Indonesia akan menjadi bangsa kuli. Ketakutan presiden RI yang pertama itu akhirnya nyata terjadi. Entah berapa puluh ribu atau bahkan ratusan ribu jiwa rakyat Indonesia yang bertaruh untuk menjemput segenggam beras, sejarit sandang dan mungkin seonggok gubuk untuk memerdekakan dirinya dan keluarganya atas kemiskinan.
Menukar obrolan hangat di meja makan dengan secarik surat atau telpon. Menukar pergumulan di atas ranjang dengan kegelisahan yang harus dipendam bertahun-tahun. Bahkan banyak yang harus merelakan buah hatinya hidup liar tanpa pendamping. Semua itu sedikit dari pengorbanan para pahlawan yang berjuang untuk menumpas kemiskinan dengan menggembalakan harapan-harapannya.
Cerita tentang mashurnya nusantara yang kaya raya bak dongeng bagi bocah-bocah berperut buncit yang menanti ajalnya karena kelaparan. Televisi dan Koran tak pernah berhenti bercerita tentang kerakusan penguasa. Seperti tikus yang terusir dan terjebak lalu esok akan lahir 1000 tikus yang siap melahap semua sisa makanan di atas meja.
Saya merasa beruntung bisa bekrja dan mendiami sebuah Negara yang lebih bisa menjamin kemerdekaan saya dibanding negri sendiri. Di sini saya tak pernah kehabisan kopi, rokok atau pun makanan — Alhamdullilah —. Saya juga tak pernah menunggu lebaran untuk bisa mempunyai pakaian dan sepatu. Dan yang tak kalah penting, saya bisa ikut memerdekakan orang tua serta saudara saya di Indonesia tercinta. Berupa pendidikan yang layak untuk adik-adik saya dan jaminan kesehatan bagi orang tua saya yang renta tanpa harus mengharap belas kasihan penguasa.
Tidak semua pejuang kemerdekaan atas kemiskinan yang berada di luar negri menemui kemenangan. Banyak juga saudara-saudara kita yang harus menerima siksaan dan bahkan harus berujung dengan kematian. Lagi-lagi para manusia yang biasa dipanggil ‘tuan’ hanya bisa berucap ‘ bela sungkawa ‘.
Layaknya seorang pejuang, saya dan banyak kawan-kawan lainnya tentu juga punya cita-cita luhur atas perjuangan kami di luar negri. Sebuah cita-cita untuk bisa menciptakan lapangan pekerjaan. Hidup mandiri sebagai seorang wirausahawan kampungan. Sangat disayangkan, banyak diantara kami yang enggan kembali ke tanah air karena mereka sudah merasa merdeka di negri orang. Tanpa mereka sadari bahwa kemerdekaan sejati adalah ketika mereka mampu menjadi tuan rumah di negri sendiri. Aku cinta Indonesiaku !!
Ah….semoga kami bisa memerdekakan diri atas kegembelan ini. Amiin….
merdeka…merdeka !!
Bookmarks