
Originally Posted by
Alphe
Mesti dibedakan antara go public dengan dijual. Tidak ada aset yg dijual waktu go public. Aset Garuda tidak dijual, begitu juga dengan Krakatau Steel. IPO itu nambah modal, bukan jual modal.
Kenapa utang kita besar? Salah satunya karena krisis moneter berkat kebobrokan orde baru. Keuangan negara saat itu ancur sementara utang harus dibayar. Mau tidak mau, kita mesti minta kucuran dana pinjaman IMF. Tentu IMF minta syarat. Biasanya, IMF ngasih bantuan dengan meminta sistem ekonomi kita diperbaiki. Pada waktu itu, resep terbaik yg diyakini oleh IMF adalah liberalisasi ekonomi. Nah, dari waktu ke waktu, strategi peningkatan ekonomi kita adalah dengan berusaha agar pengeluaran lebih besar sedikit dari penerimaan. Tujuannya, untuk menumbuhkan ekonomi. Namun, karena penerimaan yg kurang ditambah harus membayar hutang, terpaksa defisit yg disebabkan oleh strategi ini harus ditambal dengan utang baru. Utang baru yg ada tidak ke IMF lagi, tapi melalui mekanisme penerbitan obligasi negara. Selama pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dari bunga obligasi dan proporsi utang terhadap PDB masih kecil (Indonesia 20%, Jepang 200%), penerbitan obligasi masih bisa dibilang wajar. Utang kita memang bertambah. Tetapi, PDB kita juga semakin tumbuh dengan presentasi yg lebih besar dari utang.
Memang strategi ini tidak terlalu bagus. Salah satu tujuan menghapus subsidi adalah mengurangi defisit yg artinya mengurangi utang.
Bookmarks