LENSAINDONESIA.COM: Perkembangan bangsa Indonesia, di satu sisi, semakin mencemaskan. Demokratisasi dan pembangunan ekonomi, diwarnai marak korupsi dan kekerasan, baik yang bersifat horizontal maupun vertikal. Kondisi ini seperti dikuasai dan jadi komuditas para elit, pemilik modal dan penguasa yang sebagian besar memperoleh keuntungan di era rezim Suharto.
Hal itu terurai dalam “Dialog Muda Membangun Karakter Bangsa; Refleksi Pemikiran dan Aksi Gus Dur, Cak Nur, Kang Moeslim” yang diselenggarakan Kerjasama Abdurrahman Wahid Centre UI, Maarif Istitute, Nurcholish Madjid Society, dan LAKSPESDAM PBNU di Cinema Room, Perpustakaan UI, Kampus Depok, Kamis sore (9/08/12)
Kegalauan mencermati kondisi terkini negeri ini disampaikan secara gamblang pembicara Dr. Yudi Latif (pendiri Nucholish Madjid Society), Dr. M. Najib (Pemuda Muhammadiyah dan anggota Maarif Institute), Romo Dr. Benny Susetyo (Teman Gus Dur, Cak Nur dan Kang Moeslim), dan Ahmad Suaedy, M.Hum (Komunitas NU dan AWCentre UI).
Para pembicara ini mengritisi kesenjangan dan kekerasan semakin mencolok. Bangsa Indonesia yang berkarakter Bhinneka Tunggal Ika, toleran, sopan santun menjadi terancam.
Para elit tidak lagi menauladani masyarakat untuk membangun dan mengembangkan karakter keindonesiaan. Sebaiknya, hidup bermewah-mewah menjadi kebiasaan para pemimpin, pengusaha dan politisi, sehingga berdampak kesenjangan dan korupsi di mana-mana.
Bangsa ini dalam pandangan Dr. Yudi Latif, Dr. M Najib, Romo Dr Benny Susetyo, disebut seperti kehilangan figur seperti KH Abdurrachman Wahid atau Gus Dur, Profesor Nurcholis Madjid atau Cak Nur dan Dr. Moeslim Abdurrahman atau Kang Muslim.
Ketiga pendekar itu dengan aktivitas masing-masing mengedepankan karakter bangsa yang toleran, terbuka, modern, namun tetap menjunjung akar budaya bangsa Indonesia. Ketiganya sebagai figur pemikir Islam yang merupakan agama yang dipeluk mayoritas bangsa Indonesia, namun mampu menempatkan diri sebagai bagian dari bangsa Indonesia dan memberi perlindungan bagi kelompok yang lain.
Kini, karakter Islam tertantang munculnya berbagai organisasi massa yang suka kekerasan dengan mengatasnamakan agama. Di sisi lain, Indonesia booming anak muda terpelajar dan kelas memengah muda. Mereka generasi yang keterkaitan dengan era Orde Baru sangat tipis. Mereka tersebar di banyak profesi dan keahlian.
“Orientasi terfokus belajar dan berburu karier, berdampak tidak memiliki waktu cukup berproses merefleksikan peran dan aksi yang pernah ditularkan Gus Dur, Cak Nur,” kata Ahad Suhaedy.
SUMBER


LinkBack URL
About LinkBacks





Reply With Quote


.
Bookmarks