thread ini digabung dengan semua tentang Jembatan Suramadu
thx
thread ini digabung dengan semua tentang Jembatan Suramadu
thx
argumentasinya yang didebat dan didiskusikan bukan orangnya.. kecuali tong kosong.
sniper juga penting tapi hanya sebagai "window dressing" agar membuat gentar para vandalwan dan vandalwati ...
sekarang terbukti yg gw sampaikan dulu , bahwa harus ada sistim sekuriti yg memadai , karena ada fakta bhwa pilar2 besi yg dicuri telah banyak sekali (ber truk2)...
sedih bagt gw dulu di ketawain padahal mengusulkan yg baik (paling tidak menurut gw ... nah faktanya memang perlu tuh)
Last edited by klimis; 17-07-09 at 10:04 AM.
mau marah silahkan,asal jangan koputuskan cintamu
mau marah silahkan,asal jangan koputuskan cintamu
Selamatkan Suramadu
Sabtu, 15 Agustus 2009 | 00:43 WIB
Ulah para pencuri besi Jembatan Suramadu sungguh tak lagi bisa dianggap remeh. Mereka tidak hanya mencuri baut dan lampu penerang seperti terjadi saat jembatan ini baru diresmikan Juni lalu. Yang dilakukan sekarang jauh lebih berbahaya. Mereka juga mencopoti satu demi satu struktur besi pemecah ombak.
Aksi ini bisa berakibat fatal. Besi pemecah ombak itu melindungi pilar utama jembatan dari gerusan ombak dan arus Selat Madura, yang tergolong kuat. Bila pemecah ombak lenyap, pilar akan rentan terhadap hantaman arus dan ombak. Pada akhirnya, pilar beton itu mudah goyah dan membahayakan seluruh struktur jembatan.
Itu sebabnya, penanganan terhadap para penjarah besi harus jauh lebih serius. Yang mereka lakukan bukan lagi sekadar vandalisme, melainkan sebuah perbuatan kriminal berbahaya. Berbahaya bukan hanya karena mereka merusak jembatan senilai Rp 4,5 triliun itu, tapi juga mengancam nyawa ribuan orang yang setiap hari melintasi jembatan tersebut.
Memang tidak mudah mengatasi aksi para penjarah. Para pencuri itu sudah biasa berburu besi tua kapal karam di kedalaman laut. Berbekal alat selam dan alat potong besi sederhana, dalam sekali operasi mereka bisa mendapatkan satu atau dua ton besi.
Besi-besi ini kemudian sedikit demi sedikit mereka pindahkan ke truk yang telah menunggu untuk dibawa ke para penadah. Dalam dua bulan terakhir, polisi setidaknya sudah menangkap tiga truk pengangkut besi jembatan dengan jumlah total mencapai tujuh ton besi. Karena terbatasnya tenaga patroli polisi, yang bisa dilakukan hanya menangkap truk pengangkut tersebut.
Melihat keterampilan dan kegigihan para pencuri ini, menambah frekuensi patroli di jembatan seperti yang sekarang dilakukan tak akan cukup. Polisi hanya mampu mengawasi area sekitar jembatan, sedangkan area pilar, yang sebagian besar terendam laut, tak bisa dikontrol.
Agar lebih efektif, pengawasan polisi seharusnya mencakup area bawah jembatan. Sekarang kapal TNI sesekali terlihat melakukan patroli di area pilar. Tapi mengandalkan bantuan TNI terus-menerus tentu tidak memungkinkan. Tugas pengawasan rutin harus dilakukan oleh Polri sendiri dengan mengerahkan Satuan Polisi Air, yang biasanya bertugas mencegah penyelundupan.
Tapi sehebat apa pun pengawasan oleh polisi, tanpa dukungan masyarakat di sekitar jembatan, itu akan percuma. Jembatan ini dibangun dengan proses panjang dan biaya begitu besar. Ketika jembatan sudah berfungsi, masyarakat sekitarlah yang menikmati keberadaan jembatan. Maka sudah sepantasnya masyarakat sekitar memiliki tanggung jawab moral menjaga keutuhan Suramadu.
Inilah sesungguhnya masalah yang lebih sulit dari sekadar mengawasi keutuhan jembatan. Bangsa kita sudah lama dikenal sebagai bangsa yang bisa membangun tapi tidak mampu memelihara. Maka Suramadu sesungguhnya menjadi ujian bagi masyarakat sekitar. Ujian itu tidak hanya mencegah perusakan, tapi juga membangkitkan rasa memiliki.
Inilah kabar terbaru tentang Suramadu. Apakah memang sebagian dari kita sudah tidak mempunyai rasa nasionalisme sama sekali? Tidak ada rasa kebanggaan atas monumen yg dengan biaya demikian besar demi beberapa lembar rupiah.
Juga dekadensi moral mereka yang tak memikirkan jiwa orang lain. Ini suatu bentuk sikap teroris juga. Aparat harus menindak mereka dengan hukuman yang berlipat untuk menimbulkan efek jera
Public Blog Kompasiana» Blog Archive » Kasihan Benar, Kau, Jembatan Suramadu!
Kasihan Benar, Kau, Jembatan Suramadu!
Oleh danielht - 20 Augustus 2009 - Dibaca 190 Kali -Hari ini, 20 Agustus 2009 tepat 6 tahun pembangunan Jembatan Suramadu.
Ketika Jembatan Suramadu baru saja diresmikan saya telah menulis tentang jembatan sepanjang lebih dari 5 km, termegah dan terpanjang di Asia Tenggara, yang dibangun dalam kurun waktu 6 tahun dengan biaya Rp 4 triliun lebih itu. Kemegahannya memang tak terbantahkan. Namun bersamaan dengan itu saya juga menulis kekhawatiran saya terhadap perawatan jembatan tersebut. Sebab harus diakui budaya merasa memiliki, keamanan, kedisiplinan, ketertiban, dan kebersihan terhadap fasilitas-fasilitas umum seperti ini masih sangat kurang.
Tidak perlu menunggu terlalu lama untuk membuktikan kekhawatiran saya tersebut.
Baru diresmikan pada 10 Juni 2009 lalu, atau baru dua bulan lalu aneka masalah seputar jembatan tersebut sudah mulai menumpuk.
Belum apa-apa aksi kriminal sudah beberapakali terjadi, penodongan, penganiayaan sampai perampasan handphone dan sepeda motor, pencurian baut-mur, sampai dengan pencurian besi-besi jembatan itu. Untuk pencurian besi-besi jembatan sudah beberapakli terjadi. Bahkan sebelum jembatan tersebut jadi dan diresmikan. Terakhir kali baru-baru ini saja, pada tanggal 12 Agustus 2009, polisi berhasil menangkap pelaku pencurian 1 ton batangan besi yang berfungsi sebagai pemecah ombak di kaki jembatan. Sebelumnya, pada bulan Juli 2009 polisi juga berhasil menangkap pelaku pencurian sekitar 3 ton besi dari jembatan Suramadu.
Kalau terus begini, lama-lama benar-benar eksistensi dan keamanan konstruksi Jembatan Suramadu ini terancam. Bisa-bisa suatu ketika patah atau roboh!
Bagaimana dengan kebersihan? Pemandangan gersang terpampang baik di sisi Surabaya, maupun di sisi Madura. Yang paling parah ada di sisi Madura, karena relatif luas terlihat pemandangan tanah gersang tanpa tanaman seperti padang gurun. Di sanalah terdapat seratusan pedagang kaki lima menggelar dagangannya secara darurat. Sampah-sampah pun berserakan di sekitarnya.
Sedangkan dari aspek ketertiban dan displin, petugas patrol kelihatannya juga sudah capek dan juga tidak terlalu serius melakukan tugasnya. Larangan untuk sepeda motor lebih dari dua orang, hanya sebatas peraturan di atas kertas. Beberapa kali terlihat sepeda motor dengan lebih dari dua orang diizinkanmasuk begitu saja.
Begitu juga larangan berhenti di jalan di atas jembatan. Sampai sekarang setiap saat masih terlihat belasan sampai puluhan kendaraan roda empat masih saja berhenti di bentang tengah jembatan untuk menikmati pemandangan, dan foto-foto. Mereka akan menyingkir ketika patrol dating, dan kembali ada lagi yang berhenti ketika patrol tidak ada. Main kucing-kucingan. Katanya, yang berwenang akan menindak tegas pelanggar-pelanggar itu. Faktanya, pelanggran itu masih saja terjadi seperti biasa. Entah benar, apakah ada yang sudah ditindak tegas ataukah belum.
Yang paling memprihatinkan adalah pengalaman saya sendiri.
Mungkin terlalu bersemangat, ketika ada saudara-saudara saya yang datang dari luar pulau, saya pun mempromosikan kemegahan jembatan tersebut, dan menyarankan mereka untuk melewatinya. Saya bilang, kalau malam pemandangannya lebih bagus. Karena jembatan itu seperti disiram dengan cahaya-cahaya lampu jalannya yang membuat dia semakin terlihat megah.
Tertarik, saudara saya itu memilih mencoba ke sana malam hari. Lengkap dengan membawa kameranya, karena dia ada sedikit punya hobi fotografer.
Ketika pulang dari sana, saya bertanya kepadanya, “Bagaimana, bagus, ‘kan pemandangannya?”
Dia menjawab, “Apanya yang bagus, jembatan gelap begitu!”
Saya tidak percaya, saya kira dia guyon, tetapi dia tetap bilang jembatannya nyaris tanpa lampu. Buktinya dia tidak mengambil satu pun gambar di sana dengan kameranya itu.
Saya masih ragu-ragu, apakah dia ini serius, atau hanya mau ngerjain saya. Orangnya suka guyon, sih.
Beberapa hari kemudian, saya mendengar di Radio Suara Surabaya, pengalaman yang sama dari pendengar yang teelpon ke radio paling terkenal di Surabaya itu. Bahwa dia malu dengan jembatan Suramadu, karena telanjur promosi habis-jabisan ke tamunya tentang kemeriahan pemandangan jembatan itu di malam hari. Ketika mereka sampai di sana, ternyata jembatannya gelap! Padahal tamunya itu sudah termakan promosinya sampai membawa handy-cam segala.
Terus beberapa hari lalu, say abaca lagi di surat pembaca di Jawa Pos, orang yang menceritakan pengalaman yang sama: Sekarang Jembatan Suramadu gelap di malam hari, karena lampu-lampupenerang jalannya banyak yang tidak berfungsi!
Bayangkan saja, baru dua bulan sudah begini?
Terbukti betapa buruknya SDM kita. Jembatan yang begitu mahal diperlakukan seperti jembatan reyot di kampong. Berapa biaya pembangunan tiang-tiang lampu itu, kalau kemudian lampunya yang mati dibiarkan lama tidak diganti seperti itu?
Payah, bukan?
Kasihan Benar, Kau, Jembatan Suramadu!
" sudahlah, mundur saja....jangan bebal"
dari awal juga udah gw bilang kallo pentingnya sistim security yg memadai ...
selalipun banyak yglebar ...
mmg kwalitas sdm kita dalam pemeliharaan secra umum masih dibawah standard yg paling minima..
ini menjadi pe=er bangsa yg sgera perelu ditindak lanjuti ...
jangan hanya bangga jadi jago tebak [sesuatu yg mmg transparan] , tapi buktikan kita bisa berubah dgn mengubah ...
yes we can ...
Last edited by klimis; 21-08-09 at 03:48 AM.
mau marah silahkan,asal jangan koputuskan cintamu
Terus ternag gw nggak bangga tapi aneh saja membangun jembatan suramadu dengan biaya yang cukup aduhai, sementara jembatan disepanjang pulau sumatera, kalimantan, sulewesi, irian dan pulau2 lainnya di negeri ini masih memprihatinkan.
untuk penghubungan jawa-madura kan sudah ada ferry, kenapa nggak pelayanannya diperbaiki termasuk pelayangan ferry selat sunda, selat bali sampai ke ntt.
ini nama nya pinter apa ... apa ya ?
SALAH BESAR membuat jembatan terpanjang perdana di MADURA..![]()
Kita hidup terpecah belah, Kasih Tuhanlah perekatnya
Bookmarks