Public Blog Kompasiana» Blog Archive » Mimpi Saya Bersama Bu Mega, Pak Beye dan Pak Jeka

Mimpi Saya Bersama Bu Mega, Pak Beye dan Pak Jeka
Oleh Nancy Samola - 3 Juli 2009 - Dibaca 415 Kali -

USAI menonton acara Debat Capres di televisi tadi malam, saya merasa lelah lantaran seharian tugas mengajar yang cukup berat. Belum lama tertidur, saya bermimpi satu pesawat dengan Bu Mega, Pak Jeka dan Pak Beye. Saya pun langsung terjaga karena pesawat itu mau jatuh.
Begini mimpi saya:
Saya bersama tim UNICEF Indonesia, di suatu siang berangkat menggunakan pesawat terbang menuju Jakarta. Rombongan ini jumlahnya hampir 100 penumpang, dan sebagian besar di antaranya adalah anak-anak. Puluhan anak tersebut merupakan penderita gizi buruk, yang dikumpulkan dari beberapa daerah seperti NTB, Pekalongan, Tegal dan Bekasi. Selama perjalanan di udara, suasana cukup menyenangkan.
Nah, rencama kami untuk tiba di Jakarta, mengalami perubahan mendadak. Ternyata pesawat militer yang membawa kami, harus mengubah arah ke-3 lokasi berbeda. Manurut Sang Pilot, dirinya diperintahkan untuk menjemput 3 capres yang baru saja berkampanye. Rupanya mereka ngotot dijemput, karena harus menghadiri acara debat di televisi malam nanti.
Akhirnya, pesawat yang kami tunpangi terisi sesak oleh penumpang, termasuk 3 penumpang tambahan, Bu Mega, Pak Jeka dan Pak Beye. Perjalanan pun dilanjutkan, dan kini hampir senja.
Cerita ini berubah menegangkan, menjelang pesawat mendarat di Jakarta. Kembali Sang Pilot memberi pengumuman. Oala, tapi kali ini dikatakan, bahwa mesin pesawat mengalami gangguan. Suasana pun jadi menegangkan. Para capres dengan sikap bijaksana, membantu memasangkan tas parasut ke para penumpang. Mereka berkilah, hanya memasang tas parasut, setelah seluruh penumpang telah terpasang tas parasut.
Satu per satu penumpang terjun melalui pintu darurat.

Nah, kini tinggal kami berempat. Ternyata Sang Pilot diam-diam telah melompat dari pintu depan. Pesawat pun tak lama lagi menghujam ke bumi. Sayangnya, hanya tersisa 3 tas parasut.

Pak Jeka langsung berkata, “Lebih cepat, lebih baik!”. Ia pun langsung memasang tas parasut, dan tanpa pamit lagi melompat ke luar pesawat.

Pak Beye panik karena merasa didahului. Dengan cekatan tangannya meraih satu tas, dan berkata “Saya harus melanjutkan tugas.” Ia pun bergegas melompat dengan tas yang belum terpasang.

Kini, tinggal saya dan Bu Mega. Waktu pun mulai menipis. Bu Mega berkata, “Nancy, biarlah kamu memakai tas saya. Kamu masih muda. Pasti punya harapan hidup lebih lama daripada saya.”
Saya tersenyum dan meraih tangan Bu Mega ke arah pintu keluar. “Bu, tas parasutnya masih ada 2 kok.
Kayaknya Pak Beye mengambil tas mengajar saya.” Tas parasut terpasang, dan kami penumpang terakhir yang melompat ke luar pesawat. Dan, saya pun terbangun dari tidur.