Results 1 to 6 of 6

Thread: Kurikulum Baru, SMA Tidak Ada Penjurusan IPA, IPS, Bahasa


  1. #1
    Newbie momonsters's Avatar
    Join Date
    Oct 2012
    Posts
    47
    Rep Power
    0

    Kurikulum Baru, SMA Tidak Ada Penjurusan IPA, IPS, Bahasa

    Kurikulum baru 2013 turut mengubah sistem pendidikan untuk setingkat sekolah menengah atas. Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M. Nuh, pelajar SMA tidak lagi dibingungkan dengan adanya penjurusan eksakta, sosial, maupun bahasa. "Anak-anak akan dibebaskan memilih pelajaran yang disukai," kata Nuh.

    Menurut Nuh, pendidikan di sekolah lebih baik tidak ada spesialisasi. Alasannya, fakta di lapangan untuk mencari kerja atau meneruskan pendidikan ke jenjang berikutnya tidak ada syarat berasal dari lulusan IPA, IPS, maupun bahasa. "Anak IPS bisa masuk teknik, anak IPA bisa masuk ekonomi, asal lulus ujian masuk," kata Nuh.

    Penjurusan, menurut Nuh, kadang menimbulkan bentuk diskriminasi. Ia menuturkan ada stigma khusus untuk jurusan tertentu yang menimbulkan kemudahan atau hambatan bagi jurusan lain. Misalnya, untuk anak lulusan IPA dianggap lebih pintar dan bisa masuk ke semua jurusan, sedangkan IPS dan Bahasa dianggap tidak mampu.

    Dengan kurikulum baru ini, Nuh yakin tidak khawatir ada mata pelajaran yang kosong karena pelajar bisa memilih sesuai yang diminati. "Banyak siswa yang ambil mata pelajaran x, tapi sedikit yang ambil mata pelajaran y, itu terserah," kata Nuh. Namun, ia tetap meyakinkan ada mata pelajaran wajib yang masih harus diambil setiap pelajar SMA dan sederajat.

    Kurikulum baru akan mulai diperlakukan tahun ajaran baru 2013/2014. Beberapa mata pelajaran dilebur dengan yang lain, dibuat lebih integrasi dan holistik. Untuk mata pelajaran SD yang semula 10 menjadi 6, sedangkan SMP dari 12 menjadi 10. DI lain pihak, pelajar SMA dibebaskan memilih pelajaran yang disukai. Metode pengajaran dibuat untuk merangsang keaktifan siswa. Diharapkan kurikulum pendidikan baru ini dapat menjawab tantangan zaman.





    SUMBRERRRR


    waaaah...
    enak yaa...
    jadi gak bingung2 dari sma mikir mau jurusan apa...

  2. #2
    Junior Member zenie's Avatar
    Join Date
    Dec 2011
    Posts
    438
    Rep Power
    6

    Re: Kurikulum Baru, SMA Tidak Ada Penjurusan IPA, IPS, Bahasa

    Untuk yang ini saya tidak setuju..
    Karena seharunya spesialisasi harus ada sedini mungkin..

    Klo mau jadi dokter, ngapain capek2 belajar sejarah di SMA?
    Pelajaran sejarah ampe SMP juga sudah cukup..

    Penyakit di Indonesia itu terlalu banyak pelajaran, tapi materi nya dangkal semua..
    Makanya kemampuan akademis dari sebuah profesi SANGAT DIPERTANYAKAN..

    Mungkin lulusan dokter di Indonesia memiliki kemampuan akademik yang sama dengan lulusan SMA di Jepang kali ya..
    Karena di Indonesia terlalu banyak mempelajari hal yang tidak berguna..
    The Heart of Mathematics is Its Problems (Paul Halmos)

  3. #3
    Senior Member Alphe's Avatar
    Join Date
    Nov 2011
    Location
    Banggai
    Posts
    1,623
    Rep Power
    7

    Re: Kurikulum Baru, SMA Tidak Ada Penjurusan IPA, IPS, Bahasa

    Quote Originally Posted by zenie View Post
    Untuk yang ini saya tidak setuju..
    Karena seharunya spesialisasi harus ada sedini mungkin..

    Klo mau jadi dokter, ngapain capek2 belajar sejarah di SMA?
    Pelajaran sejarah ampe SMP juga sudah cukup..

    Penyakit di Indonesia itu terlalu banyak pelajaran, tapi materi nya dangkal semua..
    Makanya kemampuan akademis dari sebuah profesi SANGAT DIPERTANYAKAN..

    Mungkin lulusan dokter di Indonesia memiliki kemampuan akademik yang sama dengan lulusan SMA di Jepang kali ya..
    Karena di Indonesia terlalu banyak mempelajari hal yang tidak berguna..
    Meminati sebuah ilmu jangan dihubungkan dengan profesi dambaan atau cita-cita. Untuk pekerjaan dokter atau insinyur, sejarah barangkali tidak terlalu banyak berhubungan. Tetapi, pendidikan bukan hanya untuk mencetak seorang insinyur, dokter, pengacara, atau sastrawan. Pendidikan juga bertujuan menghasilkan seseorang yg memiliki wawasan luas, seseorang yg memiliki kebijaksanaan. Jadi, sah-sah saja seorang calon dokter belajar sejarah untuk menambah wawasan, yg penting dia memiliki kemampuan life long learning, belajar seumur hidup.

    Terkadang, pelajaran jangan melulu dihubungkan dengan materi pembelajarannya, tetapi bagaimana pelajaran itu membangun dan membentuk karakter serta pola pikir seseorang. Matematika misalnya, mengajarkan cara berpikir logis dan sistematis. Bahasa, mengajarkan metode berkomunikasi yg baik serta efektif. Seni dan sastra, membentuk pribadi yg humanis. Justru sisi-sisi pendidikan yg seperti ini yg menurut saya harus dominan.

    Secara keseluruhan, saya melihat sisi positif dari pembebasan pemilihan mata pelajaran di sekolah. Hanya saja, tentu bimbingan terhadap siswa harus lebih intens karena tidak mudah menentukan pilihan mata pelajaran bagi seorang siswa. Selain itu, sarana serta SDM guru yg mumpuni harus merata. Khawatir sekali di sekolah-sekolah di daerah terpencil yg kesulitan memberikan kualitas pendidikan yg memadai.
    Meja kerja yang rapi adalah cerminan jiwa yang sakit

  4. #4
    Contributor falz_oi's Avatar
    Join Date
    Feb 2012
    Location
    Nusantara
    Posts
    2,519
    Rep Power
    18

    Re: Kurikulum Baru, SMA Tidak Ada Penjurusan IPA, IPS, Bahasa

    Quote Originally Posted by Alphe View Post
    Meminati sebuah ilmu jangan dihubungkan dengan profesi dambaan atau cita-cita. Untuk pekerjaan dokter atau insinyur, sejarah barangkali tidak terlalu banyak berhubungan. Tetapi, pendidikan bukan hanya untuk mencetak seorang insinyur, dokter, pengacara, atau sastrawan. Pendidikan juga bertujuan menghasilkan seseorang yg memiliki wawasan luas, seseorang yg memiliki kebijaksanaan. Jadi, sah-sah saja seorang calon dokter belajar sejarah untuk menambah wawasan, yg penting dia memiliki kemampuan life long learning, belajar seumur hidup.

    Terkadang, pelajaran jangan melulu dihubungkan dengan materi pembelajarannya, tetapi bagaimana pelajaran itu membangun dan membentuk karakter serta pola pikir seseorang. Matematika misalnya, mengajarkan cara berpikir logis dan sistematis. Bahasa, mengajarkan metode berkomunikasi yg baik serta efektif. Seni dan sastra, membentuk pribadi yg humanis. Justru sisi-sisi pendidikan yg seperti ini yg menurut saya harus dominan.

    Secara keseluruhan, saya melihat sisi positif dari pembebasan pemilihan mata pelajaran di sekolah. Hanya saja, tentu bimbingan terhadap siswa harus lebih intens karena tidak mudah menentukan pilihan mata pelajaran bagi seorang siswa. Selain itu, sarana serta SDM guru yg mumpuni harus merata. Khawatir sekali di sekolah-sekolah di daerah terpencil yg kesulitan memberikan kualitas pendidikan yg memadai.
    Memang biasanya cita-cita/profesi dambaan akan seiring dengan ilmu mata pelajaran yang dimininati.
    Wawasan pendidikan yang multi ilmu memang seharusnya bisa semakin memperkaya seseorang.
    Sebagai tambahan dalam ilmu Sejarah, ada baiknya kita mempelajari/membandingkan tidak hanya dari kurikulum saja. Karena biasanya ilmu Sejarah akan berpihak pada pemenang. Sejarah Indonesia juga begitu....
    Kata mbah Hittler: kalau anda jadi pemenang - anda tidak perlu menjelaskan bagaimana memenangkannya. kalau anda kalah, anda tidak perlu berada disitu untuk menjelaskannya
    .
    Kita bisa menyumbang apa pada Ibu Pertiwi?? (Soekarno - Hari Pramuka)

  5. #5
    Senior Contributor
    Join Date
    Dec 2010
    Posts
    7,428
    Rep Power
    0

    Re: Kurikulum Baru, SMA Tidak Ada Penjurusan IPA, IPS, Bahasa

    kalau untuk menghilangkan kurikulum yang sudah ada saya kayaknya kurang setuju karena ap
    jika dari awal kita sebagai siswa sma yang sudah dari awal kita harus ada jurusan untuk bisa menuju
    ke jenjang berikutnya seperti perkuliahan oleh karena itu tolong jangan di hapuskan
    karena itu akan membingungkan para pelajar indonesia

  6. #6
    Junior Member zenie's Avatar
    Join Date
    Dec 2011
    Posts
    438
    Rep Power
    6

    Re: Kurikulum Baru, SMA Tidak Ada Penjurusan IPA, IPS, Bahasa

    Quote Originally Posted by Alphe View Post
    Terkadang, pelajaran jangan melulu dihubungkan dengan materi pembelajarannya, tetapi bagaimana pelajaran itu membangun dan membentuk karakter serta pola pikir seseorang. Matematika misalnya, mengajarkan cara berpikir logis dan sistematis. Bahasa, mengajarkan metode berkomunikasi yg baik serta efektif. Seni dan sastra, membentuk pribadi yg humanis. Justru sisi-sisi pendidikan yg seperti ini yg menurut saya harus dominan.

    Secara keseluruhan, saya melihat sisi positif dari pembebasan pemilihan mata pelajaran di sekolah. Hanya saja, tentu bimbingan terhadap siswa harus lebih intens karena tidak mudah menentukan pilihan mata pelajaran bagi seorang siswa. Selain itu, sarana serta SDM guru yg mumpuni harus merata. Khawatir sekali di sekolah-sekolah di daerah terpencil yg kesulitan memberikan kualitas pendidikan yg memadai.
    Idealnya memang begitu tapi itu lebih cocok untuk level SD-SMP..
    Nah klo di SMA itu mayoritas anak nya sudah memikirkan tentang masa depan dan hidup mandiri..
    Contoh paling sederhana adalah keinginan yang tetap untuk kuliah di jurusan tertentu, bukan cita-cita abal-abal seperti anak TK..
    Oleh karena itu sangat tidak bijak masih menyama ratakan pelajaran di masa krusial tersebut..

    Saya lebih setuju klo di SMA sudah diterapkan sistem SKS seperti di kuliah..
    Jadi mereka sudah bisa mengatur diri mereka sendiri..
    Klo pun ada pelajaran wajib, tapi masih ada SKS sisa yang bisa digunakan mereka untuk mendalami spesialisasinya..
    Dan ternyata itu tujuan dari perubahan sistem kurikulum SMA, sori karena saya tidak teliti membaca..

    Quote Originally Posted by momonsters View Post
    Dengan kurikulum baru ini, Nuh yakin tidak khawatir ada mata pelajaran yang kosong karena pelajar bisa memilih sesuai yang diminati. "Banyak siswa yang ambil mata pelajaran x, tapi sedikit yang ambil mata pelajaran y, itu terserah," kata Nuh. Namun, ia tetap meyakinkan ada mata pelajaran wajib yang masih harus diambil setiap pelajar SMA dan sederajat.

    Kurikulum baru akan mulai diperlakukan tahun ajaran baru 2013/2014. Beberapa mata pelajaran dilebur dengan yang lain, dibuat lebih integrasi dan holistik. Untuk mata pelajaran SD yang semula 10 menjadi 6, sedangkan SMP dari 12 menjadi 10. DI lain pihak, pelajar SMA dibebaskan memilih pelajaran yang disukai. Metode pengajaran dibuat untuk merangsang keaktifan siswa. Diharapkan kurikulum pendidikan baru ini dapat menjawab tantangan zaman.
    The Heart of Mathematics is Its Problems (Paul Halmos)

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •  
©2008 - 2013 PT. Kompas Cyber Media. All Rights Reserved.

Content Relevant URLs by vBSEO 3.6.0