Page 1 of 3 123 LastLast
Results 1 to 10 of 22
Like Tree5Likes

Thread: Menteri Agama: "Mengucapkan Selamat Natal Hukumnya Halal"


  1. #1
    Junior Member
    Join Date
    May 2012
    Posts
    497
    Rep Power
    0

    Thumbs down Menteri Agama: "Mengucapkan Selamat Natal Hukumnya Halal"

    Pro dan kontra soal ucapan selamat Natal oleh kaum Muslim, akhirnya dijawab oleh Menteri Agama Suryadharma Ali. Mengucapkan “Selamat Natal” oleh kaum muslimin kepada umat Nasrani hukumnya Halal.


    “Pemerintah mendorong terciptanya kerukunan umat beragama. Jadi tidak ada masalah memberi ucapan selamat Natal. Ya, itu halal,” tegas Suryadharma Ali, Senin (24/12/2012).


    Menurut Menteri Agama, penegasan itu perlu disampaikan karena ada pendapat sebagian ulama yang menyebut mengucapkan selamat Natal adalah haram.


    “Ini soal interpretasi masing-masing dan sumbernya Al Qu’an, Sunah dan ‘ijma” (kesepakatan para ulama). Perlu kita lihat. Tapi pemerintah tidak pernah mempersoalkan. Ini wujud toleransi yang kita bangun,” tegas Suryadharma Ali.


    SUMBER

  2. #2
    Senior Member tribudhis's Avatar
    Join Date
    Aug 2011
    Location
    Surabaya, Indonesia, Indonesia
    Posts
    2,395
    Rep Power
    8

    Re: Menteri Agama: "Mengucapkan Selamat Natal Hukumnya Halal"

    Quote Originally Posted by ponari View Post
    Pro dan kontra soal ucapan selamat Natal oleh kaum Muslim, akhirnya dijawab oleh Menteri Agama Suryadharma Ali. Mengucapkan “Selamat Natal” oleh kaum muslimin kepada umat Nasrani hukumnya Halal.


    “Pemerintah mendorong terciptanya kerukunan umat beragama. Jadi tidak ada masalah memberi ucapan selamat Natal. Ya, itu halal,” tegas Suryadharma Ali, Senin (24/12/2012).


    Menurut Menteri Agama, penegasan itu perlu disampaikan karena ada pendapat sebagian ulama yang menyebut mengucapkan selamat Natal adalah haram.


    “Ini soal interpretasi masing-masing dan sumbernya Al Qu’an, Sunah dan ‘ijma” (kesepakatan para ulama). Perlu kita lihat. Tapi pemerintah tidak pernah mempersoalkan. Ini wujud toleransi yang kita bangun,” tegas Suryadharma Ali.


    SUMBER
    OK ... bagus ... sebagai hadiahnya untuk pak menteri, saya sampaikan cerita ini ...

    Dalam bingkai berpikir bahwa Tuhan itu mahakuasa maka semua hal bisa dilakukan atau tidak dilakukan olehNya. Tergantung pada beliaunya. Dalam bahasa kitab sucinya – yang mustahil bagi manusia tidak mustahil bagi Tuhan. Tuhan itu maha segala-galanya sehingga Dia dapat melakukan apa saja atau dapat tidak melakukan apa saja, tergantung pada Dianya, dan tidak tergantung pada hal lainnya. Tidak ada yang mengatur dan yang bisa mengatur yang mahakuasa kecuali dirinya sendiri. Inilah makna dasar mahakuasa.

    Konsep inkarnasi dan reinkarnasi dikenal dan diyakini oleh para pengikut sejumlah agama dan keyakinan, sedangkan pada kelompok agama dan keyakinan yang lain konsep ini tidak dikenal, tidak diyakini, dan kalau pun ada gemanya maka gema itu hanyalah samar-samar belaka.

    Sesuai dengan definisinya inkarnasi atau reinkarnasi dapat dimaknai sebagai kelahiran kembali sebuah entitas – biasanya jiwa - ke kehidupan yang baru, yang bisa saja sama bisa saja berbeda, setelah sebelumnya entitas ini pernah hidup. Penyebab dan alasannya? Tentu saja sesuai dengan keyakinan masing-masing. Ada yang mengatakan bahwa ‘jiwa’ diperbolehkan untuk inkarnasi jika sang maha penentu mengijinkan dan memberi kesempatan pada ‘jiwa’ ini memperbaiki kesalahan yang banyak diperbuat dalam kehidupan sebelumnya. Ada yang mengatakan bahwa ‘jiwa’ diharuskan untuk reinkarnasi oleh sang mahapenentu karena dengan cara seperti ini maka ada peluang masuk ke tahapan yang lebih baik. Dan sejumlah definisi lainnya.

    Terlepas mana yang tepat mana yang kurang tepat – sesuai dengan keyakinan masing-masing – tetapi mengingat bahwa Tuhan itu mahakuasa, maka jika beliaunya berkehendak inkarnasi dan reinkarnasi ada, maka tentu saja proses atau kondisi ini ada. Tetapi jika Tuhan tidak berkehendak inkarnasi tidak ada dan tidak diperlukan, artinya begitu seseorang meninggal dunia dia harus segera diadili, atau dibiarkan menunggu dulu sebelum diadili. Yang jelas inkarnasi dan reinkarnasi itu bisa ada dan terjadi, bisa juga tidak ada dan tidak terjadi, tergantung pada kehendak sang mahapenentu sendiri.

    Kisah imajinatif yang diberi pengantar ini mengasumsikan bahwa inkarnasi dan reinkarnasi itu ada, dan proses yang dipilih adalah peningkatan status. Dari status yang lebih rendah diberi kesempatan mendapatkan status yang lebih tinggi. Tetapi juga hendaknya diingat bahwa dapat terjadi status tetap atau menurun. Artinya jika dalam kehidupan yang dulu statusnya ‘A’ ternyata dalam kehidupan yang baru statusnya tetap ‘A’ atau malah turun ke ‘B’.

    Dalam cerita ini karena ada peningkatan status maka semuanya menyambut dengan gembira, meskipun mereka semua tahu bahwa hanya ‘satu dari antara mereka’ yang mendapat kesempatan reinkarnasi. Mereka ikut merasa senang melihat bakal ada seorang teman yang akan menerima anugerah dan karunia. Sebuah sikap yang pantas diteladani. Silahkan dinikmati cerita imajinatif ini jika berkenan dengan harapan damai natal tahun ini menjadi bagian penting dalam hati seluruh umat manusia di dunia, sehingga semakin sedikit perbuatan keji, kejam, dan tidak bertanggung jawab terjadi di tengah-tengah umat manusia. Salam damai untuk semuanya …!

    Reinkarnasi di Malam Natal

  3. #3
    Senior Contributor
    Join Date
    Dec 2010
    Posts
    7,427
    Rep Power
    0

    Re: Menteri Agama: "Mengucapkan Selamat Natal Hukumnya Halal"

    mengucapkan selamat natal hukumnya halal bagi sesama nasrani..
    kalo yang muslim.? bukankah gak boleh.?
    mungkin itu perbuatan menteri agama,karena dia sadar menteri agama bukan hanya untuk muslim..
    tapi ada 4 agama sah lainnya..

  4. #4
    Junior Member zenie's Avatar
    Join Date
    Dec 2011
    Posts
    434
    Rep Power
    6

    Re: Menteri Agama: "Mengucapkan Selamat Natal Hukumnya Halal"

    Quote Originally Posted by hktoyshop View Post
    mengucapkan selamat natal hukumnya halal bagi sesama nasrani..
    kalo yang muslim.? bukankah gak boleh.?
    Klo tafsirannya Suryadharma ALi sih boleh, tapi klo tafsirannya Anda tidak boleh ya terserah Anda saja..

    Quote Originally Posted by hktoyshop View Post
    mungkin itu perbuatan menteri agama,karena dia sadar menteri agama bukan hanya untuk muslim..
    tapi ada 4 agama sah lainnya..
    Perlu diketahui juga, klo agama yang diakui resmi di Indonesia ada 6..
    Bukan 5 lagi..
    Last edited by zenie; 24-12-12 at 05:29 PM.
    The Heart of Mathematics is Its Problems (Paul Halmos)

  5. #5
    Senior Member
    Join Date
    Oct 2009
    Posts
    1,554
    Rep Power
    8

    Mengucapkan “Selamat Natal” oleh kaum muslimin kepada umat Nasrani hukumnya Halal

    bagai manapun memberikan ucapan selamat pada orang baik adalah baik, keluarga suamiku semua nasrani & mereka baik-baik, konyol banget kalau takut mengucapkan "Selamat Natal" hanya karena iman dianggap goyah, dsb
    menjaga kerukunan umat sangat penting, saling menghargai & menghormati, siapa yang diterima di surga hanya Allah yang maha tahu.

    yang haram itu memberi ucapan selamat pada orang yg sukses korupsi atau sukses menceraikan istri lewat sms

  6. #6
    Newbie
    Join Date
    Jul 2012
    Posts
    24
    Rep Power
    0

    Re: Menteri Agama: "Mengucapkan Selamat Natal Hukumnya Halal"

    Aduh ,,, kenapa nggak terlalu jelas nyebutin alasannya nih ...

  7. #7
    Senior Contributor ntarluq's Avatar
    Join Date
    Jun 2011
    Posts
    8,521
    Rep Power
    0

    Re: Menteri Agama: "Mengucapkan Selamat Natal Hukumnya Halal"

    Kalau terjadi diskusi antara menag vs para ulama , mungkin pendapat menteri bisa berubah juga ...
    maklum sbg menteri dia merasa tersudut untuk makan "telorasin" yg dia sangka TOLERANSI ...
    padahal toleransi justru memberi ruang untuk berbeda , sdgkan menteri merasa gagal jika banyak perbedaan..
    1+1+1=1 (?) TAU SAMA TAU AJA ....

  8. #8
    Senior Member anaktasik's Avatar
    Join Date
    Nov 2012
    Location
    tasikmalaya
    Posts
    1,195
    Rep Power
    0

    Re: Menteri Agama: "Mengucapkan Selamat Natal Hukumnya Halal"

    pernyataan halal kemenag itu akan dipertanggungjawabkan dikemudian hari,

    karena di adalah pemimpin. tambah lagi jika yang menghalalkan adalah presiden maka jika terjadi sebuah kesalahan maka semua tanggungan berada di presiden

  9. #9
    Newbie
    Join Date
    Nov 2012
    Location
    Bandung
    Posts
    24
    Rep Power
    0

    Re: Menteri Agama: "Mengucapkan Selamat Natal Hukumnya Halal"

    Konsultasi

    Hukum Mengucapkan Selamat Natal


    Tue, 25 Dec 2012 06:00

    Assalamualaikum. Wr. Wb.


    Pak ustadz saya mau tanya, saya pernah membaca sebuah artikel tentang haramnya hukum mengatakan "Selamat Natal" kepada umat kristiani. Karena dijelaskan di situ bahwa kalau kita mengucapkan itu kita mengakui akan adanya trinitas dan sebagainya,

    Bagaimana menurut pandangan pak Ustadz

    Terima kasih

    Jawaban :


    Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh


    Ucapan selamat natal oleh banyak kalangan memang diharamkan, bahkan sampai ada yang mengirim SMS kepada kami dengan kalimat pembuka: INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI RAJIUN: saya denger dari Elshintasi fulan telah mengucapkan ucapan selamat natal...

    Menurut pengirim SMS itu, ucapan selamat natal itu kontra produktif dengan fatwa MUI tahun 1984.

    Sikap kami sendiri tentu juga tidak mengucapkan selamat natal kepada para pemeluk agama kristiani. Selain ada fatwa yang mengharamkannya, juga mengucapkannya saat ini jadi akan salah waktu. Sebab Nabi Isa 'alaihissalam tidak lahir pada tanggal 25 Desember, beliau lahir di musim panas saat kurma berbuah, sebagaimana isyarat di dalam ayat Al-Quran saat Ibunda Maryam melahirkannya di bawah pohon kurma. Saat itu Allah SWT berfirma kepadanya:

    Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu
    (QS. Maryam: 25)

    Jelas sekali Nabi Isa lahir di saat buah kurma masak, dan itu tidak terjadi di musim salju. Kecuali kalau mau dipaksakan sebuah kebohongan baru lagi. Misalnya dikatakan bahwa Nabi Isa 'alaihissalam merupakan penduduk Australia yang berada di Selatan Katulistiwa, di mana tanggal 25 Desember seperti sekarang ini di sana justru sedang musim panas. Tapi itupun salah, sebab di Australia tidak ada pohon kurma, yang ada mungkin pohon kaktus.

    Atau bisa saja lahirnya nabi Isa tetap pada tanggal 25 Desember, tetapi syaratnya kejadiannya harus di Indonesia, karena pada tanggal seperti itu di Indonesia tidak ada musim panas atau musim dingin. Di Indonesia ada musim duren. Tapi yang disebutkan di dalam Al-Quran adalah buah kurma, bukan buah duren. Lagian, masak Maryam sehabis melahirkan malah makan duren? Aya aya wae.

    Perbedaan Pendapat Ucapan Selamat Natal


    Tentang hukum ucapan selamat natal itu, memang kalau kita mau telusuri lebih jauh, kita akan bertemu dengan beragam pendapat. Ada ulama yang mengharamkannya secara mutlak. Tapi ada juga yang membolehkannya dengan beberapa hujjah. Dan juga ada pendapat yang agak di pertengahan serta memilah masalah secara rinci.

    Tentu bukan berniat untuk memperkeruh keadaan kalau kami sampaikan apa yang beredar di tengah umat tentang hal ini. Sebaliknya, kajian ini justru untuk memperluas wawasan kita dalam menuntut ilmu, wabil khusus tentang urusan yang agak khusus ini.

    1. Pendapat Haramnya Ucapan Selamat Natal Bagi Muslim


    Haramnya umat Islam mengucapkan Selamat Natal itu terutama dimotori oleh fatwa para ulama di Saudi Arabia, yaitu fatwa Al-'Allamah Syeikh Al-Utsaimin. Beliau dalam fatwanya menukil pendapat Imam Ibnul Qayyim

    1. 1. Fatwa Syeikh Al-'Utsaimin


    Sebagaimana terdapat dalam kitab Majma’ Fatawa Fadlilah Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, (Jilid.III, h.44-46, No.403), disebutkan bahwa:

    Memberi selamat kepada mereka hukumnya haram, sama saja apakah terhadap mereka (orang-orang kafir) yang terlibat bisnis dengan seseorang (muslim) atau tidak. Jadi jika mereka memberi selamat kepada kita dengan ucapan selamat hari raya mereka, kita dilarang menjawabnya, karena itu bukan hari raya kita, dan hari raya mereka tidaklah diridhai Allah.

    Hal itu merupakan salah satu yang diada-adakan (bid’ah) di dalam agama mereka, atau hal itu ada syari’atnya tapi telah dihapuskan oleh agama Islam yang Nabi Muhammad SAW telah diutus dengannya untuk semua makhluk.

    1. 2. Fatwa Ibnul Qayyim


    Dalam kitabnya Ahkamu Ahlidz Dzimmah beliau berkata, “Adapun mengucapkan selamat berkenaan dengan syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi mereka adalah haram menurut kesepakatan para ulama. Alasannya karena hal itu mengandung persetujuan terhadap syi’ar-syi’ar kekufuran yang mereka lakukan.

    1. 3. Fatwa MUI?


    Sedangkan terkait dengan fatwa MUI tentang haramnya mengucapkan selamat natal, ketika mencari dokumennya ternyata kami kesulitan mendapatkannya. Konon kabarnya fatwa itu dikeluarkan pada tahun 1984, seperti yang ada dalam SMS yang kami terima.

    Tetapi setelah dibrowse di situs MUI (www.mui.or.id) maupun di buku Kumpulan Fatwa MUI yang kami miliki, fatwa haram itu tidak kami temukan. Yang kami temukan hanyalah fatwa tentang haramnya melakukan natal bersama.

    Sebaliknya, kami malah mendapatkan berita yang agak kontradiktif dengan apa yang dianggap sebagaisikap MuI selama ini. Sekretaris Jenderal MUI, Dr. Dien Syamsudin MA, yang juga Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah itu memang pernah menyatakan bahwa MUI tidak melarang ucapan selamat Natal, tapi melarang orang Islam ikut sakramen (ritual) Natal.

    "Kalau hanya memberi ucapan selamat tidak dilarang, tapi kalau ikut dalam ibadah memang dilarang, baik orang Islam ikut dalam ritual Natal atau orang Kristen ikut dalam ibadah orang Islam, " katanya.
    Bahkan pernah di hadapan ratusan umat Kristiani dalam seminar Wawasan Kebangsaan X BAMAG Jatim di Surabaya, beliau menyampaikan, "Saya tiap tahun memberi ucapan selamat Natal kepada teman-teman Kristiani."

    Jadi mohon kepada MUI atau barangkali ada pembaca Eramuslim yang punya salinan fatwa tersebut, tentu
    kami akan sangat berterima kasih bila berkenan mengirimkannya kepada kami.

    2. Pendapat Yang Tidak Mengharamkan


    Selain pendapat yang tegas mengharamkan di atas, kita juga menemukan fatwa sebagian dari ulama yang cenderung tidak mengharamkan ucapan tahni'ah kepada umat nasrani.

    Yang menarik, ternyata yang bersikap seperti ini bukan hanya dari kalangan liberalis atau sekuleris, melainkan dari tokoh sekaliber Dr. Yusuf Al-Qaradawi. Tentunya sikap beliau itu bukan berarti harus selalu kita ikuti.

    2. 1. Fatwa Dr. Yusuf Al-Qaradawi


    Syeikh Dr. Yusuf Al-Qaradawi mengatakan bahwa merayakan hari raya agama adalah hak masing-masing agama. Selama tidak merugikan agama lain. Dan termasuk hak tiap agama untuk memberikan tahni'ah saat perayaan agama lainnya.

    Maka kami sebagai pemeluk Islam, agama kami tidak melarang kami untuk untuk memberikan tahni'ah kepada non muslim warga negara kami atau tetangga kami dalam hari besar agama mereka. Bahkan perbuatan ini termasuk ke dalam kategori al-birr (perbuatan yang baik). Sebagaimana firman Allah SWT:

    Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.
    (QS. Al-Mumtahanah: 8)

    Kebolehan memberikan tahni'ah ini terutama bila pemeluk agama lain itu juga telah memberikan tahni'ah kepada kami dalam perayaan hari raya kami.

    Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu. Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu.
    (QS. An-Nisa': 86)

    Namun Syeikh Yusuf Al-Qaradawi secara tegas mengatakan bahwa tidak halal bagi seorang muslim untuk ikut dalam ritual dan perayaan agama yang khusus milik agama lain.

    2.2. Fatwa Dr. Mustafa Ahmad Zarqa'

    Di dalam bank fatwa situs www.Islamonline.net Dr. Mustafa Ahmad Zarqa', menyatakan bahwa tidak ada dalil yang secara tegas melarang seorang muslim mengucapkan tahniah kepada orang kafir.

    Beliau mengutip hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah berdiri menghormati jenazah Yahudi. Penghormatan dengan berdiri ini tidak ada kaitannya dengan pengakuan atas kebenaran agama yang diajut jenazah tersebut.

    Sehingga menurut beliau, ucapan tahni'ah kepada saudara-saudara pemeluk kristiani yang sedang merayakan hari besar mereka, tidak terkait dengan pengakuan atas kebenaran keyakinan mereka, melainkan hanya bagian dari mujamalah (basa-basi) dan muhasanah seorang muslim kepada teman dan koleganya yang kebetulan berbeda agama.

    Dan beliau juga memfatwakan bahwa karena ucapan tahni'ah ini dibolehkan, maka pekerjaan yang terkait dengan hal itu seperti membuat kartu ucapan selamat natal pun hukumnya ikut dengan hukum ucapan natalnya.

    Namun beliau menyatakan bahwa ucapan tahni'ah ini harus dibedakan dengan ikut merayakan hari besar secara langsung, seperti dengan menghadiri perayaan-perayaan natal yang digelar di berbagai tempat. Menghadiri perayatan natal dan upacara agama lain hukumnya haram dan termasuk perbuatan mungkar.

    2.3 Majelis Fatwa dan Riset Eropa


    Majelis Fatwa dan Riset Eropa juga berpendapat yang sama dengan fatwa Dr. Ahmad Zarqa' dalam hal kebolehan mengucapkan tahni'ah, karena tidak adanya dalil langsung yang mengharamkannya.

    3. Pendapat Pertengahan


    Di luar dari perbedaan pendapat dari dua 'kubu' di atas, kita juga menemukan fatwa yang agak di pertengahan, tidak mengharamkan secara mutlak tapi juga tidak membolehkan secara mutlak juga. Sehingga yang dilakukan adalah memilah-milah antara ucapa yang benar-benar haram dan ucapan yang masih bisa ditolelir.

    Salah satunya adalah fatwa Dr. Abdussattar Fathullah Said, beliau adalah profesor di bidang Ilmu Tafsir dan Ulumul-Quran di Universitas Al-Azhar Mesir. Dalam masalah tahni'ah ini beliau agak berhati-hati dan memilahnya menjadi dua. Ada tahni'ah yang halal dan ada yang haram.

    3.1. Tahni'ah yang halal
    adalah tahni'ah kepada orang kafir tanpa kandungan hal-hal yang bertentangan dengan syariah. Hukumnya halal menurut beliau. Bahkan termasuk ke dalam bab husnul akhlaq yang diperintahkan kepada umat Islam.

    Contohnya ucapan, "Semoga tuhan memberi petunjuk dan hidayah-Nya kepada Anda di hari ini." Beliau cenderung membolehkan ucapan seperti ini.

    3.2. Tahni'ah yang haram
    adalah tahni'ah kepada orang kafir yang mengandung unsur bertentangan dengan masalah diniyah, hukumnya haram. Misalnya ucapan tahniah itu berbunyi, "Semoga Tuhan memberkati diri anda sekeluarga."

    Beliau membolehkan memberi hadiah kepada non muslim, asalkan hadiah yang halal, bukan khamar, gambar maksiat atau apapun yang diharamkan Allah.

    Kesimpulan:


    Sebagai awam, ketika melihat para ulama berbeda pandangan, tentu kita harus arif dan bijaksana. Kita tetap wajib menghormati perbedaan pendapat itu, baik kepada pihak yang fatwanya sesuai dengan pendapat kita, atau pun kepada yang berbeda dengan selera kita.

    Karena para ulama tidak berbeda pendapat kecuali karena memang tidak didapat dalil yang bersifat sharih dan qath'i. Seandainya ada ayat atau hadits shahih yang secara tegas menyebutkan: 'Alaikum bi tahni'atinnashara wal kuffar', tentu semua ulama akan sepakat.

    Namun selama semua itu merupakan ijtihad dan penafsiran dari nash yang bersifat mujmal, maka seandainya benar ijtihad itu, mujtahidnya akan mendapat 2 pahala. Dan seandainya salah, maka hanya dapat 1 pahala.

    Semoga kita tidak terjebak dengan suasana su'udzdzhan, semangat saling menyalahkan dengan sesama umat Islam dan membuat kemesraan yang sudah terbentuk menjadi sirna. Amin ya rabbal 'alamin

    Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh


    Ahmad Sarwat, Lc



    Rumah Fiqih Indonesia

    sumber

  10. #10
    Junior Member
    Join Date
    Mar 2012
    Location
    BSD City, Tangerang
    Posts
    372
    Rep Power
    3

    Re: Menteri Agama: "Mengucapkan Selamat Natal Hukumnya Halal"

    Setuju!!! Dengan mengucapkan selamat hari raya kpd umat beragama lain bukan berarti qt turut yakin dan turut serta dalam perayaan tersebut. Hak masing" individu untuk memberikn ucapan selamat atau tidak.

    Saya sangat sependapat dgn Latifa...

Page 1 of 3 123 LastLast

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •  
©2008 - 2013 PT. Kompas Cyber Media. All Rights Reserved.

Content Relevant URLs by vBSEO