Page 7 of 7 FirstFirst 1234567
Results 61 to 66 of 66

Thread: Benarkah UNAS itu perlu? Persentase pelajaran sekolah yang berguna ternyata rendah

  1. #61
    Contributor
    Join Date
    Sep 2008
    Posts
    2,624
    Rep Power
    9

    Re: Benarkah UNAS itu perlu? Persentase pelajaran sekolah yang berguna ternyata renda

    Open discussion mode (biar bisa di quote lagi sama member lain, jadi quote-nya saya buka):

    3serangkai Said :
    Ujian tetap saja bisa dijadikan indikator. Mengenai kelulusan hanya ada dua kriteria, lulus atau tidak lulus. Tanpa embel2 nilai. Jadi yang lulus dengan nilai 6 dengan yang lulus dengan nilai 9 tidak ada bedanya. Tidak adil? Tetap saja adil. Mau ke universitas, yang nilai 9 dan nilai 6 mendapatkan kesempatan yang sama. Yang penting kriteria lulus itu berarti minimum siswa memiliki pengetahuan sampai dengan level tertentu terlepas apakah nilainya 6 ataupun 9.

    Princeaang Said :
    Lalu, gimana cara ngebedain kualitas per individu ?
    Kalo caranya begitu, berarti kan individu yang memang berprestasi tidak diperhatikan dong prestasinya.
    Kan kualitas tiap individu itu berbeda.
    Ini sih namanya penyeragaman kualitas dong. Bener gak?

    Standardnya kan lulus atau tidak. Kita ambil contoh proses quality control. Selama masuk standard maka produk tersebut adalah sama, baik yang memenuhi batas minimum maupun yang mencapai batas maximum.

    Bila ternyata ada yang melewati batasan maximum, jelas itu adalah abnormality. Different case.

    Penyeragaman kualitas? Saya menyebutnya standarisasi.

    Membedakan kualitas individu adalah outcome dimasyarakat. Natural selection.

    3serangkai Said :
    Kalau dengan demikian kemudian seorang anak hanya menargetkan 6 saja daripada 9, tidak apa2 juga karena dengan nilai 6 dan dia lulus berarti siswa memiliki pengetahuan sampai level tertentu. Kalau nilainya 9 juga tidak apa2, ada bonusnya saja. Kira2 begitu. Jadi nilai 6 adalah nilai standard (ini hanya misal) dibawah itu berarti belum menguasai materi dan harus belajar lagi.

    Princeaang Said :
    Kembali lagi, ke opini saya diatas, kan berarti penyeragaman dong? Hanya membedakan lulus dan tidak lulus.
    Seandainya hanya 2 kategori saja, gimana kalo anak2 itu melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi lagi dan lebih tersegmentasi bidangnya, misalnya SMK atau mungkin univ.
    Gimana pihak SMK/Univ bisa tau kualitas calon muridnya dan menempatkan serta mengarahkan mereka ke jalurnya masing2?

    Saya melihat bro Trie ini sepertinya memiliki pandangan berdasarkan suatu kenyataan. Saya mau tanya, ada contoh konkritnya dimana konsep yang disampaikan bro Trie ini sudah jelas berjalan ?
    Di negara mana ? Atau mungkin di wilayah mana?
    Saya penasaran sekali.
    Kiranya, bersedia menjawab walaupun mungkin tidak bisa disertai link karena bisa dianggap melanggar peraturan forum.

    Bila sudah memenuhi standard mengapa harus dibedakan? Sekarang apa bedanya yang memiliki rata2 7 dan rata2 9? Yang rata2 9 lebih pintar dari yang rata2 7? Tidak juga.

    Contoh konkrit yang persis demikian saya belum menjumpai tetapi konsep ini saya dapatkan dari pengalaman ketika mendidik dan melatih pekerja2 dipabrik dan dikantor. Test2 atau ujian berkala selalu diadakan dalam periode tertentu khususnya yang terkait penguasaan pekerjaan. Hal ini untuk menjaga proses supaya tetap standard. Test2 atau ujian yang diadakan berusaha menangkap kemampuan bekerja seorang pekerja se-natural mungkin, sebagai representasi kegiatan sehari2nya. Kriterianya cuma ok atau need improvement.

    3serangkai Said :
    2. Menurunnya kualitas murid adalah tanggung jawab guru sepenuhnya. Guru ibaratnya seorang operator mesin yang harus memastikan seluruh parameter proses belajar mengajar sudah dipenuhi. Tentu dengan kualitas bahan/kemampuan anak yang normal. Seluruh proses harus diverifikasi pada setiap tahapan dg pertanyaan2 terkait pelajaran saat proses berlangsung dan divalidasi pada akhir proses, dengan test2 kecil yang bahannya tidak bejibun.

    Princeaang Said :
    Maksudnya tes2 kecil per mata pelajaran ? Sudah ada kan ?
    Tiap sekolah kan sudah melakukan itu dari dulu. Entah swasta entah negeri.
    Kalo hanya berdasarkan nilai dari tes2 kecil itu, lalu bagaimana kita tahu si murid sudah mengerti secara menyeluruh mata pelajaran2 yang sudah dipelajarinya ?
    Guru kan harus juga mengevaluasi hasil kerjanya dong. Kalo gak ada evaluasi itu, gimana tau kualitas si pendidiknya ?

    Itulah princea, test2nya terlalu banyak. Test2 disekolah diadakan juga untuk penilaian bukan evaluasi. Mungkin tujuannya demikian tapi prakteknya tdk demikian. Seharusnya bila nilai seorang murid jelek, maka itu menandakan butuh perhatian lebih. Root causenya harus dicari.

    Bagaimana tau bahwa murid sudah mengerti secara keseluruhan? Bagaimana melakukan validasi penguasaan ilmu yang diajarkan? Test kecil itu cukup. Kalau inputnya standard, prosesnya standard, outputnya 99,9% standard.0.1% keraguan, divalidasi lewat test2 kecil yang diberikan.

    Belajar jadi tidak perlu tertekan.

    3serangkai Said :
    3.Kalau guru dituntut bertanggung jawab selaku pelaksana proses maka guru tidak akan bisa bersantai2 saja.

    Princeaang Said :
    Yang ini saya setuju. Tapi ada tambahan; guru tidak mengambil alih semua tanggung jawab si ortu.

    Saya tidak setuju kalau orang tua diikutkan dalam hal keberhasilan pendidikan disekolah. Ini membiaskan tanggung jawab. Orang tua bertanggung jawab secara sosial atas anak2nya. Pendidikan formal adalah tanggung jawab guru. Bila dicampur aduk demikian kasihan anak2 yang orang tuanya buta huruf, lebih parah yang yatim piatu.

    3serangkai Said :
    4. Yang jelas anak2 lebih memiliki banyak waktu untuk menjadi anak2. Menikmati masa kanak2 mereka, menjadikan mereka bahagia sebagai kanak2 yang tentu membuat mereka jadi optimistic dan berpikiran positif.

    Princeaang Said :
    Pada dasarnya anak adalah mahluk yang berpikiran lebih sempit dari kita2 yang sudah dewasa. Dalam bisnis saya ini, saya bisa melihat jelas perbedaan cara berpikir anak dari tiap kelas yang berbeda.
    Tujuan adanya sekolah selain hanya efek komersial yang lagi boom sekarang, juga ada tujuan mulia, mengajarkan generasi penerus agar menjadi generasi yang lebih baik dari generasi sebelumnya.
    Karena itulah kehidupan.
    Anak pada dasarnya tidak mengerti apa tujuan penciptaan mereka, tujuan hidup mereka, dan panggilan mereka masing-masing.
    Pendidikan dari tahap awal ini diharapkan bisa membuat anak lebih mengerti tentang hal2 itu. Agar mereka bisa mempersiapkan diri menjalani hidup dan dapat membawa kehidupan menjadi lebih baik.

    Benar. Anak2 tidak mengerti hak mereka sebagai anak. Saat masa anak2 biarkanlah mereka menjadi anak2, menikmati masa yang tidak akan berulang itu.

    Hidup itu penuh tekanan dan tantangan, sehingga dari awal anak2 harus dilatih untuk menghadapinya. Bagaimana? Mencoba memberikan tekanan dan tantangan bagi mereka sedini mungkin? Tidak bisa dibenarkan.

    Dengan hidup sebagai anak2 saja mereka secara natural sudah akan mengalami tantangan dan tekanannya sendiri.

  2. #62
    Contributor
    Join Date
    Sep 2008
    Posts
    2,624
    Rep Power
    9

    Re: Benarkah UNAS itu perlu? Persentase pelajaran sekolah yang berguna ternyata renda

    3serangkai Said :
    Beban tidak normal dunia pendidikan Indonesia terlihat dari ikut repotnya orang tua dalam mempersiapkan anaknya menghadapi UNAS. Dan bila ingin sukses Unas juga hrs rela menambah jam belajar dan les pelajaran tambahan. Berarti pelajaran disekolah tidak memiliki kualitas yang setara dengan ujiannya, karena itu perlu paket stimulus berupa les.

    Princeaang Said :
    Orang tua kalo gak mo repot dengan anak, jangan punya anak.
    Repot gak repot kan juga pendapat pribadi, gak semua orang bilang itu merepotkan. Banyak yang menganggap bahwa itu memang sudah menjadi tanggung jawab mereka, dan mereka menjalaninya dengan bahagia. Kenapa harus berpandangan negatif (merepotkan) ?
    Hidup ini kan sudah jelas, setiap orang bisa memilih tujuan hidupnya sendiri tentu dengan tanggung jawab pribadi nantinya.
    Hidup sebagai manusia, jika menikah nantinya, pasti akan memiliki anak sebagai generasi penerus.
    Tapi sebelum langkah itu diambil, kita bisa memilih untuk menikah/tidak menikah. Saat sudah menikah pun masih bisa memilih untuk punya anak/tidak punya/adopsi. Tentu, sekali lagi, dengan konsekwensi masing2.

    Pelajaran di sekolah adalah pelajaran yang didapat dari satu tempat saja.
    Secara nyata, itu jelas. Tidak mungkin ada anak yang bersekolah di beberapa tempat yang berbeda (setidaknya sekarang ini, entah dimasa depan).
    Padahal, selama jam2 sekolah itu, mood anak2 tidak selalu stabil untuk dapat menerima pelajaran yang diberikan.
    Dengan situasi itu, orang tua yang mengerti kualitas anaknya sendiri, dan ingin membuat anaknya lebih baik lagi, tentu akan mengusahakan pelajaran lain diluar jam sekolah.
    Dengan ikut les atau kursus2 tertentu, bisa menjawab kebutuhan itu. Bisa jadi, dengan suasana kursus yang lebih mendukung masing2 pribadi mereka, justru pelajaran2 yang tadinya tidak dimengerti, mereka jadi lebih paham.

    Dari bisnis yang sekarang saya geluti, terlihat jelas, sesungguhnya anak2 itu bukan tidak mengerti apa yang diterima-nya di sekolah. Mereka mengerti, dan bahkan dengan kemampuan otak spons-nya, mereka mampu mengingat setiap detail pelajaran tersebut, dari isi buku text, sampe kebiasaan2 guru saat mengajar. Ini kan berarti sebenarnya mereka itu bukan tidak mampu, tapi terhalang dengan batasan2 umur mereka. Batasan2 biologisnya (gak mood, marah, sedih, de el el).

    Anak bukan robot, bukan juga miniatur dari diri kita sendiri. Mereka punya hak hidupnya masing-masing. Termasuk hak hidup untuk menerima pendidikan. Siapa yang mampu memberi hak untuk menerima pendidikan ? Ya generasi sebelumnya, ya kita2 ini.

    Anak2 itu masih belum mengerti mana yang harus lebih penting untuk di fokuskan. Mereka masih 'kalah kuat' dengan reaksi2 biologis mereka. Mereka masih belum bisa mengendalikan dirinya sendiri.

    Dengan les2-an, bukannya bagus ?
    Bisa membuka lapangan pekerjaan di sektor informal ?
    Membantu pemerintah dan banyak orang untuk dapat hidup yang lebih layak ? Sekaligus membantu anak2 dalam pelajaran sekolahnya.
    Saya sudah jelaskan hal ini pada trit Trie dilain tempat (Pengangguran, apa solusinya ?).
    Apa salahnya dengan usaha les2-an ?

    Mengenai repot, memang kriterianya subyektif. Ada yang tetap bahagia walaupun direpotkan. Yang saya maksudkan repot adalah beban yang tidak semestinya. Belajar di sekolah yang hampir satu shift itu tidak cukup mempersiapkan anak untuk menghadapi ujian? Sampai anak dituntut overtime? Melakukan double shift? Jelas ada yang salah.

    Saya tidak menyalahkan usaha les2an. Ini bisnis yang muncul karena ada demand. Natural. Saya malah menganggap hal ini salah bila tidak dimanfaatkan.

    Justru bila berani maju dg ide2 inovatif yang radikal para pengusaha les2an bisa menantang sistem pendidikan di Indonesia yang salah kaprah ini dengan mengadopsi home schooling yang menawarkan happy learning. Salah satu biaya terbesar mendirikan sekolah itu adalah bangunannya. Padahal itu tidaklah penting. Setidaknya bila anda ikut home schooling.

  3. #63
    Contributor
    Join Date
    Sep 2008
    Posts
    2,624
    Rep Power
    9

    Re: Benarkah UNAS itu perlu? Persentase pelajaran sekolah yang berguna ternyata renda

    Quote Originally Posted by Ucok Firda View Post
    Menurut saya UN adalah kebohongan publik. Mengapa ?

    Anak-anak sekolah sebenarnya mendapat materi pelajaran diluar sekolah. Materi yang diajarkan disekolah terkadang tidak dapat dicerna langsung oleh sang murid. Faktornya beragam, tapi terutama pada kurang intensifnya guru dalam mengajarkan materi. Bahkan ada guru yang CBSA (catat buku sampai abis).

    Jadi menurut saya mayoritas anak-anak yang lulus UN bukan karena belajar di sekolah, tapi karena mengikuti les pelajaran tambahan di luar sekolah.

    Karena itu apakah perlu UN tetap dilaksanakan ? Kalo dilaksanakan berarti inilah pembohongan yang terbesar di negara ini dan kita semua mengamininya.

    Pandangan Rimbawan out.
    Saya juga melihat fenomena yang anda paparkan di atas. Yang di daerah2 banyak yang tidak lulus bukan saja karena sekolahnya kalah kualitas tetapi juga minimnya lembaga2 pendidikan yang mempersiapkan siswa menghadapi Unas.

  4. #64
    Senior Member PrinceaAng's Avatar
    Join Date
    Nov 2008
    Location
    --
    Posts
    3,951
    Rep Power
    9

    Re: Benarkah UNAS itu perlu? Persentase pelajaran sekolah yang berguna ternyata renda

    Open discussion mode (biar bisa di quote lagi sama member lain, jadi quote-nya saya buka):

    Semakin merasa direpotkan dengan sistem forum yang masih jadul. Open discussion model gini jadi harus manual deh.
    Kalo pake model FB yang membuat jelas siapa berkata apa dalam topik apa, kan lebih enak.

    3serangkai Said :
    Ujian tetap saja bisa dijadikan indikator. Mengenai kelulusan hanya ada dua kriteria, lulus atau tidak lulus. Tanpa embel2 nilai. Jadi yang lulus dengan nilai 6 dengan yang lulus dengan nilai 9 tidak ada bedanya. Tidak adil? Tetap saja adil. Mau ke universitas, yang nilai 9 dan nilai 6 mendapatkan kesempatan yang sama. Yang penting kriteria lulus itu berarti minimum siswa memiliki pengetahuan sampai dengan level tertentu terlepas apakah nilainya 6 ataupun 9.

    Princeaang Said :
    Lalu, gimana cara ngebedain kualitas per individu ?
    Kalo caranya begitu, berarti kan individu yang memang berprestasi tidak diperhatikan dong prestasinya.
    Kan kualitas tiap individu itu berbeda.
    Ini sih namanya penyeragaman kualitas dong. Bener gak?

    3serangkai Said :
    Standardnya kan lulus atau tidak. Kita ambil contoh proses quality control. Selama masuk standard maka produk tersebut adalah sama, baik yang memenuhi batas minimum maupun yang mencapai batas maximum.

    Bila ternyata ada yang melewati batasan maximum, jelas itu adalah abnormality. Different case.

    Penyeragaman kualitas? Saya menyebutnya standarisasi.

    Membedakan kualitas individu adalah outcome dimasyarakat. Natural selection.

    Princeaang Said :
    Standarisasi ? Wedew !
    Kok jadi semakin membuat anak menjadi semakin mirip dengan produk ?

    3serangkai Said :
    Kalau dengan demikian kemudian seorang anak hanya menargetkan 6 saja daripada 9, tidak apa2 juga karena dengan nilai 6 dan dia lulus berarti siswa memiliki pengetahuan sampai level tertentu. Kalau nilainya 9 juga tidak apa2, ada bonusnya saja. Kira2 begitu. Jadi nilai 6 adalah nilai standard (ini hanya misal) dibawah itu berarti belum menguasai materi dan harus belajar lagi.

    Princeaang Said :
    Kembali lagi, ke opini saya diatas, kan berarti penyeragaman dong? Hanya membedakan lulus dan tidak lulus.
    Seandainya hanya 2 kategori saja, gimana kalo anak2 itu melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi lagi dan lebih tersegmentasi bidangnya, misalnya SMK atau mungkin univ.
    Gimana pihak SMK/Univ bisa tau kualitas calon muridnya dan menempatkan serta mengarahkan mereka ke jalurnya masing2?

    Saya melihat bro Trie ini sepertinya memiliki pandangan berdasarkan suatu kenyataan. Saya mau tanya, ada contoh konkritnya dimana konsep yang disampaikan bro Trie ini sudah jelas berjalan ?
    Di negara mana ? Atau mungkin di wilayah mana?
    Saya penasaran sekali.
    Kiranya, bersedia menjawab walaupun mungkin tidak bisa disertai link karena bisa dianggap melanggar peraturan forum.

    3serangkai Said :
    Bila sudah memenuhi standard mengapa harus dibedakan? Sekarang apa bedanya yang memiliki rata2 7 dan rata2 9? Yang rata2 9 lebih pintar dari yang rata2 7? Tidak juga.

    Contoh konkrit yang persis demikian saya belum menjumpai tetapi konsep ini saya dapatkan dari pengalaman ketika mendidik dan melatih pekerja2 dipabrik dan dikantor. Test2 atau ujian berkala selalu diadakan dalam periode tertentu khususnya yang terkait penguasaan pekerjaan. Hal ini untuk menjaga proses supaya tetap standard. Test2 atau ujian yang diadakan berusaha menangkap kemampuan bekerja seorang pekerja se-natural mungkin, sebagai representasi kegiatan sehari2nya. Kriterianya cuma ok atau need improvement.

    Princeaang Said :
    Wah, kalo cuma 'QC Passed' ato 'NEED Improvement', berarti cuma dikenal menjadi 2 kualitas aja. Padahal saat ingin melanjutkan ke sekolah lanjut, kan perlu ada placement. Anak dilihat lagi dia berpotensi dimana. Matematika / IPS / IPA / else. Atau gabungan dari beberapa itu. Supaya arah si anak bisa lebih jelas lagi.

    3serangkai Said :
    2. Menurunnya kualitas murid adalah tanggung jawab guru sepenuhnya. Guru ibaratnya seorang operator mesin yang harus memastikan seluruh parameter proses belajar mengajar sudah dipenuhi. Tentu dengan kualitas bahan/kemampuan anak yang normal. Seluruh proses harus diverifikasi pada setiap tahapan dg pertanyaan2 terkait pelajaran saat proses berlangsung dan divalidasi pada akhir proses, dengan test2 kecil yang bahannya tidak bejibun.

    Princeaang Said :
    Maksudnya tes2 kecil per mata pelajaran ? Sudah ada kan ?
    Tiap sekolah kan sudah melakukan itu dari dulu. Entah swasta entah negeri.
    Kalo hanya berdasarkan nilai dari tes2 kecil itu, lalu bagaimana kita tahu si murid sudah mengerti secara menyeluruh mata pelajaran2 yang sudah dipelajarinya ?
    Guru kan harus juga mengevaluasi hasil kerjanya dong. Kalo gak ada evaluasi itu, gimana tau kualitas si pendidiknya ?

    3serangkai Said :
    Itulah princea, test2nya terlalu banyak. Test2 disekolah diadakan juga untuk penilaian bukan evaluasi. Mungkin tujuannya demikian tapi prakteknya tdk demikian. Seharusnya bila nilai seorang murid jelek, maka itu menandakan butuh perhatian lebih. Root causenya harus dicari.

    Bagaimana tau bahwa murid sudah mengerti secara keseluruhan? Bagaimana melakukan validasi penguasaan ilmu yang diajarkan? Test kecil itu cukup. Kalau inputnya standard, prosesnya standard, outputnya 99,9% standard.0.1% keraguan, divalidasi lewat test2 kecil yang diberikan.

    Belajar jadi tidak perlu tertekan.

    Princeaang Said :
    Betul kalo root cause-nya harus dicari. Saya kira ini karena sistem pendidikan kita masih menggunakan penyeragaman materi. Jadi semua harus sama. Tapi, banyak negara juga masih menggunakan sistem ini untuk sekolah2 dasar mereka. Ibaratnya anak diberikan semua informasi yang ada. Lalu pemisahan terjadi saat SMU.
    Kalo dari SD sudah dipisah2, ditakutkan anak akan terkotak2 sejak dini dan tidak mengerti hal yang lain.
    Seandainya validasi diterapkan pada tes2 kecil, berarti standar tes kecil itu pun harus tinggi.
    Perbaikan root cause bisa dengan meniadakan kelas. Sistemnya dibuat mirip univ. Dimana murid bisa mengulangi lagi materi yang dia tertinggal, tapi materi lain yang sudah standar bisa dilanjutkan.

    3serangkai Said :
    3.Kalau guru dituntut bertanggung jawab selaku pelaksana proses maka guru tidak akan bisa bersantai2 saja.

    Princeaang Said :
    Yang ini saya setuju. Tapi ada tambahan; guru tidak mengambil alih semua tanggung jawab si ortu.

    3serangkai Said :
    Saya tidak setuju kalau orang tua diikutkan dalam hal keberhasilan pendidikan disekolah. Ini membiaskan tanggung jawab. Orang tua bertanggung jawab secara sosial atas anak2nya. Pendidikan formal adalah tanggung jawab guru. Bila dicampur aduk demikian kasihan anak2 yang orang tuanya buta huruf, lebih parah yang yatim piatu.

    Princeaang Said :
    Hmmmm..... ada benarnya juga.
    Kalo gitu harus ada pembedaan sekolah lagi ? Misalnya ada sekolah khusus untuk anak yatim piatu ? Untuk anak yang ortunya mengalami disabled dalam hal2 tertentu ?

    3serangkai Said :
    4. Yang jelas anak2 lebih memiliki banyak waktu untuk menjadi anak2. Menikmati masa kanak2 mereka, menjadikan mereka bahagia sebagai kanak2 yang tentu membuat mereka jadi optimistic dan berpikiran positif.

    Princeaang Said :
    Pada dasarnya anak adalah mahluk yang berpikiran lebih sempit dari kita2 yang sudah dewasa. Dalam bisnis saya ini, saya bisa melihat jelas perbedaan cara berpikir anak dari tiap kelas yang berbeda.
    Tujuan adanya sekolah selain hanya efek komersial yang lagi boom sekarang, juga ada tujuan mulia, mengajarkan generasi penerus agar menjadi generasi yang lebih baik dari generasi sebelumnya.
    Karena itulah kehidupan.
    Anak pada dasarnya tidak mengerti apa tujuan penciptaan mereka, tujuan hidup mereka, dan panggilan mereka masing-masing.
    Pendidikan dari tahap awal ini diharapkan bisa membuat anak lebih mengerti tentang hal2 itu. Agar mereka bisa mempersiapkan diri menjalani hidup dan dapat membawa kehidupan menjadi lebih baik.

    3serangkai Said :
    Benar. Anak2 tidak mengerti hak mereka sebagai anak. Saat masa anak2 biarkanlah mereka menjadi anak2, menikmati masa yang tidak akan berulang itu.

    Hidup itu penuh tekanan dan tantangan, sehingga dari awal anak2 harus dilatih untuk menghadapinya. Bagaimana? Mencoba memberikan tekanan dan tantangan bagi mereka sedini mungkin? Tidak bisa dibenarkan.

    Dengan hidup sebagai anak2 saja mereka secara natural sudah akan mengalami tantangan dan tekanannya sendiri.

    Princeaang Said :
    Betul, setiap tahapan hidup akan mengalami tantangan dan tekanannya sendiri. Tapi, sejak dini hal tersebut sudah harus diarahkan. Jangan sampai mereka terjebak dengan tahapan2 itu tanpa mengerti apa yang akan terjadi di tahapan berikutnya.
    Piramid.. UNIK !! ASIKKK..!! - Sambil cengar-cengir.com. Poreper laaaa......

  5. #65
    Senior Member PrinceaAng's Avatar
    Join Date
    Nov 2008
    Location
    --
    Posts
    3,951
    Rep Power
    9

    Re: Benarkah UNAS itu perlu? Persentase pelajaran sekolah yang berguna ternyata renda

    3serangkai Said :
    Beban tidak normal dunia pendidikan Indonesia terlihat dari ikut repotnya orang tua dalam mempersiapkan anaknya menghadapi UNAS. Dan bila ingin sukses Unas juga hrs rela menambah jam belajar dan les pelajaran tambahan. Berarti pelajaran disekolah tidak memiliki kualitas yang setara dengan ujiannya, karena itu perlu paket stimulus berupa les.

    Princeaang Said :
    Orang tua kalo gak mo repot dengan anak, jangan punya anak.
    Repot gak repot kan juga pendapat pribadi, gak semua orang bilang itu merepotkan. Banyak yang menganggap bahwa itu memang sudah menjadi tanggung jawab mereka, dan mereka menjalaninya dengan bahagia. Kenapa harus berpandangan negatif (merepotkan) ?
    Hidup ini kan sudah jelas, setiap orang bisa memilih tujuan hidupnya sendiri tentu dengan tanggung jawab pribadi nantinya.
    Hidup sebagai manusia, jika menikah nantinya, pasti akan memiliki anak sebagai generasi penerus.
    Tapi sebelum langkah itu diambil, kita bisa memilih untuk menikah/tidak menikah. Saat sudah menikah pun masih bisa memilih untuk punya anak/tidak punya/adopsi. Tentu, sekali lagi, dengan konsekwensi masing2.

    Pelajaran di sekolah adalah pelajaran yang didapat dari satu tempat saja.
    Secara nyata, itu jelas. Tidak mungkin ada anak yang bersekolah di beberapa tempat yang berbeda (setidaknya sekarang ini, entah dimasa depan).
    Padahal, selama jam2 sekolah itu, mood anak2 tidak selalu stabil untuk dapat menerima pelajaran yang diberikan.
    Dengan situasi itu, orang tua yang mengerti kualitas anaknya sendiri, dan ingin membuat anaknya lebih baik lagi, tentu akan mengusahakan pelajaran lain diluar jam sekolah.
    Dengan ikut les atau kursus2 tertentu, bisa menjawab kebutuhan itu. Bisa jadi, dengan suasana kursus yang lebih mendukung masing2 pribadi mereka, justru pelajaran2 yang tadinya tidak dimengerti, mereka jadi lebih paham.

    Dari bisnis yang sekarang saya geluti, terlihat jelas, sesungguhnya anak2 itu bukan tidak mengerti apa yang diterima-nya di sekolah. Mereka mengerti, dan bahkan dengan kemampuan otak spons-nya, mereka mampu mengingat setiap detail pelajaran tersebut, dari isi buku text, sampe kebiasaan2 guru saat mengajar. Ini kan berarti sebenarnya mereka itu bukan tidak mampu, tapi terhalang dengan batasan2 umur mereka. Batasan2 biologisnya (gak mood, marah, sedih, de el el).

    Anak bukan robot, bukan juga miniatur dari diri kita sendiri. Mereka punya hak hidupnya masing-masing. Termasuk hak hidup untuk menerima pendidikan. Siapa yang mampu memberi hak untuk menerima pendidikan ? Ya generasi sebelumnya, ya kita2 ini.

    Anak2 itu masih belum mengerti mana yang harus lebih penting untuk di fokuskan. Mereka masih 'kalah kuat' dengan reaksi2 biologis mereka. Mereka masih belum bisa mengendalikan dirinya sendiri.

    Dengan les2-an, bukannya bagus ?
    Bisa membuka lapangan pekerjaan di sektor informal ?
    Membantu pemerintah dan banyak orang untuk dapat hidup yang lebih layak ? Sekaligus membantu anak2 dalam pelajaran sekolahnya.
    Saya sudah jelaskan hal ini pada trit Trie dilain tempat (Pengangguran, apa solusinya ?).
    Apa salahnya dengan usaha les2-an ?

    Mengenai repot, memang kriterianya subyektif. Ada yang tetap bahagia walaupun direpotkan. Yang saya maksudkan repot adalah beban yang tidak semestinya. Belajar di sekolah yang hampir satu shift itu tidak cukup mempersiapkan anak untuk menghadapi ujian? Sampai anak dituntut overtime? Melakukan double shift? Jelas ada yang salah.

    Saya tidak menyalahkan usaha les2an. Ini bisnis yang muncul karena ada demand. Natural. Saya malah menganggap hal ini salah bila tidak dimanfaatkan.

    Justru bila berani maju dg ide2 inovatif yang radikal para pengusaha les2an bisa menantang sistem pendidikan di Indonesia yang salah kaprah ini dengan mengadopsi home schooling yang menawarkan happy learning. Salah satu biaya terbesar mendirikan sekolah itu adalah bangunannya. Padahal itu tidaklah penting. Setidaknya bila anda ikut home schooling.

    Princeaang Said :
    Wah, jangan terjebak dengan lingkungan perusahaan, trie.
    Double shift ? Over time ? Anda kok malah menyamakan anak dengan pekerja ?
    Anak punya power yang lebih bagus dari orang yang lebih dewasa. Tenang saja, itu sudah bawaan alam.
    Jadi jangan takut dengan masalah double shift/overtime.
    Karena sang anak masih memiliki power yang cukup untuk melakukan hal itu.
    Dengan power besar, lebih baik melakukan hal2 yang berguna, seperti bersekolah, daripada hanya bermain saja.

    Mengenai home schooling, saya lanjut pembahasannya di lain waktu ya. Ini ada deadline harus saya kerjakan lebih dulu.
    Piramid.. UNIK !! ASIKKK..!! - Sambil cengar-cengir.com. Poreper laaaa......

  6. #66
    Senior Member PrinceaAng's Avatar
    Join Date
    Nov 2008
    Location
    --
    Posts
    3,951
    Rep Power
    9

    Re: Benarkah UNAS itu perlu? Persentase pelajaran sekolah yang berguna ternyata renda

    Oke, saya coba lanjut lagi.

    Jika anak dianggap sebagai suatu produk, apalagi produk dari suatu industri, anggap saja sebagai ilustrasi berikut ini :
    Jika anda akan membeli sebuah laptop, apa yang menjadi acuan anda memilih salah satu produknya ?
    1. Processornya ?
    2. Besar memory-nya?
    3. Besar dan jenis graphic card-nya?
    4. Luas layar ?
    5. Life time batere-nya ?
    6. Perangkat2 tambahan ?
    7. Desainnya ?

    Atau anda hanya memilih :
    1. QC Passed.
    2. Need Improvement.

    Yang mana ?

    Jika diumpamakan anak sebagai sebuah produk, maka anak adalah produk yang paling rumit yang tidak pernah anda bayangkan.
    Jika pada saat anda memilih sebuah laptop saja anda mempertimbangkan beberapa aspek :
    1. Harga tidak masalah, yang penting processor tinggi, memory dan harddisk kapasitas besar, graphic card terkini, desain terindah.
    2. Hmmmm..... anda butuh untuk mengerjakan pekerjaan kantor biasa, berarti procie gak tinggi gak terlalu penting, yang pasti harus bisa komunikasi, maka harus ada koneksi internet, bluetooth, wifi. Yah ada desain sedikit gaya juga boleh lah.
    3. Wah, harus digunakan untuk desain, berarti graphic card harus jempolan, memory mantab, harddisk oke, online gak online gak penting. Layar harus luas. Tampilan gak terlalu penting.
    4. Untuk mengerjakan pekerjaan audio, mungkin anda di bisnis music ? Berarti graphic card gak terlalu penting, yang penting audio-nya, layar harus lebar, procie oke tapi gak perlu yang terlalu tinggi, memory mantab, harddisk luas.
    5. de el el, de es be.

    Apalagi jika anda adalah sebuah sekolah lanjutan atau univ. Bagaimana anda bisa mengerti bahwa anak yang mendaftar di anda itu bisa diarahkan ke jurusan2 yang ada pada anda ?
    Atau, bagaimana anda sebagai sebuah sekolah lanjutan dapat menentukan target pasar anda yang tentunya menjadi target pendapatan juga ?

    Lalu, jika anda adalah pemilik suatu perusahaan. Apakah jenis perusahaan anda adalah sama dengan semua jenis perusahaan yang ada di dunia ? Tidak mungkin. Pada industri yang sama pun ada kelas-nya masing-masing.
    Ada yang hanya industri kecil, menengah, dan besar.
    Ada yang industri awal, sampai hulu.
    Jika industri anda membutuhkan karyawan, apakah semua karyawan pada perusahaan anda sama kelasnya ?
    Pada perusahaan yang jelas hanya sebuah consultant saja ada levelnya sendiri. Dari level terendah sampai tertinggi.

    Bagimana anda bisa memilah orang2 untuk bisa menjadi pegawai anda ? Apa bisa hanya sekedar QC Passed dan Need Improvement ?

    Anak adalah aset kehidupan, dan karyawan hanyalah aset perusahaan. Beda bro.

    Aset kehidupan, berarti mereka adalah harta bagi kehidupan. Mereka punya hak untuk memilih hidupnya sendiri berdasarkan pada ilmu yang mereka dapat.
    Aset perusahaan, berarti mereka adalah harta bagi perusahaan. Mereka memiliki hak untuk mengikuti proses yang ada di perusahaan itu, tapi hanya sebatas itu saja. Arah dan tujuannya ditentukan 1000% oleh perusahaan itu. Kalo mereka punya pilihan lain, ya silahkan cari tempat kerja yang lain.

    Anak, dengan pendidikan yang mereka dapatkan, berhak menentukan corak hidupnya sendiri. Semakin banyak ilmu yang mereka dapat, coraknya bisa semakin indah.

    Jangan kuatirkan energi mereka yang akan terkuras hanya untuk pelajaran sekolah. Sebab mereka memang sudah well designed dari sang pencipta untuk itu semua.
    Jangan bandingkan mereka dengan anda sendiri (semua member yang baca post ini, bukan hanya 3 serangkai) yang powernya semakin lemah, kemampuan spons otak anda sudah semakin kaku.

    Sebagai perbandingan saja, sedikit mengintip masa lalu.

    Anak2 Indonesia hasil didikan wong londo jaman dulu, terbukti banyak yang berhasil, bahkan ada yang bisa jadi presiden pertama negara ini.
    Anda pikir mereka itu bersekolah dengan santai2 ?

    Bisa sekolah tanpa naik turun gunung ?
    Bisa sekolah tanpa harus berjalan kaki yang jauhnya luar biasa ?

    Anda kira mereka itu tidak berjuang dalam pelajaran2 di sekolah2 itu ?
    Tantangan pertama :
    1. Bahasa. Bahasa yang dipakai jaman dulu adalah belanda.
    2. Materi. Materi yang digeluti adalah materi standar belanda.
    3. Sistem penilaian. Sistem penilaian yang digunakan juga standar belanda.
    4. Sistem pengajaran. Sistem yang dipakai juga sistem belanda. CBSA? Siapa bilang gak ada guru londo yang suruh siswanya catat buku sampai habis dan lanjut di catat di dedaunan karena gak bisa beli buku ?

    Keberhasilan ?
    Anda bisa lihat sejarah BK. Seorang tokoh nasional sebagai pembanding. Kisah2 hidupnya sudah banyak sekali dalam bentuk buku, atau hanya via internet pun bisa dicari.

    Kalo saya, cukup dengan cerita2 dari para orang tua saja bisa membayangkan betapa sulitnya mereka bersekolah kala itu.
    Jauh.... jauh ...... lebih sulit dari keadaan yang ada sekarang.
    Mereka itu mau sekolah saja harus cari kota terdekat. Yang jaraknya bisa berjam-jam untuk bisa sampai sana.
    Halangan geografis ? Apa anda bisa menemukan jalan raya dari aspal di jaman itu ? Berapa banyak ?
    Apa anda bisa naik bus kota dengan enak jaman itu ?
    Biaya ?
    Jangan tanya. Kira2 kalo sekolah belanda itu apa terima bayaran rupiah atau sekedar nasi bungkus ?
    Walaupun ada beberapa yang merelakan siswanya tidak membayar sama sekali.

    Lha, sekarang ?
    Untuk kota2 besar bisa lebih mudah. Semua halangan sudah banyak yang hilang, kecuali biaya.
    Untuk kota2 kecil memang sulit, tapi kan tidak semua wilayah begitu sulitnya.
    Dengan kreatifitas pun bisa diatasi walaupun tidak menjawab semua kebutuhan.

    Kalo dibilang peralatan tidak memadai, memang dibutuhkan kreatifitas bagi pengajar untuk mengadakan beberapa perangkat tersebut.

    Anda bisa lihat kenyataan itu. Itu sebabnya saya ngotot dengan UNAS harus tetap ada.

    Keadaan sekarang ini sudah jauh lebih mudah daripada jaman dulu, bro/sis.
    Walaupun itu seiring dengan tuntutan yang semakin tinggi juga.

    ============================

    Oke, sekarang tentang home schooling.
    Saya mau tanya konsepnya trie tu seperti apa ?

    Dalam pemikiran saya adalah :
    1. Tidak ada gedung besar untuk menampung murid. Mungkin sebuah gedung kecil hanya untuk keperluan administrasi, meeting2 antar guru2 saja.
    2. Guru menyambangi murid2 ke rumah2 mereka untuk memberikan pengajaran2.
    3. Bentuknya group2 kecil yang per group hanya berisi 5-15 orang.
    4. Sistemnya mirip sistem arisan. Siapa yang ketempatan (istilah bahasa jawa, maksudnya giliran siapa yang rumahnya menjadi kelas), itulah yang wajib menyediakan ruang, mungkin sedikit makanan dan minuman.

    Benar begitu ?

    Mohon dijawab dulu sebelum kita bisa diskusi lebih lanjut, trie.
    Piramid.. UNIK !! ASIKKK..!! - Sambil cengar-cengir.com. Poreper laaaa......

Page 7 of 7 FirstFirst 1234567

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •  

Content Relevant URLs by vBSEO 3.6.0