Open discussion mode (biar bisa di quote lagi sama member lain, jadi quote-nya saya buka):
3serangkai Said :
Ujian tetap saja bisa dijadikan indikator. Mengenai kelulusan hanya ada dua kriteria, lulus atau tidak lulus. Tanpa embel2 nilai. Jadi yang lulus dengan nilai 6 dengan yang lulus dengan nilai 9 tidak ada bedanya. Tidak adil? Tetap saja adil. Mau ke universitas, yang nilai 9 dan nilai 6 mendapatkan kesempatan yang sama. Yang penting kriteria lulus itu berarti minimum siswa memiliki pengetahuan sampai dengan level tertentu terlepas apakah nilainya 6 ataupun 9.
Princeaang Said :
Lalu, gimana cara ngebedain kualitas per individu ?
Kalo caranya begitu, berarti kan individu yang memang berprestasi tidak diperhatikan dong prestasinya.
Kan kualitas tiap individu itu berbeda.
Ini sih namanya penyeragaman kualitas dong. Bener gak?
Standardnya kan lulus atau tidak. Kita ambil contoh proses quality control. Selama masuk standard maka produk tersebut adalah sama, baik yang memenuhi batas minimum maupun yang mencapai batas maximum.
Bila ternyata ada yang melewati batasan maximum, jelas itu adalah abnormality. Different case.
Penyeragaman kualitas? Saya menyebutnya standarisasi.
Membedakan kualitas individu adalah outcome dimasyarakat. Natural selection.
3serangkai Said :
Kalau dengan demikian kemudian seorang anak hanya menargetkan 6 saja daripada 9, tidak apa2 juga karena dengan nilai 6 dan dia lulus berarti siswa memiliki pengetahuan sampai level tertentu. Kalau nilainya 9 juga tidak apa2, ada bonusnya saja. Kira2 begitu. Jadi nilai 6 adalah nilai standard (ini hanya misal) dibawah itu berarti belum menguasai materi dan harus belajar lagi.
Princeaang Said :
Kembali lagi, ke opini saya diatas, kan berarti penyeragaman dong? Hanya membedakan lulus dan tidak lulus.
Seandainya hanya 2 kategori saja, gimana kalo anak2 itu melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi lagi dan lebih tersegmentasi bidangnya, misalnya SMK atau mungkin univ.
Gimana pihak SMK/Univ bisa tau kualitas calon muridnya dan menempatkan serta mengarahkan mereka ke jalurnya masing2?
Saya melihat bro Trie ini sepertinya memiliki pandangan berdasarkan suatu kenyataan. Saya mau tanya, ada contoh konkritnya dimana konsep yang disampaikan bro Trie ini sudah jelas berjalan ?
Di negara mana ? Atau mungkin di wilayah mana?
Saya penasaran sekali.
Kiranya, bersedia menjawab walaupun mungkin tidak bisa disertai link karena bisa dianggap melanggar peraturan forum.
Bila sudah memenuhi standard mengapa harus dibedakan? Sekarang apa bedanya yang memiliki rata2 7 dan rata2 9? Yang rata2 9 lebih pintar dari yang rata2 7? Tidak juga.
Contoh konkrit yang persis demikian saya belum menjumpai tetapi konsep ini saya dapatkan dari pengalaman ketika mendidik dan melatih pekerja2 dipabrik dan dikantor. Test2 atau ujian berkala selalu diadakan dalam periode tertentu khususnya yang terkait penguasaan pekerjaan. Hal ini untuk menjaga proses supaya tetap standard. Test2 atau ujian yang diadakan berusaha menangkap kemampuan bekerja seorang pekerja se-natural mungkin, sebagai representasi kegiatan sehari2nya. Kriterianya cuma ok atau need improvement.
3serangkai Said :
2. Menurunnya kualitas murid adalah tanggung jawab guru sepenuhnya. Guru ibaratnya seorang operator mesin yang harus memastikan seluruh parameter proses belajar mengajar sudah dipenuhi. Tentu dengan kualitas bahan/kemampuan anak yang normal. Seluruh proses harus diverifikasi pada setiap tahapan dg pertanyaan2 terkait pelajaran saat proses berlangsung dan divalidasi pada akhir proses, dengan test2 kecil yang bahannya tidak bejibun.
Princeaang Said :
Maksudnya tes2 kecil per mata pelajaran ? Sudah ada kan ?
Tiap sekolah kan sudah melakukan itu dari dulu. Entah swasta entah negeri.
Kalo hanya berdasarkan nilai dari tes2 kecil itu, lalu bagaimana kita tahu si murid sudah mengerti secara menyeluruh mata pelajaran2 yang sudah dipelajarinya ?
Guru kan harus juga mengevaluasi hasil kerjanya dong. Kalo gak ada evaluasi itu, gimana tau kualitas si pendidiknya ?
Itulah princea, test2nya terlalu banyak. Test2 disekolah diadakan juga untuk penilaian bukan evaluasi. Mungkin tujuannya demikian tapi prakteknya tdk demikian. Seharusnya bila nilai seorang murid jelek, maka itu menandakan butuh perhatian lebih. Root causenya harus dicari.
Bagaimana tau bahwa murid sudah mengerti secara keseluruhan? Bagaimana melakukan validasi penguasaan ilmu yang diajarkan? Test kecil itu cukup. Kalau inputnya standard, prosesnya standard, outputnya 99,9% standard.0.1% keraguan, divalidasi lewat test2 kecil yang diberikan.
Belajar jadi tidak perlu tertekan.
3serangkai Said :
3.Kalau guru dituntut bertanggung jawab selaku pelaksana proses maka guru tidak akan bisa bersantai2 saja.
Princeaang Said :
Yang ini saya setuju. Tapi ada tambahan; guru tidak mengambil alih semua tanggung jawab si ortu.
Saya tidak setuju kalau orang tua diikutkan dalam hal keberhasilan pendidikan disekolah. Ini membiaskan tanggung jawab. Orang tua bertanggung jawab secara sosial atas anak2nya. Pendidikan formal adalah tanggung jawab guru. Bila dicampur aduk demikian kasihan anak2 yang orang tuanya buta huruf, lebih parah yang yatim piatu.
3serangkai Said :
4. Yang jelas anak2 lebih memiliki banyak waktu untuk menjadi anak2. Menikmati masa kanak2 mereka, menjadikan mereka bahagia sebagai kanak2 yang tentu membuat mereka jadi optimistic dan berpikiran positif.
Princeaang Said :
Pada dasarnya anak adalah mahluk yang berpikiran lebih sempit dari kita2 yang sudah dewasa. Dalam bisnis saya ini, saya bisa melihat jelas perbedaan cara berpikir anak dari tiap kelas yang berbeda.
Tujuan adanya sekolah selain hanya efek komersial yang lagi boom sekarang, juga ada tujuan mulia, mengajarkan generasi penerus agar menjadi generasi yang lebih baik dari generasi sebelumnya.
Karena itulah kehidupan.
Anak pada dasarnya tidak mengerti apa tujuan penciptaan mereka, tujuan hidup mereka, dan panggilan mereka masing-masing.
Pendidikan dari tahap awal ini diharapkan bisa membuat anak lebih mengerti tentang hal2 itu. Agar mereka bisa mempersiapkan diri menjalani hidup dan dapat membawa kehidupan menjadi lebih baik.
Benar. Anak2 tidak mengerti hak mereka sebagai anak. Saat masa anak2 biarkanlah mereka menjadi anak2, menikmati masa yang tidak akan berulang itu.
Hidup itu penuh tekanan dan tantangan, sehingga dari awal anak2 harus dilatih untuk menghadapinya. Bagaimana? Mencoba memberikan tekanan dan tantangan bagi mereka sedini mungkin? Tidak bisa dibenarkan.
Dengan hidup sebagai anak2 saja mereka secara natural sudah akan mengalami tantangan dan tekanannya sendiri.



LinkBack URL
About LinkBacks




Reply With Quote




Bookmarks