
Originally Posted by
3serangkai
Sebagai produk pendidikan Indonesia 100% saya rasakan bahwa persentase pelajaran yang saya terima sejak SD, yang tidak berguna bagi saya saat kemudian berkarier cukup tinggi.
Saya melihat hingga kini tidak ada terobosan yang berarti yang dilakukan oleh pemerintah dalam bidang pendidikan. Khususnya pendidikan dasar.
Kontroversi UNAS belakangan ini cukup menyita perhatian saya. Saya melihat bahwa fenomena UNAS menjadi intimidasi sistematis yang menciptakan penindasan psikologis yang tidak perlu. Belajar, atau sekolah tepatnya menjadi begitu tidak menyenangkan bahkan terasa mengancam dan menakutkan.
Sebagai barometer dunia pendidikan fungsi UNAS bisa diterima tetapi terobosan radikal perlu dilakukan oleh pemerintah untuk mengefisienkan dan mengefektifkan pendidikan di Indonesia. Jangan dibiasakan murid berpatokan pada nilai. UNAS sebaiknya dijadikan ajang evaluasi yang tidak mempengaruhi laju pendidikan seseorang.
Mengapakah pelajaran yang diberikan di SD harus sebanyak itu? Dan mengapa SD secara normal harus ditemput selama enam tahun? Demikian juga mengapa SMP dan SMA harus 3 tahun? Mengapa juga perguruan tinggi harus sekian SKS yang bisa dikebut dalam waktu 3.5-4 tahun?
Apakah parameter dasarnya? Misalkan 12 tahun dari SD-SMA itu dikarenakan pada usia tersebut seseorang sedang dipersiapkan untuk menjadi seorang dewasa yang intelek, dasarnya adalah usia 18 tahun saat lulus SMA. Jadi rentang waktu antara usia 6 tahun saat anak sudah bisa dididik hingga usia 18 tahun saat dewasa, harus diisi dengan berbagai pendidikan yang menunjangnya menjadi manusia dewasa. Maka dipilihlah berbagai mata pelajaran yang dibagi2, dibuat jenjangnya dan disebarkan selama 12 tahun.
Atau sebaliknya. Pemerintah memiliki standard bahwa pada usia 6 tahun seseorang harus memiliki kemampuan level tertentu, demikian juga 7 tahun hingga 18 tahun. Dari standard tersebut disusunlah materi pelajaran selama 12 tahun tersebut. Bila ini yang terjadi akan menimbulkan pertanyaan ttg dasar penetapan dan kegunaan penetapan standard tersebut.
Sebagai contoh pelajaran yang saya rasa tidak berguna adalah pelajaran geografi. Pelajaran ini seharusnya cukup dijadikan 'asal tahu' tidak bersifat wajib tahu. Kenapa saya katakan tidak berguna? Hafalan2 ttg nama negara dan ibukotanya, luas negaranya dsb tidak relevan. Nama negara Mesir misalnya, akhirnya saat kita dewasa dan traveling atau bekerja dg perusahaan export import, Mesir yang kita kenal akan menjadi Egypt. (Seorang teman sempat bingung ketika berkenalan dengan seseorang dari Greece. Dia sempat tanya, Greece itu mana?) Belum lagi negara2 tidak populer seperti Algeria dsb. Apalagi bila ditanyakan jumlah penduduknya, nama presidennya? Apa gunanya?
Kemudian pelajaran2 seperti PMP, PSPB juga jangan dijadikan doktrinasi tetapi sebagai informasi. Pengenalan saja kepada anak2 SD-SMA. Pelajaran yang wajib adalah bahasa Indonesia, Inggris, Matematika, IPA/Science (Fisika,biologi,kimia untuk SMP dan SMA). Pelajaran ini yang berguna sampai tua.
Bukti nyata bahwa apa yang diajarkan dari SD-SMA bahkan perguruan tinggi lebih banyak waste of time, energy and money adalah kuis adu cerdas dengan anak fifth grade, yang kebanyakan dimenangkan siswa kelas lima tersebut. Padahal peserta kuis tsb adalah orang dewasa yang sudah lulus SMA, perguruan tinggi bahkan.
Jadi kembali kepertanyaan asal, benarkah UNAS itu perlu? Sedangkan kenyataannya banyak pelajaran sekolah yang tidak berguna.
Bookmarks