Page 1 of 4 1234 LastLast
Results 1 to 10 of 35

Thread: Kartini, Kebaya, dan Emansipasi Wanita Indonesia


  1. #1
    Contributor Ki Sunda's Avatar
    Join Date
    Aug 2008
    Location
    Bandung-Jawa Barat
    Posts
    2,554
    Rep Power
    10

    Kartini, Kebaya, dan Emansipasi Wanita Indonesia

    Tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini, itu sudah diketahui oleh seluruh Rakyat Indonesia. Umumnya pada tanggal 21 April ini, dianggap sebagai "Hari Kebangkitan" Wanita Indonesia. Pada hari itu (21 April) pakaian yang dikenakan kaum wanita yang bekerja di kantor2 pemerintah hingga di kantor2 swasta, hingga SPBU dan sopir busway adalah KEBAYA.
    Timbul juga pertanyaan dalam hati :
    1. Benarkah KARTINI sosok yang mewakili "Tokoh Kebangkitan" Wanita Indonesia ?

    2. Benarkah KEBAYA adalah lambang kebangkitan Wanita Indonesia ?
    Bagaimana menurut anda ?
    " Alam Padang, Poe Panjang, Jagat Kamanusaan"

  2. #2
    Senior Contributor paujan,patah's Avatar
    Join Date
    Mar 2008
    Location
    202.169.62.13/member.php?u=986695
    Posts
    7,243
    Rep Power
    15

    Re: Kartini, Kebaya, dan Emansipasi Wanita Indonesia

    Quote Originally Posted by Ki Sunda View Post
    Tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini, itu sudah diketahui oleh seluruh Rakyat Indonesia. Umumnya pada tanggal 21 April ini, dianggap sebagai "Hari Kebangkitan" Wanita Indonesia. Pada hari itu (21 April) pakaian yang dikenakan kaum wanita yang bekerja di kantor2 pemerintah hingga di kantor2 swasta, hingga SPBU dan sopir busway adalah KEBAYA.
    Timbul juga pertanyaan dalam hati :
    1. Benarkah KARTINI sosok yang mewakili "Tokoh Kebangkitan" Wanita Indonesia ?
    Bukankah2 masih ada tokoh2 lain (misewi Sartika) yg patut & bisa disejajarkan dgn Kartini ???
    2. Benarkah KEBAYA adalah lambang kebangkitan Wanita Indonesia ?
    Bagaimana menurut anda ?
    Gmn ceritanya kok bisa bgn ???
    Kucing Angop 666,you're cleared to take off

  3. #3
    Contributor Ki Sunda's Avatar
    Join Date
    Aug 2008
    Location
    Bandung-Jawa Barat
    Posts
    2,554
    Rep Power
    10

    Re: Kartini, Kebaya, dan Emansipasi Wanita Indonesia

    Jangan-jangan semua ini karena sejarah yang sesat ?
    " Alam Padang, Poe Panjang, Jagat Kamanusaan"

  4. #4
    Member
    Join Date
    Feb 2010
    Posts
    686
    Rep Power
    5

    Re: Kartini, Kebaya, dan Emansipasi Wanita Indonesia

    Quote Originally Posted by Ki Sunda View Post
    Jangan-jangan semua ini karena sejarah yang sesat ?
    seperti yang saya bilang, sejak kecil tokoh wanita yg di peringati setiap tahun adalah Kartini, dan mungkin sampai sekarang banyak yg belum sadar, masih banyak tokoh2 wanita lain.

    kenapa hanya Kartini?

    di manakah Dewi Sartika?

    Dewi Sartika sudah merintis pendidikan bagi kaum perempuan. Di sebuah ruangan kecil, di belakang rumah ibunya di Bandung, Dewi Sartika mengajar di hadapan anggota keluarganya yang perempuan. Merenda, memasak, jahit-menjahit, membaca, menulis, dan sebagainya, menjadi materi pelajaran saat itu. INI NYATA DI LAKUKAN BUKAN HANYA GAGASAN ATAU PEMIKIRAN SAJA


    maaf ya kalau salah.



    jawaban nomor satu : kalau untuk saat ini, pada kenyataanya demikian kalau membicarakan emansipasi pasti identik dengan Kartini. Btw Dewi Sartika bukanya sudah nyata2 melakukan/mempraktekan pendidikan buat kaum perempuan juga??

    jawaban nomor dua: masak sih, kebaya. apa karena IBU KARTINI jg memakai kebaya?? jadi pakaian yg di kenakanpun merupakan lambang kebangkitan wanita??
    (saya juga bingung, karena wanita jaman sekarang kebanyakan lebih suka pakai celana agar bebas bergerak )

    maaf lagi ya kalau salah. Teman2 yang lain, berikan dong pencerahan supaya saya nggak bingung.
    Last edited by sumo_oon; 22-04-10 at 09:24 PM.
    Regards / Sumo

  5. #5
    Member
    Join Date
    Feb 2010
    Posts
    686
    Rep Power
    5

    Re: Kartini, Kebaya, dan Emansipasi Wanita Indonesia

    Kok sepi, pada kemana yah...?

    hmmm,,oke deh sambil menunggu yang lain saya minta ijin untuk mengcopy paste ya ki tentang Kartini. Mungkin ada yg belum tau siapa Kartini (masak sih)

    Raden Adjeng Kartini adalah seseorang dari kalangan priyayi atau kelas bangsawan Jawa, putri Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara. Ia adalah putri dari istri pertama, tetapi bukan istri utama. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara.
    Ayah Kartini pada mulanya adalah seorang wedana di Mayong. Peraturan kolonial waktu itu mengharuskan seorang bupati beristerikan seorang bangsawan. Karena M.A. Ngasirah bukanlah bangsawan tinggi, maka ayahnya menikah lagi dengan Raden Adjeng Woerjan (Moerjam), keturunan langsung Raja Madura. Setelah perkawinan itu, maka ayah Kartini diangkat menjadi bupati di Jepara menggantikan kedudukan ayah kandung R.A. Woerjan, R.A.A. Tjitrowikromo.
    Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari kesemua saudara sekandung, Kartini adalah anak perempuan tertua. Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, diangkat bupati dalam usia 25 tahun. Kakak Kartini, Sosrokartono adalah seorang yang pintar dalam bidang bahasa. Sampai usia 12 tahun, Kartini diperbolehkan bersekolah di ELS (Europese Lagere School). Di sini antara lain Kartini belajar bahasa belanda. Tetapi setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah karena sudah bisa dipingit.
    Karena Kartini bisa berbahasa Belanda, maka di rumah ia mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda. Salah satunya adalah Rosa Abendanon yang banyak mendukungnya. Dari buku-buku, koran, dan majalah Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, karena ia melihat bahwa perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah.



    Kartini banyak membaca surat kabar Semarang De Locomotief yang diasuh Pieter Brooshooft, ia juga menerima leestrommel (paket majalah yang diedarkan toko buku kepada langganan). Di antaranya terdapat majalah kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang cukup berat, juga ada majalah wanita Belanda De Hollandsche Lelie. Kartini pun kemudian beberapa kali mengirimkan tulisannya dan dimuat di De Hollandsche Lelie. Dari surat-suratnya tampak Kartini membaca apa saja dengan penuh perhatian, sambil membuat catatan-catatan. Kadang-kadang Kartini menyebut salah satu karangan atau mengutip beberapa kalimat. Perhatiannya tidak hanya semata-mata soal emansipasi wanita, tapi juga masalah sosial umum. Kartini melihat perjuangan wanita agar memperoleh kebebasan, otonomi dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas. Di antara buku yang dibaca Kartini sebelum berumur 20, terdapat judul Max Hayelaar dan Surat-Surat Cinta karya Multatuli yang pada November 1901 sudah dibacanya dua kali. Lalu De Stille Kraacht (Kekuatan Gaib) karya Louis Coperus. Kemudian karya Van Eeden yang bermutu tinggi, karya Augusta de Witt yang sedang-sedang saja, roman-feminis karya Nyonya Goekoop de-Jong Van Beek dan sebuah roman anti-perang karangan Berta Von Suttner, Die Waffen Nieder (Letakkan Senjata). Semuanya berbahasa Belanda.
    Oleh orangtuanya, Kartini disuruh menikah dengan bupati Rembang K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, yang sudah pernah memiliki tiga istri. Kartini menikah pada tanggal 12 November 1903. Suaminya mengerti keinginan Kartini dan Kartini diberi kebebasan dan didukung mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka.
    Regards / Sumo

  6. #6
    Newbie Syanti's Avatar
    Join Date
    Jan 2008
    Location
    Sri Lanka
    Posts
    0
    Rep Power
    0

    Re: Kartini, Kebaya, dan Emansipasi Wanita Indonesia

    Quote Originally Posted by sumo_oon View Post
    Kok sepi, pada kemana yah...?

    hmmm,,oke deh sambil menunggu yang lain saya minta ijin untuk mengcopy paste ya ki tentang Kartini. Mungkin ada yg belum tau siapa Kartini (masak sih)

    Raden Adjeng Kartini adalah seseorang dari kalangan priyayi atau kelas bangsawan Jawa, putri Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara. Ia adalah putri dari istri pertama, tetapi bukan istri utama. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara.
    Ayah Kartini pada mulanya adalah seorang wedana di Mayong. Peraturan kolonial waktu itu mengharuskan seorang bupati beristerikan seorang bangsawan. Karena M.A. Ngasirah bukanlah bangsawan tinggi, maka ayahnya menikah lagi dengan Raden Adjeng Woerjan (Moerjam), keturunan langsung Raja Madura. Setelah perkawinan itu, maka ayah Kartini diangkat menjadi bupati di Jepara menggantikan kedudukan ayah kandung R.A. Woerjan, R.A.A. Tjitrowikromo.
    Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari kesemua saudara sekandung, Kartini adalah anak perempuan tertua. Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, diangkat bupati dalam usia 25 tahun. Kakak Kartini, Sosrokartono adalah seorang yang pintar dalam bidang bahasa. Sampai usia 12 tahun, Kartini diperbolehkan bersekolah di ELS (Europese Lagere School). Di sini antara lain Kartini belajar bahasa belanda. Tetapi setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah karena sudah bisa dipingit.
    Karena Kartini bisa berbahasa Belanda, maka di rumah ia mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda. Salah satunya adalah Rosa Abendanon yang banyak mendukungnya. Dari buku-buku, koran, dan majalah Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, karena ia melihat bahwa perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah.



    Kartini banyak membaca surat kabar Semarang De Locomotief yang diasuh Pieter Brooshooft, ia juga menerima leestrommel (paket majalah yang diedarkan toko buku kepada langganan). Di antaranya terdapat majalah kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang cukup berat, juga ada majalah wanita Belanda De Hollandsche Lelie. Kartini pun kemudian beberapa kali mengirimkan tulisannya dan dimuat di De Hollandsche Lelie. Dari surat-suratnya tampak Kartini membaca apa saja dengan penuh perhatian, sambil membuat catatan-catatan. Kadang-kadang Kartini menyebut salah satu karangan atau mengutip beberapa kalimat. Perhatiannya tidak hanya semata-mata soal emansipasi wanita, tapi juga masalah sosial umum. Kartini melihat perjuangan wanita agar memperoleh kebebasan, otonomi dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas. Di antara buku yang dibaca Kartini sebelum berumur 20, terdapat judul Max Hayelaar dan Surat-Surat Cinta karya Multatuli yang pada November 1901 sudah dibacanya dua kali. Lalu De Stille Kraacht (Kekuatan Gaib) karya Louis Coperus. Kemudian karya Van Eeden yang bermutu tinggi, karya Augusta de Witt yang sedang-sedang saja, roman-feminis karya Nyonya Goekoop de-Jong Van Beek dan sebuah roman anti-perang karangan Berta Von Suttner, Die Waffen Nieder (Letakkan Senjata). Semuanya berbahasa Belanda.
    Oleh orangtuanya, Kartini disuruh menikah dengan bupati Rembang K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, yang sudah pernah memiliki tiga istri. Kartini menikah pada tanggal 12 November 1903. Suaminya mengerti keinginan Kartini dan Kartini diberi kebebasan dan didukung mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka.

    Kalau melihat dari sejarahnya(kebetulan saya juga pernah nonton film Kartini) "Mengapa Kartini lebih, diidolakan daripada Dewi Sartika.?" mungkin dikerenakan Kartini berasal dari keluaga bangsawan.
    Sehingga Kartini lebih mempunyai kesempatan dan fasilitas untuk mewujudkan cita-citanya. Seandainya Kartini berasal dari rakyat biasa apakah dia bisa ?

    tetapi sebagai perempuan, saya patut berterimakasih juga atas perjuangan Kartini.





  7. #7
    Newbie
    Join Date
    Apr 2010
    Location
    Australia
    Posts
    30
    Rep Power
    0

    Re: Kartini, Kebaya, dan Emansipasi Wanita Indonesia

    ini udah ada threadnya deh kayaknya
    Hari Kartini


    Quote Originally Posted by KAMIRIN View Post
    saya jadi mempertanyakan Hari Kartini...

    Emansipasi wanita itu kan sudah ada sebelum Kartini ada. Contohnya saja ya Cut Nyak Dien, Cut Meutiah, Dewi Sartika... itu semua hidup di jaman sebelum Ibu Kartini. Lantas kenapa mesti Kartini yang tidak berjuang yang dipilih? Kenapa bukan Pahlawan Emansipasi itu bukan Ibu Cut? Dia kan yang lebih dulu berjuang sebelum Ibu Kartini...
    Quote Originally Posted by ayu rama View Post
    itu lah yang Ayu pertanyakan broo?
    Mengapa RA Kartini?
    Valid banget nih pertanyaannya.
    Yang sering bikin saya bingung waktu pelajaran sejarah dulu itu, J. H. Abendanon lah yang menerbitkan surat2 RA Kartini. Surat2 itu di tulis oleh Kartini dalam korespondensi antar teman. Jadi sifatnya pribadi. Saya rasa Kartini sendiri tahu bahwa tidak akan ada implikasi hukum atau retribusi dari pemerintah Belanda, karena dia tidak menulis untuk publik, misalnya kolom koran.

    Jadi menengahkan Kartini sebagai pejuang hak wanita itu seperti mengetengahkan salah satu penulis di Forum ini sebagai pahlawan reformasi berdasarkan tulisan2 dan pandangan yang di kemukakan dalam private message, bukan dalam thread yang di buat publik.

    Yang perlu kita renungkan juga, surat2 Kartini asli ini sudah tidak di ketahui rimbanya. Kita harus percaya 100% bahwa J. H. Abendanon tidak menambahi, mengurangi atau meng "edit" surat2 ini. Kita juga tidak tahu pada saat itu keuntungan apa yang di raup oleh pemerintah belanda dengan menerbitkan surat2 Kartini.
    Tanpa mengurangi hormat saya atas pemikiran2 Kartini, saya rasa perayaan hari Kartini sebagai Pahlawan Perjuangan Wanita mungkin bisa kita kaji ulang, karena kalau menilik fakta2 yang ada, J. H. Abendanon lah yang lebih berjasa dalam menerbitkan pemikiran2 Kartini. RA Kartini mungkin lebih tepat kita hormati sebagai pemikir, bukan pencetus emansipasi wanita.

  8. #8
    Contributor winona571's Avatar
    Join Date
    May 2008
    Location
    Batam
    Posts
    3,128
    Rep Power
    11

    Re: Kartini, Kebaya, dan Emansipasi Wanita Indonesia

    Quote Originally Posted by Ki Sunda View Post
    Tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini, itu sudah diketahui oleh seluruh Rakyat Indonesia. Umumnya pada tanggal 21 April ini, dianggap sebagai "Hari Kebangkitan" Wanita Indonesia. Pada hari itu (21 April) pakaian yang dikenakan kaum wanita yang bekerja di kantor2 pemerintah hingga di kantor2 swasta, hingga SPBU dan sopir busway adalah KEBAYA.
    Timbul juga pertanyaan dalam hati :
    1. Benarkah KARTINI sosok yang mewakili "Tokoh Kebangkitan" Wanita Indonesia ?

    2. Benarkah KEBAYA adalah lambang kebangkitan Wanita Indonesia ?
    Bagaimana menurut anda ?
    Ya sebetulnya tokoh wanita Indonesia cukup banyak sih. Tapi barangkali perlu didefinisikan dulu, yang dimaksud kebangkitan itu seperti apa? Seperti bahasan dalam thread sebelah, dimana ada tokoh lain seperti Cut Nyak Dien. Tokoh seperti Cut Nyak Dien, Cut Meutia, Martha Tiahahu, dll menunjukkan emansipasi dengan ikut berjuang bersama para pria untuk mengusir penjajah. Itu juga "kebangkitan" kan? dimana wanita memiliki hak, kewajiban bahkan kemampuan yang sama dengan pria untuk mengangkat senjata, dan membela bangsa.
    Sebaliknya, bila yang dimaksud kebangkitan adalah dalam hal mengusahakan pendidikan bagi wanita, seperti halnya pendidikan bagi pria, maka Kartini dan Dewi Sartika sama - sama dapat disebut sebagai pelopor. Karena mereka berani memulai sesuatu yang tidak lazim di masanya. Penddidikan bagi wanita adalah dasar/permulaan yang baik untuk menyamakan kedudukan pria dan wanita dalam masyarakat.

    Untuk KEBAYA, saya rasa bukan lambang kebangkitan wanita Indonesia. Memang lucu juga, kalau merayakan emansipasi wanita justru dengan baju kebaya.

  9. #9
    Contributor Ki Sunda's Avatar
    Join Date
    Aug 2008
    Location
    Bandung-Jawa Barat
    Posts
    2,554
    Rep Power
    10

    Re: Kartini, Kebaya, dan Emansipasi Wanita Indonesia

    Quote Originally Posted by sumo_oon View Post
    seperti yang saya bilang, sejak kecil tokoh wanita yg di peringati setiap tahun adalah Kartini, dan mungkin sampai sekarang banyak yg belum sadar, masih banyak tokoh2 wanita lain.

    kenapa hanya Kartini?

    di manakah Dewi Sartika?

    Dewi Sartika sudah merintis pendidikan bagi kaum perempuan. Di sebuah ruangan kecil, di belakang rumah ibunya di Bandung, Dewi Sartika mengajar di hadapan anggota keluarganya yang perempuan. Merenda, memasak, jahit-menjahit, membaca, menulis, dan sebagainya, menjadi materi pelajaran saat itu. INI NYATA DI LAKUKAN BUKAN HANYA GAGASAN ATAU PEMIKIRAN SAJA


    maaf ya kalau salah.



    jawaban nomor satu : kalau untuk saat ini, pada kenyataanya demikian kalau membicarakan emansipasi pasti identik dengan Kartini. Btw Dewi Sartika bukanya sudah nyata2 melakukan/mempraktekan pendidikan buat kaum perempuan juga??

    jawaban nomor dua: masak sih, kebaya. apa karena IBU KARTINI jg memakai kebaya?? jadi pakaian yg di kenakanpun merupakan lambang kebangkitan wanita??
    (saya juga bingung, karena wanita jaman sekarang kebanyakan lebih suka pakai celana agar bebas bergerak )

    maaf lagi ya kalau salah. Teman2 yang lain, berikan dong pencerahan supaya saya nggak bingung.
    Kebaya. Sangat tidak tepat dijadikan lamabang emansipasi. Kebaya juga tidak dipakai di seluruh Indonesia. Bagaimana dengan daerah yang tidak mengenal kebaya, Papua, misalnya.
    Quote Originally Posted by Syanti View Post

    Kalau melihat dari sejarahnya(kebetulan saya juga pernah nonton film Kartini) "Mengapa Kartini lebih, diidolakan daripada Dewi Sartika.?" mungkin dikerenakan Kartini berasal dari keluaga bangsawan.
    Sehingga Kartini lebih mempunyai kesempatan dan fasilitas untuk mewujudkan cita-citanya. Seandainya Kartini berasal dari rakyat biasa apakah dia bisa ?
    Raden Dewi Sartika juga seorang Bangsawan.
    tetapi sebagai perempuan, saya patut berterimakasih juga atas perjuangan Kartini.
    Mungkin juga ada benarnya peribahasa "Sejarah ditulis oleh pemenang". Dalam hal ini Orang Jawa sebagai pemenang.



    Quote Originally Posted by JDerri View Post
    ini udah ada threadnya deh kayaknya
    Hari Kartini
    Maaf, waktu bikin TS ini aki tidak baca TS "Hari Kartini".





    Valid banget nih pertanyaannya.
    Yang sering bikin saya bingung waktu pelajaran sejarah dulu itu, J. H. Abendanon lah yang menerbitkan surat2 RA Kartini. Surat2 itu di tulis oleh Kartini dalam korespondensi antar teman. Jadi sifatnya pribadi. Saya rasa Kartini sendiri tahu bahwa tidak akan ada implikasi hukum atau retribusi dari pemerintah Belanda, karena dia tidak menulis untuk publik, misalnya kolom koran.

    Jadi menengahkan Kartini sebagai pejuang hak wanita itu seperti mengetengahkan salah satu penulis di Forum ini sebagai pahlawan reformasi berdasarkan tulisan2 dan pandangan yang di kemukakan dalam private message, bukan dalam thread yang di buat publik.
    Tepat sekali.
    Yang perlu kita renungkan juga, surat2 Kartini asli ini sudah tidak di ketahui rimbanya. Kita harus percaya 100% bahwa J. H. Abendanon tidak menambahi, mengurangi atau meng "edit" surat2 ini. Kita juga tidak tahu pada saat itu keuntungan apa yang di raup oleh pemerintah belanda dengan menerbitkan surat2 Kartini.
    Tanpa mengurangi hormat saya atas pemikiran2 Kartini, saya rasa perayaan hari Kartini sebagai Pahlawan Perjuangan Wanita mungkin bisa kita kaji ulang, karena kalau menilik fakta2 yang ada, J. H. Abendanon lah yang lebih berjasa dalam menerbitkan pemikiran2 Kartini. RA Kartini mungkin lebih tepat kita hormati sebagai pemikir, bukan pencetus emansipasi wanita.
    Apakah dengan demikian Hari kartini sebaiknya diganti saja dengan "Hari Wanita Indonesia?"
    Last edited by Ki Sunda; 23-04-10 at 08:23 AM.
    " Alam Padang, Poe Panjang, Jagat Kamanusaan"

  10. #10
    Newbie
    Join Date
    Apr 2010
    Location
    Australia
    Posts
    30
    Rep Power
    0

    Re: Kartini, Kebaya, dan Emansipasi Wanita Indonesia

    Quote Originally Posted by Ki Sunda View Post
    Kebaya. Sangat tidak tepat dijadikan lamabang emansipasi. Kebaya juga tidak dipakai di seluruh Indonesia. Bagaimana dengan daerah yang tidak mengenal kebaya, Papua, misalnya.



    Apakah dengan demikian Hari kartini sebaiknya diganti saja dengan "Hari Wanita Indonesia?"

    mantap ini namanya Hari Wanita Indonesia

    Kalo ada rekan FK yang bisa membuat dan mengusulkan perubahan, bisa coba di mulai kampanye-nya.
    Mungkin fokus hari Kartini bisa di alihkan dari:
    • Kontes kebaya = Kontes Kecantikan = stereotype peran wanita
    • Lomba masak = fokus wanita mesti ke dapur = stereotype peran wanita
    menjadi fokus kearah:
    • Pembinaan dan penanganan kekerasan terhadap Wanita (Domestic Violence)
    • Pemberdayaan Wanita dan pembinaan hak2 hukum para Wanita, terutama wanita pekerja
    • Penanganan dan pemberdayaan wanita dalam menghadapi pelecehan seksual terhadap wanita
    Jadi wanita indonesia nggak pake kebaya, bawa belanjaan dapur dan di lecehkan di atas kendaraan umum terus. Mesti tau hak2 nya!
    Hidup Wanita Indonesia

Page 1 of 4 1234 LastLast

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •  
©2008 - 2013 PT. Kompas Cyber Media. All Rights Reserved.

Content Relevant URLs by vBSEO