Page 3 of 4 FirstFirst 1234 LastLast
Results 21 to 30 of 37

Thread: Apakah Tradisi dan Kepercayaan Masih Dibutuhkan?


  1. #21
    Moderator Fikri.hidayat's Avatar
    Join Date
    Jul 2010
    Location
    Indonesia
    Posts
    702
    Rep Power
    8

    Re: Apakah Tradisi dan Kepercayaan Masih Dibutuhkan?

    Quote Originally Posted by gram View Post
    Pada saat agama itu pertama kali masuk tentu saja mereka akan melakukan asimilasi karena posisinya mereka masih agama baru di situ. Namun seiring dengan perkembangnya zaman bukanlah hal yang tidak mungkin untuk agama yang baru itu sendiri menggeser kepercayaan, agama atau tradisi yang lama.

    ...Jadi wajar saja kalau muncul segelintir orang yang bersifat radikal yang menentang semua aliran baru tak perduli apa pun itu untuk menjaga kemurnian agama itu sendiri. Dalam sejarah agama seperti agama buddha, agama itu terpecah menjadi dua aliran karena yang satu bersifat radikal tidak mau berubah dan satu lagi mau menerima perubahan.
    Tapi menurut saya bukan hanya agama2 baru itu yang menggeser tradisi dan kepercayaan, kemajuan teknologi (zaman tekno), juga turut andil menggesernya.

    Sebelum berdiskusi lebih jauh, bagaimana pendapat anda jika saya menyatakan kalau sejarah tradisi di nusantara sebenarnya adalah berakar dari tradisi kemanusiaan?

    Kata radikal dari anda saya bold yah...
    nah, kenapa radikalisme hingga bertindak kekerasan muncul setelah agama-agama samawi itu berkembang besar di nusantara? sedangkan jelas-jelas ajaran yang berdasar maisng-masing pedoman memiliki nilai tradisi kemanusiaan.

    Saya mengambil kesimpulan sementara, jika kita masih memegang tradisi kemanusiaan, baik berdasar akar tradisi nusantara maupun berdasar pedoman agama, radikalisme dengan bertindak kekerasan harus dimusnahkan. Kecuali entah bagi mereka yang anti-kemanusiaan.

    Sekali lagi, saya di sini tidak akan mempertentangkan persoalan berkeyakinan.

    Salam



    "Leave nothing but footprints, Kill nothing but time, Take nothing but pictures"

  2. #22
    Moderator Fikri.hidayat's Avatar
    Join Date
    Jul 2010
    Location
    Indonesia
    Posts
    702
    Rep Power
    8

    Re: Apakah Tradisi dan Kepercayaan Masih Dibutuhkan?

    Quote Originally Posted by maspras View Post
    catatan kakinya adalah harus ada pembatas yang jelas dan tegas antara tradisi dan kepercayaan dengan keyakinan dan atau agama.
    bagi saya, ketika tradisi/kepercayaan sudah mengganggu atau bertentangan dengan agama saya maka tradisi/kepercayaan itu layak saya coret untuk dipelihara oleh saya.
    maspras...saya juga berkeyakinan . tapi kalau saya justru saya hapus batas-batas itu untuk menyelaminya. saya coba ikuti tradisi-tradisi yang ada di nusantara (ternyata banyak sekali, ingin sekali mengikuti lebih dalam lagi). sebab dengan begitu saya akan bisa tahu ada nilai apa di dalamnya.



    "Leave nothing but footprints, Kill nothing but time, Take nothing but pictures"

  3. #23
    Senior Member
    Join Date
    Jan 2008
    Posts
    1,286
    Rep Power
    8

    Re: Apakah Tradisi dan Kepercayaan Masih Dibutuhkan?

    Quote Originally Posted by Fikri.hidayat View Post
    maspras...saya juga berkeyakinan . tapi kalau saya justru saya hapus batas-batas itu untuk menyelaminya.

    Batas-batas ??? ....Siapa yang mencipta batas-batas itu ???

    Sejak awal : Allah menjadikan manusia berbeda-beda : beda suku bangsa, beda warna kulit, beda bahasa, beda kepercayaan dan keyakinan, beda adat istiadat ..... tetapi cuma ada satu sesembahannya (Allah SWT)

    saya coba ikuti tradisi-tradisi yang ada di nusantara (ternyata banyak sekali, ingin sekali mengikuti lebih dalam lagi).

    Bagus, anda tidak bisa memilih orang tua dan tanah kelahiran anda ....tradisi dan adat istiadat adalah bagian dari hidup anda.......menurut Islam orang yang menolak takdirnya adalah dosa

    sebab dengan begitu saya akan bisa tahu ada nilai apa di dalamnya.
    Apakah ada contoh bangsa besar yang menghargai tradisi dan adat istiadatnya ?
    Ada, bangsa China, Jepang, Korea dan India


    Ada Hadist : Belajarlah sampai ke negeri Cina ..... bangsa yang selalu menjaga warisan tradisi leluhurnya
    dan jadi besar dimanapun mereka berada ...Chinatown itu ada dimana-mana

  4. #24
    Junior Member gram's Avatar
    Join Date
    Jan 2009
    Location
    Palembang
    Posts
    236
    Rep Power
    6

    Re: Apakah Tradisi dan Kepercayaan Masih Dibutuhkan?

    Quote Originally Posted by Fikri.hidayat View Post
    Tapi menurut saya bukan hanya agama2 baru itu yang menggeser tradisi dan kepercayaan, kemajuan teknologi (zaman tekno), juga turut andil menggesernya.

    Sebelum berdiskusi lebih jauh, bagaimana pendapat anda jika saya menyatakan kalau sejarah tradisi di nusantara sebenarnya adalah berakar dari tradisi kemanusiaan?

    Kata radikal dari anda saya bold yah...
    nah, kenapa radikalisme hingga bertindak kekerasan muncul setelah agama-agama samawi itu berkembang besar di nusantara? sedangkan jelas-jelas ajaran yang berdasar maisng-masing pedoman memiliki nilai tradisi kemanusiaan.

    Salam
    Tradisi di nusantara memang berawal dari tradisi kemanusiaan, hal ini saya setuju. Tapi bukan berati tradisi yang ada itu selalu bernilai positif.

    Tragisnya agama itu sendiri mengajarkan nilai nilai kemanusiaan tapi radikalisme yang muncul dari agama itu sendiri justru tidak bernilai kemanusiaan. Menurut saya radikalisme itu sendiri muncul bukan karena agama itu telah berkembang besar. Tapi radikalisme itu sendiri muncul karena dipicu oleh perubahan pola hidup dari masyarakat yang memeluk agama itu. Oleh karena itu radikalisme tidak bisa dihindari dan akan tetap ada karena pola hidup pasti berubah seiiring dengan berkembangnya jaman atau bertambahnya waktu.

    Kemungkinan munculnya radikalisme di setiap orang itu berbanding lurus dengan keyakinan orang tersebut dengan agamanya. Semakin kuat, semakin mudah juga dia melakukan tindakan radikal di atas nama agamanya. Namun tanpa agama orang itu akan lebih mudah menjadi orang yang tak bermoral. Solusinya ya jalan tengah. Tentu saja kita semua berkeyakinan terhadap agama masing masing. Namun bagi saya, mempercayai 100% semua yang ada di kitab suci atau apalagi ceramah keagamaan itu berbahaya. Menurut saya, orang yang berkeyakinan buta terhadap agamanya itu jauh lebih berbahaya dibandingkan mereka yang tidak beragama.

    Salam,

  5. #25
    Senior Member
    Join Date
    Jan 2008
    Posts
    1,286
    Rep Power
    8

    Re: Apakah Tradisi dan Kepercayaan Masih Dibutuhkan?

    Quote Originally Posted by gram View Post
    Tradisi di nusantara memang berawal dari tradisi kemanusiaan, hal ini saya setuju. Tapi bukan berati tradisi yang ada itu selalu bernilai positif.

    Siapa yang menilai ??
    Dasar penilaiannya apa ?? Tolok ukurnya apa ??

    Cobalah belajar dari Jepang, Korea, India dan RRC ...yang selalu menghargai tradisi leluhurnya ...dan tidak malu mengaku dan berperi laku sebagai orang Jepang, orang Korea, orang India atau orang Cina ..... dimanapun mereka berada....

    Mau contoh dari Barat yang juga ketat menjaga tradisi leluhurnya ?
    Perancis, Italia, Jerman, Belanda, Inggris, Spanyol dll .... mereka tidak tertarik untuk "memanfaatkan isu global" lalu mengganti bahasa nasionalnya menjadi Bahasa Inggris atau menjadi ke-amerika-amerika-an

    Kita mau jadi apa ??
    Lebih arif dari nenek moyang kita yang berhasil membangun Borobudur dan Prambanan ??

    Tragisnya agama itu sendiri mengajarkan nilai nilai kemanusiaan tapi radikalisme yang muncul dari agama itu sendiri justru tidak bernilai kemanusiaan. Menurut saya radikalisme itu sendiri muncul bukan karena agama itu telah berkembang besar. Tapi radikalisme itu sendiri muncul karena dipicu oleh perubahan pola hidup dari masyarakat yang memeluk agama itu. Oleh karena itu radikalisme tidak bisa dihindari dan akan tetap ada karena pola hidup pasti berubah seiiring dengan berkembangnya jaman atau bertambahnya waktu.

    Tidak bro, radikalisme dalam Islam dipicu masuknya Mazhab Wahabi di Indonesia ....
    Radikalisme dalam Kriten Protestan dipicu oleh masuknya sekte Saksi Yehova ke Indonesia
    Radikalisme dalam Katolik dipicu oleh pemahaman Karismatik yang sangat eksklusif dan segmented

    Kemungkinan munculnya radikalisme di setiap orang itu berbanding lurus dengan keyakinan orang tersebut dengan agamanya. Semakin kuat, semakin mudah juga dia melakukan tindakan radikal di atas nama agamanya. Namun tanpa agama orang itu akan lebih mudah menjadi orang yang tak bermoral.

    Tak beragama lalu tak bermoral ???
    Malu ah, sama RRC yang mengaku komunis tapi koruptor ditembak mati ...

    Di Indonesia yang mengaku Pancasilais dan beragama ini, korupsi dilakukan tanpa malu-malu ....

    Solusinya ya jalan tengah. Tentu saja kita semua berkeyakinan terhadap agama masing masing. Namun bagi saya, mempercayai 100% semua yang ada di kitab suci atau apalagi ceramah keagamaan itu berbahaya. Menurut saya, orang yang berkeyakinan buta terhadap agamanya itu jauh lebih berbahaya dibandingkan mereka yang tidak beragama.

    Salam,
    Sekali lagi bro, baca Hadist : Belajarlah sampai ke negeri Cina .... negeri yang selalu menjaga warisan leluhurnya dan jadi bangsa besar

    Menyangkal asal usul kita (menyangkal warisan tradisi dan ada istiadat) itu melawan takdir dan itu dosa ....karena kita tidak bisa memilih orang tua, tanah kelahiran dan adat dimana kita dilahirkan ....

  6. #26
    Senior Contributor paswa's Avatar
    Join Date
    Oct 2009
    Posts
    5,017
    Rep Power
    15

    Re: Apakah Tradisi dan Kepercayaan Masih Dibutuhkan?

    Nyambung dikit kaya di Jogja masih memegang tradsi sampai sekarang seperti mandiin benda benda pusaka dll dan masyarakatnya masih ikutan dengan tradisi itu dan masih ada wibawanya misalnya rebutan tumpeng raksasa dan kalo engga salah para wali dalam menyebarkan agama juga pakai atau mengadopsi tradisi setempat misalnya wayang atau apalah dan sesajipun masih berjanjut karena tradisi itu adalah bagian cerita yang dipercayai tapi bukan untuk diyakini karena tidak mengikuti asal usul sebelumnya hanya sekedar meneruskan kebiasaan, contoh kalau engga salah ada tradisi larangan kalau kepantai selatan jangan pakai baju hijau??? maaf kalau salah dan kebisaan ini masih diikuti sekedar jaga2 takut diseret ombak kali

  7. #27
    Advisor maspras's Avatar
    Join Date
    Jun 2008
    Location
    lombok
    Posts
    14,167
    Rep Power
    23

    Re: Apakah Tradisi dan Kepercayaan Masih Dibutuhkan?

    Quote Originally Posted by Fikri.hidayat View Post
    maspras...saya juga berkeyakinan . tapi kalau saya justru saya hapus batas-batas itu untuk menyelaminya. saya coba ikuti tradisi-tradisi yang ada di nusantara (ternyata banyak sekali, ingin sekali mengikuti lebih dalam lagi). sebab dengan begitu saya akan bisa tahu ada nilai apa di dalamnya.
    bagus sekali mas Fik...
    tapi saya gak bisa seperti anda.. batas2 itu tetap harus ada (bagi saya) dan saya tidak akan bersedia untuk keluar dari batas2 tersebut.
    argumentasinya yang didebat dan didiskusikan bukan orangnya.. kecuali tong kosong.

  8. #28
    Junior Member gram's Avatar
    Join Date
    Jan 2009
    Location
    Palembang
    Posts
    236
    Rep Power
    6

    Re: Apakah Tradisi dan Kepercayaan Masih Dibutuhkan?

    Lah yang menentukan orang bermoral atau tidak bukan dia beragama atau tidak kan karena nilai moral tidak diajarkan dari agama saja. Tapi faktanya suatu hal yang dianggap biasa di masyarakat itu bisa dianggap tidak bermoral di agama dan sebaliknya. Bila demikian apakah kita selalu asumsi bahwa agama yang selalu benar? atau tradisi yang ada di masyarakat yang selalu benar? Ambil contohnya saja baik itu agama Buddha, Islam, atau Katholik mereka memiliki pekerjaan yang dilarang untuk dilaksanakan penganutnya. Seperti bandar judi, pegawai kasino, penjual daging, dll itu bisa saja dilarang di satu agama atau diharamkan di agama lainnya padahal pekerjaan ini bisa di bilang masih legal di masyarakat tersebut. Bisa saja seseorang menghina seorang petugas asuransi sebagai tak bermoral karena menurut agama mereka pekerjaan itu tidak bermoral. Makanya saya bilang tradisi bisa bernilai positif di masa lalu tapi bukan berarti itu akan tetap bernilai positif sekarang. Jadi tahulah mengapa kasino tidak mungkin bisa berdiri di Indonesia. Padahal di negara China, Malay, Singapura itu legal. Kalau kita bilang mereka tak bermoral itu bisa diterima kan? lol

    Kalau radikalisme, faktanya kita tidak bisa mencegah munculnya pemicu yang memancing radikalisme kan? Hal itu bisa muncul dari mana saja, toh aliran yang bisa kita sebut sesat atau pemicu2 lainnya bisa datangnya dari mana saja. Yang mau saya bilang, pemicunya bisa saja beda2 tapi intinya tetap sama. Hal itu terjadi karena umatnya terlalu terlekat terhadap agama yang mereka percayai. Mereka menganggap agama itu sendiri sebagai objek yang terdapat di dalam diri mereka sehingga ketika hal itu dihina atau dirusak timbul perasaan untuk membalas dendam.

    Kita mempertahankan tradisi bukan untuk mempertahankan nilai moral yang ada didalamnya tapi karena itu adalah identitas, sejarah yang menggambarkan apa yang terjadi di masa lampau. Apa yang membentuk diri kita sekarang. Seperti seni bela diri kendo di Jepang, itu sendiri berasal dari upaya pelestarian seni pedang yang di mana sudah tidak mungkin dipakai lagi di dunia modern. Negara2 seperti Jepang dan China sangat menghargai leluhur mereka. Karena itu mereka dapat mempertahankan tradisi di era globalisasi karena mereka menganggap itu warisan leluhur dan tidak melestarikan berarti menentang leluhur. Lalu bagaimana dengan orang Indonesia? Ada perbedaan pola pikir di sana yang menjadi alasan mengapa mereka dapat dengan giat melestarikan budaya dan tradisi.

    Herannya diantara semua ras yang saya ketahui, ras chinese itu justru yang paling berupaya keras melawan takdir. Nenek saya pernah bercerita dimana beliau dengan 10 orang saudara mereka datang ke Indonesia pertama kali dengan hanya bermodalkan pakaian. Itupun setelah orang tua mereka menjual 3 anaknya sendiri hanya untuk mendapatkan biaya perjalanan. Alasannya? Daripada mati konyol di tanah kelahiran lebih baik beradu nasib di negeri orang. Takdir kita sekarang tidak bisa diubah tapi takdir di masa depan ditentukan oleh perbuatan kita sekarang paling tidak itu yang saya percaya.

    Salam,

  9. #29
    GEO
    GEO is offline
    Advisor GEO's Avatar
    Join Date
    Oct 2008
    Location
    ...
    Posts
    18,422
    Rep Power
    35

    Re: Apakah Tradisi dan Kepercayaan Masih Dibutuhkan?

    menurut saya tradisi adalah segala hal yang di lakukan seseorang dan di lakukan lagi oleh generasi selanjutnya dan di lakukan lagi dst ...

    misal contoh ada orang yang makan coklat hanya malam hari dan kebiasaan itu dia lakukan terus dan kemudian di lakukan terus sampai generasi selanjutnya maka jadilah makan coklatdi malam hari menjadi tradisi.

    dan tradisi yang baik menurut saya sah sah saja untuk di lakukan asal tidak berbenturan dengan keyakinan kita


  10. #30
    Senior Member _Queen_'s Avatar
    Join Date
    Jun 2010
    Posts
    1,583
    Rep Power
    6

    Re: Apakah Tradisi dan Kepercayaan Masih Dibutuhkan?

    Quote Originally Posted by Fikri.hidayat View Post



    Maaf kalau aku quote cuma sepenggal...

    makanya ketika agama baru masuk, agar tidak selalu berbenturan dengan tradisi dan kepercayaan setempat, mungkin lahir dan berkembang sinkretisme.

    Aku pikir inilah menyangkut cara. aku kadang berpikir apakah cara radikal bisa membuat masyarakat menerima? sampai sekarang saya belum bisa menjawabnya

    sejarah berkembangnya agama baru di nusantara tidak disertai dengan darah, masyarakat lama yang menganut tradisi dan kepercayaan animisme saat itu saya anggap lebih menerima perbedaan, tidak memerangi yang baru. Justru peperangan saat itu terjadi lebih karena persoalan politik dan kekuasaan.

    Soal fanatisme, aku gak setuju kalau dibilang selalu menimbulkan radikalisme, perpecahan. Kalau kecenderungan barangkali iya, tergantung fanatik dalam hal apa dia dibentuk.
    Fanatisme agama memang tidak selalu menimbulkan keradikalan,. tapi BISA menimbulkan keradikalan.
    membaca sebuah berita. bahwa fanatisme agama adalah pembunuh nomor satu.
    silahkan:
    http://oase.kompas.com/read/2010/10/...nuh.Nomer.Satu
    maaf jika OOT.

    Kaum fanatik menganggap pandangan yang berbeda tidak mungkin untuk dapat disejajarkan kembali, dan mereka tidak mempunyai kemampuan untuk berdialog antar agama.
    menurutnya hal yg berbeda ya beda, gak bisa di sejajarkan, kalau bisa malah di enyahkan.
    demikian pula mengenai tradisi ini, kalau bertentangan dengan yg di yakininya ya enyahkan saja.
    meski tradisi tsb misalnya memiliki nilai2 positife, mengajarkan gimana hidup bersama sama, tepo saliro, sepi ing pamrih rame ing gawe..
    nyatanya kalau gak sesuai dgn ajaranya yg lurus tsb ya di enyahkan.
    jaman dulu orang2 banyak yg gak memiliki agama, hanya kepercayaan, percaya batu, silahkan kasih sesajen kepada batu.
    dan mereka gak perang.
    nah kalau sekarang, ngeliat orang lagi ngasih sesajen sama batu, orang yg memiliki agama kadang langsung sinis.
    orang tua masih ngasih sesajen sama batu2, atau orang tuanya ramai2 bersama sama warga melakukan parung di laut atau telaga, anaknya yg udah kenal agama, biasanya kasih ceramah semalam suntuk. nyuruh orang tuanya tobat
    perlahan namun pasti, tradisi memang di geser oleh agama2 samawi.
    semakin banyak "orang tobat ke jalan yg lurus" maka tradisi semakin hilang.
    sering kok mendengar, bahwa yg masih nyembah2 batu, patung, nyalain hio dll itu masih belum tobat, belum kenal tuhan katanya.
    padahal itu ya cara mereka buat nyembah sama yg kuasa.
    tradisi dari leluhur mereka ya demikian adanya.
    mereka percaya asap hio yg di nyalakan itu sampai ke atas. dan doanya akan di bawa ke atas melalui asap tsb. itu kepercayaan mereka.

    betul, peperangan antar agama terjadi karena politik.
    saling berebut umat seperti bisnis MLM
    jaman sekarang penyebaranya dengan cara demikian, sistem MLM, rayuan2 manis dan gombal
    dengan janji2 nan indah....
    satu agama yang takut umatnya hilang, maka sebisa mungkin mencegah meski dgn cara keras.
    radikal sebuah cara, cara untuk mengurusi orang lain. dari mengurusi cara2 orang lain berpakaian sampai cara2 orang lain yg main film
    juga cara2 untuk mempertahankan keutuhan anggota/umat agar tak berkurang, masih banyak yg lainya tentunya mengenai cara2 radikal ini
    nyembah yg kuasa ke atas, tapi pikiranya ke bawah (seputar aurat)
    apakah tradisi dan kepercayaan memiliki paham demikian?? sepertinya tidak.
    mereka sepertinya lupa kok, kalau tradisi bangsa ini adalah sifat ramah tamahnya dan murah senyum (katanya).
    yg ada malah sikap bar barian. apa daya, ramah tamah itu kan bertentangan rupanya dgn apa yg di percayainya dan di yakininya, maka enyahkan tradisi tsb.

    jaman semakin modern tapi kenapa kebanyakan kelakuanya semakin bar bar.
    dari pada berdarah darah hanya karena agama, lebih baik balik ke jaman dulu cara caranya, pegang kepercayaan masing2, mau dengan cara nyembah batu kek, patung kek, kayu kek, apa saja terserah.
    yang penting gak berbuat onar, tindakanya nggak bar bar.
    nggak ada yg merasa takut kehilangan anggota/umat.
    nggak ada yg urusi baju dan celana orang lain.
    sayangnya jaman sekarang, bayangan surga dan neraka menghalanginya
    Last edited by _Queen_; 18-10-10 at 10:34 PM.
    Lebih mudah mengubah plutonium dari pada mengubah sifat jahat manusia...

Page 3 of 4 FirstFirst 1234 LastLast

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •  
©2008 - 2013 PT. Kompas Cyber Media. All Rights Reserved.

Content Relevant URLs by vBSEO 3.6.0