Page 1 of 14 1234567891011 ... LastLast
Results 1 to 10 of 137
Like Tree6Likes

Thread: Pluralisme... Sebuah Penangkal Radikalisme


  1. #1
    Junior Member Gilgamesh's Avatar
    Join Date
    Dec 2010
    Posts
    176
    Rep Power
    0

    Pluralisme... Sebuah Penangkal Radikalisme

    Dengan maraknya berbagai peristiwa kebiadaban berbasis radikalisme,
    sudah saatnya kita sadar bahwa radikalisme dan fanatisme sempit merupakan bibit kehancuran bangsa yang Berbhinneka Tunggal Ika ini.

    thread ini didedikasikan untuk berbagai artikel, coretan pena, maupun buah pemikiran yang menumbuhkan semangat persatuan, toleransi, dan keberagaman yang indah.....
    Sesuatu yang pernah kita kecap dimasa silam.
    Rindukah kalian akan kedamaian Indonesia?
    Sumbangsih kalian di thread ini sangat diapresiasi.

  2. #2
    Junior Member Gilgamesh's Avatar
    Join Date
    Dec 2010
    Posts
    176
    Rep Power
    0

    Re: Pluralisme...sebuah penangkal Radikalisme

    Tulisan yg sangat menarik di Kompas.com hari Jumat, 11 Febr 2011

    LINK


    RADIKALISME PEMERINTAH
    Abdul Waid
    Penyerangan terhadap jemaah Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang, adalah potret bahwa radikalisme agama masih menjadi ancaman.
    Radikalisme sudah pasti menjadi penghambat jalannya demokrasi di Indonesia yang menekankan kebebasan berkeyakinan, kebebasan beribadah, dan kebebasan (ber)Tuhan.
    Ada dua pelajaran yang bisa dipetik di sini. Pertama, insiden itu mengindikasikan masih adanya kelompok yang tidak mengakui keberagaman keyakinan dan menginginkan tafsir tunggal.
    Kedua, ada kelompok yang mengatasnamakan agama untuk memerangi agama lain, termasuk melenyapkan pemeluknya.
    Kedua hal itu oleh Mohammaed Arkoun (1928-2010), ulama besar dan pemikir Islam kontemporer, disebut radikalisme. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1995), radikalisme adalah paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan.
    Insiden penyerangan di Cikeusik menunjukkan bahwa radikalisme agama di Indonesia masih kuat.
    Pluralisme
    Tidak ada cara lain untuk memberantas radikalisme agama di Indonesia selain dengan menegakkan pluralisme. Paham ini menekankan adanya kebebasan berkeyakinan, pengakuan atas keragaman tafsir, dan pengakuan terhadap fitrah manusia memilih agama yang dianutnya.
    Sayangnya, di Indonesia pluralisme masih dianggap sebagai paham ”sesat”. Bahkan, MUI sebagai institusi keagamaan formal mengharamkannya. Padahal, fanatisme keagamaan yang mengarah pada tindak kekerasan, sebagaimana yang terjadi di Cikeusik, justru menunjukkan kesesatan yang nyata.
    Yang lebih memprihatinkan, pemerintah menampakkan kesan mendukung radikalisme agama. Buktinya, hingga saat ini tidak ada peraturan perundang-undangan yang melindungi kaum minoritas dalam sekte agama seperti Ahmadiyah.
    Pertengahan April 2010 Mahkamah Konstitusi (MK) pernah memutuskan untuk menolak semua permohonan uji materi Undang-Undang (UU) Nomor 1/PNPS/1965 tentang Penodaan Agama oleh kelompok LSM pejuang pluralisme sehingga UU tersebut dinyatakan konstitusional dan dapat dipertahankan.
    Oleh karena itu, jangan pernah heran bila insiden seperti di Cikeusik, Pandeglang, suatu hari akan terulang lagi. Inilah, hemat saya, potret radikalisme Pemerintah Indonesia.
    Teror radikalisme
    Dalam buku Terror in The Mind of God: The Global Rise of Religious Violence (2002), Mark Juergensmeyer menegaskan, radikalisme agama adalah faktor dominan yang dapat merusak kehidupan dan menghilangkan kesejahteraan umat manusia. Segala sesuatu hanya diukur atas dasar kesesuaian dengan keyakinannya. Bila sebuah paham tidak sesuai, paham itu dianggap sesat dan wajib diperangi.
    Selama paham radikalisme ini masih mengakar pada agama dan pemerintah di Indonesia, jangan harap kerukunan antarumat beragama akan terwujud.
    Al Quran menegaskan bahwa Islam adalah agama damai, tidak mengenal paksaan dalam berkeyakinan, sebagaimana yang ditegaskan dalam surat Al-Baqarah Ayat 256: ”Tidak ada paksaan dalam agama. Telah jelas yang merupakan petunjuk (kebijakan) dari penimpangan.”
    Berdakwah mengajak kepada kebaikan sekalipun (menghindar dari keburukan), Al Quran menyuruh menyeru dengan kelembutan dan kedamaian.
    Hal tersebut ditegaskan dalam surat An-Nahl Ayat 125 yang berbunyi: ”Serulah (manusia) ke jalan rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.”
    Dalam wilayah praksis empiris, Nabi Muhammad SAW mengajarkan kebebasan beragama sekalipun terdapat keyakinan kebenaran dalam diri-Nya. Kebebasan itu demikian ditegaskan-Nya: ”Bagimu adalah agamamu dan bagiku adalah agamaku.” (surat Al-Kafirun).
    Sebagai orang Muslim, kita harus membuktikan bahwa Islam adalah agama rahmatan lil'alamin, agama damai yang cinta sesama. Caranya, hanya dengan menggalakkan paham pluralisme dan menyingkirkan radikalisme. Upaya ini harus dituangkan dalam peraturan perundang-undangan sehingga tak ada lagi radikalisme baik oleh agama maupun pemerintah.

    Abdul Waid Peneliti di Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta; Penulis Buku ”Sorban Yang Terluka” (2009)

  3. #3
    Beginner
    Join Date
    Dec 2010
    Posts
    92
    Rep Power
    4

    Re: Pluralisme...sebuah penangkal Radikalisme

    Ini ada cerita yang ku copas dari suatu tempat

    ===================

    sumber : http://fiksi.kompasiana.com/prosa/20...h-ustad-sobar/

    Lagu Gerejawi Itu Mengalun di Rumah Ustad Sobar




    Pagi itu masih seperti pada minggu minggu sebelumnya karena hari libur saya bermalas malasan di kamar. Kedua orang tuaku beserta adikku mungkin sudah sejak pagi buta pergi ibadah minggu pagi di Gereja yang letaknya tak jauh dari rumahku, setelah itu biasanya mereka pergi makan siang di luar, sementara aku memang lebih suka tidur sepuasnya di rumah, begitu bangun yang pertama kali aku sambangi biasanya adalah dapur cari masakan hasil karya embak ku yang cukup lihai dalam mengolah berbagai masakan itu. Begitu perut terisi, maka hal kedua yang aku cari adalah laptop, hari libur sudah menjadi jadwalku game on line sepuasnya, sampai mata ngantuk lagi.

    Hari libur bagiku adalah hari yang merdeka, di mana aku terbebas dari semua kegiatan rutinku yang cukup membuat otak terus berputar, sebagai seorang manager audit di perusahaan akuntan publik ternama aku di tuntut untuk pulang kerja rata rata jam 12 tengah malam karena seringnya di kejar deadline. Bayangkan betapa lelahnya hari hariku. Apalagi akhir akhir ini aku seringkali bertugas di luar kota bersama timku, benar benar hari yang sangat melelahkan dan menyita energiku. Dalam sehari tidur tak lebih dari 5 jam. Ditambah lagi, hari sabtu yang seharusnya termasuk hari libur, kebanyakan aku habiskan di kantor untuk lembur. Makanya hari libur seperti ini merupakan kesempatan emas yang sangat di sayangkan untuk di sia siakan.


    Bersyukur sekali kedua orang tuaku sangat mengerti akan keadaanku, beliau tak pernah membangunkan aku di hari libur seperti ini, pernah satu ketika di hari paskah ibuku membangunkan aku untuk ibadah, dan aku menjawab “Nanti saja kalau hatiku sudah punya niat dan tidak dalam keadaan terpaksa”. Aku tidak tau reaksi ibuku saat itu, karena aku menjawab dalam keadaan tengkurap di ranjang setengah tidur, setelah itu beliau tak pernah membangunkan aku lagi untuk ibadah, baik ibadah di hari minggu biasa maupun perayaan perayaan besar. Yang pasti, setaku ibuku tak pernah memaksa, beliau dari aku kecil biasanya hanya nyuruh aku pergi, kalau aku tak mau ya sudah, masalah mengenai Tuhan adalah masalah individu, masalah hati, masalah iman, tak ada seorangpun yang bisa memaksa, itu menurutku. Meskipun di besarkan dalam keluarga kristiani, aku jarang sekali pergi ke tempat ibadah, aku hanya ke sana saat hatiku ingin ke sana, saat bukan dalam keadaan terpaksa maupun di paksa. Toh menurutku Tuhan tak akan pernah bertanya, berapa kali kamu ke gereja dalam hidupmu??? Berapa kali kamu memuja aku?? Berapa sering kamu nyembah nyembah aku??? Aku pikir Tuhan tidak gila hormat dan pujian. Menurut pemikiranku yang bukan orang baik ini, Tuhan tidak melihat seberapa sering aku nyembah nyembah DIA dalam rangka “nyogok ” DIA, menurutku DIA hanya melihat tindakan nyata yang pernah kita lakukan untuk sesama di dunia ini, dengan tulus dan ikhlas tentunya, bukan semata mata karena takut akan Tuhan ataupun hanya sekedar ingin di lihat Tuhan, apalagi hanya karena janji surga yang nantinya akan di berikan.


    Aku sendiri tidak terlalu perduli tempat tempat ibadah agama mana yang ada Tuhanya. Makanya meski jarang ke gereja, sesekali aku apel ke rumah rumah ibadah lain, itupun jarang juga, karena aku yang katrok dalam agama ini hanya yakin, Tuhan pastinya ada di mana mana, jadi tak ada salahnya menyambangi rumah rumah Tuhan yang lain. Terus terang aku sendiri jarang sekali dan hampir tak pernah membuka alkitab, aku juga masa bodo dengan segenap peraturan peraturan yang ada dalam agama. Toh menurutku (yang sekali lagi katrok dalam agama ini), agama dan segenap buku saktinya toh hanyalah produk sosial, yang tentu saja segenap peraturanyapun produk sosial, bukan sesuatu yang jatuh gedubrak dari langit.


    Terkadang pikiranku yang katrok ini bertanya tanya, agama mana yang paling benar, sementara semua umat beragama mengklaim agama dirinyalah yang terbaik dan terbenar, ah bagiku semua hanya tercermin dari tingkah laku pelakunya. Yang membaca, mencerna, mengolah dengan benar maka akan menghasilkan tingkah laku yang benar, namun yang membaca dan langsung menelan bulat bulat maka hasilnyapun akan terlihat, ini sama seperti memilih makanan, jika ingin makan sebaiknya pilih, olah, buang segala racun racun yang ada baru di telan. Bukan langsung menelan mentah mentah tanpa melihat apakah makanan tersebut beracun atau tidak. Semua hal yang barusan di telan, akan terlihat hasilnya. Beracun atau tidak. Memabukan atau tidak.


    Bahkan dalam agamaku, saat perayaan imlek seperti ini, terlarang hukumnya menyembahyangi abu leluhur dengan menyalahkan hio dengan segenap ritual ritual yang sudah menjadi tradisi nenek moyang. Tapi bagiku dan keluargaku, tidak ada hal yang perlu di takuti dari larangan tersebut, meski kami akan di katakan musrik, kami tidak peduli, lagi lagi otaku yang katrok ini berkata “Kami bukan sedang melakukan hal anarkis yang merugikan umat manusia lainya, kami hanya menghormati leluhur kami, dan kami tidak merugikan siapapun di muka bumi ini”.


    Memang terkadang kalau sudah memberhalakan aturan agama akan terjadi perselisihan kecil. Aku yang katrok ini lagi lagi ingin berkata, biarkan saja aku menyembah apapun, beragama apapun, mau nyembah batu kali, pohon pohon tua, gua gua gajah sekalipun, itu hak ku, toh aku tidak merugikan siapapun, tidak melemparkan batu kali yang sedang aku sembah kepada siapapun, juga tidak menganggu penyembah penyembah pohon tua atau penyembah patung


    itulah enaknya memiliki keluarga yang tidak terlalu fanatik dengan ajaran agama.


    Lalu bagaimana mungkin ada yang mengklaim nabi Adam itu beragama Islam??? bahkan ada yang mengklaim semua nabi itu Muslim, aku lagi lagi bertanya tanya, bukankah dulu manusia belum memikirkan membuat agama, dan lagi, kalau orang tersebut mau masuk Islam syarat pertama adalah membaca dia kalimat Syahadat :
    Asyhadu alla illaha ilallah wa asyhadu anna muhammadarrasulullah ( Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi Muhammad SAW itu utusan Allah), nah coba di pikirkan baik baik, pada jaman nabi Adam, bukankah Rasul belum lahir??? Dan kedua kalimat Syahadad yang harus di ucapkan sebagai syarat masuk Islam itu bukankah dulu belum ada?? Dan pikirkan baik baik, mana syah sebagai Islam kalau belum mengucapkan kedua kalimat tersebut di atas??? (Ah memanglah saya ini cukup katrok).

    Lelah berkutat dengan laptop sementara otaku melayang layang, aku keluar rumah sambil membawa anjing sitzu kesayanganku yang akan ku ajak jalan jalan keliling komplek. Aku berhenti sejenak di depan rumah pak Sobar , orang yang di sebut sebagai ustad dilingkungan tersebut, rumahnya tampak sepi, aku memang anti banget sama manusia satu itu. Setiap kali melihat cara dia berpakaian, mirip sekali dengan ormas ormas relijius yang suka bikin onar di jalanan, ngurusin seputaran aurat dan zinah, ngurusin agama orang lain, aku berpikir pasti orang yang satu itu juga salah satu anggota dari ormas tersebut atau jangan jangan salah satu gerombolan bomber???. Perlahan lahan kakiku melangkah ke arah pagar besi rumah tersebut, mataku sibuk jelalatan di sekitar halaman rumah dengan gaya ngintip. Tiba tiba sebuah suara mengagetkan aksi ngintipku.


    “Mas Dani, sedang apa di sana, mari masuk masuk….”



    Jelas jelas itu suara pak Sobar yang tiba tiba nongol dari arah pintu rumahnya. Terang saja, aku tersipu sipu malu karena ketauan ngintip. Aku meringis.



    “Ng… anu pak, ndak papa, saya lagi mau ngajak anjing saya jalan jalan, kebetulan lewat sini mau liat liat saja…”



    Menghilangkan rasa maluku aku jawab sekenanya saja.



    Tak di sangka pak Sobar malah membuka pintu besi dan menggandeng tangan ku ke dalam, tak kuasa aku menolak, dan aku cukup tau diri sebelum si empunya rumah mengusir anjingku aku ikat dia di pagar besi, di bagian luar persis di pinggir jalan. Namun pak Sobar malah nyeletuk



    “Jangan di ikat di luar, nanti di curi orang, di dalam saja ndak papa”



    Eladalaaaah… Aku ini sudah berburuk sangka terhadap orang ini, kenapa malah dia baik sekali. Aku pikir jika dia melihat anjingku, dia bakalan berkata “Najis tujuh turunan dua belas tanjakan” ternyata tidak sama sekali.



    Saat aku melangkahkan kaki ke ruang tamu, aku di buat tercengang, aku mendengar dari arah dalam sebuah lagu gereja yang sedang mengalun lembut, “Ave Maria” . Oalaaah aku pasti sudah kerasukan jin ampral, aku pasti sedang berhalusinasi, tak mungkin di rumah Ustad yang tampangnya relijius ini ada lagu “Ave Maria”.



    “Silahkan duduk mas Dani”



    Suara pak Sobar lagi lagi mengagetkanku. Jelas ini bukan mimpi, bukan pula aku di rasukin belis ataupun jin ampral, ini jelas jelas lagu Ave Maria yang biasanya (udah lama sekali ) aku dengar di misa. Dalam hati aku malu sendiri sudah menyangka pak Sobar yang bukan bukan, parahnya malah nuduh pak Sobar sebagai anggota dari ormas ormas yang bertampang agamis namun kelakukanya bengis yang hobbynya demo dan rusuh itu, bahkan menuduh bomber. Sama sekali tak ku sangka, aku sebagai orang kristen saja jarang sekali mendengarkan lagu ini, namun pak Sobar yang seorang Ustad itu malah sedang mendengarkan lagu ini di hari minggu ini.



    Aaaah.. Pak Sobar, diam diam aku malah sekarang mangagumimu. Terlebih saat dia bercerita, bahwa di tempat tinggalnya yang lama, di daerah Bekasi, dia pernah di demo oleh ormas yang mengaku sebagai pahlawan tersebut dengan alasan yang tidak masuk akal. Padahal menurut penuturan pak Sobar, dakwahnya hanyalah seputaran nilai nilai kemanusiaan di muka bumi ini tanpa pandang bulu, hidup rukun antar umat beragama, tanpa kekerasan, tanpa anarki, menjunjung tinggi HAM, tapi justru pak Sobar yang di cap sesat. Dunia memang sudah terbolak balik, menurutku, mereka yang berbuat onarlah yang sesat.



    Pak Sobar, suatu hari aku akan datang dan mendengarkan dakwahmu…. Ditunggu…..
    Last edited by Androgini; 11-02-11 at 03:13 PM.
    Tampang Agamis...Kelakuan Bengis...Moral Najis..Otak Kempis..Hati Sadis...!!!

  4. #4
    Advisor maspras's Avatar
    Join Date
    Jun 2008
    Location
    lombok
    Posts
    14,290
    Rep Power
    22

    Re: Pluralisme...sebuah penangkal Radikalisme

    pluralisme itu apa sih?

    biar gak salah melangkah sebenarnya...
    argumentasinya yang didebat dan didiskusikan bukan orangnya.. kecuali tong kosong.

  5. #5
    Junior Member Gilgamesh's Avatar
    Join Date
    Dec 2010
    Posts
    176
    Rep Power
    0

    Re: Pluralisme...sebuah penangkal Radikalisme

    GUS DUR PEJUANG PLURALISME SEJATI

    LINK
    Sumbangsih terbesar Gus Dur terhadap bangsa adalah perjuangannya yang pantang mundur dalam mengusung pluralisme. Sebelum meninggal, Gus Dur berpesan, ”Saya ingin di kuburan saya ada tulisan: Di sinilah dikubur seorang pluralis” (Kompas, 3/1).
    Gus Dur seorang pluralis. Gebrakannya yang terkenal: menjadikan Konghucu agama resmi negara. Gus Dur juga mencabut Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1967 yang melarang kegiatan warga Tionghoa dan menetapkan Imlek sebagai hari libur nasional (fakultatif).


    Komitmen Gus Dur memperjuangkan pluralisme melewati ujian yang tak mudah. Tahun 1995-1997 terjadi kerusuhan etnoreligius di Jawa Timur dan Jawa Barat, daerah basis Nahdlatul Ulama (NU). Ratusan gereja dan beberapa toko milik orang Tionghoa dibakar dan dihancurkan. Tujuannya, mendiskreditkan Gus Dur bahwa visi Islam toleran yang diusungnya gagal. Merespons kekerasan itu (1997- 1998), Gus Dur menciptakan jejaring aktivis muda NU mencegah teror lebih lanjut dengan mengorganisasikan patroli keamanan di gereja dan toko Tionghoa.
    Ketika para pakar seperti John Rawls melihat kemajemukan sebatas fakta, Gus Dur memahaminya sebagai keharusan. Bagi Gus Dur, keberagaman adalah rahmat yang telah digariskan Allah. Menolak kemajemukan sama halnya mengingkari pemberian Ilahi. Perbedaan merupakan kodrat manusia. Gus Dur cenderung memandang perbedaan dalam perspektif, meminjam istilah Wolfgang Huber, ethic of dignity daripada ethic of interest. Ethic of dignity melihat perbedaan sebagai pemberian. Ethic of interest memandangnya sebatas pilihan.
    Dalam bidang keagamaan, pluralisme normatif mengharuskan Gus Dur menolak pluralisme indifferent, paham relativisme yang menganggap semua agama sama. Pola pikir yang mengarah pada sinkretisme agama ini tidak menghargai keunikan beragama. Hans Kung menyebutnya pluralisme ”murahan” tanpa diferensiasi dan tanpa identitas. Gus Dur menghargai pluralisme nonindifferent yang mengakui dan menghormati keberagaman agama. Pola pikir ini menentang pereduksian nilai-nilai luhur agama, apalagi meleburkan satu agama dengan agama lainnya.
    Karena perbedaan adalah rahmat, Gus Dur optimistis keberagaman akan membawa kemaslahatan bangsa, bukan memecah bangsa. Dalam wawancara untuk penyusunan disertasi penulis di Boston College, Gus Dur menandaskan perlunya tiga nilai universal—kebebasan, keadilan, dan musyawarah—untuk menghadirkan pluralisme sebagai agen pemaslahatan bangsa.

    Kebebasan dan keadilan
    Kebebasan menjadi prasyarat hadirnya pluralisme. Gus Dur mendambakan terciptanya ”komunitas merdeka” dalam masyarakat etno-religius Indonesia yang heterogen. Dalam komunitas merdeka, hak hidup entitas kemajemukan bukan hanya dilindungi dari intervensi kekuatan eksternal, tetapi juga kesempatan mengekspresikan identitasnya di ruang publik.
    Dalam bidang keagamaan, Gus Dur meyakini Pancasila menjamin kebebasan beragama bukan hanya sebatas memeluk agama, tetapi juga mencakup peran ”etika kemasyarakatan” agama di ruang publik (Prisma Pemikiran Gus Dur, 213-4). Di sinilah letak signifikansi sila pertama Pancasila. Sekadar kebebasan memeluk agama, sila kedua, ketiga, dan seterusnya sudah cukup menjamin. Keunikan sila pertama: mendorong agama-agama menjalankan peran etika kemasyarakatan di ruang publik.
    Perjuangan Gus Dur yang tak mengenal lelah membela hak minoritas menunjukkan kepekaannya terhadap rasa keadilan. Keberpihakan kepada yang lemah dan miskin adalah kewajiban moral menegakkan keadilan dalam dunia yang tak adil. Demi mewujudkan keadilan, Gus Dur menentang dikotomi mayoritas-minoritas.
    Wacana mayoritas-minoritas yang bersifat hierarkis dan oposi- sional bukan hanya mengancam keadilan, tetapi juga mengarah pada disintegrasi bangsa. Itu sebabnya bagi Gus Dur, sekalipun Islam agama mayoritas, Islam sebagai etika kemasyarakatan tidak boleh menjadi sistem nilai dominan di Indonesia, apalagi menjadi ideologi alternatif bagi Pancasila. Fungsi Islam seperti juga agama lain, sebatas sistem nilai pelengkap bagi komunitas sosiokultural dan politis Indonesia.

    Musyawarah
    Bagi Gus Dur, musyawarah menuntut kesadaran interdependensi dan sikap partisipasi. Itu berarti hidup bersama bukan lagi semata-mata secara sosial dan praktis, tetapi harus secara ”teologis”. Artinya, penerimaan satu sama lain harus dengan sepenuh hati. Perbedaan diterima sebagai sesuatu yang baik secara intrinsik. Toleransi bukan lagi sekadar menerima keberagaman, tetapi bagaimana supaya keberagaman membawa manfaat.
    Sepeninggal Gus Dur, upaya melestarikan pluralisme merupakan penghargaan terbesar baginya, jauh lebih besar daripada penganugerahan pahlawan nasional yang sedang diusulkan banyak pihak.
    Benyamin F Intan Direktur Eksekutif Reformed Center for Religion & Society
    Opini Kompas 7 Januari 2010
    --------------------------
    Last edited by Gilgamesh; 11-02-11 at 04:35 PM.

  6. #6
    Beginner
    Join Date
    Dec 2010
    Posts
    92
    Rep Power
    4

    Re: Pluralisme...sebuah penangkal Radikalisme

    ini ku copas dr suatu tempat juga
    sumber : http://lifestyle.kompasiana.com/cata...di-hari-imlek/

    Imlek kemarin Ibu mengajak aku ke Makam Gus Dur. Agak kuatir juga, karena Ibu jarang bepergian jauh. Tiba-tiba harus ke Jombang. Sopir yang menyetir sudah aku beri tahu, kalau mau ke komplek makam Gus Dur dan keluarga Ponpes Tebuireng , Peziarah yang datang dari arah Surabaya saat memasuki Kota Jombang langsung menuju arah Malang-Kediri yang melintasi PG Cukir.
    Parahnya sopir juga baru pertama kali ini ke daerah Jawa Timur. Jadi sempat kesasar. Tapi, inilah saktinya nama Gus Dur. Semua yang ditemui antusias saat ditanyai di mana letak makam Gus Dur. Ah, aku lega. Akhirnya sampai juga. Makam tersebut berjarak sekitar 8 km dari pusat Kota Jombang. Ada di Kompleks Pondok Pesantren Tebu Ireng.
    Wajah Ibu yang pucat langsung berubah ceria begitu menginjakan kaki di halaman Ponpes. Aku tahu kenapa di hari libur Imlek ke Makam Gus Dur, bukan malah merayakannya seperti orang orang china yang lain, Gus Dur memang sangat berarti buat Ibu dan kami orang China keturunan. Aku masih inget betul, saat kecil ada pertemuan orang China di Klenteng dan menyambut kedatangan Gus Dur. Aku membacakan puisi dan Gus Dur mencium pipiku. Memuji kalau cara membaca puisiku bagus.
    Komplek makam Gus Dur ternyata ramai bangeti. Gimana nggak ramai karena makam Gus Dur tepat berada di tengah-tengah ponpes dan banyak terlihat aktivitas santri yang mengaji dan belajar ilmu agama. Kupikir orang orang di sekitar makam yang sama seperti niatku mengunjungi makam, akan memandang asing dan heran aku dan Ibu yang China, tapi nyatanya tidak. Malah setelah acara doa ritual di makam, ada yang bilang kepadaku sudah biasa orang China datang ke Makam Gus Dur. Juga orang bule, orang lain agama. Itu karena Gus Dur pembela kaum minoritas.
    Sore aku dan Ibu pulang. Aku lihat Ibu sempat menangis tadi di makam Gus Dur. Ibu bilang saat makan di sebuah rumah makan di Malang, Gus Dur adalah orang yang pertama mencabut Intruksi Presiden (Inpres) No 14/1967. Inpres yang dikeluarkan oleh ORBA ketika awal berkuasa pada tahun 1967dan melarang kaum Tionghoa merayakan pesta agama dan adat istiadat di depan umum dan hanya boleh dilakukan di lingkungan keluarga.
    “Karena Gus Dur, saat ini kita bisa merayakan Imlek…” begitu kata Ibu….
    Tampang Agamis...Kelakuan Bengis...Moral Najis..Otak Kempis..Hati Sadis...!!!

  7. #7
    Junior Member
    Join Date
    Dec 2010
    Posts
    409
    Rep Power
    4

    Re: Pluralisme...sebuah penangkal Radikalisme

    Quote Originally Posted by maspras View Post
    pluralisme itu apa sih?

    biar gak salah melangkah sebenarnya...
    naah pengakuan yang betul2 penuh kejujuran sekaligus ke-HATI2-an , agama sering mengatakan itu sebagai TABAYUUN alias CHECK n RECHECK sebelum hanyut tanpa tahu mengalir kemana .. (jangan2 ada air terjunnya yg dalam diujungnya .. alias mampus kauw karena gampangan jadi pak TURUT .. hehehe)

    gw juga gak muudeng lho !!
    coba2 nih ..
    PLURAL itu Warna-warni atau Majemuk yg sdh ada bahasa retorikanya yaitu BHINEKA
    sedangken ISME itu Paham atau Ajaran ...
    (tolong koreksi jika salah)

    Naah knapa sehingga jadi PLURALISME padahal bukunya kok belum ada dan Bapak pencetusnya TIDAK DIKENAL ? (paling enggak saya blm tahu)

    diantara mereka yg GANDRUNG dgn istilah2 tsb ada yg memahami bahwa Agama itu cuma Kepercayaan semacam Gugon Tuhon yg sangat relatif sifatnya ..
    ada yang menyangatkan dg pernyataan BAHWA SEMUA AGAMA ITU SAMA SAJA ..

    dan anehnya buku pinter mereka tidak setuju dgn pernyataan tsb tadi ..
    atau menyatakan sebaliknya dari JARGON kosong tsb

    paling tidak 2 agama besar menolak jargon tsb dalam kitab sucinya
    tapi kan gak boleh nulis ayat diforum kompas ini ..
    bagi yg penasaran.. agama apa saja yg menentang dan sekaligus bunyi ayatnya akan saya PM kan ..
    tapi PM saya dulu ya?
    Last edited by ntarluk; 11-02-11 at 09:51 PM.

  8. #8
    Junior Member
    Join Date
    Dec 2010
    Posts
    409
    Rep Power
    4

    Re: Pluralisme...sebuah penangkal Radikalisme

    membela atau berpihak itu pada yang BENAR , regardless mereka itu MAYOR atau MINOR
    tridak selalu yg minoritas itu benar dan yg mayoritas itu salah

    istilah bhs MEMBELA MINORITAS ini juga bisa bikin orang terpeleset , makanya kita harus SANGAT hati2 ..
    dengan munculnya ISTILAH2 baru yang sengaja membuat orang bingung tapi malu nanya lalu tergelincir ..
    sebaiknya kita ganti dgn MAYORITAS melindungi MINORITAS dan MINORITAS menghormati MAYORITAS , itu baru balance , tak ada keberpihakan yg ngawur ..

    salam Tabayuun maspras
    Last edited by ntarluk; 13-02-11 at 02:13 PM.

  9. #9
    Advisor maspras's Avatar
    Join Date
    Jun 2008
    Location
    lombok
    Posts
    14,290
    Rep Power
    22

    Re: Pluralisme...sebuah penangkal Radikalisme

    Quote Originally Posted by ntarluk View Post
    naah pengakuan yang betul2 penuh kejujuran sekaligus ke-HATI2-an , agama sering mengatakan itu sebagai TABAYUUN alias CHECK n RECHECK sebelum hanyut tanpa tahu mengalir kemana .. (jangan2 ada air terjunnya yg dalam diujungnya .. alias mampus kauw karena gampangan jadi pak TURUT .. hehehe)

    gw juga gak muudeng lho !!
    coba2 nih ..
    PLURAL itu Warna-warni atau Majemuk yg sdh ada bahasa retorikanya yaitu BHINEKA
    sedangken ISME itu Paham atau Ajaran ...
    (tolong koreksi jika salah)

    Naah knapa sehingga jadi PLURALISME padahal bukunya kok belum ada dan Bapak pencetusnya TIDAK DIKENAL ? (paling enggak saya blm tahu)

    diantara mereka yg GANDRUNG dgn istilah2 tsb ada yg memahami bahwa Agama itu cuma Kepercayaan semacam Gugon Tuhon yg sangat relatif sifatnya ..
    ada yang menyangatkan dg pernyataan BAHWA SEMUA AGAMA ITU SAMA SAJA ..

    dan anehnya buku pinter mereka tidak setuju dgn pernyataan tsb tadi ..
    atau menyatakan sebaliknya dari JARGON kosong tsb

    paling tidak 2 agama besar menolak jargon tsb dalam kitab sucinya
    tapi kan gak boleh nulis ayat diforum kompas ini ..
    bagi yg penasaran.. agama apa saja yg menentang dan sekaligus bunyi ayatnya akan saya PM kan ..
    tapi PM saya dulu ya?
    trims untuk uraiannya...
    saya jadikan sebagai salah satu arti definisi yang bisa digunakan.
    namun, untuk lebih lanjutnya. saya menantikan definisi yg lebih tajam, jelas dan tegas.
    jadi tidak ada lagi keragu2an dalam mengartikan.
    argumentasinya yang didebat dan didiskusikan bukan orangnya.. kecuali tong kosong.

  10. #10
    Junior Member
    Join Date
    Jul 2009
    Posts
    418
    Rep Power
    5

    Re: Pluralisme...sebuah penangkal Radikalisme

    Quote Originally Posted by ntarluk View Post
    membela atau berpihak itu pada yang BENAR , regardless mereka itu MAYOR atau MINOR
    tridak selalu yg minoritas itu benar dan yg mayoritas itu salah

    istilah bhs MEMBELA MINORITAS ini juga bisa bikin orang terpeleset , makanya kita harus SANGAT hati2 ..
    dengan munculnya ISTILAH2 baru yang sengaja membuat orang bingung tapi malu nanya lalu tergelincir ..
    sebaiknya kita ganti dgn MAYORITAS melindungi MINORITAS dan MINORITAS menghormati MAYORITAS , itu baru balance , tak ada keberpihakan yg ngawur ..

    salam Tabayuun maspras
    Lebih balanced lagi kl ga ada mayoritas dan minoritas....karena semua porsinya sama....apakah brarti mayoritas tidak perlu menghormati minoritas ? atau minoritas tidak perlu melindungi mayoritas? Lebih baik...semua dianggap seimbang no majority no minority...just respect n love the others...

Page 1 of 14 1234567891011 ... LastLast

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •  
©2008 - 2013 PT. Kompas Cyber Media. All Rights Reserved.

Content Relevant URLs by vBSEO 3.6.0