Sadar atau tidak, negeri ini merupakan Akademi Korupsi yang sangat besar. Lihatlah kebiasaan menyogok untuk mendapatkan kursi di sekolah. Lihatlah kebiasaan suap untuk mendapatkan tempat di instansi pemerintah. ”Untuk jadi jaksa anak saya harus membayar Rp 200 juta,” kata seorang teman. ”Untuk mendapatkan tempat di Fakultas Kedokteran kami harus menyiapkan uang Rp 250 juta,” ungkap seorang ibu. Bukankah semua itu merupakan jalan cepat untuk mencetak koruptor? Bukankah sogokan-sogokan itu nantinya harus ”dikembalikan oleh negara” melalui praktik korupsi?